
Setelah satu bulan di dalam menara misterius yang muncul, mereka telah sampai di lantai ke enam di menara itu. Setiap boss yang ada di setiap lantai di kalahkan oleh orang yang berbeda - beda.
Semua yang ikut masuk ke dalam menara misterius itu memiliki kekuatan yang hebat, di tambah dengan jumlah dari party yang mereka miliki membuat mereka dapat menyelesaikan setiap lantai.
Namun dari setiap boss yang ada dari lantai satu hingga ke enam, Xi tidak pernah mengalahkannya, orang lainlah yang selalu mengalahkan para boss tersebut.
Setelah mengalahlan boss di lantai enam, mereka naik kr lantai tujuh. Di lantai tujuh merupakan tempat yang tandus, dan hanya ada sedikit pepohonan.
" Cepat sekali sudah di lantai tujuh. Bahkan aku belum mengalahkan boss satu pun. Dan lagi... " Ucap Xi dan membuka inventory melihat item yang dia dapat dari lantai satu hingga lantai enam.
[ Tamer of Paper x15 ]
[ Kulit Orc x30 ]
[ Taring serigala x30 ]
[ Palu Goblin x45 ]
[ Cristal api x3 ]
" Tamer of Paper aku dapat banyak... Waktunya pergi dan selesaikan lantai tujuh ini. " Ucapnya dan pergi dari tempatnya berada.
Dengan bantuan map dan kemampuan indranya, Xi dapat dengan mudah menemukan para monster yang ada di lantai tujuh. Walau begitu dia tidak menemukan keberadaan dari boss monster.
Setelah beberapa jam dia mencari keberadaan boss monster tapi tidak menemukannya, dia berhenti di sebuah pohon yang indah dan beristirahat di sana.
Dari kejauhan ada beberapa keluarga besar mengendarai Magical Beast, dan yang paling mencolok adalah Magical Beast Golden Bird.
Mereka yang menggunakan Golden Bird sebagai tunggangan mereka adalah keluar besar Izika.
Sementara yang lainnya adalah keluarga besar yang tunduk di bawah perintah keluar Izika. Seseorang dari keluarga Izika dari atas sana melihat ada seseorang yang familiar di matanya. Dia adalah Izika Mota yang selamat dari pembantaian di makam naga karena dia tidak ikut campur dalam masalah itu.
Melihat Mota yang terdiam dan sedang memerhatikan sesuatu, sebagai kepala keluar dia bertanya kepadanya.
" Mota... Apa kau melihat sesuatu yang penting yang tidak kami lihat? " Tanya kepala keluarga itu.
Mota menjawab sambil memandangi orang yang beristirahat di bawah pohon itu. " Iya... Kakek apakah kita bisa turun sebentar ke sana? " Tanya Mota sambil menunjuk tempat yang ia maksud.
" Emm... Baiklah. "
Mereka pun turub dari atas langit, angin kencang dari kibasan sayap burung itu membuat banyak debu, mereka turun dari tunggangan mereka masing - masing.
Mota berjalan kedepan untuk melihat dengan jelas apakah benar kalau orang yang beristirahat di bawah pohon itu adalah orang yang ia cari. Saat pandangannya sudah mulai jelas, ia sadar kalau orang yang ada di sana adalah orang yang selama ini dia cari.
__ADS_1
" Kakek! Dia... Dia yang telah membunuh kakak San! " Ucap Tota dengan keras dan membuat semua orang memperhatikan Orang tersebut.
Mereka sungguh terkejut karena selama ini telah mencari pelakunya, namun tidak menemukan jejaknya sedikit pun. Itu membuat mereka menjadi sangat frustrasi dan melupakan kejadian tersebut.
Tidak di sangkah saat mereka telah melupakan kejadian tersebut dan berhenti mencari perlakunya, mereka melah bertemu di tempat yang sama. Yaitu di menara misterius yang baru muncul.
" Bocah! Jadi kau yang telah membunuh cucuku!!? " Ucap kepala keluarga Izika. Izika Menna, seorang Rank S ( Petarung ).
