LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM

LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM
CH. 111


__ADS_3

Kemunculan wanita cantik bersamaan dengan menghilangnya pusaran angin, membuat mata semua orang tertuju kepadanya. Wanita itu sangat cantik, mungkin tidak dapat di bandingkan dengan wanita - wanita yang ada pada generasinya. Selain memiliki penampilan yang sangat menawan, ia juga sangat kuat berbekalkan sihir angin yang amat luar biasa.


" Wanita tua... Kau masih tidak melepas artefak itu? Tidak aku sangka kau masih menggunakan nya untuk mempertahankan penampilan mu. " Kata Sanzun.


" Mulutmu masih saja pedas seperti dulu, apa kau mau lidahmu aku potong? " Kata wanita itu. Si penyihir angin yang di katakan sebagai penyihir agung oleh banyak orang. Sang Angin Topan, Lisa.


[ Nama : Vind ] Rank : A Special. Level : 120. Exp : 1000000. Class : Arcmage ( Tipe Angin )


" Kepercayaan dirimu terlalu tinggi hari ini Sanzun... Apa kau yakin bisa mengalahkan kami? " Tanya Zapdas kepada Sanzun sambil mengangkat satu alisnya.


Sanzun tersenyum, dan itu membuat keduanya terkejut. Dalam pikiran mereka, mereka mereka berkata " Apakah dia benar - benar bisa mengalahkan kami? " Kata keduanya dengan serempak.


Melihat Sanzun yang begitu percaya diri dengan kekuatannya yang sekarang, mereka merasa aneh. Biasanya Sanzun tidak memiliki kepercayaan diri setinggi itu saat bertemu mereka berdua, tapi kali ini berbeda, bahkan sekarang Sanzun tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.


Vind memerhatikan Sanzun dengan serius, saat ia melihat Sanzun, terdapat sebuah tombak aneh yang Sanzun pegang. Vind merasa kalau tombak itu lah yang membuat Sanzun begitu percaya diri. Di tambah lagi, Vind merasa kalau tombak itu jauh lebih kuat dari tombak milik Sanzun yang dulu.


Vind tersenyum, menatap Sanzun dengan matanya yang indah. Berkata dengan ringan " Sanzun... Sepertinya kau punya senjata baru yang sangat kuat, apa itu yang membuatmu begitu percaya diri? " Kata Vind sambil bersikap manis. " Apa kau tidak mau memberitahukan kepada Kakak ini dari mana kau mendapatkan artefak itu? Aku rasa itu bukan artefak biasa! " Lanjut Vind.


Mendengar itu, Sanzun dan yang lainnya merasa aneh dan jijik. Pasalnya mereka sudah tahu siapa wanita cantik yang ada di hadapan mereka saat ini.


" Wanita tua... Kau begitu mengerikan... " Kata Sanzun dalam hatinya sambil memasang raut wajah anehnya. Lalu Sanzun pun melajutkan perkataannya dengan membalas pertanyaan Vind " Ya begitu lah, tapi buka ini yang membuat ku percaya diri. " Balas Sanzun sambil tersenyum.


Keduanya terkejut mendengar itu, sontak pandangan mereka berdua jatuh pada sosok pria berambut putih yang sedang duduk di atas seekor monster berkaki empat layaknya seorang raja. Pria itu menunjukkan ekspresi dingin kepada mereka berdua, seolah sedang memandang rendah keduanya.


" Sejak kapak anak berambut putih itu ada di sana? Aku sama sekali tidak menyadari keberadaan nya... " Kata Zapdas sambil mengerutkan dahinya. Sebagai seorang veteran petualang, Zapdas padat merasakan aliran sihir lebih baik dari siapa pun, dan lebih baik dari petualang mana pun. Akan tetapi, ini kali pertamanya ia tidak dapat merasakan aliran sihir seseorang. Padahal orang itu tepat tidak jauh ada di depannya.


Energi sihir tidak dapat di rasakan bila seseorang menyembunyikan nya dengan bantuan dari sebuah artefak yang memiliki kemampuan khusus untuk menyembunyikan keberadaan energi sihir milik si pengguna. Namun, itu tidak akan menyembunyikan semuanya secara total, karena artefak juga memiliki batasan.


