
"Opa sudah berpulang Ask. Tadi bersamaan dengan lahirnya baby twins. Maaf baru memberitahumu sekarang. Aku tidak ingin kondisimu drop lagi." Darren menjawab dengan hati - hati.
Kalung yang ada digenggaman Senja seketika terjatuh. Satu tangannya meremas baju tepat di dadanya. Inilah jawaban dari ketidaktenangan hati yang dirasakan dari kemarin.
Di luar dugaan Darren. Senja tidak menangis, tidak pula bertanya macam - macam, hanya diam. Semakin diam, Darren semakin bingung harus berbuat apa. Teringat kata - kata opanya, jangan menganggap perempuan yang tidak menangis saat sedih itu seseorang yang tegar dan kuat. Bisa jadi hati mereka terlalu sakit, hingga tidak tahu lagi harus berekspresi apa.
"Ask ... Opa sudah berkali - kali mengatakan pada kita, kalau opa sudah siap berpulang. Opa memberikan kenangan terakhir yang manis padamu kemarin. Kamu tidur di pangkuannya, dipeluknya, kalung kesayangan oma pun diberikan padamu, bahkan masih ada satu amplop yang hanya boleh kita buka setelah kita pulang. Opa sudah mempersiapkan dirinya dengan baik, Ask. Ikhlaskan opa, jangan biarkan opa sedih karena melihatmu sedih." Darren merangkul pundak istrinya yang kini dalam kondisi duduk.
Senja masih terdiam, mulutnya seolah terkunci rapat, tangannya kembali meraih kalung yang terjatuh di pangkuannya.
"Mau dipakai?" tanya Darren.
Senja mengangguk seraya memberikan kalung itu pada suaminya. Darren memakaikan di leher mulus milik Senja. Terlihat sangat manis. Cinta Hutama pada Senja memang tidak main - main. Bagi Hutama, Senja bukan sekedar cucu menantu.
"Kapan opa dimakamkan?"
"Dari rumah sakit tiga puluh menit lagi, Ask. Makam opa di sebelah persis makam oma. Aku nanti ikut ke pemakaman dulu ya?" Darren duduk di tepian ranjang istrinya.
"Opa berarti tidak mau di anter Senja ya pulangnya? Opa pergi sembunyi - sembunyi dari Senja. Kenapa? apa opa mengira Senja ini cengeng? Tidak maukah opa melihat baby twins dulu." tatapan Senja menerawang.
"Tidak, Ask. Bukan begitu, opa sangat menyayangimu. Kami yang sudah lama bersama opa, bahkan tidak pernah berani tidur di pangkuan opa. Hanya aunty Andra dan kamu yang berani meminta tidur di pangkuan opa."
"Opa orang baik, Ask. Sangat baik. Senja ingin melihat pemakaman opa."
"Mana bisa, Ask. Nanti aku video saja ya?" Darren mengecup kening istrinya.
"Iya. Sekarang kamu berangkat saja, nanti ketinggalan ke pemakamannya. Senja tidak mengapa." Senja mendorong tubuh suaminya, seperti menginginkan agar dia ditinggalkan sendirian.
__ADS_1
Meski sedikit heran, Darren menurut saja apa kata Senja. Tapi Darren tidak benar - benar berangkat, dia bersembunyi di lorong sebelum pintu.
Tangisan Senja pun pecah, dadanya terasa sesak dari tadi hanya mampu menahan kesedihan. Senja memegangi liontin batu giok di kalungnya.
"Opa, jangan beri Senja amanah sebesar ini. Senja takut tidak akan sanggup. Senja masih kurang sabar, Senja masih suka marah, Senja masih sering membuat abang kesal. Masih jauh kesabarannya dengan oma." Senja berbicara seolah di depannya ada Hutama.
Seolah lupa dirinya baru saja selesai menjalani operasi. Senja bergerak cepat meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Senja membuka galeri di ponselnya. Ada satu folder yang memang khusus berisi foto - foto bersama Hutama.
"Opa ... Siapa yang akan memanjakan Senja sekarang? Kalau abang marah, Senja harus lari kemana? Katakan Opa, Senja harus menangis atau bagaimana sekarang?" Senja terus berbicara sendiri.
Darren menggigit bibirnya. Dia tahu Senja memilih menyimpan kesedihan sendiri karena saat ini tidak ingin menambah beban pikirannya.
Tidak tega melihat istrinya meratapi sedihnya sendirian, Darren kembali mendekati Senja. Langsung merengkuh kepala sang istri ke dalam bahunya.
