Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Over Posesif


__ADS_3

Menginjak usia kandungan tiga puluh tiga minggu, Senja semakin aktif mempersiapkan segala kebutuhan baby twins. Karena Darren sangat trauma dengan kejadian sebelum lahiran Dasen, Ia benar - benar melarang Senja keluar rumah kecuali bersamanya, tidak boleh turun mobil apalagi jika itu di pinggiran jalan raya. Senja membeli kebutuhan secara online.


Senja hanya memainkan jari telunjuknya untuk memberi petunjuk pada Wardah dan Ulfa menata kamar yang akan di tempati mereka bersama baby twins. Kamar yang bersebelahan dengan kamar Senja dan juga Darren. Dasen dan Wati bergeser di depan persis kamar Senja, tepat di samping kamar Zain.


jiwa over protektif Darren memang nampak berlipat - lipat. Senja diperlakukan bak ratu di negeri khayalan, di mana memasukkan sendok ke mulutnya pun dianggap Darren akan melelahkan. Hampir tiga minggu sudah Darren bekerja dari rumah. Tentu saja membuat ruang gerak Senja sangat terbatas.


"Ask! Hari ini aku ke kantor sebentar ya, ada tamu dari Jepang, mereka ingin melihat kantor kita sebelum melakukan kerjasama." Darren mengancingkan kemejanya dengan perlahan.


"Iya, Ask! Lama juga tidak mengapa kok." Senja terlihat sangat senang.


"Ingat! Jangan ngapa - ngapain, dua minggu itu masih lama. Kita harus memastikan semua sesuai rencana kali ini."


"Tenang, Ask! Seperti biasa, tugasku hanya menarik dan menghembuskan nafas perlahan. Cuma dua hal itu yang membuat aku nampak sebagai manusia hidup akhir - akhir ini," dengus Senja.


Darren menyentil hidung Senja dengan gemas. "Minta Ulfa atau Wardah menyuapimu jika aku belum datang saat makan siang."


"Hemmm ...."


"Jangan mencoba mencurangiku! Aku sudah mengaktifkan semua cctv." Darren memberi peringatan pada Senja yang banyak akal.


"Suka - suka kamulah! Asal kau bahagia, Ask!"


"Kamu pun harus bahagia." Darren meraup bibir istrinya dengan lembut. Mengulumnya perlahan, menanti balasan hangat dengan sabar. "Aku tidak keberatan mengulang persiapanku ke kantor dari awal kalau kamu menginginkan," bisiknya.


"Nanti malam saja, Zain sudah waktunya sekolah. Nanti nanggung."


"Kalau begitu aku bisikin baby twins saja." Darren berdiri dengan lututnya, mencium dan mengelus perut Senja.

__ADS_1


"Daddy tinggal kerja dulu ya! Dua minggu lagi kita bertemu. Baik - baik sama mama. Nanti malam Daddy tengokin lagi," ucap Darren dengan santai membuat satu timpukan mendarat sempurna di kepalanya.


Ciuman bertubi - tubi Kembali mendarat di perut bulat milik Senja. "Jadi males ngantor."


"Kalau males, nanti malam nggak dibukain jalan," ancam Senja.


Darren kembali menegakkan badannya. Membelai rambut Senja, tersenyum penuh cinta.


"Aku berangkat dulu, Ask! Terimakasih buat semuanya, I love you." Darren mengecup kening Senja begitu lama.


"Terimakasih mulu dari kemarin. Tapi ujungnya minta yang lain!" Senja mengamit lengan Darren dengan manja sampai ke depan pintu utama. Zain sudah menunggu di dalam mobil.


Setelah memastikan mobil yang ditumpangi Darren dan Zain menghilang dari pandangannya, Senja buru - buru mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. Senyum ceria mengembang di wajahnya.


"Wat ... Minta tolong gelarin matras di taman ya! Yang agak lebar dikit. War... Kalau ada tamu datang namanya Ance antar langsung ke taman!" ucap Senja pada Wati dan Wardah.


Senja mendekati Dasen, "Akkkk..." ucapnya seraya melebarkan mulut.


Dasen memasukkan biskuit ke dalam mulut mamanya dengan belepotan. Dua belas giginya berderet rapi atas bawah terpampang nyata saat bayi tampan itu meringis.


