
Senja masih asik berbicara akrab dengan seseorang di telepon, dia sampai tidak menyadari, ada sepasang mata yang memandanginya tajam. Umur memang bertambah, tapi cemburuan atau tidak itu benar-benar pilihan. Darren rupanya memilih untuk menjadi pencemburu sepanjang usia.
"Siapa?" selidik Darren, setelah melihat Senja meletakkan kembali ponsel di dalam tasnya.
"Owh ... Ini Ulfa. Nanti setelah acara Derya dan Beyza, kami akan bertemu sebentar." Senja berbohong, karena yang dia telepon barusan adalah wali kelas Dasen.
Senja hanya memberi tahu kalau akan menemui wali kelas Dasen setelah acara si kembar selesai. Kebetulan mereka memang beda sekolah. Dasen tidak ingin satu sekolah dengan adik-adiknya. Cukup masuk akal, dia tidak mau kenakalannya menjadi beban sang adik.
"Bertemu di mana? di luar?" tanya Darren, terdengar tidak suka.
"Tentu saja, kami ingin menikmati udara luar sesekali. Bukan kami, tapi lebih tepatnya Senja. Beruntung sekali Ulfa menikah dengan Kenzi, dia tidak di kekang sedikitpun. Mau ke mana juga bebas." Ulfa yang di maksud Senja adalah mantan baby sister Beyza.
Ya, Kenzi menikah dengan perempuan itu. Awalnya hanya demi melihat Senja setiap hari, Kenzi iseng mendekati Ulfa. Lama kelamaan cinta bersemi betulan. Tapi Kenzi selalu mengidolakan Senja, bahkan sampai sekarang. Ulfa pun tahu, tapi dia bisa menerima semuanya.
"Apa Kenzi ikut?" Darren memutar tubuh Senja hingga berhadapan dengannya.
"Tidak! Karena dia punya kesibukan sendiri, buat apa mengikuti istri terus," sindir Senja, berhasil membuat Darren mencebikkan bibirnya.
Dasen masuk ke kamar yang pintunya sudah terbuka sejak tadi. Langsung memposisikan diri di antara mama dan daddynya.
"Ma ... Mama ... Bisa minta tolong pasangkan ini?" Dasen memberikan dasinya pada Senja.
Darren melengos kesal. Padahal pagi ini dia belum mendapatkan asupan ciuman dari sang istri. Apa boleh buat, titisannya sudah menyabotase posisinya sekarang.
Senja dengan telaten dan tatapan penuh cinta memakaikan dasi itu di krah leher seragam Dasen.
__ADS_1
"Thanks, Mama." Dasen mencium pipi mulus Senja sedikit lebih lama, sengaja membuat daddynya kesal seperti biasa.
"Daddy akan memberitahu temanmu yang datang ke rumah. Kalau kamu adalah anak mama. Cewek tidak ada menyukai cowok yang manja," ancam Darren.
Dasen tergelak, tawanya teedengar sedikit meremehkan. "Tidak akan. Dasen selalu mengatakan pada mereka, carilah cowok yang mencintai ibunya, dia tidak akan menyakiti hati perempuan. Karena dia sangat menghargai lbunya lebih dari apapun."
Senja menepok kening Dasen, menyadari dirinya memang sering dimanfaatkan untuk memuluskan rayuan Dasen. Sungguh anak ini adalah Darren versi lebih bar-bar.
******
Mereka kini sudah berkumpul di meja makan.
"Pagi sayang, maaf semalam mama tidak menungguimu pulang." Senja mengecup pelan kening Zain.
"It's oke, Ma ... Aku pulang sangat malam. Hampir pagi malah. Airin masuk ke rumah sakit, kondisinya sedikit drop." Raut wajah Zain terlihat sangat sedih. Airin adalah calon istri Zain. Perempuan menderita kanker darah, sama seperti Zain dulu.
Darren hanya terdiam, sebenarnya dia tidak setuju Zain menjalin hubungan yang serius dengan gadis pilihan putra pertamanya itu. Bukan karena hal yang lain, tapi lebih karena takut Zain akan mengalami kehilangan dan perpisahan yang menyakitkan.
