
Esok harinya, di pagi yang cerah. Xi dan Airis pergi ke sebuah tempat di mana di katakan oleh orang - orang di penginapan di sana terdapat sebuah dungeon yang terdiri dari lima lantai. Menurut apa yang di beritahukan oleh orang - orang itu, kebanyakan dari monster - monster yang menghuni labirin tersebut adalah monster dengan wujud humanoid. Xi pun pergi ke sana bersama Airis untuk menantang Dungeon tersebut yang di katakan telah menjadi properti negara ini.
Sesampainya mereka di dekat Dungeon berada. Di sana terdapat beberapa party petualang yang sedang mendaftar untuk masuk ke dalam Dungeon lima lantai itu. Para penjaga pun seperti biasa menjalankan tugas mereka dengan menjelaskan aturan di dalam dungeon. Dimana mereka tidak dapat bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi di dalam dungeon. Dan semua yang terjadi di dalam Dungeon akan di tanggung oleh diri mereka sendiri dam tidak dapat melibatkan para penjaga yang menjadi penjaga Dungeon.
" Sepertinya tidak ramai yang mendaftar di sini. " Ucap Airis setelah melihat jumlah party petualang yang mendaftar untuk ikut menantang Dungeon itu. Dungeon ini tidak seramai alas perpindahan saat di buka. " Ya, mau bagaimana lagi... Kata orang - orang yang ada di penginapan, rekor tertinggi yang telah di taklukkan hanya mencapai lantai dua saja... Aki rasa musuhnya bukanlah musuh biasa. " Lanjut Airis. Ia memaklumi kalau peminat dari dungeon ini sangat sepi bukan karena tidak terkenal, justru karena terkenal dengan kengerian dan kekejaman para monster yang ada di dalam dungoen membuat semua orang merasa sangat takut.
" Xi - Sama... Apa anda yakin kalau kita dapat menaklukkan dungeon ini? " Tanya Airis kepada Xi sebelum mereka masuk ke dalam Dungeon. Ia menanyakan kepastian kepada Xi apakah yakin akan menantang dungeon ini dan menyelesaikan nya sampai lantai 5.
" Tentu, lagi pula kita punya anggota baru di dalam Shadow Army. " Jawab Xi dengan percaya diri. Anggota baru yang dia maksud adalah IGRIS dan GIDEON. Setelah mereka mendaftarkan diri tanpa adanya masalah.
Keduanya pun masuk ke dalam Dungeon saat itu juga. Sesampainya mereka di dalam, konsep dari dungeon ini seperti sebuah gua besar yang memiliki jalan yang panjang. Mereka berdua menelusuri dungeon tersebut bersama - sama. Walau dungeon itu memiliki jalan bercabang, namun mereka berdua dapat melaluinya dengan mudah sampai akhirnya mereka menemukan monster pertama di dalam dungeon.
Tampak monster humanoid berkulit hijau menatap mereka dengan di kepala mereka terdapat tengkorak hewan yang mereka pakai. Senjaga berupa sebuah belati kecil, dan mereka tampak senang saat melihat ada mangsa yang masuk ke dalam kandang mereka.
[ Goblin Killer ] Rank : C. Level : 40. Exp : 6.000. Skill : Strike.
Melihat ada banyak sekali kelompok goblin itu membuat mereka sedikit terkejut. Bahkan jumlah ini lebih banyak dari pada goblin yang pernah mereka temuka saat di alas perpindahan. Bahkan goblin - goblin ini terlihat jauh lebih kuat dari goblin biasa.
" Monster di awal - awal lantai adalah Goblin dengan Rank C... Sekarang aku tahu kenapa Dungeon ini sulit di taklukkan. " Ujar Airis yang mulai mengerti kenapa dungeon lima lantai ini sangat sulit di tahlukkan. Bahkan pada awal lantai yang belum terlalu jauh dari pintu masuk Dungeon, mereka sudah di hadapi oleh seratus lebih Goblin Killer yang memiliki Rank C.
Di dalam sana pun pertarungan tidak dapat di elakan lagi. Para goblin killer yang ada di sana langsung menyerang mereka dengan membabi buta. Dan sebagai salam pembuka, Xi menggunakan sihir pusaran api di tengah - tengah ruangan, hingga membuat banyak goblin killer masuk ke dalam pusaran api itu. Lalu pusaran api itu pun meledak dan menyebabkan ledakan area yang cukup luas, hingga membuat goblin lainnya terluka.
