LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM

LAHIRNYA SANG DEWA KEMATIAN HITAM
CH. 110


__ADS_3

Setelah mendapatkan Quest yang di dapat dari menemukan sebuah sarang monster yang tidak jauh dari tempat mereka berada. Xi pun merenungkan nya sebentar, karena ia tidak memiliki informasi apa pun tentang sarang monster tersebut. Di tambah lagi, ia tidak tahu monster jenis apa yang meninggali sarang itu. Bila ia datang ke sana tanpa persiapan, dan informasi yang cukup mengenai sarang monster itu. Ia khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka.


Di samping itu, saat ia sedang merenungkan sesuatu. Tanpa sadar ia melikir Sanzun yang sedang mengobrol dengan para bawahannya, pada saat itu terlintas di pikirannya kalau ingat Sanzun adalah bandit hutan yang telah mengarungi hutan ini sangat lama.


Ia pun memejamkan matanya, dan bergumam dalm hatinya " Bagaimana aku bisa lupa? Aku benar - benar bodoh... " Kata Xi dalam hatinya, sambil menggelengkan kepalanya dengan bodoh. Setelah itu ia pun menanggil Sanzun.


" Sanzun bisakah kau kemari sebentar! " Kata Xi.


Mendengar itu, Sanzun mengangguk dan berjalan mendekati Xi. Sesampainya di depan Xi, dengan sopan ia berkata " Ada apa Tuan ku? " Tanya Sanzun dengan sopan.


Xi memandang Sanzun dengan tenang. " Di sekitar sini ada sarang monster kan? " Balas Xi sambil bertanya kembali.


Mendengar pertanyaan itu, Sanzun memegang dagunya. Dengan usaha keras ia berpikir untuk mengingat sarang monster yang ada di dekat sini. Setelah ia mengingatnya, ia pun berkata " Iya... Ada sarang monster di sekitar sini tapi... " Jawab Sanzun dengan wajah yang sedikit berkeringat. Tampak setelah mengingat itu, Sanzun tampak cemas dan takut, seperti perna terjadi sesuatu yang mengerikan padanya.


Melihat Sanzun yang berhenti berbicara, Xi mengangkat sebelah alisnya sambil berkata " Tapi? Tapi apa? Apa ada sesuatu di sana? " Kata Xi.


Sanzun menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan apa yang ingin ia katakan sebelumnya, sambil mengingat kejadian yang pernah terjadi padanya dulu. " Tidak jauh dari sini memang terdapat sebuah sarang monster... Monster - monster yang menempati tempat tersebut adalah jenis serangga. Lebih tepatnya tempat itu adalah sarang dari monster semut. Dulu semasa aku masih menjadi bagian dari kekaisaran Fafnir, kami memimpin seratus lebih petualang elite Kekaisaran untuk menaklukkan tempat tersebut. Di antara para petualang itu, ada sekitar 25 petualang Rank termasuk aku, dan 3 orang Rank S. " Kata Sanzun sambil mengingat ekspedisi tersebut.


" Pada awalnya, dalam penyerangan itu tidak terjadi sesuatu yang aneh. Kami dapat dengan mudah mengalahkan para semut - semut yang ada di dalam sana. Walau Rank semut - semut itu tidak rendah, tapi kami dapat mengatasi semuanya dengan kerja sama. Pada saat itu kami sangat percaya diri dapat mengalahkan boss dari sarang tersebut, namun terjadi ke anehan setelah kami hampir sampai di ruangan boss. Dimana jumlah semutnya bertambah sangat banyak, bukan hanya semut, melainkan ada banyak serangga lainnya di dalam sana. "


" Kemunculan kelompok serangga itu dalam jumlah banyak, memberikan dorongan besar pada kami. Kemunculan mereka, seperti sebuah ombak laut yang sangat besar, dan menghantam apa pun yang ada di hadapannya. Karena itu pun, kelompok petualang elite yang kami pimpin saat itu mulai banyak berjatuhan, dan petualang Rank atas pun juga banyak terbunuh termasuk ketiga Rank S yang ikut saat itu. Karena merasa tidak dapat menyelesaikan ekspedisi itu, aku pun memutuskan untuk pergi bersama yang lainnya kembali ke Kekaisaran. Namun, saat kami sampai di Kekaisaran, yang kami dapat bukan sebuah sambutan hangat. Melainkan penghinaan dan membuang kami yang ada di ekspedisi saat itu dengan tidak hormat. " Lanjut Sanzun.


