Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Pulau Cinta


__ADS_3

Setelah private jet yang dipinjamkan Aleandro mendarat di bandara Jalaludin, Gorontalo. Senja, Darren, Zain dan Rafli melanjutkan perjalanan via darat menuju Boalemo selama dua jam. Perjalanan menyenangkan mereka masih berlanjut dengan menggunakan perahu motor. Dua puluh lima menit kemudian sampailah mereka di pulau cinta, Gorontalo.


Sebuah pulau yang berbentuk seperti hati. Masih sangat alami, khas suasana pantai namun tidak ramai. Harganya yang relafif tidak murah, membuat kalangan tertentu saja yang bisa menjamahnya.


Sebelum menikmati jamuan makan siang, mereka melakukan check in dulu di eco resort. Darren memesan salah satu cottage dengan type tertinggi di mana dalam cottage tersebut terdapat 3 kamar tidur, teras, ruang tamu dan kolam renang pribadi.


Zain melompat-lompat kegirangan. Karena Cottage mereka di atas air tenang berwarna hijau kebirauan dan jernih hingga pandangan mata tembus pada pesona yang ada di dalamnya. Bangunan cottage terbuat dari kayu beratapkan sirap dan jerami, membuat mereka serasa hidup di dalam alam pedesaan yang asri dan tenang.


"Mama kita tidur di sebelah sini ya, jendelanya dibuka, biar kita bisa langsung melihat bintang - bintang saat malam. Malam ini Zain mau tidur sama Mama dan Papa. Kali ini papa dan mama tidak boleh menolak," ucap Zain tegas sedikit mengancam .


Senja langsung menatap mata suaminya, mencari jawaban sekaligus melihat reaksi laki-laki yang kini memenuhi hatinya. Senja melihat anggukan kecil di sana.


"Zain, bagaimana kalau malam ini kita buat man's night?" tanya Darren, matanya mengerling tipis pada Senja.


"Apa itu om?" tanya Zain penasaran.


"Kita para pria-pria berkumpul. Hanya pria , tidak boleh ada wanita satu pun. Papa dan om Darren akan mengajari Zain cara jadi pria sejati." Darren mencoba memprovokasi pikiran Zain.


"Bagaimana Zain? pasti seru. Kalau ada mamamu kita bisa di larang membicarakan hal tertentu," tambah Darren.


"Seperti pacaran?" tanya Zain dengan polosnya. Darren mengangguk. Raut wajah Zain terlihat berfikir. Melihat papanya yang mengangguk, lalu ke arah mamanya yang juga mengangguk.


"Baiklah, boleh. Sepertinya seru juga," putus Zain, akhirnya.


"Siap." Darren terlihat sangat lega.


Padahal rencana Darren menyewa cottage dengan tiga kamar adalah agar saat malam hari atau pagi hari buta bisa mengajak Senja melipir enak di kamarnya. Darren menyesal tidak mempunyai rencana cadangan untuk itu. Kesempatan liburan ini cukup langka, mengingat rapatnya kehamilan Senja, bukan tidak mungkin Senja bakal disibukkan dengan kehamilan - kehamilan selanjutnya. Darren ingin mempunyai banyak anak, agar tidak tunggal dan kesepian seperti dirinya.


Selesai makan siang , Senja membantu Zain meminum obat lalu menemani Zain untuk tidur.


"Ma ... Besok mama mau kasih kado apa buat papa?" tanya Zain sambil mendongakkan kepala, menatap mamanya yang sedang mengelus rambutnya dengan lembut.


"hmmm... apa ya? kalau begitu, Mama kasih doa saja buat papa," goda Senja .

__ADS_1


"Gak seru ah!" kata Zain ketus.


Senja tidak menyiapkan apapun, Darren yang mengurus semuanya. Memberi kado atau tidak, Senja bahkan tidak tahu dan tidak berani bertanya .


"Besok kita lihat saja. Surprise," putus Senja sembari berharap semoga suaminya memang menyiapkan kado untuk Rafli.


"Zain mau kasih adik sama papa," ucap Zain santai tapi membuat Senja gelagapan.


"Adik? adiknya mana?" tanya Senja ingin tahu kenapa Zain bisa bicara seperti itu.


"Di perut mama. Kemarin pas Zain tidur, Zain denger oma bilang ke opa kalau diperutnya mama ada adik." Zain mengatakannya dengan polos.


"Terus kalau adiknya di perut mama, bagaimana Zain bisa ngasih adik ke papa?" tanya Senja lagi.


"Ya nanti ambil hadiahnya kalau adeknya sudah keluar." lagi-lagi Zain menjawab dengan polos.