' Padahal aku sudah menghapus semua bukti di sana... ' Gumam Xi. " Cecunguk itu? Siapa ya namanya, Hmmm... Aku lupa, entahlah. Tapi... Akulah yang membunuhnya. " Ucap Xi dengan dingin.
Mereka semua sangat kesal karena di rendahkan oleh Xi. " Kau bocah kurang ajar!! Beraninya kau membunuh anakku!! " Ucapnya dengan marah. Dia adalah ayah dari Izika San. Izika Tomura Rank A+ ( Petarung ).
" Kau marah? Ya lepaskan lah amarahmu... Ini aku, aku yang telah membunuh putramu. Kalau kau melihat bagaimana caraku memenggal kepalanya... Hmmm kau pasti sangat murka. " Ucap Xi dengan dingin. Ia berbicara seperti itu supaya Tomura termakan oleh amarahnya dan bertujuan untuk memprovokasi seluruh keluarga besar
Tomura sangat merah, amarahnya meledak - ledak di dalam tubuhnya. Darahnya mendidih, wajahnya memerah karena marah dan kesal, urat di kepalanya muncul karena kemarahannya. Mendengar bagaimana cara putranya di bunuh ia benar - benar sangat marah.
Ia merapatkan giginya dengan kesal, menggenggam tangannya dengan kuat, menatap Xi dengan penuh amarah. " Kau bajingan!!! Aku akan membunuhmu!!! " Teriaknya dengan keras dan melopat ke arah Xi. Tangannya ia kepal dan skill yang kuat ia aktifkan.
Sementara itu Menna yang mengetahui kalau Xi sedang memancing amarah Tomura agar ia bertindak gegabah. Ia mencoba untuk menghentikan tindakan anaknya Tomura itu. " Tomura!! Kembali!! Jangan termakan Provokasinya!! " Teriaknya dengan keras sambil meminta puntranya untuk kembali.
Namun Tomura tidak mendengarkan perkataan dari ayahnya. Di saat yang sama sebauh dagger menancap di kepala Tomura dan membuatnya terbunuh seketika.
" TOMURA!! " Ucap Menna dengan keras. Ia tidak percaya jika putranya bisa mati dengan mudah padahal berada para Rank A+. Namun hal itu membuatnya marah karena Xi lagi - lagi membunuh keluarnya.
Namun Xi hanya diam dan memberikan tatapan dingin kepada Menna.
" Kalian semua!! Kenapa hanya diam!! Cepat bunuh bocah bajingan itu. " Ucap Menna sambil memberikan perintah kepada anak buahnya, beserta keluarga besar lainnya untuk membunuh Xi.
Mendengar perintah itu mereka memegang senjata mereka dengan erat dan maju menyerang Xi bersama - sama. " Beraninya membunuh Tuan muda dan Tuan Tomura!! "
" Kau tidak dapat di ampuni!! "
" Mati adalah hukuman yang tepat untukmu!! "
Mereka semua memandang Xi sebagai musuh mereka, dan berniat menghabisinya.
Namun Xi mengangkat tangannya, mengarahkannya ke mereka yang sedang berlari menuju ke arahnya. Api hitam muncul di tangannya itu dan menyerang mereka dengan ganas.
" ARRRGGG!!! AAAAAA!!! "
Dalam satu serangan, sebagian dari mereka telah terbunuh. Setelah serangan itu Xi menghilang dari tempatnya, dan membunuh mereka yang tersisa dengan Dagger miliknya.
Tebasan dari daggernya sangat tajam hingga dengab mudah menembus armor yang mereka pakai.
__ADS_1
Xi muncul di hadapan mereka yang tersisa dengan wajahnya yang dingin. Namun Menna tidak tinggal diam, ia bergerak menyerang Xi. Ia menggunakan skill untuk menambahkan kecepatan dan kekuatannya.
" Aku akan membunuhmu dengan tangaku sendiri!! " Ucap Menna dengan marah.
