
Setelah menjalani pemeriksaan, diketahui usia kandungan Senja sudah berjalan lima minggu. Banyak yang harus diperhatikan dikehamilan kali ini, mengingat proses kelahiran sebelumnya melalui operasi caesar diharapkan berat badan janin tidak terlalu besar. Untuk Asi, dokter masih mengijinkan Senja memberikannya pada Dasen selama saat pemberian tidak ada kram atau kontraksi palsu dan menjaga asupan nutrisi yang masuk.
Sudah dua hari, Senja mengalami mual, muntah dan pusing yang timbul tenggelam sepanjang hari. Kadang bugar tapi kadang seketika lemas. Padahal hari ini adalah jadwal kedatangan Bae. Senja sudah mengajak anaknya berbicara agar bisa diajak berkompromi menyembunyikan kehamilannya.
Dasen tetap mendapatkan Asinya secara langsung. Saat memberikan hak bayinya itu, Senja justru merasa tenang.
Melihat mood istrinya yang naik turun dan juga kondisi fisik Senja yang berubah - ubah , Darren menjadi tidak tega. Meskipun Senja jadi lebih sensitif dan ketus jika di dekatnya, Darren memakluminya. Senja seperti itu juga akibat ulahnya.
" Ask, eomma dan Appa sampai sini jam berapa ? " tanya Senja, suaranya pelan.
" Setelah lewat makan siang Ask. Sudah jangan cemaskan eomma, kalaupun eomma tahu biar aku yang hadapin. Jangan over thingking Ask " ingat Darren.
" Eomma tidak pernah main - main Ask, Senja tidak mau berpisah dari Dasen "
" Tidak akan, kamu tidak akan terpisah dari anak - anak. Tidak ada yang lebih berhak bersama Dasen selain kita " ucap Darren, tegas.
" Ya sudah, kamu pergilah. Senja semakin mual melihat wajahmu " usir Senja.
" Mual melihat wajahku ? jangan aneh - aneh Ask " ucap Darren, tidak suka.
" Pergi Ask, aku benar - benar tambah mual " ucap Senja dengan nada semakin meninggi.
Darren dengan kesal keluar ruangan, kepalanya juga pusing karena sudah dua malam dia tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana bisa nyenyak kalau Senja memberi batasan guling di tengah - tengah mereka, jangankan ciuman dan yang lain, Darren menyentuh lengannya saja, Senja sudah sangat emosi. Darren berharap, keanehan, mualnya dan kejudesan Senja hanya sementara.
Zain berlarian, semangat menyambut kedatangan Bae dan yang lainnya. Mereka hanya akan menginap sehari di rumah Senja, besok semua akan menginap di hotel tempat berlangsungnya akad dan resepsi.
Senja membasuh mukanya, meminum jus apel untuk mendapatkan sedikit tenaga.
" Sayang, bantu mama ya. Selama oma disini kita harus baik - baik saja. Setelah itu, terserah padamu " ucap Senja sambil mengeluas perutnya.
Senja menyapukan blush on pada pipinya. lalu meratakan tipis sekali keseluruh wajah agar terlehat lebih terlihat segar dan tidak pucat.
Suasana rumah pun kembali rame, Bae, Arham tentu saja langsung menjadikan Dasen pusat perhatiannya, Eunji dan Hyeon langsung bersama Zain. Darren dan Senja hanya duduk manis menyaksikan keseruan yang terjadi.
__ADS_1
Darren tahu istrinya sedang berusaha keras terlihat baik - baik saja. Darren menepuk bahunya, agar Senja bersandar di sana. Keringat dingin jelas keluar dari tangan istrinya.
" Sudah ya, istirahat saja " bisik Darren. Senja hanya menggeleng.
" La, kamu kenapa ? " tannya Bae baru menyadari Senja terlihat lebih pendiam dan tidak seceria biasanya.
" Agak tidak enak badan eomma, dari semalam masuk angin " Darren yang membantu menjawab.
" Ya sudah kalau begitu ajak istrimu ke kamar, Dasen biar sama eomma dan appa " ucapan Bae membuat Senja lega, setidaknya Bae tidak menaruh curiga yang lain padanya.
Darren menuntun Senja ke kamarnya, lalu membantu istrinya berbaring.
" Ask....Jangan kemana - mana " rajuk Senja.
" Iya Ask...Mau dipijitin ? " tanya Darren lembut.
