Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Kenapa harus sekarang opa pergi?


__ADS_3

Darren langsung mengambil ponselnya. "Enggak kenapa - kenapa." Darren sebisa mungkin menyembunyikan air matanya yang hampir jatuh.


Proses operasi cesar pun selesai. Senja di pindah ke ruang pemulihan, pikiran Darren semakin bercabang. Tak lama dua orang perawat masuk membawa baby twins untuk skin to skin untuk pertama kalinya dengan Senja.


Darren dan Senja sama - sama akan melakukan skin to skin dengan baby twins bergantian. Darren membuka baju sterilnya, menampakkan dada bidangnya di depan perawat yang berusaha keras menjaga pandangan matanya. Dengan hati yang tidak tenang, Darren memilih tetap menjalani memberikan sentuhan pertama untuk anak - anaknya setelah mengirim pesan pada Mahendra, dia akan datang satu jam lagi. Menunggu saat yang tepat untuk berbicara dengan Senja agar istrinya tidak shock.


Senja dibantu perawat membuka baju yang menutupi dadanya. Baby boy yang pertama kali ditelungkupkan di atas dada Senja. Sedangkan Baby girl bersama dengan Darren.


"Asalamualaikum sayang, ini mama Nja. Jadi anak soleh ya sayang. Beriman dan berilmu. Sayang Daddy dan mama juga kakak - kakak. Namanya nanti saja ya, nunggu pusernya puput." Senja dengan lembut menyapa baby boy nya. Meski sudah berkali - kali melahirkan, tetap saja rasa haru tetap menghampiri. Senja mengelus punggung baby boy dengan lembut. Air mata tak terbendung lagi.


Kehamilan baby twins yang sempat tidak bisa ia terima. Memilih mengabaikan dan menjalani kehamilan seenaknya sendiri. Pasang surut emosi yang kadang membuatnya harus membenci suami sendiri. Air mata Senja semakin deras mengalir begitu melihat Darren sudah menangis sesenggukan di sofa single dengan baby girl di atas dada suaminya itu.


Antara haru dan sedih bercampur jadi satu. Darren bahkan belum sempat menyapa baby girl dalam pelukannya. Haru dan kesedihan lebih dulu menghampiri. Rasanya setiap kelahiran anak - anaknya, air mata selalu sukses tumpah. Kali ini bukan hanya karena kelahiran tapi juga karena sebuah perpisahan untuk selamanya.


"Daddy akan menjagamu dengan baik, girl ... Kamu akan menjadi putri paling beruntung. Karena Daddy akan menjadikanmu ratu di manapun kamu berada," bisik Darren, diantara isak tangisnya.


Beberapa saat kemudian, perawat menukar posisi baby twins. Darren masih sesenggukan, Senja sampai terheran - heran. Suaminya tidak pernah seemosional itu. Tangisan itu juga bukan tangisan kebahagiaan, lebih dalam pada kesedihan. Senja ingin bertanya tapi tidak enak karena masih ada perawat.


Baby girl seketika menangis keras saat ditempelkan di dada Senja, tidak seanteng saat di dekapan daddynya. Begitu pula sebaliknya baby boy juga menangis. Tapi tidak sekeras tangisan baby girl yang baru lahir saja sudah sangat melengking. Perawat akhirnya mengambil kedua baby yang belum berusia satu jam itu dan membawa ke ruang bayi.


Darren mendekati Senja, mengecup tangan dan kening istrinya dengan lembut berkali - kali. Kaki Senja belum bisa digerakkan. Masih terasa melayang dan kebas.

__ADS_1


"Kenapa menangis segitunya, Ask? Kenapa malah sedih?" tanya Senja, tidak bisa menutupi rasa penasarannya.


"Aku bahagia, persalinan kali ini semua berjalan sesuai rencana." Darren masih menutupi sebuah kenyataan yang diyakininya bisa membuat Senja akan down. Padahal Dokter sudah wanti - wanti untuk menjaga tekanan darah Senja untuk dua puluh empat jam ke depan. Karena masih rawan dengan pendarahan setelah melahirkan. Mengingat Senja pun pernah mengalami hal itu saat kehamilan Dasen.


"Ya sudah kalau begitu. Senja lega. Terimakasih sudah menemani Senja." Giliran Senja yang mengecup punggung tangan suaminya.


Darren melirik jam di pergelangan tangannya, dia harus mencari cara agar bisa datang ke rumah sakit tempat opanya berada saat ini.


"Kamu istirahat dulu. Biar saat biusnya hilang, Asinya sudah keluar lancar. Aku lihat Dasen dulu ya," pamit Darren.


