Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Bruakkk


__ADS_3

Usia kehamilan Senja saat ini sudah sembilan bulan, hanya tinggal menghitung hari lagi baby boy akan lahir. Kontraksi palsu sudah sering dirasakan, timbul menghilang membuat Darren kadang ikut meringis melihat istrinya menahan nyeri.


Kali ini Senja akan menggunakan metode water birth untuk proses kelahiran anak ketiganya. Darren sudah mempersiapkan kolam khusus sesuai standart yang diberikan oleh dokter. Kamar khusus pemulihan dan perawatan setelah melahirkan pun sudah dipersiapkan di lantai satu.


Darren sangat bersemangat mempersiapkan semuanya, dokter hanya tinggal membawa badan saking lengkapnya alat yang dibeli. Hadiah untuk Senja pun sudah dia siapkan.


" Ask, sakit ya ? " tanya Darren konyol.


" Nggak sakit Ask. Enak, makanya Senja sudah tiga kali hamil. Katanya mau nambah lagi ? mau berapa ? " ucap Senja ketus.


Darren hanya meringis mendengar ucapan istrinya. Jelas Senja sedang menyindirnya. Andai melahirkan seenak proses membuatnya, mungkin program keluarga berencana dari pemerintah tidak akan pernah sukses. Apalagi jika seluruh pasangan suami istri seperti Darren dan Senja, yang selalu menutup sesi obrolan dengan pergulatan di atas ranjang.


" Senja mau jalan - jalan di taman " ucap Senja.


" Kalau mau buka jalan lahir kan bisa pakai cara lain Ask, praktis, ekonomis dan higienis di kamar saja sama suami tercinta " ucap Darren mulai ingin memanfaatkan keadaan.


" Enggak, yang ada aku makin ngilu. Lagian pengen cari udara segar. Mau ngajak Zain dan baby De sekalian jalan - jalan " Senja langsung mengambil tas tanpa menunggu persetujuan dari Darren lagi.


Dengan malas, mau tidak mau Darren mengikuti Senja dari belakang.


" Ask serius ini ke taman kota, kok aku ngeri ya lihat kamu jalan. Di taman rumah saja Ask " ucap Darren masih kekeh.


" Mama Nja sudah dua kali melahirkan, jadi Daddy Darr diam " sahut Senja cepat.


Wibawa dan sikap tegas Darren tidak berlaku dihadapan Senja. Meskipun Senja juga sangat menghargainya, ada kalanya ucapan Senja membuatnya tunduk terdiam.


Baby De yang sudah berjalan lancar sangat senang dibiarkan berjalan sendiri di taman. Menginjak rumput tanpa alas kaki membuat kakinya sedikit geli dan berjinjit.


Karena hari minggu suasana taman cukup ramai, tubuh Senja yang semakin lebar tidak menghalanginya untuk makan sesuka hati. Zain yang memang tidak boleh makan sembarangan hanya puas dengan bermain - main bersama Daddynya.

__ADS_1


" Zain, sudah lari - larinya. Itu sudah basah bajunya " teriak Senja.


Senja berdiri sambil mengelus sendiri pinggul belakangnya. Menyaksikan baby De digendong ala kapal terbang oleh suaminya. Senja merasakan tangannya ada yang menarik - narik. Senja menundukkan kepalanya, mendapati seorang anak kecil seumuran dengan Zain disampingnya.


" Iya sayang ? kenapa ? " tanya Senja dengan lembut.


Anak itu hanya menunjuk sesuatu di balik pohon besar taman. Senja mengikuti langkah kaki anak laki - laki itu. Sebuah pemandangan menyayat hati terlihat di sana. Seorang anak masih tiga belasan tahun menggendong seorang bayi perempuan kira - kira masih belum genap empat bulan, wajahnya pucat bibirnya kebiruan.


Senja segera mengambil alih bayi itu, badannya masih hangat.


" Kalian ikut ibu sekarang " ucap Senja dengan cepat. Kedua anak itu mengikuti langkah lebar kaki Senja yang seolah lupa kalau sedang hamil.


" Ask, kita harus membawa anak ini ke klinik di sebrang. Lihat dia sudah pucet " ucap Senja. Darren mengambil alih gendongan, sangat tidak enak melihat Senja menggendong bayi di atas perut besarnya.


