Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Ketahuan Sarita


__ADS_3

Orang yang melihat tidak akan menyangka bahwa pasangan yang baru saja datang itu baru saja melakukan penyatuan panas, pasalnya keduanya terlihat berjalan sendiri - sendiri. Senja di depan berjalan menggendong Dasen dengan posisi Dasen dihadapkan ke depan tanpa kain gendongan dan Darren berjalan di belakangnya menggandeng tangan Zain. Seandainya mereka berjalan bersama pasti keserasiannya akan membuat semua orang iri. Senyum Senja dan Darren sama - sama menebarkan pesona.


Keduanya menempati bangku dereran terdepan untuk keluarga. Baby sister De dan baby De sudah menunggu di deretan ketiga bersama Sarita, Mahendra dan Hutama yang datang masih di temani perawatnya yang baru. Rianti sudah kembali bertigas ke Madinah dua minggu yang lalu. Kondisi Hutama sudah membaik, sudah bisa bicara dan berjalan


meski belum 100%, jadi masih butuh perawat untuk mendampingi dan mempermudah terapinya.


" Zain duduk di tengah - tengah antara daddy dan mama " bisik Senja pada Zain.


Darren dengan terpaksa duduk di samping Zain. Dasen yang sudah kuat menyangga kepalanya sendiri terlihat senang melihat bunga yang ada di backdrobe. Kedua kaki dan tangannya terus bergesekan seperti hendak berlari.


" Das, sama Daddy ya. Kalau begitu mama bisa kewalahan " Darren mengambil alih Dasen, mengajaknya berdiri mendekati backdrobe yang menjadi pusat perhatian Dasen.


Senja menepuk - nepuk tangannya, merasa lega. Belum genap empat bulan berat badan Zain sudah mencapai delapan kilo.


" Ma, zain sama uncle saja " pamit Zain seraya menunjuk Eunji dan Hyeon yang duduk di deretan kedua sisi lain. Senja pun mengangguk setuju.


" Boleh duduk di sini ? " tanya seseorang dengan logat bahasa Indonesia yang aneh, membuat Senja menoleh dan mendongakkan kepalanya.


" Oh...Silahkan " jawab Senja ramah pada sosok laki - laki berkulit putih bersih, setinggi suaminya dengan wajah dominan bule.


" Totti, sepupu Al " ucapnya, mengulurkan tangan pada Senja.


" Senja, kakaknya Chun " balas Senja menerima uluran tangan Totti.


" Owh, surrogate mothernya baby De. Cantik sekali " puji Totti terang - terangan.


" Terimakasih " ucap Senja, menarik tangannya dari genggaman Totti.

__ADS_1


Darren langsung kembali ke deretan bangku putih berpita gold karena melihat Totti duduk tersenyum menatap Senja yang sedang memperhatikan Dasen di gendongannya. Darren memberikan Dasen pada Senja, wajahnya mengeras karena tidak menyukai istrinya duduk berdampingan dengan laki - laki lain, apalagi Totti.


" Hai bro, apa kabar ? " sapa Darren hanya sekedar basa basi.


" Seperti yang kamu lihat " jawab Totti sedikit angkuh.


" Masih sendirian saja ? ini biniku " ucap Darren, angkuh dan bangga.


Totti berdehem dua kali, merasa kali ini dia tidak bisa membalas kesombongan Darren. Nyatanya dia tidak datang bersama pasangan. Dulu mereka bisa saling meledek sesama single. Darren menyunggingkan senyum liciknya. Kemudian memberi kode agar Senja bergeser duduknya, untung wajah Darren sedang kesal jadi tidak membuat Senja mual.


Aleandro, Arham dan Zanetti memasuki area akad nikah, pertanda acara akan segera dimulai. Tapi Dasen sudah resah, Senja membawanya berdiri dan sedikit menggoyangkan badannya. Wati yang duduk di deretan belakang, mendekati Senja dan Dasen, menawarkan diri untuk mengambil alih Dasen. Tapi Dasen terlihat haus, Senja meminta selendang jarik yang mengalung di leher Wati, lalu menggunakannya untuk menggendong Dasen. Wati mengulurkan apron pada Senja, pertanda. Tak lama Dasen sudah anteng tertidur pulas sambil menyantap makanannya.