Saat menceritakan semua itu, tampak wajah sedih terlukis di wajah Sanzun. Kehilangan banyak rekan - rekannya saat ekspedisi itu sangat memukul hatinya, bahkan saat mereka dalam ke adaan terburuk, Kekaisaran tidak menanggapi mereka dengan baik, melainkan malah mengusir mereka karena ketidak bejusan mereka dalam ekspedisi hingga menghasilkan kegagalan. Rekan - rekan Sanzun yang terluka para saat kembali, mereka semua berakhir dengan kehilangan nyawa karena tidak mendapatkan pertolongan saat itu. Dan hal itu, membuat Sanzun sangat membenci Kekaisaran Fafnir karena sudah memperlakukan mereka dengan buruk.


Xi yang mendengar itu, ia mengekspresikan wajahnya dengan wajah datar, yang seakan tidak memperdulikan cerita sedih yang di ceritakan oleh Sanzun. Namun, dari cerita itu, Xi dapat menyimpulkan kalau ada banyak sekali monster tipe serangga yang menempati sarang tersebut. Mengingat kembali kalau serangga itu dapat berkembang biak dengan cepat, dan menghasilkan keturunan yang sangat banyak saat mereka bertelur.


Itu sudah menjadi hal yang wajar kenapa serangga di dalam sana sangat banyak. Namun, yang paling Xi pikirkan adalah ratu serangga yang memimpin banyakknya koloni serangga itu. Bukan hanya sekedar memimpin koloni semut, ratu serangga itu juga memimpin serangga lainnya. Itu membuktikan kalau ratu dari para serangga itu sangat lah kuat, karena dapat memimpin koloni serangga dalam jumlah banyak.


" Tuan, apakah kita akan pergi ke sana? Aku takut kalau kita pergi ke sana... Hanya ada kematian yang akan menunggu kita! " Kata Sanzun sambil bertanya. Ia juga cemas dan seperti tidak ingin datang ke tempat itu lagi.


Sanzun berharap kalau mereka tidak akan pergi ke tempat itu. Walau ia tahu tuannya sangat kuat, akan tetapi ia masih tidak yakin kalau mereka dapat menaklukkan tempat tersebut. Ia pikir ia akan mendapatkan jawaban yang ia harapkan. Namun itu malah sebaliknya.


" Kita akan pergi ke sana... Kau pimpin jalannya sekarang! " Kata Xi sambil mensummon beberapa Darkness Army tipe binatang buasnya.

__ADS_1


Melihat makhluk buas yang terbuat dari kegelapan itu, Sanzun terdiam. Dapat di rasakan olenya kalau makhluk buas yang seperti seekor macan itu memancarkan energi sihir yanh sangat ganas. Seolah saat ia merasakan energi sihir itu, tubuhnya terasa seperti di koyak - koyak oleh cakar yang sangat tajam.


" Apa yang kau lamunkan? " Tanya Xi dengan dingin kepada Sanzun.


Seketika Sanzun langsung menggelengkan kepalanya. Dapat di rasakan dari tatapan mata yang dingin itu, terlintas sebuah niat membunuh yang amat mengerikan. " Baik Tuan, akan saya tunjukkan jalannya. " Kata Sanzun dengan sopan sembari menundukkan kepalanya.


Segerah setelah itu ia berbalik dan menunggangi kuda miliknya. " Semuanya! Cepat bersiap kita akan pergi ke sarang monster semut! " Kata Sanzun dengan keras. Memerintahkan semua bawahannya untuk bersiap - siap.


Para bandit lainnya pun mulai berlarian ke sana kemari untuk mengambil senjata mereka. Segerah setelah menunggangi kuda milik mereka masing - masing, mereka pun pergi meninggalkan tempat tersebut menuju ke sarang monster semut yang ingin mereka tujuh.


Kuda - kuda berlarian dengan sangat cepat, membuat permukaan tahan bergetar bersamaan dengan debu tebal yang muncul karena banyaknya kuda - kuda yang berlari itu. Dalam perjalanan mereka Sanzun bercerita tentang sarang monster itu, setelah ia dan saudara - saudaranya pergi meninggalkan kekaisaran Fafnir.


Memurut dengan rumor yang beredar, Kekaisaran Fafnir setidaknya mengirim petualang dalam jumlah banyak. Setidakya setelah kepergian Sanzun, Kekaisaran telah melakukan tiga kali penyerangan lagi ke Dungeon tersebut. Namun, hasil dari semua penyerangan itu gagal total.


Pada gelombang pertama, petualang yang di kirim jumlahnya mencapai seratus orang. Namun, setelah masuk ke dalam dungeon, hanya ada sekitar belasan orang yang berhasil selamat. Dan itu pun mereka harus menderita luka yang sangat parah, dan mungkin berakhir dengan cacat seumur hidup.


