Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Melawan perempuan ular


__ADS_3

Senja dan Darren melangkah bersama menemui Angelica di ruang tamu. Di bawah Angelica tampak beberapa paper bag dari branded - branded ternama dan mahal.


Bersamaan, kedua pasangan yang baru saja meneguk kenikmatan itu melempar pandang dengan tajam ke arah Angelica. Darren menyenggol lengan Senja, pertanda segala permasalahan dan penyelesaian diserahkan pada sang istri.


"Apa tujuan kamu kemari? Keputusan pengadilan bukannya besok? Atau kamu sudah mempunyai cukup uang untuk mengembalikan uang kami?" tanya Senja, santai tapi intonasinya sangat tegas dan tajam.


"Aku langsung pada tujuanku saja. Begini ... Aku ingin kamu mencabut tuntutanmu di pengadilan. Sekalipun itu perdata, aku tidak ingin ada catatan hitam pada namaku." Angelica menumpukan satu kakinya di atas satu kaki yang lain.


"Owh ... Aku bisa saja membatalkan tuntutanku, mengabaikan masalah dan berdamai. Tapi aku butuh aroma uang untuk melakukannya. Tidak ada uang, tidak akan ada penyelesaian." Senja mengangkat sedikit dagunya saat berbicara, terlihat sangat angkuh.


Darren mengelus - elus pinggang belakang istrinya, mengurangi rasa pegal yang mungkin sedang dirasakan oleh Senja. Darren dapat merasakan dari gestur tubuh Senja yang belum menemukan titik nyaman dalam duduknya.


"Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu, tapi aku memiliki barang - barang yang nilainya bisa menutupi kekurangan dari pembayaran melalui transfer yang akan aku lakukan setelah kita mencapai kesepakatan." Angelica mengeluarkan isi dari enam paper bag yang dia bawa.


Darren yang lebih akrab dengan barang - barang branded ketimbang dengan Senja hanya melihat sekilas, perhatiannya justru lebih fokus pada jemari istrinya yang naik turun mengusap pahanya di luar kesadaran.


Angelica meletakkan satu kotak terbuka berisi jam Rolex limited edition di atas meja, disusul satu jam dari merk lain yang tak kalah terkenal, yaitu Bell & Ross. Tidak puas hanya dengan jam tangan, dua hand bag dengan kisaran harga di atas satu milyaran diletakkan di samping jam tangan. Ditambah lagi tiga tas kulit buaya asli, yang harganya pun tak kalah fantastis karena produksinya yang terbatas.


Sekilas Darren menghitung nilai barang - barang yang ada di atas mejanya. Tidak kurang dari dua puluh millyar ada di sana jika di uangkan, bisa jadi malah lebih.


Senja berdiri, tapi tidak berniat sedikitpun menyentuh barang - barang impian hampir sebagian besar kaum hawa. Senja duduk di dekat Angelica, sengaja menatapnya perempuan itu tajam dengan jarak yang sangat dekat. Darren tersenyum, Angelica mungkin beruntung terlahir langsung kaya raya. Tapi dia sama sekali tidak mempunyai aura mendominasi seperti Senja.

__ADS_1


"Kesepakatan apa yang kamu mau?" Senja mempertajam tatapannya, Darren semakin susah mengalihkan pandangannya dari wajah Senja. Entah kenapa, melihat istrinya setegas itu malah membuat imajinasinya kemana - mana. Darren seperti tidak bisa menghentikan laju cinta pada istrinya yang semakin bertambah kencang.


"Aku akan mentransfer pada kalian tiga per empatnya, sisanya aku akan menggunakan barang - barangku ini sebagai jaminan. Jika dalam waktu satu bulan aku tidak bisa mengembalikan. Semua ini menjadi milikmu. Bersihkan nama baikku lewat media sosialmu" Angelica tidak terlalu berani membalas tatapan mata Senja.


"Sebentar ... Aku tidak pernah merasa mengotori namamu. Aku hanya menyampaikan keluhanku. Masalah nama baikmu, itu urusanmu sendiri. Tidak ada seorangpun yang benar - benar jatuh karena orang lain, tanpa campur tangan dirinya sendiri."


Angelica terlihat berfikir. Dia benar - benar tidak mau ada catatan hitam dalam namanya. Tapi bernegoisasi dengan Senja tidaklah mudah. Angelica beranjak, berlari ke arah Darren dan duduk di samping laki - laki yang terlihat sangat tampan di segala suasana. Bergelayut manja di lengan suami Senja itu layaknya seekor anak kera.


