
Setelah sholat subuh bersama, Darren dan Senja kembali rebahan di atas ranjang. Dasen masih pulas di kamar sebelah. Sungguh Dasen memberi waktu pada daddynya untuk menyalurkan hobbynya.
"Ask..." bisik Darren, tangannya sudah kembali menyusup memasuki tepian kain segitiga Senja.
"Hemmm..." jawab Senja, mulai sedikit mengeliat.
"Pesawat eomma sama appa jam berapa?" tanyanya dengan jari telunjuk yang mulai maju mundur di tengah sana.
"Sepuluh.. "jawab Senja, terdengar seperti *******.
"Baiklah....Besok aku ngomong setelah sarapan pagi." ucap Darren, nafasnya sudah semakin memburu. "Sudah siap, langsung saja." bisiknya.
Senja menurunkan segitiga putihnya, sedangkan Darren menurunkan boxer dan melepas sarungnya.
"Begini saja," bisik Darren lagi, tangannya mengarahkan si naga pada liangnya. Posisi Senja masih sama, berbaring miring memunggungi suaminya. Tiga kali hentakan, naga sudah menembus masuk dengan sempurna. Sang empunya mulai mengeluarkan rintihan keenakan dan juga sedikit racauan. Satu tangannya sudah menyusup pada gundukan kenyal yang kini kepemilikannya sudah di dominasi oleh Dasen.
"Ask..." desah Senja.
"Iya Ask...Bareng ya" bisik Darren semakin kuat menghentak dan merem4*s.
Akhirnya suara racauan tanda pencapaian titik puncak ***ahi pun kembali lolos dari mulut keduanya. Total dengan tadi malam, ini yang ketiga kalinya. Sementara Chun Cha dan Aleandro malah baru saja memulai babak pertama setelah mereka sah menjadi suami istri. Karena terlalu lelah, keduanya malah langsung tertidur.
Senja dan Darren menarik selimut kembali. Meneruskan mimpi yang tertunda sejenak karena ulah tangan Darren tadi.
Suara tangisan Dasen yang melengking, membangunkan Senja. Dengan tergesa - gesa Senja segera menghampiri Dasen.
"Anak mama ternyata pup ya. Pup kok nangis. Ini memang anaknya daddy banget, nggak sabaran." ucap Senja, tangannya lincah membersihkan feses Dasen menggunakan tisu basah. "Wat, ini Dasen belum mandi kan?" tanyanya.
"Belum bu," jawab Wati.
__ADS_1
"Ya sudah biar saya saja yang mandikan." kata Senja.
Dasen sangat senang jika dimasukkan ke dalam air hangat, kakinya seketika menendang - nendang, badannya diangkat - angkat tinggi. Membuat yang memegangi harus ekstra hati -7 hati.
Senja membawa Dasen yang sudah wangi ke kamarnya. Darren masih tertidur dengan pulasnya. Tangisan Dasen tidak mengusiknya sama sekali. Senja membersihkan bulatan hitam di tengah dada kenyalnya terlebih dahulu, lalu memasukkannya ke dalam mulut mungil Dasen.
Pintu kamarnya diketuk dari luar, ternyata Zain yang datang. Sudah mandi, tinggal mengganti bajunya.
"Ask, bangun Ask...Sudah jam tujuh." Senja mungguncang - guncang pundak Darren.
"Lima menit," jawab Darren dengan mata yang masih terpejam.
"Zain sarapan dulu ma, sudah ditungguin uncle kembar." pamit Zain.
"Perhatikan makananya Zain, jangan sampai alerginya kambuh!" ingat Senja.
Lima menit yang disepakati lewat, Senja kembali membangunkan suaminya. Darren pun akhirnya berhasil terjaga setelah sepuluh menit berlalu.
"Tentu saja, coba kalau daddy darr nggak nempel terus, pasti bau original mama Nja." sahut Senja.
Darren pun segera mandi, lalu berganti baju santai. Dareen berniat menemui Bae dan Arham di kamar mereka.
"Aku mau bicara dulu sama eomma san appa. Kamu tidak usah ikut Ask...Biar aku saja yang diomeli." pamit Darren. Sebelumnya dia kembali mencium sekilas kening Senja dan dasen.
Sampai di kamar Bae dan Arham. Darren duduk dengan tegak, menatap Bae dan Arham bergantian tanpa ragu dan gentar.