Energi sihir benar - benar tidak dapat di rasakan, apa bila individu tersebut telah mati. Karena pada saat itu, energi sihir dalam tubuh makhluk hidup akan menghilang seiring berjalannya waktu. Namun, ada beberapa kasus makhluk yang telah mati, masih dapat memamcarkan energi sihir yang sangat hebat. Makhluk - makhluk itu bukanlah makhluk biasa, melainkan makhluk dengan kekuatan atau Rank tinggi layaknya Legendary Beast atau Dragon Awakening, dan makhluk - makhluk setingkatnya. Selain itu, mungkin tidak ada yang lain.


" Aku tidak tahu seberapa kaut anak itu, tapi... Yang jelas anak itu sangat berbahaya! Tatapan mata yang dingin itu, seolah memandang rendah makhluk lainnya. Tatapan itu, sudah seperti tatapan seorang raja! " Lanjut Zapdas.


Sanzun mengangkat satu tangannya, mengarahkan tangannya pada kedua orang yang ada di depannya. " Entah apa yang sedang kalian pikirkan... Tapi lebih baik kalian bergabung saja dengan kami, aku jamin kalian tidak akan menyesal. " Ajak Sanzun kepada kedua orang itu.


Keduanya terkejut setelah mendengar kata - kata itu dari Sanzun. Perkataan Sanzun memang sangat sulit di percaya, karena dia adalah seorang bandit yang selalu merampas barang milik orang lain. Akan tetapi, melihat Sanzun yang begitu percaya diri, serta Artefak yang ia pegang, membuktikan kalau apa yang di katakan Sanzun adalah kebenaran. Bukan hanya Sanzun, melainkan keempat saudaranya juga memiliki Artefak - artefak kelas atas, yang bahkan keluarga bangsawan pun tidak akan memiliki sebagus itu.


Vind tersenyum, memandang rendah Sanzun dengan yang lainnya pula. " Kau pikir aku akan percaya kata - kata mu? Bandit hutan yang bahkan selalu mencuri barang orang lain, bisahkan kata - katanya di percaya? " Kata Vind.


Mendengar itu, membuat Sanzun dan keempat saudaranya menjadi geram. Saking geramnya, sampai urat - urat di kepala mereka pun terlihat.


Xi melirik Airis dan Astia yang ada di sampingnya, lalu berkata dengan pelan " Kalian, tidak ada gunanya membujuk mereka dengan baik - baik melihat dari sifatnya yang angkuh... Kalahkan mereka, dan buat mereka tunduk! " Kata Xi sambil berbisik. Melihat situasi seperti ini, Xi tidak memiliki pilihan lain selain menundukkan keduanya dengan cara paksa.


Airis dan Astia mengangguk mengerti. Segerah mereka turun dari tunggangan mereka. Berjalan dengan santai sambil menatap kedua nya dengan tajam.


Zapdas dan Vind melihat keduanya berjalan mendekati mereka, mereka terkejud. Melihat mata sinis yang penuh penindasan dari kedua orang itu, membuat mereka merasa tidak nyaman.


Zapdas dan Vind menatap kedua wanita yang berjalan ke arah mereka dengan tajam. Memerhatikan tindakan apa yang akan di lakukan kedua orang itu. Saat mereka fokus menatap keduanya, tiba - tiba saja satu di antara mereka menghilang dengan sangat cepat. Zapdas mau pun Vind terkejut dengan kecepatan tersebut, dan memerhatikan sekitar mereka, dimana wanita yang membawa katana itu akan muncul.


" Kalian sedang mencari siapa? " Tanya seorang wanita kepada Zapdas dan Vind yang sedang bingung.


Zapdas dan Vind terkejut saat mendengar kata - kata itu jatuh. Mereka menoleh kebelakang dengan cepat. Tampak wanita bertelinga rubah itu telah bersiap dengan kuda - kedunya, menarik katananya dari sarungnya.