Darren sontak mendorong tangan Angelica dengan kasar dan langsung berdiri menjauhi perempuan berotak licik itu sembari mengibas lengannya dengan telapak tangan. Seolah sedang menghilangkan kotoran yang menempel.


Senja yang tadinya agak menahan emosi sedikit terpancing karena melihat Angelica berani terang - terangan berniat menggoda suaminya. Dengan setengah emosi dan tenaga yang full, Senja menarik tangan Angelica.


"Tadinya aku akan berbaik hati menerima berapapun uangmu. Tapi karena kelakuanmu barusan, jangan harap aku mau mencabut tuntutanku. Seorang yang murahan tidak pantas mendapatkan maafku yang mahal. Seorang perempuan yang mempunyai hati, tidak akan merayu suami orang apalagi di depan istrinya. Keluar dari rumahku sekarang! Sampai ketemu besok dipengadilan dan jangan lupa bawa barang - barangmu keluar dari rumahku." Senja menunjuk pintu rpumahnya dengan tatapan yang sangat sadis.


'Dasar perempuan aneh, bodoh dan kampungan. Bahkan dia tidak tahu barang - barang ini tidak lebih hanya ada lima di dunia. Bagaimana Darren bisa menikahi seorang ratu hutan seperti itu' gumam Angelica, yang ternyata sayup - sayup masih di dengar oleh Darren dan Senja.


Darren sudah beranjak ingin menampar Angelica, tapi Senja melarang. "Jangan mengotori tanganmu dengan menyentuh sedikitpun kulit perempuan ini," ucap Senja seraya mengambil salah satu tas milik Angelica.


"Kamu benar, aku memang tidak tahu tas ini berapa harganya. Bagiku ini terlihat murah saat kamu yang memakainya. Aku tidak menilai diriku dengan seberapa mahal barang yang aku pakai. Aku membuat apapun yang aku pakai menjadi mahal karena nilai dalam diriku. Mungkin itu bedanya kita, Jika suamiku meminjamkan uang sebesar itu padamu, aku pun bisa memberi padamu jumlah yang sama. Belilah otak dan kepribadian yang bisa membuat dirimu nampak seperti perempuan berharga." Senja melempar tas itu ke pintu, menyerempet lengan Angelica dengan sempurna.


"An! Ani!" teriak Senja.

__ADS_1


Ani tergopoh - gopoh mendatangi ruang tamu.


"Iya, Bu"


"Panggil satpam! katakan siapapun yang berjaga. Kalau perempuan ini datang lagi kemari, tolong jangan biarkan dia masuk lagi." Senja langsung berjalan ke dalam, menggandeng tangan suaminya yang terlihat pasrah. Urusan dan masalah yang dimulainya belum berakhir. Sedikit malu banyak rasa bersalahnya. Darren hanya bisa bersyukur, kalau bukan seorang Senja Khairunisa Kemala yang menjadi istrinya, hidupnya pasti tidak akan jauh - jauh dari perempuan seperti Angelica.


"Emosi banget ya? pasti gerah?" tanya Darren, tidak tulus dan hanya sekedar modus.


"Tentu saja gerah, tentu saja emosi. Mana ada istri yang rela suaminya di goda perempuan lain," jawab Senja, sangat ketus.


"Tapi kan suaminya nggak mau. Sini bantu aku hilangin bekas pegangan tangan dia, bajuku tolong bukain dulu, tadi nempelnya di sini. soalnya." Darren menunjuk lengan kaos biru polosnya.


Senja meski dengan setengah mengomel tetap saja menuruti ucapan Darren dengan membantu membuka kaos milik suaminya itu.


"Ask! Kayaknya aku harus ngegym lagi deh, coba pegang sini! Sudah lembek, banyak lemaknya." Darren menuntun tangan Senja menyentuh dadanya. Bagian yang sering kali membuat istrinya seketika melemah.


"Enggak kok. Masih bagus ini, Ask!" Senja sedikit menyenggol pucuk hitam mungil suaminya.


"Masak sih?" Darren mendekatkan wajahnya pada wajah Senja untuk memperpendek jarak.


Senja mendongakkan kepala, bibirnya tepat membentur bibir Darren.Tidak kebetulan, semua sudah diperhitungkan.

__ADS_1


"Sini, aku bantu nurunin emosinya," bisik Darren, langsung meraup bibir Senja dengan rakus. Tidak lembut dan terkesan buru - buru.


__ADS_2