Di gelombang kedua, setahun setelah gelombang pertama. Kekaisaran tidak menyerah untuk menaklukkan Dungeon tersebut. Kelompok besar pun di kirim dengan jumlah petualang sebanyak 275 petualang. Sekitar ada 4 petualang dengan Rank S, 39 petualang Rank A ( Elite kekaisaran ), 67 petualang Rank B, 53 Rank C, 72 petualang Rank D, dan 40 petualang Rank E. Dalam penyerangan itu, mereka berhasil masuk menerobos ke dalam dungeon dengan sangat cepat. Namun, dalam beberapa jam kemudian, mereka semua terbantai dan tidak satu pun dari mereka ada yang kembali.


Mendengar itu semua, Xi tampak terdiam dan merenungkan sesuatu. Dalam gelombang ketiga, terdapat seekor harimau putih yang membantai pasukan Kekaisaran dengan sangat mudah, bahkan mereka di ratakan hanya dalam waktu kurang dari 30 menit. Yang terlintas di pikiran nya saat itu hanyalah sosok makhluk yang sangat kuat, bahkan melebihi monster Rank S.


LEGENDARY BEAST, HARIMAU YANG SANGAT KUAT DAN PERKASA, HARIMAU PUTIH BYAKKO.


" Jika itu Legendary Beast yang membantai mereka... Maka tidak di ragukan lagi... " Kata Xi dalam hatinya. Segerah setelah itu ia melirik Sanzun yang sedang mengendarai kudanya yang fokus. " Sanzun, menurutmu sepengetahuanmu... Ada berapa banyak Rank S yang terbunuh di sana? " Tanya Xi dengan serius.


Mendengar pertanyaan itu, Sanzun pun mencoba mengingatnya. Karena pada gelombang pertama tidak memiliki informasi yang jelas mengenai berapa banyak Rank S yang ikut, Sanzun hanya bisa menebaknya saja. " Mungkin sekitar lebih dari 10 atau bisa kurang, karena di gelombang pertama informasi nya sangat tidak jelas. " Jawab Sanzun.


Mendengar itu, wajah Xi tampak serius. Tatapannya yang tajam dan fokus, tampak sangat berhati - hati dengan lawan yang akan dia hadapi nantinya. Karena lawan yang akan ia hadapi mungkin bukanlah musuh yang mudah untuk di kalahkan.


" Dungeon itu telah mengambil banyak nyawa orang, dan di antaranya adalah petualang kelas atas S dan A Rank... Monster ini sepertinya tidak bisa di remehkan. " Kata Xi dalam hatinya.


Setelah satu jam lebih melakukan perjalanan, mereka sampai di depan sebuah gua yang cukup besar. Gua itu terletak ada di bawah akar - akar pepohonan - pepohonan yang ada di sana. Dalam jarak yang cukup jauh dari mulut gua, mereka dapat merasakan pancaran energi sihir yang keluar dari dalam gua itu sangat mengerikan.


Auranya sangat mencekam, sampai - sampai mereka mendapatkan tekanan yang cukup kuat, hingga membuat mereka sedikit kesulitan dalam mengambil nafas. Di situasi itu pun, mereka sudah dapat memastikan seberapa berbahaya monster - monster yang ada di dalam sana.

__ADS_1


" Ini dia sarangnya tuan, Dungeon serangga yang telah merenggut banyak nyawa manusia... Dan tak jarang juga merenggut nyawa monster... " Kata Sanzun dengan wajah yang sedikit berkeringat. Ia dapat mencium aroma busuk dari dalam sarang tersebut.


" Sudah berapa banyak yang terbunuh di sana? Sampai - sampai membuat auranya menjado begitu mengerikan! " Kata Astia dengan raut wajah serius. Ia benar - benar merasakan aura yang berbeda dan sangat berbahaya. Dan aura ini sangat berbeda dari monster - monster pada umumnya.


" Entah berapa banyak yang mati... Tapi, sangat kecil kemungkinan kita untuk kembali hidup - hidup... " Kata Bass, dengan wajah cemasnya. Walau ia telah mendapatkan item yang kuat, ia masih tidak percaya diri dapat mengalahkan Dungeon tersebut.


Sebuah petir dengan kecepatan yang sangat tinggi terbang dengan sangay cepat. Kecepatannya sangay luar biasa, bahkan dapat menyaingi kecepatan burung tercepat sekali pun. Petir itu bergerak terbang ke arah kelompok bandit yang ada di dekat Dungeon serangga yang tidak pernah di taklukkan.


" SANZUN! " Suara teriakan yang sangat keras dan kuat.