" Gawat... Sejak kapan dia ada di sana? " Kata keduanya dalam hati. Segerah keduanya melompat ke belakang dengan sangat cepat untuk menghindari serangan Airis.


Mereka mendarat dengan jaka yang cukup jauh dari Airis. Dengan jarak itu, mereka merasa aman dan berpikir tidak mungkin untuk Airis bisa muncul di belakang mereka lagi.


" Gadis muda, tadi itu benar - benar sangat berbahaya, tapi kau sudah menyia - nyiakan energi mu hanya untuk membuat kami mundur! Gadis muda, jika kau berlutut dan meminta maaf kepada kami, mungkin kami masih bisa memaafkanmu? " Kata Vind dengan raut wajah kesalnya. Tidak percaya kalau dia akan di permainkan oleh seorang wanita yang lebih muda darinya.


" Si wanita tua ini cukup banyak omong! Sekarang berlutut lah pada taun ku, kalau tidak aku akan memotongmu sampai sejuta bagian untuk makanan harimau, sekrang mungkin masih belum terlambat? " Kata Airis dengan satai sambil tersenyum. Menatap Vind dengan tatapan yang meremehkan.

__ADS_1


Vind menjadi kesal ketika Airis memintanya untuk berlutut kepada pemuda yang bahkan tidak ia kenal, serta yang asal usulnya tidak jelas. Melihat pemuda berambut putih yang duduk santai di atas tunggangannya layaknya seorang raja, semakin membuat Vind kesal. Ia sangat tidak sudi untuk berlutut kepada orang yang bahkam tidak memiliki sihir di pada tubuhnya. Ia merasa sangat di rendahakan dengan kata - kata tersebut.


" Dasar sombong! Aku akan mengirimmu untuk bertemu dengan raja neraka sekarang! " Kata Vind dengan kesal sambil melancarkan serangannya, yang berupa sebuah serangan angin yang sangat kuat. Serangan itu seperti sebuah tombak yang sangat tajam, dan terbang dengan sangat cepat layaknya sebuah panah.


Tombak angin dengan cepat melayang menghantam Airis dengan sangat kerasnya. Sehingga membuat beberapa pohon yang ada di belakangnya pun ikut tumbang kerena terpengaruh dari kuatnya hembusan angin yang di hasilkan.


Debu yang tebal pun tercipta kerena serangan angin tersebut. Debu itu menghalangi pandangan mata. Namun, perlahan debu itu menghilang, sebuah cahaya yang cukup terang pun muncul menyinari tempat tersebut. Hal itu membuat Vind merasa sangat terkejut dengan kemunculan cahaya itu, jelas yang ada di balik cahaya itu adalah Airis yang berdiri dengan santai dan tidak menerima sedikit luka setelah terkena serangannya.


" Nenek tua, sepertinya kau belum sarapan tadi pagi ya? Sihirmu lumanya buruk! " Kata Airis dengan santai sambil tersenyum.


Melihat itu Zapdas terkejut, matanya terbuka lebar. Dalam hatinya ia berkata " Apa?! Bocah itu bisa menahan sihir Vind dengan sangat mudah? Bahkan aku perlu usaha untuk menahan serangan itu... " Kata Zapdas dal hatinya. Memikirkan kemampuan Airis membuatnya berkeringat.


" Sepertinya kalian melupakan seseorang! " Sebuah serangan sinar cahaya dengan sangat cepat melayang ke arah Zapdas dan juga Vind.


Zapdas yang menyadari serangan itu, segerah ia memblokir nya dengan sebuah serangan petir yang sangat kuat. Seketika, kedua serangan itu saling bertabrakan, dan menyebabkan sebuah ledakan. Gelombang kejut pun menghasilkan hembusan angin yang sangat kuat, dari dua serangan yang bertabrakan itu, tampak Zapdas terpukul mundur.


Menyadari dirinya terpukul mundur, Zapdas pun berkata dalam hatinya " Apa? Tidak bisa aku percaya aku tidak memiliki kemampuan untuk menahan serangannya! " Kata Zapdas dalam hatinya. Tampa sadar darah mengalir keluar dari mulutnya.