Di samping itu, Airis bertarung di tempat yang berbeda dengan Xi. Airis dapat dengan mudah mengalahkan setiap Goblin Killer yang menyerangnya. Walau musuh menyerang tanpa henti, namun Airis dapat dengan mudah mengalahkan mereka semua.
Sementara itu, Xi bermain dengan pedangnya yang tajam dan menebas setiap Goblin yang ada di sekitar dirinya. Dalam waktu kurang dari tiga menit, seratus goblin killer telah di kalahkan. Dan itu menjadi sejarah baru untuk negara.
Sesaat setelah mereka mengalahkan goblin killer, suara langkah kaki dengan jumlah yang banyak serta dengan suara yang menyeramkan mulai mengelilingi mereka berdua di setiap ruangan. Tampak banyak muncul Goblin Killer bersama dengan Goblin biasa.
" Sepertinya kalian tidak akan ada habisnya... Kalau bagitu, aku akan menebas kalian semua sampai kalian memohon ampunan. " Ucap Airis dengan tatapan seriusnya, dan langsung menyerang gerombolan goblin yang mulai berdatangan menyerang dirinya.
Sementara itu, Xi di dalam ruangannya tampak ia masih santai dalam menghadapi semua goblin tersebut. Sampai akhirnya pasukan bala bantuan dari para goblin muncul. Kini Goblin Killer memiliki jumlah yang sangat banyak dari sebelumnya. Dan ada juga kemunculan Goblin - goblin biasa yang mengepung dirinya dari segala arah dan memiliki jumlah paling banyak.
Semua Goblin menatapi Xi dengan sangat marah karena Xi telah membunuh kaluarga mereka. Semua kemarahan itu hanya tertuju pada satu orang, yaitu Xi yang ada di sana. Semua Goblin berteriak sangat keras hingga membuat seluruh ruangan di penuhi dengan teriakan Goblin. Mata mereka mulai bersinar dan membara layaknya api. Di saat itu muncul Goblin Sulcerser yang memberikan Buff kepada semua Goblin yang ada di sana.
__ADS_1
Dengan penuh amarah, semua Goblin langsung melompat ke arah Xi dan mengeroyoknya. Tidak peduli seberapa kuat Xi itu, ia tidak akan berkutik di hadapan banyaknya jumlah Goblin yang datang menyerangnya. Itu lah yang di pikirkan oleh setiap Goblin yang ada di sana.
Melihat Xi yang hanya diam saja, mereka semua merasa kalau Xi telah pasra dan menyerah untuk hidupnya. Mereka pun dengan senang akan membunuh Xi perlahan - lahan agar ia dapat merasakan rasa sakit yang di alami oleh Goblin yang telah mati. Namun...
SLAHSS! Xi menebaskan pedangnya dengan sangat cepat sampai - sampai tidak dapat di lihat ayunan pedangnya oleh para Goblin. Dalam tebasan itu ratusan goblin kehilangan nyawa mereka dan itu membuat goblin lainnya yang ada di belakang terkejut.
Melihat Xi yang tidak bergerak dari tempatnya, dan ia dapat membunuh ratusan goblin dalam sekejap membuat semua goblin bingung. Apa yang sebenarnya di lakukan oleh Xi, sampai - sampai bisa membunuh ratusan goblin dalam satu gerakan? Pertanyaan itu terus muncul di pada semua goblin yang ada di sana. Namun, mereka juga semakin marah terhadap Xi yang telah membunuh keluarga mereka begitu banyaknya, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun selain ekspresi dinginnya.
Sementara itu di luar Dungeon, tepatnya pada malam hari pria besar yang bernama Kido dan penyihir Kazan. Tampak mereka berdua sedang berada di sebuah bangunan kecil sedang mendiskusikan sesuatu tentang rencana mereka yang ingin merekrut anggota untuk menjadi mata - mata. Tampak kedua orang itu sangat sulit untuk menentukan siapa kandidat terbaik yang dapat mereka rekrut sebagai anggota mereka.
Tampak keduanya sedang serius memikirkan siapa yang akan mereka rekrut nantinya. Dan berapa banyak yang harus mereka rekrut untuk menjadi mata - mata.
" Menyedihkan... Ini menyedihkan... " Ucap Kido dengan ekspresi wajah serius. " Ini sangat menyedihkan, sudah seharian penuh aku mencari tapi tidak satu pun ada yang layak! " Lanjutnya dengan keluhan. Kido mengeluh seperti anak kecil yang tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan pada saat itu. Tingkahnya benar - benar seperti anak kecil, bahkan ia menangis karena hal tersebut.