"Oh gitu." Senja menghela napas lega.


"Sering?" Senja balik bertanya karena seingatnya, Zain hanya melihat dia memeluk Darren saat di pantai.


"Pas om Darren mau ke kantor, Zain melihat om Darren memeluk mama tapi kelihatannya sebentar, karena setelah itu Zain tertidur. Di pantai om Darren memeluk Mama lama. Om Darren sakit seperti papa?" Zain menjawab dengan sangat rinci.


Senja agak bingung untuk menjelaskan kata-kata yang tepat dan mudah dipahami.


"Oh itu, om Darren, tidak sakit, dia hanya sedang sedih," Senja memejamkan mata sejenak, berharap Zain menerima penjelasannya.


"Sedih kenapa?" Rasa ingin tahu Zain, nyatanya semakin besar.


"Om Darren sedih, pekerjaannya banyak tapi uangnya cuman sedikit," jawab Senja sekenanya.


"Harusnya om Darren minta uang sama papa, kalau meluk mama tetap saja uangnya sedikit," seloroh Zain, membuat Senja ingin tertawa tapi batinnya terlalu sedih.


"Zain belum ngantuk?" Senja mencoba mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Sebentar lagi ma, masih loading 30%," Zain menutup matanya rapat-rapat.


Senja menggelengkan kepala, Zain dengan cara bicaranya yang kadang mengejutkan, sifatnya malah cenderung seperti Darren.


"Raff, kayaknya aku salah pilih tempat deh. Iya sih ini bagus dan tenang banget, tapi mestinya kamu bawa pasangan. Seharusnya aku membawakannya untukmu," canda Darren.


"Kamu tau seleraku .Jadi carikan saja yang bisa membuatmu jatuh cinta pada perempuan itu, pasti aku juga bisa jatuh cinta padanya. Standart kita sepertinya sama." Rafli menjawab dengan santai.


"Berat Raff kalau itu, kalau buat seneng-seneng doang banyak kayaknya," ucap Darren asal.


"Masih berani kamu main-main? gak kapok sama kejadian Erika bahenol?"


"Enggak mungkinlah aku main-main diluaran. Bukan masalah kapok, tapi sudah kepentok Senja. Mainan halal di rumah aja susah ditaklukin, ngapain nyenengin yang lain. Maksudku tuh kamu Raff, bukan aku. Kamu kan laki-laki masih normal. Masak sama Chun saja pernah, ke yang lain gak bisa. Kasihan nagamu buat kencing doang," cerocos Darren tanpa filter.


"Sama Chun juga kepaksa .Karena cari informasi tentang Senja biar bisa masuk ke mansion. Tau sendiri kan gak sembarangan orang bisa masuk sana. Kalau gak bayangin Senja juga gak bakalan aku klimak," jawab Rafli jujur.


"Awas saja kalau sekarang kamu mikirin istriku buat temen nyabun," ucap Darren, nada becanda tapi pesan serius.


"Enggaklah, sekarang aku gak mikirin begituan. Mungkin pengaruh obat yang aku minum sih." Rafli menatap kosong ke depan.


"Semoga Tuhan angkat penyakitmu, Raff. Memberi keajaiban untukmu dan untuk kita semua," doa Darren dengan tulus.


"Aminnnn. Terimakasih Darr. Terimakasih mengajakku ke tempat ini bersama kalian," ucap Rafli dengan tulus.


"Harusnya kamu berterimakasih karena kamu masih bisa memandangi Senja dengan tatapan yang kadang membuat aku cemburu Raff." Darren berkata juju, kadang dia memang merasa tidak nyaman saat Rafli memandang Senja dengan tatapan mata yang dalam.


"Maaf Darr, Aku sudah berusaha biasa. Sungguh aku tidak bermaksud apa-apa." Rafli merasa tidak enak.


"Bukan salah kamu Raff, tangan, kaki dan tubuh masih bisa kita kendalikan. Tapi Kamu tidak bisa menyuruh matamu berbohong, karena memang cinta hanya memandang pada yang dia cintai. Selama kamu tau batasan aku tidak masalah. Senja sudah mencintaiku. Itu cukup." Darren menambahkan senyumnya di ujung kalimat.


"Makasih Darr, Senja tidak salah memilihmu. Kamu memang luar biasa." Rafli menepuk bahu Darren dengan hangat.


"Senja memilihku, karena aku perkasa, Raff" tambah Darren. Keduanya kompak tertawa, Darren tertawa lepas, sedangkan tawa Rafli sedikit tertahan, menahan nyeri di kepalanya yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


__ADS_2