LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM

LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM
CH. 149


__ADS_3

Berbagai jenis pasukan kematian yang membawa petaka untuk mereka semua, berdiri di depannya. Saat itu dia hanya bisa terdiam membeku serta pucat melihat banyaknya pasukan kematian.


Langit yang gelap membuat tak ada cahaya matahari sedikit pun yang muncul di langit, kegelapan yang menggila itu menelan semua cahaya yang ada saat itu. Dan bersamaan dengan bangkitnya pasukan kematian.


" Aa... Apa - apaan... Ini.... " Ucap Satoo dengan wajahnya yang pucat. Matanya terbuka lebar seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia merapatkan giginya dan berbicara dengan keras. " APAKAH ADA KUATAN SEMACAM ITU DI DUNIA INI!!! " Ucapnya sambil berteriak.


Dengan tatapan yang dingin dan mengerikan Xi menjawab. " Ya itu aku... " Ucapnya dengan dingin, dia mengarahkan pedang besar dan panjangnya ke arah Satoo, melanjutkan perkataannya. " Hanya aku... Yang akan mencabut nyawanya kalian semua. "


Semua pasukan Shadow yang ada di belakangnya, bergerak menyerang para monster yang ada di sana. Pertarungan antara pasukan Shadow dan para monster terjadi sangat sengit.


Sedangkan Xi, ia berjalan dengan santai sambil menyeret pedangnya. Setiap kali dia melangkah kan kakinya, salju di bawah kakinya memcair dan memunculkan api hitam yang sanga panas.


Dengan ketakutan, Satoo memerintahkan semua pasukannya untuk menyerang Xi. " APA YANG KALIAN LAKUKAN!! CEPAT BUNUH DIAAA!! " Perintah Satoo kepada seluruh pasukannya dengan keras dan ketakutan.


Para prajurit yang mendengar perintah dari Satoo, mereka enggan untuk maju dan berhadapan dengan Xi. Maju kedapan dan menghadapinya, sama saja seperti mengantarkan nyawa sendiri ke kepada kematian.


Mereka gemetaran takut untuk maju, di hadapan mereka semua ada seorang kematian yang sedang berjalan dengan lambat ke arah mereka. Mereka merapatkan gigi mereka dan dengan ketakutan juga terpaksa, mereka maju menyerang Xi.


" AAAAAAA!! Serang!! "


"HAAAAAAA!!! "


Mereka semua maju dengan terpakasa dan menyerang Xi. Dengan rasa takut mereka yang luar biasa, mereka hanya bisa berharap kalau ini akan berakhir dengan cepat dan mereka bisa selamat.

__ADS_1


Namun keberuntungan tidak berpihak kepada mereka. Saat Xi melewati dua di antara mereka, seketika dua orang yang dia lewatkan, terbelah hingga berkeping - keping tak berbentuk lagi.


Dengan dingin Xi berbicara " Majulah... Majulah kalian semua, dan... Matilah di bawah tebasan pedangku. " Ucapnya dengan dingin.


Mereka membeku saat mendengar perkataan Xi. Namun mereka tetap maju, dan saat satu dari mereka sedang berbicara. " Ba... Bagaimana mungkin ada mons... " sebuah tebasan pedang yang kuat mengarah padanya dan membuatnya terbunuh seketika.


Xi dengan gerakan dan ayunan pedangnya yang indah, membuat banyak darah berjatuhan. Setiap tebasan pedangnya membawa banyak kematian.


Di depan Satoo dengan enteng nya Xi menebas banyak kepala prajurit dan berjatuhan di hadapan Satoo. Para prajurit yang dia besarkan, prajurit elite yang dia banggakan, terbunuh di bawah tebasan pedang Xi. Tidak ada satu pun dari prajuritnya yang bisa menggores Xi dan bahkan menyentuhnya. Yang ada hanyalah kematian dari para prajuritnya yang terbunuh oleh Xi.


Dia melihat sekelilingnya, para monster yang tadinya menguasai jalannya pertarungan, seketika terbalik dengan mudah. Mereka para monster di habisi dengan mudahnya oleh pasukan Shadow. Bahkan para monster yang terlepas dari segelnya, kesulitan dalam menghadapi IGRIS, GIDEON, JACK O LANTERN, CELIA, DROZAN, dan para petinggi lainnya yang ada pada pasukan Shadow.


Drozan dan Boss monster itu bertarung sangat sengit, mereka saling menyemburkan nafas api dan es yang selalu bertabrakan.


Tebasan demi tebasan Xi lancarkan terus, dan banyak yang telah terbunuh di bawah tebasan pedangnya yang tajam. Dia tidak ada keraguan dalam menebaskan pedangnya, tidak peduli siapa pun itu, dia akan menebasnya hingga mati.


