Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
pemain perasaan


__ADS_3

Sampai di rumah, Senja mengantar Arham dan Bae istirahat di kamarnya. Senja sendiri setelah itu langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Kehamilannya yang sudah besar, membuat Senja mudah merasa gerah dan berkeringat.


Darren menyusul istrinya ke kamar. Permasalahan harus cepat selesai, lebih baik menerima omelan sepanjang hari ketimbang didiamkan apalagi ditinggal pergi.


Bathrobe yang dikenakan Senja membuat Darren harus mengalihkan fokusnya. Memang sengaja atau bagaimana, Senja malah memilih bathrobe yang membuat paha mulusnya terpampang nyata. Rambut yang basah dibiarkan jatuh sebagian menutup pipi. Tetesan air di wajah malah membuatnya terlihat sangat sek5i. Gerakannya seperti diperlambat saat ingin berganti pakaian.


Menganggap suaminya tidak ada atau sengaja menggoda. Bathrobe itu dilepas begitu saja. Memperlihatkan perutnya yang bulat dan juga dua bagian bulat lainnya tanpa risih.


Darren mengusap wajahnya dengan kasar. Istrinya memang pintar memainkan perasaan. Hukuman memang tidak perlu tamparan atau cacian yang keras. Siksaan seperti yang sekarang dia alami, justru jauh lebih perih.


"Ask... Boleh aku bicara?" tanya Darren hati - hati.


"Mulai kapan ada aturan dilarang berbicara dengan mulut sendiri?" Senja balik bertanya. Tangannya menutup resleting belakang dressnya dengan gemulai, ingin rasanya Darren membantu melepasnya. Iya melepas bukan memasangkannya.


"Maafkan aku Ask ... Aku salah. Tidak ada alasan untuk membenarkan. Aku meminjamkan uang itu, bukan memberi cuma - cuma. Aku hanya memandang hubungan baik papa dengan pak Malito. Papa dulu juga sering di bantu, sekarang saat mereka bangkrut. Tidak ada salahnya aku membantu. Angelica Malito anak pertama pak Malito. Dia yang sedang berusaha membangun bisnisnya kembali. Hanya sebatas itu. Aku bahkan tidak pernah bertemu berdua saja dengannya. Selama ini kami hanya berkomunikasi lewat telepon, terakhir bertemu langsung bersama Yanes." jelas Darren tanpa di minta.


Senja tidak menjawab, mengambil dompet dari dalam tasnya, mengeluarkan semua kartu atm pemberian Darren dan meletakkannya di atas meja. Tidak lupa memberikan juga dua key token dari bank berbeda.


"Ask ... Tidak perlu seperti ini. Aku tahu aku salah. Tidak bisakah berhenti dan diselesaikan dengan kata maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Darren menghampiri istrinya yang sedang sibuk merapikan isi tasnya.


"Berhentilah merajuk seperti Zain. Setiap kesalahan ada konsekuensinya. Memang kamu yang bekerja keras, memang hakmu menggunakan uangmu untuk apa. Aku cukup menjalankan tugasku. Kurang enak apa hidupku, punya suami kaya raya, mau apa tinggal minta. Cukup menyiapkan badan dan melahirkan sudah bisa numpang hidup enak pada seorang Darren Mahendra," ucap Senja, kata - kata terakhirnya sungguh membuat Darren sakit.

__ADS_1


Darren menarik pergelangan tangan Senja dan menggenggamnya sedikit erat. "Kamu boleh mengatakan apapun padaku Ask... Kamu boleh menghukumku. Aku siap! Tapi jangan katakan kamu menumpang hidup denganku. Aku suamimu Ask... Aku bekerja untuk kamu dan anak - anak. Semua yang aku miliki sudah pasti juga milikmu. Tolong, jangan ucapkan kata - kata itu seolah kamu menganggap aku hanya membutuhkanmu untuk sekedar tidur dan mesin pencetak anak." ucap Darren, tajam.


"Berhenti berbicara seolah kamu suami ideal, nyatanya apa yang menjadi milikmu tetap milikmu sendiri. Jika kamu merasa itu milik kita berdua, sekecil apapun yang kamu keluarkan untuk perempuan lain pasti kamu akan meminta pendapatku. Aku tidak ingin berdebat lagi, emosiku harus aku jaga supaya anak - anakku tumbuh dengan bahagia di dalam sini." Senja mengelus perutnya dengan satu tangan.


