Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Ijin sudah turun


__ADS_3

Senja balas meremas tangan suaminya sambil menaik turunkan alis, Darren kembali menggelengkan kepala lebih kuat. Senja mengerlingkan matanya, Darren menggeleng lemah. Hingga Senja terlihat memanyunkan bibirnya dua senti.


Bola mata Kenzi terus menyaksikan interaksi kedua anak manusia itu bergantian. Kenzi cukup jeli melihat apa yang terjadi. Dari apa yang dipertontonkan, Kenzi pastikan belum ada kesepakatan untuk penawaran yang dia berikan.


Darren menarik tangan Senja ke dalam ruang kerjanya lalu menutup pintu itu rapat - rapat.


"Ask! Boleh ya? inikan produk ibu dan balita. Amanlah buat diterima. Yang lihat pasti juga juga bu ibu. Lagian nanti kalau di lampu merah kamu bisa lihat di billboard ada gambarnya aku dan Dasen, belum lagi di poster dan baliho. Kamu bisa turun teriak - teriak dengan bangga itu istriku itu anakku." Senja malah mengatakan hal konyol, sukses membuat bibir Darren mencebik.


Senja semakin gemas melihat reaksi sang suami. Tangannya mencubit pipi Darren dengan keras, Darren menjadi terpancing untuk menggoda istrinya kembali.


Kenzi di luar melihat jam di pergelangan tangannya. Semoga Darren tidak lupa kalau dirinya masih menunggu di luar. Kedua pasangan suami istri gestur tubuh dalam bermesraan sangat meresahkan. Membuat jiwa jomblonya semakin mengenaskan.


"Belum tentu ibu - ibu saja, bisa jadi suami mereka juga lihat. Apalagi kalau ada di billboard, pas macet driver - driver pada mendongakkan kepala lihat, Aku nggak seneng kamu dikagumi orang lain. Cukup aku saja pengagummu." Darren tetap mempertahankan keputusannya.


"Nggak cuma kamu yang hidupnya butuh pencapaian ask, Senja juga pengen. Menjadi BA dari produk seperti itu membuat Senja bakalan lebih hati - hati menjaga kehamilan dan anak - anak. Orang tuh nggak cuman melihat foto atau teaser iklannya doang. Mereka bakalan cari tahu BA nya kehidupan sehari - hari bagaimana. Menjadi BA bukan sekedar mengiklankan produk. Akan ada banyak kesempatan diskusi dengan ibu - ibu lain, saling berbagi pengalaman. Positivnya banyak." Senja kali ini lebih serius.


Darren menelaah kata - kata istrinya. Tapi kecemasan akan banyaknya pengagum Senja membuat daddy Darr sulit menganggukkan kepala.


"Kalau kamu selalu menganggap pikiran orang lain buruk, kamu tidak akan bisa melangkah kemana - mana. Ketakutanmu berlebihan! Memang apa lagi yang bisa kamu dapatkan dari curiga selain rasa cemas? kalau ada, Senja mau ikut." istri darren Mahendra kembali mencoba membuka pikiran suaminya.

__ADS_1


"Baiklah! Aku ijinin, tapi semua kontrak dan lain - lainnya semua harus di bawah sepengetahuan dan persetujuanku. Aku akan memberikan notes, terutama tentang kostum dan pose. Aku tidak mau berlebihan apalagi terbuka. Istriku perempuan yang elegant, dia tidak boleh tampil sembarangan. Image elegant Ma Nja harus terjaga. Aku juga tidak mau ada lawan model apalagi laki - laki." Darren akhirnya mengalah juga.


"Terimakasih ask! yang penting kamu mengijinkan, aturan yang lain Senja nurut saja. Diskusi selesai, temanmu menunggu di luar," ingat Senja seraya kembali membuka pintu. Setelah pintu terbuka lebar, Darren mslah menahan pinggul Senja.


Kenzi yang tadinya sudah lega karena melihat pintu terbuka menjadi lebih engap. Jiwa jomblonya tidak hanya dibuat mengenaskan, tapi juga kepanasan. Bagaimana tidak, Darren dengan santainya meraup bibir Senja. ********** beberapa kali dan baru melepasnya setelah Senja mencubit lengannya keras.


Senja yang sedikit malu karena aksi suaminya, memilih tidak menemui Kenzi kembali. Berbeda dengan Darren yang nampak tanpa dosa, melangkah santai mendekati Kenzi.