Tidak sampai sepuluh menit, Xi telah membunuh lebih dari seribu prajurit Satoo. Mereka yang terbunuh oleh Xi, jasad mereka sangat mengenaskan.


Seorang pengawal kepercayaan Satoo, dengan lantang dia berteriak dan menebaskan pedangnya pada Xi. " AAAAAA AKU BUNUH KAU!! " Ucapnya sambil berterikan, dia mengayunkan pedangnya ke Xi, namun dengan mudah tebasan pedangnya di tangan dengan gagang pedang milik Xi. Kesatria itu mengerahkan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk menyerang Xi, akan tetapi serangan kuat mikiknya tidak membuat Xi bergeming sedikit pun. Tatapan Xi yang dingin seolah memandang remeh lawannya.


" AAAAAA!! AKU ADALAH PENGAWAL PRIBADI YANG MULIA SATOO!! AKU AK... " Sebelum dia selesai berbicara dan menyebutkan namanya, terlebih dahulu kepalanya terpenggal oleh Xi.


Melihat kesatria kepercayaan mati begitu saja tanpa adanya beban untuk membunuhnya. Satoo tidak bisa berkata apa - apa. Dia hanya bisa menyaksikan kematian para prajuritnya di bawah pedang Xi.

__ADS_1


Satoo melihat sekelilingnya, di sekelilingnya para prajurit yang masih berdiri, tiba - tiba mereka mati terbelah - belah. Tubuh mereka terpotong dengan rapi. Rasa takutnya akan kematiannya semakin dalam, dan semakin dalam. Suara teriakan, teriakan dari para prajuritnya yang telah mati, itu adalah suara teriakan rasa sakit mereka.


Lima ribu prajurit yang dia banggakan, tidak ada satu pun dari mereka yang masih hidup. Mereka semua telah terbunuh oleh Xi. Tempat yang di penuhi oleh salju yang putih dan indah, berubah menjadi merah darah yang mengerikan. Tak ada keindahan lagi di tempat itu, hanya ada kengerian dan kematian.


Sesaat saat Xi telah mengalahkan semua prajurit, dia muncul di hadapan Satoo dan berdiri di depannya sambil memegang pedangnya yang belumuran darah. Sati menatap Xi dengan ketakutan, melihat wajah Xi yang dingin.


Satoo dengan rasa takut dia berkata kepada Xi " Kau... Apa kau tahu siapa aku... Kau tidak bisa membunuhku... Aku adalah Raja... Seorang raja.... KRACKK.... HUH!! AAAAAA!!! " Saat dia berbicara mengenai identitas dan berharap dia bisa selamat. Namun saat dia sedang berbicara, sebelah tangannya terputus karena tebasan pedang Xi. Satoo pun memjerit kesakitan, rasa sakit yang dia rasakan sungguh luar biasa. Darah mengalir keluar dari tangannya yang terputus itu, dan membasahi salju yang putih.


" KEEEE... Kau bajingan... Aku adalah ra... Krackk.... AAAAAAAAA!! " sekali lagi saat dia ingin membela dirinya, tangannya terputus lagi. Rasa sakitnya bertambah semakin parah, air mata keluar jatuh menetes dan dia memohon kepada Xi. " Tolong... Tolong jangan bunuh aku... Aku menyerah... Tolong ampuni nyawaku... " Ucapnya sambil terbanta - banta dengan menahan rasa sakitnya.


Xi tidak menjawab mau pun mendengar perkataan Satoo. Dia menusukkan pedang besarnya kepada Satoo dan hingga menembus tubuhnya itu.


" AAAAAAAAAA!!! "


Dia menjerit kesakitan, rasa sakit yang luar biasa bisa dia rasakan pada tubuhnya. Tubuhnya tidak bisa bergerak dan mati rasa, sekarang dia tidak bisa merasakan rasa sakit yang dia derita. Dengan pelan dia berbicara " Tolong... Bunuh saja aku... " ucapnya dengan pelan.


Xi mengangkat pedang besar dan panjangnya itu ke atas, dengan pedang yang di lumuri oleh darah, ia mengayunkan pedangnya dan memenggal kepada Satoo.


Namun saat dia merasa kalau dia sudah mati, dia terbangun lagi dengan tubuh yang tidak memiliki luka sedikit pun, dan Xi ada di hadapannya sambil memegang sebuah pedang.


Dia bingung kenapa dia belum mati, padahal saat itu sangat jelas baginya kalau dia telah mati.


" Se.. Sebenarnya... Apa yang terjadi... "

__ADS_1


__ADS_2