Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Pagi Senja


__ADS_3

Senja terbangun dari tidurnya begitu mendengar suara pintu tertutup dengan sangat keras. Masih bersama perasaan takut, Senja berjalan pelan menuju sumber suara.


Bunyi langkah kaki yang tidak beraturan terdengar jelas di telinga Senja. Mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian, Senja berjalan menuju arah datangnya suara sambil membawa kemucing. Siluet sosok tinggi besar terlihat jelas di ruang tamu.


"Pencuri!" teriak Senja sambil memukuli orang itu dengan kemucingnya.


"Stop Senja?" pekik seseorang, suara yang sangat menyebalkan dan sangat familiar di telinganya.


Senja berusaha meraih saklar lampu sambil tetap satu tangan memegangi tangan terduga pencuri.


"Tuan ...!" Senja kaget begitu melihat Darren yang ada di depannya. Dia pun melepas pegangan tangannya dengan cepat.


"Hmmmm.... mana ada pencuri seganteng aku," ucap Darren dengan bau mulut khas orang mabuk.


"Banyakkkkkk," sahut Senja cepat.


Darren terlihat mual, rupanya minuman yang terlalu banyak, membuat lambungnya cepat bereaksi.


Huekkkkkkkkkk ....


Darren pun tidak sanggup menahan mualnya lagi. Satu Muntahan lolos begitu saja mengenai bajunya sendiri dan juga baju Senja.


"Tuan !!!!!!!" teriak Senja dengan sangat kesal.


Senja segera berlari menuju kamar mandinya, membersihkan diri dari muntahan Darren yang menjijikkan.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Senja pun melihat keadaan Darren. Alangkah terkejutnya ketika dia melihat laki-laki sombong itu malah tertidur dengan muntahan yang masih melekat di badannya.


"Dasar jorok!" umpat Senja.


Senja mengambil baju Darren yang kemarin baru dia setrika. Ketika ada Sarita, Darren memang menginap di apartemen Aleandro.


Sekuat tenaga Senja membuka baju Darren yang penuh muntahan.

__ADS_1


"Gayanya saja sok keren, kalau mabuk tidur sama muntahan pun jadi. Ah ... bodoh sekali, seharusnya aku tadi mengambil fotonya sebelum membersihkan badan dan mengganti baju orang angkuh ini," umpat Senja sambil terus mengganti baju Darren .


Lagi - lagi Senja mengeluarkan tenaganya lebih banyak untuk menarik dan memindahkan tubuh Darren ke sofa panjang .


"Akhirnya! Anda sebenarnya sangat tampan. Tapi karena Anda sangat menyebalkan. Ketampanan itu luntur Tuan," gumam Senja dengan tidak sadar.


Senja segera mengambil kain pel dan membersihkan lantai yang terkena muntahan .


Pukul tiga pagi lebih lima belas menit, waktu negara S. Senja mendengus kesal ketika menyadari sepagi buta ini dia harus mandi, mengepel, membantu mengganti dan mencuci baju atasannya yang sedang teler.


Setelah semua beres, Senja segera kembali ke kamarnya dan melanjutkan waktu tidurnya yang hanya menyisakan dua jam lagi.


\*\*\*\*\*\*\*


Senja terbangun secara otomatis begitu alarm mulai berbunyi. Rasa kantuk masih melanda. Tapi karena dia baru masuk kerja ditambah lagi dengan sikap bosnya yang tidak jelas, Senja enggan untuk terlambat.


Setelah mencuci muka, Senja menuju dapur untuk menyiapkan makan pagi untuknya. Senja semalam sudah membuat nasi untuk di buat nasi goreng sea food pagi ini.


Aroma yang wangi dan menggugah selera membuat Darren terbangun. Dia mengucek matanya dan melihat sekeliling. Merasa heran dan bingung sendiri. "Ini kan apartemen Uncle Al. Kenapa aku di sini ?"


"Senja ... ." ucapnya dengan tersenyum tipis.


Darren melangkahkan kakinya yang telanjang tanpa alas kaki, ke arah dapur di mana aroma yang membuat cacing-cacing di perutnya berontak itu berasal.


"Baguslah tuan sudah bangun. Jadi saya tidak perlu membangunkan tuan," Senja menyambut kemunculan Darren dengan keramahannya.


Senja terlihat membersihkan beberapa buah apel, memotongnya masing - masing menjadi empat bagian dan memasukkannya ke dalam juicer.


Janda muda dan cantik itu memindahkan hasil juicer ke dalam satu gelas dan menambahkan sedikit madu. Setelah mengaduk jus apel itu, Senja mengulurkannya pada Darren.