" Wah... Ini bisa gawat... Kalau tidak segerah merekrut orang lain, bisa - bisa kita lenyap oleh Tuan. " Kata Kazan dengan ekspresi seriusnya. Dahinya penuh dengan keringat karena harus berpikir keras memikirkan jalan terbaik yang harus mereka ambil saat ini. Ia tidak ingin mengecewakan tuannya yang telah memberikan mereka kesempatan untuk hidup kembali seperti sebelumnya.
" Kazan... Menurutmu, apa yang harus kita lakukan? Pusing memikirkan ini semua. " Ucap Kido sambil memejamkan matanya di atas mereka saat itu. Ia berbaring karena lelah seharian tidak beristirahat untuk mencari anggota serta mencari informasi lainnya.
Kazan berdiam diri merenungkan apa yang di tanyakan oleh Kido. Saat itu ia sangat sulit untuk memilih tindakan apa yang harus mereka ambil saat ini. Karena solusi nya tidak kunjung di dapatkan, Kazan pun memberikan sebuah usulan.
Mendengar usulan dari Kazan, mau tidak mau Kido harus menyetujui nya karena menurutnya usulan Kazam jauh lebih baik dari pada usulan - usalan yang ia berikan sebelumnya. " Baiklah... Ayo kita lakukan itu... Kita rekrut mereka. " Balas Kido yang setuju untuk merekrut yang bisa mereka rekrut. " Lebih baik kita lakukan dari pada tidak sama sekali... Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak melakukannya. " Lanjut Kido sambil berdiri dari kursinya. Ia pergi berjalan ke arah pintu keluar lalu membuka pintu itu.
SLASS! Sebuah tebasan pedang yang amat cepat langsung menghantam Kodi dengan kuatnya. Tebasan pedang itu menghancurkan pintu serta dinding di sekitatnya.
" Hei, kau tak apa? " Tanya Kazan kepada Kido yang terkena tebasan pedang itu secara langsung.
Kido menatap sosok yang menyerangnya dengan tatapan tajam. " Jangan khawatir... Berkat Tuan, tubuhku mejadi jauh lebih kuat. " Balas Kido berdiri kembali. Tampak di tubuhnya ia tidak menerima luka sedikit pun, dan hanya bajunya saja yang sobek akibat sayatan dari pedang tersebut. " Sepertinya, dia bukan lawan yang mudah... " Lanjut Kido sambil menatap sosok yang berjalan perlahan dari balik kumpulan debu itu.
Dari balik debu suara langkah kaki terdengar. Muncul sosok dengan topeng hantu membawa sebuah pedang besar di tangannya. Tatapan dari sosok tersebut cukup menyeramkan di lihat dari mata mereka. Jika itu anak - anak yang melihatnya, mereka sudah pasti akan menangis dan kencing di celana.
" Kalian... Yang selanjutnya... Menjadi wadah... Kami! " Ucap sosok bertopeng hantu itu lalu ia melesat ke arah kedua orang yang ada di hadapannya. Ia menebaskan pedangnya dengan sangat kuat, untuk menundukkan kedua orang itu.
Melihat sosok bertopeng hantu itu menebaskan pedangnya ke arahnya, Kazan bersiap untuk memblokir serangan itu dengan sihir pertahanan miliknya. Ia pun melepaskan rapalannya dan membuat sihir pertahanan.
__ADS_1
BOOM! Hantaman keras dari pedang sosok bertopeng hantu itu pada pelindung Kazan. Benturan kuat itu menyebabkan area sekitar menjadi hancur, dan bangunan itu pun runtuh. Debu yang tebal membatasi penglihatan mereka. Saat debu menghilang, terilhat di hadapannya Kido sedang menahan tebasan pedang dari sosok bertopeng hantu dengan kedua tangannya.
Ia melindungi Kazan dari serangan sosok bertopeng hantu. Sambil tersenyum kepada sosok tersebut, Kido berkata kepada Kazan " Kita serang b*jingan ini bersama... Kalau sendiri - sendiri akan susah menghadapinya. " Kata Kido memberikan usulan kepada Kazan untuk mau bekerjasama dengannya dalam menghadapi sosok tersebut. Kido pun menghempaskan sosok bertopeng hantu dengan sebuah pukulan kuat. Itu membuat sosok tersebut terhempas beberapa meter dari tempat awalnya.
" Baiklah, aku setujuh, akan aku bakar si berengsek ini sampai hangus! " Balas Kazan. Ia lalu melemparkan sebuah bola api kepada sosok bertopeng hantu itu.