" Mbak sus, ajak Zain dan baby De pulang duluan ya. Zain pulang duluan, mama sama Daddy anter dedek ini berobat dulu. Nanti mama ceritakan di rumah " tambah Senja.


Setelah memastikan mobil yang membawa Zain dan baby De berlaku, Senja dan Darren diikuti dua anak tadi berjalan hati - hati menyebrang hingga sampai ke klinik.


" Orangtua kalian kemana ? " tanya Senja.


" Orangtua kami meninggal bu, ini adik saya. Dia suka takut berbicara dengan orang asing " jawab si kakak perempuan.


" Panggil saya bu Senja, ini suami ibu namanya pak Darren. Kalian ? " ucap Senja ramah.


" Saya Andin, ini adik saya Bima. Yang di dalem itu kami tidak tau, kami menemukan tiga hari yang lalu di kolong jembatan tempat kami tidur. Kami kasihan, jadi kami membawanya " jelas anak perempuan yang terlihat cerdas dan berani itu.


" Kalian tinggal di kolong jembatan ? "tanya Senja merasa kaget.


Andin mengangguk, bima terlihat gelisah bersembunyi di balik punggung kakaknya.

__ADS_1


" Ask tolong belikan mereka makanan, anak laki - laki ini sepertinya mengalami Social anxiety disorder atau social phobia ( ketakutan untuk bergaul dalam kehidupan sosial ), bisa jadi dia trauma atau entahlah. Kita harus menolong mereka " bisik Senja.


Darren sependapat dengan istrinya, membiarkan orang lain kesulitan di depan mata, sama dengan membunuh rasa kemanusiaannya sendiri.


" Kalian tidak sekolah ? " tanya Senja setelah Darren meninggalkan mereka.


" Tidak bu, kami putus sekolah sejak dua tahun yang lalu " jawab Andin.


Senja mengambil ponselnya, menghubungi pak Ali pengurus panti, asisten ibu Hamidah di panti milik Senja. Setelah beberapa saat berbicara dengan ponsel, Senja kembali menemui Andin dan Bima yang sedari tadi terus memperhatikan gerak geriknya.


" Andin dan Bima mau ikut ke panti ? di sana banyak temannya. Andin dan Bima bisa sekolah lagi. Sebentar lagi ada temen Ibu datang akan membantu kalian. Mau kan ? "tanya Senja.


Keduanya hanya mengangguk.


Darren datang membawa dua box makanan dan memberikannya pada Andin dan Bima satu persatu.


" Makanlah dulu " ucap Darren meski tidak terlalu ramah tapi tetap baik. Darren tidak berubah, dengan orang lain dia tetaplah kaku hanya bersama Senja sisi lembut, manja dan romantisnya keluar.


" Ask, Senja sudah hubungi pak Ali biar mereka pak Ali yang urus.Kayaknya Senja juga kalau nggak besok ya lusa ini lahiran, sutdah ngilu banget buat berdiri apalagi jalan "


" Terimakasih Ask, kamu selalu menjadi istriku yang luar biasa. Aku berharap Tuhan memberi kita umur yang lebih panjang, agar kita bisa selalu bersama. Menua berdua, melihat anak - anak sukses dan berkeluarga " harap Darren.


" Aminnn... Senja juga berharap seperti itu Ask "


Bersamaan dengan itu pak Ali datang, Darren dan Senja memperkenalkan Andin dan Bima. Lalu mengajak menemui bayi yang masih butuh beberapa hari perawatan karena dehidrasi dan gizi buruk.


Setelah memastikan semua sudah terselesaikan, Senja dan Darren memutuskan kembali pulang ke rumah. Mereka menyebrang jalan. untuk menaiki salah satu taksi yang berderet si sisi kanan taman. Sesekali mereka ingin merasakan naik taksi berdua.


Darren memegang tangan Senja erat, memastikan kondisi jalan aman untuk disebrangi.

__ADS_1


BRUAKKKK.... Suara benturan keras terdengar bersamaan dengan dua tubuh masih saling menggenggam tangan terpelanting beberapa meter dari jalan.


__ADS_2