Zapdas melihat wanita berambut pirang yang amat cantik sedang memainkan rambutnya. Melihat itu, Zapdas melirik Vind yang ada di sampingnya. Keduanya saling mengangguk, kemudian saling merapalkan mantra sihir bersamaan.


Seketika saat mereka berdua merapalkan sihir mereka bersamaan, langit cerah berubah menjadi mendung dengan gemuruh petir yang bergejolak. Angin berputar di sekitar mereka dengan sangat cepat, di iringi aliran petir yang sangat ganas. Membentuk sebuah bola raksasa dengan kepadatan energi yang luar biasa.


Hal itu, bahkan sampai membuat Sanzun yang telah mengenal mereka berdua begitu lama pun terkejut. Pasalnya kedua orang itu belum pernah menggunakan kemampuan gabungan ini sebelumnya.


" Tekanan yang sangat kuat... Serangan itu pasti sangat berbahaya! " Kata Sanzun dengan tidak percaya.


" Ini... Ini bahkan melebihi kemampuan yang di miliki oleh seorang Rank A! " Kata Bass.


Energi sihir terus berkumpul di sekelilingnya, menciptakan kepadatan energi yang luar biasa kuat, hingga membuat guntur pun mulai menyambar tanpa henti.


" Kemampuan yang hebat, mereka bahkan sampai mempu menggunakan sihir sebesar ini yang dapat mengubah cuaca... Tapi... " Kata Xi dalam hatinya. Ia tidak pernah mengira kalau keduanya akan sekuat ini. Apa yang di tunjukkan oleh keduanya, benar - benar di luar dari ekspetasi nya.


Airis yang melihat Zapdas dan Vind yang merapakalkan sihir nya dengan sangat cepat dan hampir selesai, membuatnya menjadi sedikit cemas. Ia mungkin bisa selamat dari serangan itu, tapi pasti akan berakhir dengan luka yang parah. Tapi, saat ia sedang merenungkan tindakan apa yang ingin ia ambil, tiba - tiba tubuhnya di penuhi dengan kekuatan sihir yang meluap - luap. Itu seperti seseorang sedang memberikan sebuah Buff yang sangat besar kepada dirinya.


" Ini... " Kata Airis sambil melihat tubuhnya yang bersinar terang. Kemudian ia menatap Astia yang ada di depan sana. Menatap mata Astia yang cerah itu, Airis sepertinya tahu apa yang di rencanakan oleh Astia. Ia pun tersenyum dan langsung melompat ke arah Zapdas dan Vind yang sedang menyiapkan langkah akhir mereka.


Melihat tindakan Airis yang seperti orang bodoh yang tidak takut mati, membuat tertawa. Karena apa yang di lakukan Airis akan sangat sia - sia mengingat angin yang berputar sangat cepat akan menjadi barier yang tidak dapat di tembus oleh orang lain.


" Nak matilah! Akan aku berikan kau sebuah pemgalaman yang tidak akan kau lupakan bahkan setelah bertemu dengan kematian! Setelah kami selesai melafalkan sihir ini, maka di tempat ini lah kamu akan di makamkan! " Kata Vind dengan penuh percaya diri.


Namun, SLAHS! Airis menebaskan pedangnya dengan sangat kuat. Kuatnya tebasan pedang itu sampai membuat perisai angin yang melindungi keduanya terbelah. Bahkan sihir yang mereka lafalkan yang hampir selesai itu, juga ikut terpotong kerena tebasan pedang Airis.


Hal itu membuat Zapdas mau pun Vind sangat terkejut, karena Airis mampu menembus barier yang melindungi mereka dengan sangat mudah. Bersamaan dengan itu, sebuah sinar cahaya dengan sangat cepat datang ke arah mereka berdua.


Sadar akan bahaya yang akan di hasilkan, Zapdas dan Vind menggabungkan kekuatan mereka untuk memblokir serangan cahaya tersebut. Petir dan angin pun bersatu menciptakan sebuah serangan yang sangat kuat, dan saling bertabrakan dengan sinar cahaya yang amat terang.