" Mau, tapi jangan lihat Senja. Kamu ngadep pintu. Senja tidak mau melihat wajahmu " jawaban Senja pelan, tapi berhasil membuat Darren mengelus dadanya.
" Jangan menoleh ya Ask, jangan bersuara juga. Sepertinya aku bisa lumayan enakan kalau posisi begini. Ahhh...Kenapa tidak dari kemarin - kemarin saja " dengus Senja.
Dalam hati Darren bertanya - tanya akan seperti apa anak yang dikandung Senja sekarang, kenapa kehamilan kali ini Senja lebih sering kesal dengannya dibanding minta yang enak - enak seperti saat kehamilan baby De dan Dasen. Darren kira setiap kehamilan sama, makanya dia antusias sekali saat istrinya positif. Pikirannya sudah melayang nakal membayangkan istrinya yang akan merajuk setiap malam. Nyatanya ??? jangankan naga, bibirnya pun sudah cuti dua hari.
" Ask, Senja kepengen makan cake red velvet tapi yang tingginya 3cm pas, terus di potong kecil - kecil 2cm persegi. Mau red velvet latte tapi gelasnya harus yang 300ml, terus mau kentang goreng kalau motong harus memanjang dan rata lebar 1cm panjang 8cm, dan yang terakhir kerupuk bawang yang sudah tidak renyah lagi " cerocos Senja dengan semangat.
Darren menelan ludahnya sendiri, seperti dejavu beberapa tahun yang lalu saat dirinya mengerjai Senja saat hari pertama kerja di kantornya.
" Sekarang ? " tanya Darren hati - hati.
" Enggak, tahun depan nunggu lahiran " sahut Senja kesal.
" Ohhh " jawab Darren singkat, mengira jawaban Senja serius. Dia pun tetap melanjutkan memijat istrinya.
Senja menarik kakinya kasar. " Sekarang !!! " tegasnya.
__ADS_1
Darren langsung berdiri mengambil dompet dan ponselnya. Hendak mencium kening dan bibir Senja untuk berpamitan, tapi selimut sudah menutupi penuh wajah istrinya.
" Tidak usah pamit, Senja tidak mau melihat wajahmu yang ramah dan baik dan tampan itu, Senja kangen wajahmu yang mengesalkan dan sifatmu yang angkuh dulu tuan " ucap Senja dari balik selimut.
" Tuan ???????? " perasaan Darren semakin tidak enak.
" Senja tiba - tiba ingin kembali memanggil seperti itu. Kelihatannya lebih cocok " jawab Senja masih dengan suara tertahan selimut.
" Baiklah kalau itu maumu menjelang malam " jawab Darren setengah kesal meninggalkan istrinya sendirian.
Senja senyum - senyum sendiri, seperti sedang kasmaran layaknya seseorang yang mendapatkan panggilan kesayangan dari kekasih pujaan hati.
Mendadak tubuh Senja jauh merasa bugar, moodnya membaik. Tidak menyia - nyiakan kesempatan. Senja pun turun dari tempat tidurnya kembali untuk menemui Eomma dan Appanya.
Tapi Senja mewurungkan niatnya.
" Astaga kenapa wajah eomma mengesalkan sekali. Dia terlihat sangat antagonis. Aduh bagaimana kalau Dasen tertekan melihat wajah eomma seperti itu. Pantes sekali Dasen selalu diam kalau digendong eomma, pasti dia merasa sedang diintimidasi " batin Senja dalam hati, mendadak dia kembali mual.
Senja kembali ke kamar, anehnya mual itupun hilang. Senja menepuk - nepuk keningnya. " Jangan sampai Senja membenci eomma, Senja tidak mau anak ini sifatnya seperti eomma. Ayo nak, kita tidak boleh aneh - aneh. Jadikan mamamu normal kembali " gumam Senja seraya mondar mandir mengelus perutnya.
" La, ini sepertinya Dasen lapar " suara Bae sebenarnya pelan dan biasa saja, tapi entah terdengar seperti membentak di telinga Senja.
Senja memasang wajah kesal, lalu mengambil alih gendongan Dasen dengan hati - hati. Semakin dekat jaraknya dengan Bae, dia semakin merasakan mual yang amat sangat. Senja tak kuasa menahan, dia membawa Dasen lari bersamanya menuju wastafel.
" Huekkkk... Huekkkkk....."
Pikiran Bae pun seketika bekerja.
🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳
...Yang belum mampir ke karya baru otor, mampir yach. Boleh intip - intip dulu. ...
__ADS_1