Zain adalah satu dari seratus orang yang berhasil dinyatakan sembuh dari kankernya, tapi Airin masih sedang berjuang dengan kankernya yang sudah stadium tiga. Belum ada sumsum tulang belakang yang dinyatakan cocok dengannya. Darren sungguh tidak ingin anaknya mengalami kehilangan dengan cara kematian.
"Airin akan sembuh, Ma. Zain yakin. Dia bisa melewati ini semua dengan baik." Zain seperti sedang menghibur dirinya sendiri.
Senja mengangguk dan tersenyum tipis. "Sabar, ya. Selalu berdoa. Serahkan sama Tuhan. Usahakan yang terbaik untuk Airin." Senja menepuk pundak Zain.
Mengerti suasana sedang tidak baik-baik saja, Dasen dan Beyza pun memilih untuk makan pagi dengan tenang pagi ini.
__ADS_1
Setelah makanan di piring masing-masing habis, si kembar dan Dasen memutuskan untuk menunggu daddy dam mamanya di dalam mobil. Ketiganya paham, kedua orangtua itu pasti masih ingin sedikit berbincang dengan kakak sulung mereka.
"Ma ... Zain mau memakai sebagian uang untuk pengobatan Airin. Maaf kalau Zain memaksa." anak itu mengulurkan secarik kertas untuk ditanda tangani Senja. Perusahaan Rafli, masih atas nama Senja. Karena Zain tidak ingin mengganti dengan namanya. Mamanya jauh lebih mengerti bisnis ketimbang Zain sendiri. Keuntungan perusahaan pun, Senja yang mengelola.
"Sebentar ...." Senja beranjak berdiri, menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Darren masih bertahan dengan diamnya. Dia takut jika dia mengeluarkan suara, yang keluar malah kata-kata yang akan menyakitkan bagi Zain. Anaknya itu tahu persis, dari awal daddy Darr tidak pernah merestui hubungannya dengan Airin.
"Bilang mamamu, Daddy tunggu di mobil." Darren beranjak dari kursi kebesarannya. Meninggalkan Zain sendirian dengan kegundahan hatinya.
Tak lama kemudian, Senja sudah kembali ke meja makan. "Kamu pakai ini saja, biar tidak repot. Gunakan berapapun yang kamu butuhkan, pinnya tanggal lahirmu Zain." Senja memberikan sebuat card ATM prioritas dari sebuah bank.
Zain menerima Atm itu sembari tersenyum "Terimakasih, Ma. Daddy, sudah menunggu Mama di mobil."
"Zain ... Mama minta maaf sebelumnya. Tapi Mama harus mengatakan ini. Zain, tahu persis apa yang dihadapi Airin saat ini. Hanya ada dua kemungkinan sekarang. Mama harap, Zain juga mempersiapkan hati untuk kemungkinan terburuk sekalipun. Lakukan dan usahakan yang terbaik, berdoa lalu pasrah. Mama tahu ini berat, kita akan melaluinya sama-sama."
Zain memeluk mamanya dengan erat. "Terimakasih, ma. Terimakasih karena mama selalu ada di samping Zain. Sampaikan permintaan maaf Zain pada daddy. Maaf kalau pilihan Zain salah," bisik Zain, lirih.
Senja memejamkan matanya sebentar, Darren memang tidak ingin terlalu melibatkan diri dengan hubungan Zain dan Airin. Bagi Darren, Zain sedang menyiapkan pisau untuk menyayat hatinya sendiri.
Sebenarnya hal yang sama juga dirasakan oleh Senja. Tapi dia memilih untuk menekan ego, mencoba memposisikan diri di posisi Zain. Perasaan yang anaknya rasakan memang bukan sekedar empati karena merasa pernah di posisi yang sama dengan Airin, tapi Zain memang sangat mencintai gadis itu.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk, Airin." Senja meregangkan pelukannya, lalu berjalan meninggalkan Zain yang masih berdiri terpaku.
Bukannya Zain tidak mengerti kekhawatiran mama dan daddynya. Zain sendiri juga khawatir, tapi hatinya sudah terlanjur terpaut dengan sosok Airin. Sosok gadis yang pantang menyerah, ceria dan selalu berpikiran positif apapun yang sedang menimpanya. Di dalam diri Airin, Zain melihat sebagian besar sisi mamanya.
__ADS_1
Darren melihat istrinya menyeka air mata yang jatuh sembari berjalan terburu-buru ke arah mobil.