Kedua serangan saling bertabrakan, dan menciptakan sebuah ledakan gelombang energi, yang menghasilkan hembusan angin yang amat kecang, hingga dapat menerbangi dedaunan yang ada di pohon dengan sangat mudah. Pada saat yang sama, seakan pepohonan akan tumbang karena hasil dari tabrakan keduanya.


" Wah cukup menarik juga, tapi masih belum cukup untuk mengalahkan ku. " Kata Astia dengan santai. Walau di hadapi dengan serangan yang kuat, ia masih bisa berpikir tenang untuk menanggapi nya. " Meriam Cahaya! " Lanjut Astia memperkuat serangannya. Seketika setelah Astia memperkuat serangannya, Sihir milik Zapdas dan Vind terdorong dengan sangat cepat. Hingga meriam cahaya milik Astia menghantam mereka dengan sangat keras.


Ledakam terjadi, Zapdas dan Vind terlempar karena ledakan itu. Seteguk darah pun keluar dari mulut mereka, karena dampak yang di terima dari ledakan tersebut pada tubuh mereka. Ketika keduanya terjatuh, sebuah tekanan yang sangat kuat menekan mereka, hingga keduanya tidak dapat bergerak dengan bebas.


" Tekanan Gravitasi! " Kata Astia. Ia melafalkan sihir Gravitasi setelah memenangkan pertarungan adu kekuatan sihir itu. Tekanan yang di berikan oleh Astia sangat kuat, sehingga membuat Zapdas dan Vind tidak dapat bergerak sedikit pun.


" Sialan... Tekanannya sangat kuat! Aku tidak bisa menggerakan tubuhku! " Kata Zapdas yang tergeletak di tanah. Tekanan Gravitasi yang menimpanya sangat kuat, bahkan sampai ia tidak bisa menggerakan mulutnya dengan bebas.


Di saat keduanya tertekan oleh Gravitasi yang sangat kuat. Berdiri seorang pemuda berambut putih di hadapannya mereka berdua. Pria itu menatap mereka dengan tatapan dingin dan sangat mengerikan. Sontak hal tersebut membuat mereka berdua menjadi cemas dengan apa yang di lakukan oleh pemuda tersebut.


" Izinkan aku memperkenalkan tuan ku kepada kalian berdua, Beliau adalah pemimpin baru dari kelompok bandit hutan, Tuan Sakaki! " Kata Sanzun dengan sopan. Memperkenalkan tuan barunya kepada mereka berdua yang sedang di tekan itu.

__ADS_1


Pertama mereka tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Sanzun, namun setelah melihat pemuda berambut putih itu meminta Astia untuk menurunkan tekanannya, mereka pun percaya dengan apa yang di katakan oleh Sanzun tadi. Bahwa pemuda yang bahkan belum menginjak usia 20 tahun ini adalah pemimpin baru dari kelompok bandit hutan.


" Seperti yang di katakan Sanzun, aku adalah Sakaki pemimpin baru dari bandit hutan, sekarang perkataan ku adalah perintah bagi mereka. Kali ini, aku secara pribadi mengundang kalian untuk bergabung dengan kelompok ku. " Kata Xi dengan ekspresi dinginnya. Walau begitu pembawaan bicaranya sangat tenang, seperti seorang yang profesional.


" Apa! " Teriak keduanya dengan serempak karena terkejut. Di bawah tekanan yang sudah menurun itu, Zapdas dan Vind saling memandang satu sama lain. Mereka tidak ingin mengambil keputusan begitu saja, karena mereka tidak yakin kalau mereka akan di perlukan dengan baik seperti Sanzun dan yang lainnya.


" Itu benar!! Saat ini kami sudah menjadi bawahan Tuan Sakaki, Kakak tertua menceritakan tentang kekuatan kalian berdua kepada tuan, seketika saat itu Tuan tertarik dan ingin mengundang kalian untuk masuk dalam kelompoknya. " Kata Balbastar. Ia mengingat dengan jelas apa yang sedang di bicarakan oleh Tuannya dan juga Kakaknya saat dalam perjalanannya menuju ke sarang monster serangga ini.