"Kalau belum selesai, bisa kan bro pintu nggak dibuka dulu. Orang lain juga punya perasaan dan keinginan bro, nggak cuman lu doang," sindir Kenzi.


"Kita dulu sering melihat yang lebih parah dari itu. Kenapa sekarang mendadak risih? makanya nikah, lebih enak bro. Nggak usah muluk - muluk cari yang perawan, dapat janda kayak istri gue, pasti lebih menggemaskan. Nggak ada malu - malu, sudah tau harus bagaimana. Yang paling penting tangannya cekatan," cerocos Darren tanpa filter dan sedikit kebablasan.


"Sembarangan. Zain anak pertama gue. Meskipun bukan benih gue, sayang gue pol - polan ke itu anak. Zain anak yang luar biasa. Istri gue bukan janda sembarangan, dia janda dari Rafli Putra Rajata." jelas Darren setengah berbisik.


"Pantesan bibit unggul. Menikahi mantan istri rival bisnis judulnya," ledrk Kenzi.


"Perjuangannya panjang. Banyak ngalahnya, istri gue janda karena ditinggal pura - pura meninggal, gue nggak mau cerita. Intinya, buat bahagia seperti sekarang nggak gampang. butuh banyak korban perasaan. Sekarang Rafli sudah benar - benar tenang." Darren menutup ceritanya.


"Bro, lu nggak ada rencana buat nyusul Rafli dalam waktu dekat ini? Kalau ada gue nungguin wasiat lu buat jaga istri dan anak - anak lu," canda Kenzi.

__ADS_1


"Sialan lu!!" Darren melempar bantal sofa tepat mengenai muka Kenzi.


Keduanya masih terus melanjutkan obrolan santai, hingga waktu makan siang. Jiwa jomblo Kenzi semakin terinjak - injak ketika berada di tengah - tengah makan siang bersama mereka.


Bagaimana tidak, Kenzi disuguhkan kehidupan keluarga kecil yang begitu bahagia. Alami dan tidak dibuat - buat. Yang lebih membuatnya terheran - heran adalah sikap Darren yang jauh lebih hangat ketika di dalam rumah. Jauh dari angkuh dan sombong yang selama ini kerap ditunjukkan saat bersama orang lain. Kenzi hanya bisa melihat sambil menyuapkan sesendok demi sesendok makanan ke mulutnya sendiri. Darren berbagi makanan dipiringnya dengan Senja, menyuapi sang istri tanpa sendok.


Kenzi berpamitan beberapa menit setelah makan siang selesai. Ekspektasinya menjadi lebih sederhana sekarang, dulu dia terlalu panjang memberikan daftar kriteria perempuan yang ingin dijadikan istri. Melihat kehidupan keluarga Darren lebih dekat, menyadarkan Kenzi tidak akan ada pasangan yang sempurna kalau kita sendiri melihatnya selalu kurang. Kesempurnaan pasangan ada dipikiran kita sendiri.


Meneruskan kebersamaan, Darren dan Zain bermain bola di halaman belakang rumah. Senja dan Dasen hanya melihat di pinggir lapangan. Dasen di dudukkan di bouncher dengan sandaran membentuk sudut sembilan puluh derajat. Sudah saatnya Dasen belajar untuk duduk.


Darren dan Zain sama - sama sudah berkeringat.


"Ask...nitip liatin Dasen. Senja mau ke toilet sebentar!" teriak Senja, tanpa menunggu jawaban Darren, Senja langsung meninggalkan begitu saja.


Darren dan Zain terlalu asyik bermain, keduanya tidak mendengar permintaan Senja. Mereka baru sadar setelah bola yang mereka gunakan mengenai tepian bouncer dengan keras dan membuat Dasen menangis menjerit karena kaget.


Darren langsung lari dan mengangkat Dasen ke pelukannya. Senja tergopoh - gopoh keluar dari toilet dengan daster sedikit basah karena saking buru - burunya.


"Ask...Kamu gimana sih, kalau mau ninggal itu bilang - bilang," omel Darren.

__ADS_1


"Kamu yang bagaimana Ask, suruh liatin sebentar saja nggak bisa," sahut Senja tidak kalah kesal seraya mengambil alih Dasen dengan kekesalan yang nyata.


__ADS_2