Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Nanti saja di lanjut


__ADS_3

Sampai hari yang ditentukan, Angelica belum ada tanda - tanda mengembalikan uang yang dipinjamnya. Bahkan saat Darren menyuruh Yanes menghubungi, nomer telepon Angelica sudah tidak aktif.


Hari ini, sebenarnya Senja dan Darren akan pergi ke yayasan penyalur baby sister untuk memilih baby sister yang akan membantu menjaga baby twins nantinya. Senja bersikeras mengajak baby sister tinggal di rumahnya terlebih dahulu. Selain untuk saling mengenal, juga untuk mengajarkan kebiasaan - kebiasaan di rumah Senja.


Anak adalah harta yang paling berharga, meski masih di bawah pengawasannya, baby sister yang mengasuh baby Twins tidak boleh sembarangan. Mereka harus bisa menyayangi anak - anak, seperti Wati yang sangat telaten pada Dasen.


Tapi, di tengah perjalanan Senja justru mengajak Darren ke rumah Angelica. Senja seperti menyimpan dendam tersendiri pada Angelica. Mendengar ponsel perempuan ular itu dinonaktifkan, jiwa menyerang Senja tergerak.


Sampai di kediaman Angelica. Senja terlihat begitu bersemangat dan cenderung tidak sabar.


"Mau cari siapa Tuan?" tanya seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu utama.


"Pak Malito dan Angelica ada?" Darren bertanya dengan nada datar seperti biasa. Mode ramah memang hanya untuk orang tertentu saja.


"Non Angel dari kemarin berangkat ke luar negeri, Tuan. Kalau Tuan Malito ada. Dengan Tuan siapa? Saya coba panggilkan dulu." Perempuan seumuran Senja itu berbicara dengan sangat hati - hati.


"Darren Mahendra," sahut Senja dengan cepat.


Keduanya masih menunggu di luar pintu. Karena setelah menanyakan nama,h asisten itu kembali masuk dan menutup pintu kembali tanpa menyuruh Senja dan Darren duduk menunggu di sofa ruang tamu.


"Kita bahkan sudah seperti debcolector pinjaman online gara - gara ulahmu." Senja menggerutu sembari mencubit lengan suaminya setengah kesal.


Belum sempat Darren menjawab, pintu rumah kembali terbuka. Kali ini wajah Malito pun tampak di sana.

__ADS_1


"Maaf Darr, jadi menunggu. Ayo masuk!" ucap Malito, tanpa menyapa dan mempedulikan kehadiran Senja di sana.


Darren mengamit lengan istrinya seraya mengikuti langkah kaki Malino. Mereka duduk di ruang tamu kedua di rumah itu.


"Mohon maaf, pak Malito. Kami langsung saja. Hari ini sudah waktunya Angelica mengembalikan uang pinjamannya pada saya. Kenapa ponselnya malah tidak diaktifkan? Seperrinya akan percuma menghindari saya." Darren menatap tajam pada Malito.


"Maaf, Darr. Angelica belum bisa mengembalikan uangmu. Dia sedang melakukan perjalanan ke luar negeri bersama temannya. Darr, percayalah kami tidak mungkin lari." Malito menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain.


"Bagaimana kami bisa percaya kalau saat ini saja Angelica sudah tidak berada di sini. Seharusnya dia bisa bertemu dengan kami dulu dan berbicara baik - baik kalau memang belum mempunyai uang," tegas Senja.


"Mohon maaf, anak saya meminjam uang pada Darre, bukan kepada anda. Biarkan Darren yang berbicara, memutuskan dan menyelesaikan dengan anak saya," ucap Malito, pelan tapi sangat meremehkan Senja.


"Tidak perlu minta maaf. Mari kita dengar bersama apa yang ingin suami saya sampaikan," Senja melirik Darren dengan tajam, pandangannya sangat nengintimidasi.


"Saya yang meminjamkan uang pada Angelica. Tapi uang itu milik istri saya. Apapun urusan saya, pada akhirnya akan menjadi urusan istri saya juga. Dalam kasus ini, saya menurut saja apa kata istri saya." Darren mengelus punggung tangan istrinya.