Seketika itu membuat Zapdas mau pun Vind membuka lebar mata mereka. Mereka sangat terkejut karena seluruh kelompok bandit hutan benar - benar ada bi bawah kendali dari pemuda ini.


" Dari mana asal usul bocah ini? Membuat kelompok bandit yang membuat Kekaisaran Fafnir sakit kepala menjadi bawahannya. Apa yang di lakukan oleh bocah ini, sama saja seperti mempermalukan Kekaisaran Fafnir yang telah berusaha keras selama beberapa tahun terakhir. " Kata Zapdas dalam hatinya.


Vind tertawa kecil lalu berkata " Bocah, meskipun bawahanmu sangat hebat, tapi kau masih belum memenuhi syarat untuk mengundang kami masuk ke dalam kelompok ini. Dengan kekuatan mu, aku tidak tahi berapa lama kelompok ini akan bertahan. " Kata Vind.


Mendengar itu, membuat Xi menjadi geram. Ia pun melepaskan aura membunuh yang sangat kuat, dan dalam sekejap langsung memberikan sebuah tekanan yang sangat kuat kepada Zapdas dan juga Vind. Keduanya muntah darah saat merasakan aura membunuh yang sangat mengerikan itu, saking mengerikan aura membunuh itu, sampai - sampai mereka berdua merasa kalau tubuh mereka sedang di koyak - koyak.


" Kekuatannya benar - benar sangat hebat, bahkan sampai mempu membuat kedua orang tua itu sampai seperti ini. " Kata Sanzun sambil memperhatikan apa yang sedang Xi lakukan dengan serius. Ia dapat melihat betapa kejamnya aura membunuh yang di miliki oleh Xi.


" Kalian sangat keras kepala... Kenapa tidak terima saja tawaranku, selama kalian menerimanya, kalian tidak akan merasakan rasa sakit lebih dari ini. " Kata Xi dengan dingin.


" Kekeke bahkan jika kau menyiksa kami sampai kami mati, KAMI TIDAK AKAN MENERIMA ITU!! " Kata Zapdas sambil mempertahankan harga diri nya.


Xi terdiam sesaat merenungkan sesuatu, dalam pikirannya dia berpikir " Sulit untuk membuat orang yang keras kepala tunduk seutuhnya, apa lagi kalau ia sangat membanggakan harga dirinya. Tapi... Untuk membuat keduanya tunduk bersamaan, harus kuhancurkan harga diri mereka... Bahkan jika harus menggunakan cara yang kotor. " Pikirnya saat itu.


Xi mencekik Vind dengan sangat kuat. Mengangkatnya dengan kasar hingga Vind berdiri sejajar dengannya tepat di hadapannya. Zapdas yang melihat itu terkejut, dan sangat cemas kepada Vind. Ia takut kalau pemuda itu akan melakukan sesuatu yang sangat mengerikan kepada Vind.


" Apa yang kau lakukan? Lepaskan dia! " Kata Zapdas dengan keras. Meminta Xi untuk melepaskan Vind.


Xi menatap Zapdas yang berteriak itu dengan dingin. Lalu berkata dengan nada yang dingin " Kau ingin tahu? " Kata Xi.


Zapdas menatap dengan sangat cemas, kemudian ia melihat Xi mengangkat tangannya dan merobek baju milik Vind tepat di depan mata Zapdas.


Zapdas pun sangat terkejut, dan dengan marah berkata " B*jingan! Hentikan itu! " Kata Zapdas dengan sangat keras.


Xi pun kembali menatap Zapdas dengan dingin dan tanpa perasaan sedikit pun. Lalu dengan dingin berkata " Lalu, apa yang akan kau lakukan kepadaku kalau tidak menghentikannya? " Tanya Xi kepada Zapdas.


Zapdas pun hanya bisa diam penuh dengan kecemasan. Wajahnya penuh keringat, karena takut kalau ia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaan dari pemuda tersebut. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan pemuda itu selanjutnya bila ia menyinggungnya.