"Jangan ditahan sendiri. Menangislah di pundakku. Aku tidak keberatan bajuku kucel dan basah. Menangislah! Tumpahkan semua sedihmu. Besok hanya boleh ada tangisan anak - anak yang merengek minta Asi saja." Darren menciumi kening istrinya.
"Jadi pakai nama yang mana, Ask?"
"Beyza Cemile Hutama dan Derya Enver Hutama."
Ponsel Darren bergetar dan berbunyi satu kali. Pesan masuk dari Mahendra ada di sana. Menyampaikan kalau jenazah opa akan segera diberangkatkan ke pemakaman.
"Aku pergi dulu ya, Ask. Jangan nangis sendirian. Bawa opa dalam doamu, maka opa akan selalu ada di hati kita."
"Iya ... Ask. Senja akan mencoba ikhlas. Kita semua pun juga akan berpulang. Sekarang opa duluan, entah selanjutnya siapa,"
Darren kembali mengecup kening istrinya. "Aku tinggal sebentar ya. Jangan banyak gerak dulu. Kalau mau apa minta tolong Ulfa atau Wardah."
__ADS_1
"Iya, Ask. Bagaimana Zain. Dia ikut mama atau Chun?"
"Tadi Chun sebenarnya mau ke sini, tapi di tengah jalan baby De rewel jadinya aku anter pulang. Zain juga sama Chun, dia tidak mau ke pemakaman. Zain juga sangat sedih."
"Kasihan dia, Ask. Nanti setelah dari pemakaman. Jemput Zain dan ajak kemari saja," pinta Senja.
Darren pun pamit meninggalkan Senja. Bersama Rudi langsung menuju tempat pemakaman yang terletak agak jauh di pinggiran kota. Sepanjang perjalanan, Darren mencoba menghubungi istrinya, tapi ponsel istrinya terus saja sibuk.
Tidak kehilangan akal, Darren mencoba menghubungi Wati untuk menanyakan istrinya sedang berteleponan dengan siapa. Tentu saja Wati juga tidak tahu. Darren hanya berpesan agar Senja segera menghubunginya kembali.
Darren turun dari mobil memakai kaca mata hitamnya, di tengah duka pun Darren terlihat sangat mempesona. Daddy empat orang anak itu beberapa kali melirik ponselnya, tidak ada panggilan masuk di sana.
Tak berselang lama dari kedatangan Darren, rombongan yang lain pun sampai. Dari Ambulance pengantar jenazah keluar Aleandro dan juga Mahendra dari sana.
Darren kembali mencoba menghubungi Senja dan akhirnya terhubung juga. Rupanya Senja tadi sedang menerima panggilan dari Bae.
"Ask ... Ponselnya biar dipegang Rudi ya, aku bantu angkat keranda opa dulu," Darren memberikan ponsel pada Rudi sembari mengganti ke mode kamera belakang dan menyuruh Rudi untuk fokus menyorot kemanapun peti bergerak.
Darren memakai earphone untuk tetap mendengar suara Senja.
Mahendra, Aleandro, Arham, Hyeon dan Eunji dibantu beberapa orang mengangkar jenazah opa menuju lahan pemakaman yang sudah dipasang tenda. Kursi putih juga berderet rapi di sana.
Rangkaian prosesi pemakaman pun di mulai. Senja menegakkan duduknya, seolah ikut berada di sana. Senja tidak mendengar jelas sambutan yang diberikan oleh Mahendra. Karena banyak suara yang tertangkap. Setelah sambutan Mahendra selesai, Darren, Mahendra dan Aleandro turun ke tiang lahat. Beberapa orang di atas mengulurkan jenazah Hutama dengan hati - hati pada orang yang di bawah. Setelah membaringkan jenazah Aleandro dan Mahendra keluar dari lubang dua kali satu meter itu. Darren melantunkan adzan dengan syahdu, hati Senja merasa sejuk sekaligus sendu.
Kematian selalu meninggalkan kesedihan bagi siapapun yang ditinggalkan. Tapi setiap kematiam senantiasa menjadi pengingat. Bahwa ujung dari kehidupan pastilah kematian. Apa yang akan di bawa mati selain kebaikan? sepertinya bukan benda dan harta.
Hutama yang dipandang orang sangat kaya raya, bahkan tidak mau dimakamkan dengan peti ukiran yang mahal, hanya kain kafan pembungkus sekujur tubuhnya yang dibawa.
__ADS_1
"Selamat berpulang, opa ... Semoga kelak kita dipertemukan kembali dalam keabadian." bisik Senja, lirih.