Senja duduk tenang di samping Darren, menyaksikan Aleandro yang sedang mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Setelah kata sah terdengar, perlahan Chun Cha dan Bae berjalan perlahan mendekati meja akad di mana Aleandro berada. Senja tidak berani mendongakkan kepalanya, takut mual dan kesal melihat wajah Bae.


Seluruh rangkaian acara akad nikah berlangsung dengan khidmat dan akrab. Karena Tamu undangan hanya keluarga dekat. Membuat suasana menjadi hangat.


Kemesraan Darren dan Senja yang aneh, menarik perhatian. Mengalihkan sejenak perhatian dari Aleandro dan Chun Cha. Bagaimana tidak, Darren terlihat menyuapi Senja yang sedang menggendong Dasen. Hal yang sebenarnya biasa saja, tapi menjadi sangat luar biasa karena ekspresi Darren yang kesal seperti tidak ikhlas. Cara menyuapinya seperti seorang ibu yang tidak telaten. Anehnya Senja malah senyum - senyum gemas pada suaminya. Ekspresi Darren tentu saja ekspresi buatan. Demi kemauan istrinya, Darren rela terlihat sebagai suami yang antagonis sekligus tertekan.


" Ask..Dasen kasih Wati gih. Capek kamu pasti " ucap Darren, kali ini memunggungi Senja karena wajahnya sudah lelah berpura - pura.


" Nggak capek kok, mulai sekarang mau gendong Dasen lebih sering. Takut kalau perut sudah besar tidak bisa lagi gendong gini " jawab Senja setengah berbisik.


" Ask, kenapa sih sekarang seneng banget lihat aku kesel ? "


" Seneng aja, jadi ingat dulu. Kamu yang ganteng tapi menyebalkan. Deket sama kamu tuh bikin deg - deg'an. Senja seneng aja merasa begitu. Sepertinya yang ini bakalan mirip kamu banget. Jauh lebih mirip ketimbang Dasen "ucap Senja, masih menatap punggung suaminya.


" Tapi kamu juga tidak suka melihat eomma, nanti kalau mirip eomma bagaimana ? Kok aku geli ngebayangin nimang anak kita kayak nimang eomma. Jangan - jangan keluar langsung bisa ngatain bapaknya " Darren geli sendiri membayangkan.

__ADS_1


" Jangan sampai. Kita foto dulu yuk sama Chun sama kak Al. Panggil Zain sekalian " ucap Senja seraya berjalan lebih dulu, mendekati Chun Cha dan Aleandro yang sedang sibuk berfoto dengan tamu lain juga.


" Selamat ya kak Al, lepas duda juga akhirnya " goda Senja.


" Mantan janda sama mantan duda reuni " sindir Darren.


" Perjaka bukan perjaka diam " sahut Senja.


" Duda dapet perawan, Janda dapet perjaka. Kalian beruntung " Chun Cha tidak mau kalah.


" Perawan bukan perawan saja bangga. Mending Janda. Biarpun gak berdarah - darah legalitasnya jelas. Perawan cuman status Id saja bangga " sungut Senja, tidak terima.


" Lebih beruntung aku Chun, Janda jam terbang tinggi. Pengalaman nggak diragukan " Darren sedikit membela Senja.


Obrolan janda duda terhenti karena kemunculan Zain. Mereka pun mengambil foto bersama. Sarita dan Mahendra bahagia menyaksikan kebahagian Darren. Sikap Darren menjadi jauh lebih hangat sejak bersama Senja. Meski Sarita dan Mahendra dari tadi merasa agak aneh dengan sikap anak dan menantunya. Keduanya terlihat akur, tapi wajah anaknya sungguh seperti sedang menahan kesal.


Setelah sesi foto, Senja,Darren dan Zain menghampiri Hutama. " Apa kabar opa " sapanya, begitu sudah berada di depan Hutama.


" Baik Senja. Kamu bagaimana ? sepertinya sedang tidak baik - baik saja " tebak Hutama.


" Pemberian opa terlalu cepat bereaksi " jawab Senja lirih, ragu dan hati - hati.


" Opa mau nambah buyut lagi ? " tanya opa, suaranya agak keras membuat Mahendra dan Sarita seketika menoleh.


Senja mengedip - edipkan matanya pada Hutama, tapi Hutama tidak peka.


" Darr ? " tanya Sarita dengan tatapan tajam menuntut jawaban.

__ADS_1


__ADS_2