Kemudian, Xi pun melanjutkan dengan merobek pakaian Vind kembali. Saat melakukan itu, tatapan Xi tidak berubah sedikit pun. Itu tatapan dingin yang tidak punya sedikit pun perasaan.


Lalu Xi menatap Zapdas yang sedang tertekan itu dengan dingin. berkata kepada Zapdas " Jika kalian tidak menerima permintaan yang aku ajukan tadi, percaya atau tidak... Aku akan mematahkan kedua tangan dan kaki wanita ini dan akan ku lempar dia ke sekumpulan pria yang lapar di luar sana. " Kata Xi dengan dingin. Mengancam Zapdas yang tertekan melihat adiknya di lecehkan oleh orang lain tepat di hadapannya.


" Hentikan, B*jingan! Jika kau tidak berhenti, aku akan membunuhmu! " Teriak Zapdas dengan sangat keras. Mengancam ingin membunuh Xi jika Xi tidak melepaskan adiknya itu.


Xi tersenyum tipis, dengan senyum dinginya, ia menatap Zapdas yang mengancam akan membunuhnya itu jika ia tidak berhenti.


" Heh! Membunuhku? Hidup dan mati kalian saja sekarang ada di tanganku kenapa kau begitu percaya diri bisa membunuhku? " Kata Xi sambil tersenyum tipis dengan wajah dinginnya.


Kemudian setelah Xi menyelesaikan perkataannya. Ia mengangkat Vind dengan satu tangannya, membanting Vind dengan keras ke tanah, hingga membuat permukaan tanah Hancur. Vind yang di hantamkan ke tanah dengan sangat keras itu, ia muntah darah dengan tubuh yang gemetaran. Tubuhnya telah mengalami trauma yang mendalam, sehingga membuatnya tidak bisa berhenti gemetar.


" Vind!! " Teriak Zapdas dengan keras. Ia benar - benar sangat cemas dengan kondisi adiknya yang baru saja di banting ke tanah dengan sangat keras. Ia ingin pergi melihat kondisi adiknya itu, namun tekanan kuat dari tekanan Gravitasi membuatnya tidak bisa menggerakan tubuhnya dengan leluasa.


" Sudah aku katakan kepadamu, percaya atai tidak aku akan mematahkan tangan dan kakinya, kemudian melemparnya ke kumpulan pria yang sangat lapar di luar sana. Dan aku jamin, wanita ini akan menerima rasa malu yang luar biasa! " Kata Xi dengan dingin.


Zapdas merapatkan giginya dengan cemas mendengar perkataan itu. Xi mengepalkan tangannya dengan di balut dengan sihir yang sangat kuat. Tatapan matanya tidak berubah, seolah ia benar - benar akan melakukan hal tersebut.


Melihat kesungguhan itu, Zapdas langsung berlutut. Ia menangis dan memohon kepada Xi. " Tu tuan Sakaki! Kami bersedia! Kami bersedian mengikuti mu! Kumohon, Kumohon berhenti menyiksa adik ku! " Ucap Zapdas sambil memohon. Air matanya benar - benar mengalir dan membanjiri wajahnya saat itu. Tidak ada kebohongan yang ia tunjukkan, apa yang ia lakukan itu adalah kebenarannya.


Melihat kesungguhan itu, Xi kemudian menarik kembali energi sihirnya. Lalu berbalik meninggalkan Zapdas dan Vind sambil berkata " Jika kau menerimanya sejak tadi, kalian tidak akan jatuh sampai sejauh ini... Sanzun segerah obati mereka, setelah mereka sembuh, kita akan masuk ke dalam sana. " Kata Xi sambil berjalan pergi. Dan memerintahkan Sanzun untuk mengobati Zapdas dan Vind yang terluka itu.

__ADS_1


" Baik tuan! " Ucap Sanzun. Kemdian, ia dan bawahannya bergegas untuk mengobati Zapdas dan Vind yang terluka karena pertarungan yang mereka lakukan tadi.


__ADS_2