"Darren mau menyampaikan kabar bahagia pada eomma dan appa." ucapnya, membuka pembicaraan yang entah akan happy atau berantakan ending.
"Apa Darr?" tanya Bae penasaran.
__ADS_1
"Senja hamil eomma. Sudah jalan lima minggu."jawab Darren to the point.
"Apa? Kamu bilang ini kabar gembira? Dasen baru tiga bulan Darr. Bagaimana kamu menyebut ini gembira. Dasen masih butuh Asi, saat dia tumbuh masih manja - manjanya, adiknya keluar. Sudah eomma bilang atur kehamilan. Kenapa kalian tidak dengar eomma." cerocos Bae dengan emosi.
"Sabar Bae...sabar...Itu rumah tangga mereka, Kemala hamil juga ada suaminya. Buat apa kamu seheboh itu." sahut Arham, enteng.
"Bukan perkara itu, apa appa tau Kemala itu masih harus ngasih Asi, bekas luka operasinya bagaimana. Apa kalian memperhitungkan sampai ke sana? tentu saja tidak, karena kalian asal buat saja." ucap Bae dengan sinis.
"Kami sudah konsultasi ke dokter eomma, Asi untuk Dasen masih bisa jalan. Untuk bekas operasi juga tidak perlu dikhawatirkan. Kalau dokter mengatakan aman, kita pun harus percaya eomma." tutur Darren.
"Terserah kalian! Sesuai ucapan eomma, kalau sampai Kemala hamil sebelum Dasen umur satu tahun, Dasen eomma yang asuh." ucap Bae, menatap Darren tajam dengan suara tegas.
"Tidak! Dasen tetap akan bersama kami. Senja masih bisa memberi Dasen Asi dan mengasuhnya. Darren tidak akan mengijinkan." jawab Darren tegas.
"Tidak bisa begitu Bae, Dasen lebih baik bersama Kemala dan Darren. Mereka sudah dewasa, percayalah mereka bisa merawat dan membesarkan anak - anak mereka sendiri. Kita hanya melihat dan mendoakan saja." tutur Arham.
"Tidak! Ini bukan masalah mampu atau tidak, secara financial eomma tidak meragukan sama sekali, tapi membesarkan anak tidak cukup dengan materi yang melimpah. Kedekatan, kasih sayang dan perhatian juga. Dasen akan punya adik diusia satu tahun, saat dia masih suka digendong dan dimanja. Lalu dia harus menahan diri dengan kelahiran adiknya. Eomma tidak bisa membayangkan." Bae masih tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.
"Darren akan membantu Senja eomma, kami akan saling melengkapi untuk anak - anak. Darren akan mengurangi kesibukan Darren. Sejak tau Senja hamil, Darren sudah fikirkan eomma. Darren punya asisten punya dua sekretaris yang bisa diandalkan. Tinggal membekali mereka sedikit lagi, Darren tidak perlu menghabiskan banyak waktu di kantor. Darren akan menemani Senja menjaga anak - anak. Tidak selalu, tapi akan sering." ucap Darren masih berusaha meyakinkan eommanya.
"Tetap Dasen harus bersama eomma. Ini Kemala kemana? kenapa kamu sendirian memberi kabar ini pada kami?" selidik Bae.
"Tidak eomma! Dasen akan tetap bersama kami. Senja masih mengurus Dasen. Lagian Darren tidak ingin mengajak Senja kemari. Darren tidak mau Senja kepikiran karena eomma ingin mengambil Dasen. Darren tidak ingin seorangpun membuat Senja stres, siapapun, termasuk eomma." ucap Darren, tegas.
"Sudahlah Bae. Kita harusnya malah bahagia. Cucu kita akan bertambah lagi. Rumah kita akan ramai kalau mereka sedan berkunjung. Kemala itu tangguh, dia pasti bisa" Arham ikut membujuk istrinya.
"Tapi tetap harusnya Kemala juga bicara sama eomma. Kalau begini kesannya Kemala menghindar. Apa dipikir karena eomma hanya ibu tiri? apa ibu tiri itu selalu kejam?" dengus Bae.
Darren menarik nafas, sepertinya jujur lebih baik. Daripada nanti melebar kemana - mana.
__ADS_1
"Bukan begitu eomma, sebenarnya Kemala merasa mual, pusing dan tidak bisa menahan muntahnya kalau melihat wajah eomma." ucap Darren, pelan dan hati - hati.
Wajah Bae langsung berubah dratis.