Suara itu membuat mereka semua terkejut, karena tiba - tiba saja ada sebuah petir berwarna ungu tampak menunjam sangat cepat ke arah mereka. Para bandit melihat petir itu ke arah mereka, mereka semua gementar. Karena dengan kecepatan petir yang sangat cepat itu, mungkin mereka tidak memiliki kesempatan untuk menghindar.


Petir ungu itu pun jatuh tepat di saping mereka semua. Perlahan petir itu menghilang, seperti terserap oleh sesuatu. Dari debu yang di timbulkan oleh petir itu, tampak seorang pria paru baya di sana berdiri dengan santai sambil menatap Sanzun.


Pria paru baya itu tampak sangat senang saat melihat Sanzun datang ke Dungeon Serangga yang tak terkalahkan ini. Sudah lebih dari satu tahun, ia tidak melihat Sanzun, dan akhirnya kini ia dapat melihat wajah bodohnya lagi. Pria paru baya itu benar - benar senang saat melihatnya.


" Energi petir yang kuat! " Kata Astia sambil menatapi pria paru baya itu.


" Zapdas, sudah lama aku tidak melihatmu sikap mu masih saja tidak berubah sama sekali. Kau benar - benar tua bangka yang sangat menyebalkan. " Balas Sanzun dengan entengnya. Sanzun dapat berbicara seperti itu, karena ia sudah terbiasa dengan pria paru baya yang ia sebut sebagai Zapdas.


Zapdas memandang Sanzun dengan tajam. Melihat ke sekelilingnya, tampak ia telah di keliling oleh banyak bandit. Walau begitu, tampak ia masih tenang walau telah di kepung oleh banyak orang.


" HUH! Sikap? Apa kau harus memperdulikan sikap ku ini? Setahun yang lalu, kami telah mengalahkan kalian semua! " Kata Zapdas sambil menatap Sanzun dengan tajam. Kemudian, dia berubah menjadi sangat kesal dan berkata " Bandit Gila, apa yang ingin kau lakukan di tempat ini?! Bahkan dengan jumlah sebanyak ini, kau tidak akan dapat mengalahkan mereka! " Lanjut Zapdas. Kemudian wajahnya berubah lagi dan menatap Sanzun dengan sinis " Atau kau berpikir ingin menundukkan ku untuk menjadi bawahanmu? Kau tahukan kalau kau tidak bisa mengalahkan kami? "


Sanzun menanggapi perkataan Zapdas sambil tersenyum. Dengan percaya diri ia pun berkata " Pak tua, jangan khawatir kali ini aku tidak punya niatan seperti itu sebelumnya ssbelum kau datang. Tapi, mungkin itu akan berubah, bisa saja aku akan langsung menerkamu nanti. " Kata Sanzun.


Mendengar itu, Zapdas terdiam sesaat memikirkan perkataan dari Sanzun. Ia tahu kalau Sanzun memang selalu memiliki kepercayaan diri seperti itu, namun ia merasa kalau kepercayaan Sanzun kali ini terlalu tinggi. Hal itu membuat perasaan tidak enak muncul dalam hatinya.


Namun, tiba - tiba saja angin berhembus kencang. Sebuah pusaran tercipta karena hembusan angin yang kencang tersebut. Dedaunan mulai beterbangan, dan berputar. Terdengar suara tawa yang cukup keras, hingga dapat terdengar oleh semua orang yang ada di sana. Suara tawa itu, sangat mirip dengan suara wanita yang sedang tertawa.


" Hahahaha! Apakah bocah ini menemukan sesuatu yang bagus sampai punya kepercayaan diri seperti itu? " Kata seseorang sambil tertawa. Tampak turun seorang wanita dari pusaran angin yang cukup kencang itu. Wanita paru baya, namun penampilan nya tidak terlalu tua mau pun tidak terlalu mudah. Penampilan wanita itu, terlihat seperti seorang wanita kampus yang sangay cantik.


" Jadi dia... Si angin topan yang Sanzun katakan? Bisa aku akui kekuatan anginya luar biasa. " Kata Xi dalam hatinya sambil menatap wanita itu dengan tatapan tajamnya. " Awalnya aku tidak tertarik dengan mereka tapi... Setelah melihat dengan mata kepala ku sendiri, mereka akan menjadi sesuatu yang penting nanti. " Lanjut Xi yang tampaknya ia tertarik untuk merekrut kedua orang itu ke dalam kelompoknya. Lebih tepatnya untuk bergabung dengan kelompoknya Sanzun, agar kelompok bandit hutan ini menjadi lebih kuat lagi.

__ADS_1


__ADS_2