Setelah memastikan Dasen tidak rewel lagi, Senja masuk ke dalam kamarnya. Mencari baju senam miliknya. legging berbahan stretch tepat di bawah perut dengan atasan built bra berbahan kaos menyerap keringat hanya menutup bagian dada. Perut menonjol bulat dibiarkan tidak tertutup sehelai benang pun, menampilkan kulit putih bersinar Senja dengan sempurna.


Sesampainya di kantor Darren langsung menyalakan monitor berbentuk tablet tiga bels inci. Menghubungkannya dengan id cctv di rumhnya. Lalu terus menggeser ruang demi ruang untuk mencari keberadaan istrinya. Hanya bagian kamar - kamar saja yang tidak ada cctv. Darren belum segila Rafli. Dia tidak mau aksi panasnya tertangkap cctv sendiri. Akan sangat menjijikkan melihat reka ulang adegannya sendiri.


Darren memperbesar resolusi tangkapan gambar ketika melihat sisi taman di rumahnya. Dengan santainya Senja meliuk - liukkan pinggulnya di atas gym ball. Darren yang tidak berada di rumah, serasa berada di sana. Matanya terus celingukan ke sana ke mari takut ada kaumnya yang tiba - tiba memasuki kawasan taman atau ruang tamu.


Keringat yang sudah membasahi sebagian bagian atasan dan wajah Senja, semakin memperlihatkan kesek**annya. Darren semakin nyeri, ketika melihat instruktur membantu Senja tidur telentang mengikuti bentuk bola.

__ADS_1


Baru ditinggal ke kantor tidak lebih dari dua jam yang lalu. Apa yang dilakukan Senja sudah meresahkan. Bukannya Darren berhasrat, sama sekali bukan. Tapi memakai pakaian terbuka di luar kamar tidak bisa dibenarkan oleh Darren. Ada tukang kebun, satpam bahkan Rudi yang bisa masuk kapan saja sesuka mereka.


Terlalu fokus dengan monitor, membuat Darren tidak menyadari kedatangan Yanes. Asisten setia itu pun penasaran dengan apa yang dilihat atasannya. Kenapa sampai bisa membuat seorang Darren tidak menyadari kedatangannya.


Yanes menelan air liurnya. Hot mommy milik Darren Mahendra yang dilihatnya di monitor itu, meskipun sedang hamil masih sangat mempesona.


"Siapa yang suruh ikut lihat?" Darren memukul tengkuk belakang Yanes dengan kesal, begitu menyadari di sebelahnya ada makhluk lain.


"Penasaran Bos! Serius banget." Yanes buru - buru menggeser pandangannya.


"Buang yang sudah kamu lihat barusan!" perintah Darren, Yanes menatapnya keheranan.


"Buang? bagaimana caranya Bos? Kalau dimakan masih bisa dilepeh, ini di mata, bagaimana caranya?" Yanes menunjuk matanya penuh keheranan.


Darren mengabaikan Yanes dan kembali fokus pada monitor di atas mejanya. Yanes sedikit curi - curi pandang dengan ekor matanya.


"Cuci matamu pakai sabun, Sekarang! Jangan dibilas selama satu menit, perih membantunu melupakan apa yang kamu lihat," ucap Darren, sangat konyol dan asal.


Yanes semakin bingung dengan ucapan atasannya. Semakin tidak jelas saja. "Aneh! Kalau tidak mau istrinya dilihat orang lain, kenapa tidak menikah dengan kuntilanak saja. Tidak terlihat, tertawanyapun renyah." gumamnya.


Sayangnya Darren mendengar ucapan Yanes dengan jelas. Fokus mata dan pikiran, tidak membuat fungsi indera pendengaran berkurang sedikitpun.


Belum selesai urusan dengan Yanes, masalah baru muncul. Kenzi tertangkap layar berada di depan pintu utama persis. Saat pintu itu di buka, asisten rumah tangga pasti akan membuka dan menyuruh Kenzi masuk. Saat berjalan Kenzi akan menoleh pada kaca tebal di belakang sofa, dan terlihat jelaslah Senja yang sedang meliuk - liuk dengan dua titik di dada yang terlihat sangat menonjol karena atasannya yang sudah basah kuyup keringat. Belom lagi segitiga di antara dua kaki yang tercetak akibat celana yang press body.


Darren menyambar ponsel. Menghubungi nomer telepon rumahnya.


"Jangan buka pintu depan. Siapapun tamunya!" perintah Darren, sesaat asisten rumah tangga menerima panggilan teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2