Kasus yang awalnya diremehkan oleh Malito dan Angelica. Mengira mereka perlahan akan bosan menagih karena uang sejumlah itu tidak seberapa bagi ceo Mahendra Coros. Tapi ternyata dugaan mereka meleset, Darren mungkin bisa mengabaikan, tidak dengan Senja yang sangat menghargai hasil kerja keras suaminya.


"Baiklah pak Malito, maaf mengganggu ketenangan Anda. Kami pamit undur diri. Semoga apa yang dikatakan istri saya dapat tersampaikan dengan baik ldi telinga Angelica. Sejauh ini, istri saya tidak pernah main - main dengan ucapannya." Darren dan Senja elangkah keluar, meninggalkan Malito yang tengah berfikir keras untuk mengatasi kekacauan yang dibuat anaknya.


Angelica adalah anak semata wayang Malito. Selalu hidup di tengah gelimangan harta dan kekuasaan. Apalagi setelah mamanya meninggal. Malito semakin memanjakan Angelica tanpa batas. Pada akhirnya, Malito harus bangkrut karena ada pegawai yang terus menjual data perusahaan ke perusahaan lain. Tender - tender besarpun putus di tengah jalan.


Sementara itu, Darren dan Senja meneruskan perjalanan mereka yang sebenarnya menuju tempat penyalur baby sister. Berkali - kali Rudi melirik spion tengahnya. Sudah hampir semingguan dia tidak melihat adegan ciuman sembarangan.

__ADS_1


Hubungan Darren dan Senja memang sudah membaik, tapi untuk urusan bermesraan mereka belum melakukan. Saat malam hari, selalu ada saja hal yang menggagalkan hasrat yang sebenarnya sama.


"Ask ...." panggil Senja.


"Iya Ask .... " jawab Darren lembut sembari melingkarkan tangannya ke pundak istrinya. Sedikit memberi dorongan, hingga Senja bersandar di bahunya.


"Mau pilih mbaknya yang bagaimana?" tanya Senja dengan jemari di ketuk - ketukkan di dada Darren.


"Terserah kamu, Ask. Yang penting dia harus bersih. Aku tidak mau anak - anakku bersama orang yang jorok dan dekil."


"Kalau baby sisternya lebih cantik dan lebih muda dari Senja, kamu bakalan berpaling nggak?" Senja mendongakkan kepala dan menatap wajah mulus suaminya.


Darren menowel hidung istrinya. "Tentu saja tidak. Di pikiranku, kamulah yang tercantik. Setia itu bukan hanya perkara cantik atau tidak Ask. Tapi kita harus memegang komitmen dan sumpah pernikahan kita. Jika aku meninggalkanmu, mungkin aku akan mendapatkan istri yang lain. Tapi bagaimana dengan anak - anak? Apa aku akan tega membiarkan anakku hidup terpisah dari kedua orangtuanya? Tidak Ask! Sampai saat ini, aku masih ingat wajahmu saat melahirkan Dasen. Aku tidak sanggup mengagumi wajah perempuan lain karena itu," ucap Darren, begitu panjang lebar.


Senja tersenyum, menggeser kepalanya semakin dalam ke dada Darren. Tangannya kini beralih mengelus paha suaminya, membangunkan sesuatu yang membuat Darren harus menarik celana chinosnya sedikit ke bawah.


"Ask ... Mereka sepertinya sedang bermain bola di dalam." Senja membawa tangan Darren ke atas perutnya, ikut merasakan gelombang yang sangat hebat.


"Tidak sakit?" tanya Darren.


"Tentu saja tidak."


"Terimakasih, Ask! Kamu membuat hidupku menjadi begitu sempurna. Aku sangat mencintaimu. Boleh marah, tapi jangan lama - lama. Aku tidak sanggup hidup tanpa semua yang ada didirimu. Kiss and hugh me, please!"

__ADS_1


Darren menundukkan kepala, berniat meraup bibir Senja yang sudah bersiap menerima dan membalas apapun bentuk serangan suaminya. Baru menempel, ban mobil berhenti bergerak.


"Maaf Bu ... Pak ... Sudah sampai, nanti saja dilanjut."


__ADS_2