"Silahkan di minum, Tuan. Jus buah akan membantu anda lebih segar setelah anda teler semalaman. Lain kali kalau hanya ingin muntah tolong jangan ke sini! Merepotkan orang saja." Senja menunjukkan ekspresi yang biasa - biasa saja.


Darren menerima gelas dari Senja lalu meneguknya sampai habis. "Apa kamu yang mengganti bajuku?" Darren meletakkan gelas kosongnya ke atas meja.

__ADS_1


"Tentu saja! Tuan benar-benar merepotkan. Tuan membuat saya mandi, mengepel dan mencuci di pagi buta. Belum lagi tubuh tuan sangat berat. Eh ... salah, mungkin dosa tuan yang berat. Saya kesulitan memindahkan tuan ke sofa." jawab Senja sambil mengisi nasi goreng ke dalam dua buah piring.


"Pagi-pagi sudah pedes saja itu mulut. Padahal kamu pasti senang, bisa melihat tubuhku yang bagus. Kamu tidak sengaja menjadi perempuan beruntung yang bisa melihat dan menyentuh tubuhku." ucap Darren penuh percaya diri.


"Saya tidak merasakan dan melihat apapun yang bisa dikagumi dari anda selain kekayaan dan kesuksesan anda, Tuan. Tapi sayangnya saya tidak terlalu suka laki-laki kaya." balas Senja, sedikit mencibir.


"Karena tidak ada laki-laki kaya yang mau sama kamu," ledeknya.


"Ada, Tuan. Jangan lupa, saya ini istrinya mas Rafli. CEO Rajata group yang sering mengalahkan anda di beberapa tender." Senja menunjukkan wajah yang menyebalkan di mata Darren.


"Ish ... orang sudah meninggal saja di banggakan," gumam Darren, tidak terlalu lirih. Sehingga masih tertangkap telinga tajam janda muda itu.


"Tentu saja! Saya lebih baik kagum dengan suami saya yang sudah meninggal, ketimbang harus mengagumi seseorang di depan mata tapi menyebalkan," ucap Senja sambil meletakkan sepiring nasi goreng tepat di depan Darren.


"Silahkan makan tuan ... mari kita sudahi keakraban kita pagi ini sampai di sini. Saya tidak ingin terlambat masuk kerja karena sibuk meladeni sikap anda yang manis." Senja bersikap sarkas.


Darren dan Senja pun akhirnya menghabiskan nasi goreng mereka tanpa suara. Darren sebenarnya masih merasa kurang dengan nasi goreng yang diberikan Senja, karena nasi gorengnya seenak nasi goreng di resto chinese food favoritenya. Tapi Darren enggan memuji perempuan itu. Mengakui kelebihan Senja akan menjadi aib besar baginya.


Senja membereskan meja makan dan mencuci bekas piring dan penggorengan yang baru dia gunakan. Setelah memastikan semua kembali bersih, Senja segera kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap berangkat ke kantor tanpa mempedulikan keberadaan Darren yang sejak tadi memperhatikan setiap gerak geriknya.


Sikap cekatan Senja di dapur dan saat membereskan rumah, mengingatkan Darren akan mamanya. Meskipun istri seorang pengusaha sukses, mamanya tidak segan melakukan pekerjaan rumah dan membantu para asisten rumah tangga di rumahnya.


Darren segera masuk ke kamar yang biasa di pakainya ketika berada di apartemen Aleandro. Bersiap menuju kantornya juga. Sama seperti Senja.


\*\*\*\*\*


Senja dan Darren bersamaan keluar dari pintu kamar masing-masing dengan pakaian kantor yang sudah on point .


Perempuan itu berjalan melewati atasannya begitu saja.


"Ini tidak sopan, Senja! Aku bosmu! Seharusnya aku yang berjalan di depanmu," protes Darren, berhasil menghentikan langkah Senja .


"Terserah tuan saja!" Senja pasrah menunggu Dareen berjalan beberapa langkah di depannya.

__ADS_1


"Hari ini aku sedang berbaik hati. Kamu berangkatlah ke kantor bareng denganku. Aku tidak mau berhutang budi karena kamu mengganti bajuku dan memasakkan nasi goreng untukku. Jadi jangan menolak tumpangan dariku. Kita buat semua impas." ucap Darren dengan sombongnya .


Senja tidak ingin berdebat lagi. Energinya harus positif ketika bekerja. Melayani perdebatan dengan Darren hanya akan mengeluarkan sisi lain dirinya yang sedikit tegaan alias kejam.


__ADS_2