"Iya, Ask ... Kamu makan dulu, Ask. Senja kayaknya bisa tidur ini. Berat banget mata." Senja sedikit memejamkan matanya.


"Malah bagus kalau bisa tidur, ya sudah aku ke Dasen dulu ya. Thanks, Ask ... I love you."


Senja memandangi punggung suaminya sampai menghilang dari penglihatan, lalu matanya terpejam memasuki alam mimpi.


Darren menyuruh Wati menelpon Ulfa dan Wardah untuk datang ke rumah sakit.


"Wat, saya pergi sebentar. Kalau ibu sudah kembali ke ruangan ini, kamu hubungi saya segera. Opa meninggal, Wat. Tapi jangan kasih tahu Ibu dulu ya." Darren mengatakan dengan jelas lalu segera pergi meninggalkan ruangan, berjalan cepat tanpa meboleh lagi. Menaiki lift menuju lobby, sudah ada Rudi dan mobilnya menunggu di sana.


Rudi mengendarai mobil dengan kecepatan lebih tinggi daripada biasanya. Darren berharap Senja bisa tertidur pulas lebih lama. Setidaknya sampai mengantar Opa ke rumah persemayaman dulu.

__ADS_1


Setelah Rudi menghentikan mobil tepat di lobby utama rumah sakit, Darren keluar dengan langkah seribu. Pandangannya fokus ke depan, mencari tulisan yang menunjukkan ruang jenazah.


Darren melihat papa dan mamanya sedang berada di sebuah lorong, sibuk dengan ponsel masing - masing. Mungkin sibuk menghubungi sanak saudara. Chun Cha dan Aleandro juga melakukan hal yang sama. Kematian Hutama tentu duka bagi beberapa rekan bisnis lamanya juga. Hampir teman Hutama dikenal baik oleh Aleandro.


"Di mana opa Ma ... Pa ?" Darren sudah tidak sabar lagi untuk melihat opanya untuk terakhir kalinya. Mahendra merangkul Darren masuk ke dalam ruangan.


Langkah Darren semakin pelan dan lambat, matanya nanar menatap sosok yang terbujur kaku dengan selimut putih menutupi tubuhnya hingga ke leher. Hutama hanya seperti sedang tertidur pulas.


"Opa, kenapa opa pergi di saat cicit Opa baru saja lahir? Kenapa? Apa Opa tidak ingin menggendong mereka? Kenapa Opa tega meninggalkan Senja di saat seperti ini? Apa yang harus Darr jelaskan pada Senja nanti. Senja pasti akan memarahi Darr karena sudah melarangnya memeluk Opa terlalu lama." Darren menatap nanar opanya. Matanya merah dan berkabut. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, satu kedipan saja, pasti air mata jatuh membasahi pipi.


"Opa tadi sempat berpesan untuk memberikan ini pada Senja." Mahendra merogoh sesuatu dari saku kantong celana, lalu memberikan pada putra semata wayangnya.


Darren menerima sebuah kalung berlian dengan liontin batu giok asli berwarna hijau bening. Dia menggenggam kalung itu dengan erat. "Senja tidak akan menyukai hadiah ini, Opa. Bukan ini yang Senja butuhkan."


"Sudah, Darr ... Kehidupan Opa sudah selesai di dunia ini. Kita yang akan meneruskan semua kebaikan dan pesan - pesan baiknya." Mahendra menepuk pundak putranya.


Sejak menikah dengan Senja, hubungan Darren dan Hutama menjadi sangat dekat. Tidak lain tidak bukan karena Hutama dan Senja memang mempunyai kecocokan yang luar biasa. Hubungan keduanya lebih dari sekedar akrab. Opa dan Istrinya bahkan bisa makan di piring yang sama dalam berbagai kesempatan.


"Bagaimana Darr menyampaikan pada Senja, Opa? Bagaimana? Darren tidak sanggup." Darren menjatuhkan dirinya di lantai dingin ruang jenazah.


Sarita yang baru saja masuk mendekati putranya, ikut menjatuhkan diri di lantai dan merengkuh bahu Darren dalam pelukannya. Tangisan Darren semakin pecah.

__ADS_1


"Jangan menangis, Darr. Nanti Opamu sedih. Biarkan Opamu pergi dengan tenang," bisik Sarita seraya mengelus lembut rambut Darren.


"Bagaimana dengan Senja, Ma? Kemarin Senja masih tidur di pangkuan opa. Bagaimana kita menyampaikan pada Senja ma? Bagaimana?"


__ADS_2