Sosok itu menatap dengan tajam lalu menebaskan pedangnya pada bola api tersebut. Sehingga bola api itu terbelah menjadi dua bagian dalam satu tebasannya. Sosok bertopeng hantu itu pun menatap mereka dengan sinis. Tapi tanpa ia sadari bola api yang ia belah menjadi dua bagian itu meledat tepat setelah ia memotongnya. Sehingga itu membuatnya menjadi terluka.
" Pasti sakitkan terkena api itu! Akan aku tambah rasa sakitnya! " Ujar Kido yang tiba - tiba muncul di depan sosok bertopeng hantu sambil tersenyum ke arahnya. " Pukulan kuat! " Lanjut Kido memukul sosok itu dengan kerasnya hingga menghantam sebuah dinding dengan keras.
Sosok itu pun kesakitan, namun ia masih mampu berdiri setelah menerma semua serangan kuat itu. Sosok itu menatap keduanya dengan tatapan tajam, dan memegang pedangnya dengan erat. Ia pun melompat ke arah Kido sambil bersiap menyerang Kido.
" Kido hindari itu! " Ucap Kazan dengan keras meminta kepada Kido untuk tidak menahan serangan tersebut.
BOOM! Hantaman sebuah pedang yang amat kuat mengenai kido dengan telaknya. Serangan itu sangat kuat sehingga menyebabkan lantai di sekitar menjadi hancur lebur.
" Uhh... Itu hampir saja... Walau bisa aku tanah, mungkin aku akan terluka... " Ucap Kido dengan wajah yang sedikit berkeringat setelah melihat serangan dahsyat dari sosok itu. Kido berhasil menghindari serangan dari sosok bertopeng hantu itu sebelum pedangnya mengenai kepala Kido. Ia pun bersyukur menghindar serangan itu dan tidak menahannya.
Sosok bertopeng hantu itu menatap Kido dengan sinisnya. Ia pun bersiap untuk menyerang Kido sekali lagi.
Kazan tersenyum kepada sosok bertopeng hantu itu. Dengan senyum percaya dirinya, ia mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berkata " Sudah aku katakan akan membakar mu sampai jadi abu! Badai api! " Kata Kazan sambil tersenyum.
Lingkaran sihir pun muncuk di bawah kaki sosok itu, dan langsung membekarnya dengan api yang sangat panas. Sosok itu pun berteriak sangat kesakitan saat terbakar oleh panasnya api dari sihir yang di lepaskan oleh Kazan.
Setelah api itu padam, terlihat sosok itu telah terduduk lemas di lantai.
" Apa dia sudah mati? " Tanya Kido kepada Kazan.
" Belum... Dia belum mati... " Jawab Kazan sambil menyipitkan matanya. Ia merasa aneh dengan sosok tersebut karena ia dapat merasakam energi sihir yang terpancar dari sosok itu tidak teratur seperti manusia pada umumnya, bahkan berbeda dengan monster.
Sosok itu tiba - tiba saja bergerak. Kido dengan cepat langsung menyerang sosok tersebut dengan pukulan yang sangat kuat sampai membuat tubuh dari sosok tersebut hancur. Di saat semua potongan tubuh berserakan, sebuah gumpalan daging dari sosok tersebut bergerak dan tampak akan melarikan diri dari mereka.
Kazan yang melihat gumpalan daging itu pergi, ia menggunakan sihir pengikat untuk menangkap gumpalan daging tersebut agar tidak kabur.
__ADS_1
" Menjijikan... Sebenarnya makhluk apa orang ini? " Tanya Kido setelah melihat potongan tubuh yang berserakan. Dapat di lihat di lantai sana terdapat berbagai jenis anggota tubuh dari beberapa makhluk. " Daging Orc, telinga dan mata Goblin... Usus Troll... Dan ini... Manusia? " Lanjut Kido dengan sangat bingung melihat isi tubuh dari sosok tersebut. Bagaimana bisa potongan - potongan tubuh yang seharusnya tidak ada pada manusia, berada di satu tubuh. Ia pun sangat bingung. Sebenarnya apa yang mereka lawan ini.
" Apa pun itu... Yang penting sekarang kita sudah mengalahkan makhluk ini... Sebaiknya kita simpan dulu makhluk ini, dan akan kita laporkan pada tuan nanti. " Kata Kazan sembari mengurung potongan daging itu di dalam sebuah toples kaca. Ia akan memberikan makhluk ini kepada tuannya, untuk di laporkan.