
Kedua energi besar yang di selimut oleh cahaya perlahan memudar dan menunjukkan sosok yang sebenarnya. Dua orang pria muncul dengan enam sayap emas di punggungnya yang bersinar terang, memancarkan energi suci yang begitu kuat, bahkan melebihi dragon Awakening.
Kedua orang itu menujukan tatapannya kepada Krey, dengan sebuah seyuman di wajah mereka. Dan salah satu dari mereka membuka mulutnya dan menyapa Krey.
" Jadi... Kau adalah dewa kematian itu, sungguh mengejutkan bisa bertemu denganmu di tempat ini. " Ucap salah satu dari mereka dengan ringan.
Tanpa banyak basa - basi Krey langsung bertanya kepada mereka. " Aku tidak pernah melihat kalian sebelumnya, hmmm... Apakah kalian dewa baru? " Tanya Krey dengan santai dan sedikit merendahkan mereka berdua.
Mereka berdua terseyum walau sebenarnya mereka sedikit kesal dengan sikap Krey yang tidak sopan. Memandangi mereka seperti bukan seorang dewa, maliankan hanya sampah.
" Hahaha, kau benar... " Ucap salah satu dari mereka. " Aku Raf, dewa kebijakan. " Lanjutnya dengan meninggikan posisinya.
" Aku Miert, dewa kemuliaan, senang rasanya bisa bertemu sosok yang aku kagumi. " Ucap Miert.
Krey memandangi mereka dengan tatapan yang aneh, ia tahu kalau kedua orang itu memanglah seorang dewa. Dengan kekuatan suci yang besar ada pada mereka, dan sayap emas yang ada pada punggung mereka, dapat di pastikan mereka adalah dewa yang bergabung dengan musuh lamanya.
Krey terseyum, lalu ia tertawa. " Huahahaha! Apakah si begok itu mengirim kalian kemari? " Ucap Krey sambil mengejek mereka berdua.
Hal itu membuat mereka kesal karena Krey memanggil dewa yang mengirim mereka dengan sebutan yang tidak pantas. Miert menggerakkan tangannya lalu menujuk Krey dengan kesal, lalu berkata.
" Berani sekali kau berkata seperti itu! Hanya serpihan jiwa belaka berani menghina dewa lain. " Ucapnya dengan nada yang kasar dan berat kepada Krey dan menyebut Krey sebagai entitas yang tidak penting. " Memang apa yang bisa di lakukan oleh sebuah serpihan Jiwa? Orang yang kalah perang aja masih bisa bersikap sombong. " Lanjutnya sambil merendahkan Krey.
Krey hanya diam saja dan menatapi mereka dengan santai, seolah tidak peduli dengan apa yang di katakan oleh Miert. Ia masih bersikap santai dan tidak memperdulikan ocehan dari Miert.
" Hey, hentikan itu... Ayo kita pergi ke sana dan membunuhnya. " Ucap Raf dengan santai dan mengabaikan Krey yang ada di depannya, dengan ringan ia berkata akan membunuh Xi yang sedang membangkitkan kekuatannya.
Krey terseyum kecil, lalu ia berkata. " HEH, dewa seperti kalian ingin membunuh anakku, sungguh mimpi yang indah di siang hari. " Ucap Krey merendahkan mereka berdua hingga mereka kelepasan emosinya.
" Berengsek satu ini... Tidak bisa di maafkan! " Ucap Miert, mengumpulkan energinya, membentu sebuah bola cahaya yang besar.
Begitu juga dengan Raf, dua energi cahaya yang sangat padat membentuk sebuah bola, sangat besar sampai menerangi hitan yang gelap. Menghilangkan energi yang tidak murni di sekitarnya, lalu mereka melempar kedua bola cahaya itu kepada Krey.
__ADS_1
" MATILAH SIALAN!! " Ucap Miert dengan penuh kekesalannya.
Kedua bola cahaya mendekat ke arah Krey dengan cepat, dan semakin dekat semakin terang cahaya dari kedua bola cahaya itu.
Akan tetapi Krey masih bersikap tenang, ia mengangkat sabit besarnya dan mengayunkannya perlahan. Sebuah ayunan sabit yang ringan memotong kedua bola cahaya itu hingga menjadi serpihan - serpihan yang sangat kecil.
Ekspresinya sangat tenang seolah ia tidak melakukan apa pun, menatap dengan ringan kepada mereka berdua.
" A apa! Bagaimana mungkin? " Ucap Raf dengan ekspresi wajah yang terkejut. Melihat kekuatan yang dimiliki oleh Krey.
Krey terseyum, dengan tenang ia berkata kepada Raf dan Miert " Ohw, hanya seginikah kekuatan kalian, memalukan sekali, hehehe. " Ucap Krey dengan santainya.
Keduanya langsung kesal saat Krey mengatakan itu, berkali - kali mereka di rendahkan oleh Krey. Kini tubuh mereka di selimuti oleh energi suci yang sangat kuat, membentuk sebuah armor yang menutupi tubuh mereka, memegang pedang yang sangat indah di tangan mereka.