Xi dan Menna saling beradu pukulan, gerakan mereka yang cepat tidak dapat di ikuti oleh mata petualang biasa. Setiap serangan dan tangkisan sangat cepat, sulit bagi mereka yang tersisa melihat dengan jelas.
" Apa - apaan orang itu... Di dia mampu mengimbangi kakek dalam adu kekuatan dan bahkan juga kecepatan... " Ucap Mota dengan keringat membasahi wajahnya.
Sangat jelas sekarang kalau mereka itu berbeda level, Xi bukanlah lawan yang bisa dia kalahkan. Jangankan dia kalahkan, bahkan menyentuhnya saja tidak mungkin.
" A apakah kakek bisa menang melawan monster itu? " Tanya kepada diri sendiri dan menganggap Xi sebagai monster.
Mereka berdua sudah bertarung selama 15 menit, pertarungan dengan adu kekuatan tidak kuncung terlihat hasilnya. Menna sangat serius menghadapi Xi, ia mengeluarkan segala kekuatan yang ia miliki. Sihir pun juga ia lancarkan untuk mengalahkan Xi. Namun hasiknya tetap sama.
Saat dalam pertarungan Xi melirik Mota dengan sinis, niat membunuh ia tunjukkan pada Mota. Seketika saat Menna ingin memukul Xi.
Ia menghilang dan muncul tepat di depan wajah Mota dengan kuda - kuda siap memukul.
Namun Menna tidak membiarkan itu, ia mencoba untuk menghintikan tindakannya. " Bocah sialan!! Jangan beranikau menyentuhnya!! Kemarilah dan dihadapi aku!! " Teriak Menna sambil melesat ke arah Xi.
Xi bergerak dengan cepat, telapak tangannya terbuka lebar dan muncul di depan wajah Menna. " Dengan senang hati! " Ucap Xi dengan dingin. Ia memukul Menna hingga kepalanya sampai hancur tak berbentuk.
Mota yang melihat hal tersebut di depan matanya dia sangat ketakutan, wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya gemetar.
" Tuan muda Mota! Cepat naik kemari!! " Ucapnya dan meminta Mota untuk naik ke Golden Bird.
Mereka dari keluarga besar yang tersisa menaiki tunggangga mereka dan melarikan diri terlebih dahulu, namun keluarga Izika mereka masih menunggu Mota untuk naik ke Golden Bird.
Saat Mota ingin naik ke Golden Bird, seketika mereka yang berada di atas Golden Bird mati, dan yang lainnya yang berada di tunggangan mereka juga terbunuh bersamaan dengan tunggangan mereka.
Xi yang masih berada di udarah setelah membunuh mereka yang ingin kabur. Tangannya di selimut api hitam, ia membidik mereka yang kabur. Melepaskan serangan yang sangat kuat menargetkan mereka yang telah melarikan diri terlebih dahulu.
Mereka yang merasa dirinya telah aman, mereka sangat senang. Akan tetapi dalam sekejap, kesenangan mereka telah menjadi abu. Mereka terbakar habis oleh serangan api hitam milik Xi.
Mota yang melihat semua terbunuh hanya bisa terdiam membeku ketakutan. Wajahnya berkeringat dan pucat, merasakan rasa takut yang luar biasa.
Xi berjalab dengan santai menuju Mota dengan aura yang mengerikan, membuat rasa takut Mota semakin menjadi. Saat berada di depan Mota, ia bertanya. " Apakah kau menikmati tontonan ini? " Tanya Xi dengan dingin.
Namun karena rasa takut akan kematian, membuatnya sulit untuk berbicara. Ia berusaha untuk membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan Xi. " A aku mohon... Aku mohon jangan... Bunuh aku.... " Jawabnya.
"KRASS!! "
Seketika saat mendengar jawabannya, Xi langsung memutuskan kepalanya. Dan membuat Mota mati di tempat, ia sambil berkata. " Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar. " Ucapnya dengan dingin.
__ADS_1