"Aku tahu Ask... Aku bukan suami ideal. Banyak kurangnya. Aku tahu betul letak salahku. Bisakah kita menganggap ini selesai dan fokus pada kehamilanmu. Jangan sampai karena uang yang tidak seberapa hubungan kita menjadi berantakan. Uang bisa dicari." Darren terlihat mengentengkan.


Senja tersenyum sinis dan menghempaskan tangan Darren dari pergelangan tangannya. Membalas tatapan tajam sang suami dengan berani.


"Uang yang tidak seberapa? Bahkan ribuan orang di luar sana banyak yang tidak sanggup mengumpulkan satu persennya saja meski bekerja keras setahun penuh. Kamu tidak pernah berubah! Kamu tidak pernah merasakan berharganya selembar uang dua ribu untuk ditukar sebungkus nasi." Senja berjalan ke luar pintu kamarnya.


Darren buru - buru mencegahnya. Titik penyelesaian belum mereka temukan. Semakin menggantung dan menyiksa Darren.


"Ask... Please, oke aku barusan juga salah. Aku bukan bermaksud meremehkan. Tapi keutuhan keluarga kita jauh lebih penting. Itu maksudku. Bukan memandang rendah nilai uangnya. Ask... Please! Aku tahu aku salah, aku janji tidak akan mengulanginya lagi dan mari kita anggap ini selesai." Darren kembali mengiba.


Darren memijat pelipisnya sedikit keras, kepalanya mendadak berat. Uang yang dia pinjamkan tidak sedikit untuk ukuran orang yang sedang bangkrut, butuh waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan uang itu kembali. Haruskah membiarkan hubungan dengan istrinya menjadi sedingin sekarang.


Pikiran Darren benar - benar buntu sekarang, pasti ada alasan dibalik sikap tegas istrinya. Senja tidak sekejam ini. Darren menghubungi Yanes, menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja Yanes tidak kaget, karena Senja sudah lebih dulu memintanya untuk menyelidiki keseharian Angelica.


Senja sedang menelpon Sarita, menanyakan Dasen dan Zain. Dia belum berniat membawa anak - anaknya untuk pulang.


Arham dan Bae sedang berada di ruang tengah, sangat tidak enak bagi mereka di rumah Senja tanpa ada Zain dan Dasen di sana. Mereka sudah menghubungi Chun Cha untuk menjemput, malam ini mereka memutuskan untuk tidur di rumah Aleandro. Mereka ingin mengajak Zain tidur bersama mereka. Sebuah kebiasaan setiap berkunjung, mereka tidak akan melewatkan kebersamaan dengan Zain.

__ADS_1


"Eomma... Appa... Kita makan malam dulu yuk!" ajak Senja.


"Mana suamimu La, tidak makan sekalian?" tanya Arham.


"Abang masih mandi, Appa!"


Ketiganya berjalan ke ruang makan, Senja menyuruh salah seorang ART memanggil sang suami.


Darren menuruni anak tangga dengan wajah yang tidak terlalu bersemangat. Meski terlihat segar dan masih tampan seperti biasa, tapi jelas wajahnya sedang penuh beban.


"Bagaimana pekerjaanmu, Darr?" suara Arham memecah keheningan.


"Lancar Appa, sejauh ini semakin baik," kawab Darren.


Senja melayani Darren seperti biasa, menyiapkan sepiring makanan dan segelas air putih. Sikap Senja menunjukkan seolah - olah hubungannya dengan Darren sedang baik - baik saja.


Darren mengakui dalam hati, lagi dan lagi. Kemampuan istrinya bermain perasaan memang tidak diragukan.


"Mau nambah lagi, Ask?" tanya Senja begitu mesranya.


Darren hanya meringis seraya berharap semoga Arham dan Bae berada di rumahnya lebih lama agar Senja terus bersikap manis.

__ADS_1


"Owh ya Darr... La... Eomma dan Appa malam ini menginap di Al, Eomma kangen sekali tidur bersama Zain." ucapan Bae memupuskan harapan Darren seketika.


Daddy dari Zain dan Dasen itu mendadak enggan menyelesaikan makannya. Bayangan Senja yang akan kembali mengacuhkannya membuat Darren kehilangan semangat.


__ADS_2