" AKAN AKU HANCURKAN KAU WALAU HANYA SERPIHAN JIWA!! " Ucap Miert dengan kesal, dan saat ini ia telah berada dalam mode seriusnya.
Keduanya telah masuk ke dalam mode tempur dan serius, Krey terlihat sangat tenang walau musuhnya sudah serius. Dua kekuatan dewa yang meluap - luap membuat tekanan yang sangat berat, menciptakan hembusan angin sihir yang sangat kuat.
Walau begitu, serangan mereka di tahan oleh Krey dengan menggunakan sabitnya hanya dengan satu tangannya, bagi Krey serangan seperti itu bukanlah masalah untuknya.
Pertarungan semakin mengganas, pertarungan dengan kecepatan yang sangat tinggi, serta dengan serangan serangan yang maha dahsyat berlangsung sangat lama. Raf dan Miert terus menyerang Krey tanpa hentai, melakukan serangan berskala besar terus - menerus, namun tidak satu pun dari serangan mereka melukai Krey.
" Sialan!! " Ucap Raf dengan keras, mengangkat pedangnya ke atas. Pedang Raf bersinar terang menciptakan banyak pedang besar di langit, satu dari pedang itu memiliki daya hancur yang luar biasa, dan sekarang pedang itu ada banyak dengan ukuran yang besar.
" Kenapa kau tidak diam dan mati saja!! " Ujar Miert dengan keras, ia membuat banyak lingkaran sihir berukuran besar di belakangnya, menyerap sihir dengan sekala yang sangat banyak di dalamnya. Lingkaran sihir itu mulai bersinar terang dan siap untuk di lepaskan.
Krey masih tampak santai menghadapi mereka berdua yang sedang serius ingin menghapusnya, dalam pertarungab itu, seseorang dengan kecepatan tinggi datang menghampiri Krey.
Krey yang tau kalau Melia akan menghampirinya, ia menciptakan sebuah penghalang yang sangat kuat dan membuat Melia tidak dapat melewatinya.
" Krey!! " Teriak Melia dengan keras.
__ADS_1
" Jangan mengganggu ku Melia, aku sedikit sibuk dengan dua bocah berandalan ini. " Ujar Krey dengan ringan.
" Krey, berhenti bertarung atau kau akan menghilang! " Balas Melia, ia tidak peduli apa yang Krey katakan pada saat itu. Dan pada saat yang sama, serangan yang sangat banyak di lancarkan untuk membunuh Krey.
" KREYY!!!! " Teriak Melia.
Krey yang sedang menatap Melia, ia mengerakan tangannya lalu mengayunkan sabitnya begitu saja, seketika serangan yang di lancarkan oleh Raf dan Miert terpotong dan hancur tak tersisa, bersamaan juga penghalang yang ia buat tadinya hancur.
" Apa? Dia menghancurkan serangan kita tanpa membalikkan badan! " Ucap Raf dengan terkejut serta kening yang berkeringat.
" Krey kenapa kau sangat bodoh! Kalau kau teruskan ini kau akan menghilang. " Ucap Melia dengan mata yang berkaca - kaca.
Sementara itu Krey ' Habis sudah, gak ada kelarnya nanti kalau dia terus ngoceh. ' Ujarnya dalam hati. " A hahaha, tidak usah khawatir... Ini memang sudah waktunya untuk menghilang. " Ucap Krey dengan ringan.
" Kau dasar bodoh! " Balas Melia sambil memukul Krey.
" Uh... Hey aku akan benar - benar menghilang kalau kau terus memukulku. " Ucap Krey dengan ringan sambil terseyum.
" Mati saja sana... Aku membenci mu, mati sana. " Balas Melia.
" Ya, ya, ya... Akan aku dengarkan seluruh ocehanmu nanti setelah aku membereskan kedua cecunguk itu. " Ucap Krey dengan ringan sambil menatap Raf dan Miert.
" HEMM!! " Ucap Melia sambil membalikkan badannya sambil mengembungkan pipinya.
Krey hanya terseyum saja melihat Melia yang bertingkah seperti itu, lalu ia membalikkan badanya dengan seyum ringan di wajahnya, menatap mereka berdua dengan santainya, lalu ia berkata. " Sudah puaskan kalian menyerangku tadi, dan sekarang... Ini giliranku yang menyerang! " Ucap Krey dan tiba - tiba pandangannya berubah menjadi dingin serta niatnya untuk membunuh sangat luar biasa.
Hanya dengan niat membunuhnya langit berubah menjadi merah, seluruh langit di selimut dengan niat membunuh dari Krey, dan pada saat itu mereka berdua sangat tertekan oleh niat membunuh Krey yang sangat luar biasa.
Krey mengangkat sabitnya lalu mengayunkannya sekali, satu ayunan dari sabitnya membuat lengah Raf terputus, dan itu membuat Raf sangat ke sakitan.
" ARGGHH... "
__ADS_1
" Sialan! Apa yang barusan dia lakukan? " Ucap Miert yang di penuhi dengan keringat.