Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Cemburu salah sasaran


__ADS_3

Yanes keluar dari ruangan Darren, tapi dia menyuruh Ali masuk mambawa kotak p3K. Luka di tangan Darren harus dibalut perban agar tidak terus menerus mengeluarkan darah.


"Pak ... Maaf, mari saya bantu mengobati tangannya." Ali dengan hati - hati mengatakan maksudnya pada Darren.


"Tidak perlu!" Darren menolak keras. Dia hanya memersihkannya di bawah kran wastafel yang menglir. Raut wajahnya datar, seolah tidak ada perih sedikitpun yang dia rasakan.


Ali pun tidak ingin mengulang lagi perkataannya, apalagi memaksa. Ali meninggalkan bosnya itu begitu saja.


Seperti biasa Ali, Amar dan Yanes berkumpul di _basecamp_ mereka. Di mana lagi kalau bukan di ruangan Yanes.


"Sebenernya ada apa sih? ini uring - uringannya maksimal lho. Tidak sesantai biasanya," Amar mulai bertanya - tanya.


"Kalau seperti ini, pasti masalahnya erat berkaitan dengan bu Senja, tidak mungkin bukan," tebak Ali.


"Sebentar aku telpon Rosa dulu. Biasanya dia yang mengurus semua pembelian dan pengeluaran bu bos kita. Pasti ada informasi yang bisa di dapat." Yanes mengabaikan pertanyaan dua cungpret. Dia lebih memilih fokus pada mencari informasi tentang asal muasal bagaimana Senja bisa membeli mobil untuk laki - laki lain.


Yanes tampak serius berbicara dengan istrinya melalui sambungan telepon. Sesekali tangannya ikut bergerak. Raut wajah laki - laki cuby bertubuh tambun itu sesekali tersenyum.


Sementara itu di rungannya, Darren semakin susah mengontrol emosi begitu Wati kemballi menghubunginya karena Dasen terus merengek mencari mamanya. Jelas titisan daddy Darr itu mencari Senja, waktunya dia tidur siang. Dasen sudah terbiasa tidur memegangi rambut Senja sekarang.


Setelah kembali menyimpan ponselnya di kantong depan. Yanes segera menuju ruangan bosnya. Tidak ingin masalah berlarut - larut.


"Permisi, Pak." Yanes menatap bosnya itu perlahan.


"Hemmm...."


"Mobil yang membawa bu Senja tadi memang mobil bu Senja, Pak. Di beli beberapa hari setelah si kembar lahir. Mobil itu langsung diberikan pada Tino. Kemungkinan besar, Tino ini adalah laki - laki yang bersama bu Senja Tadi. Tino enam tahun lebih muda dari bu Senja, dia juga anak panti yang baru pulang dari menjalankan studi ke Aussie. Sama seperti bu Senja, Tino ini juga merupakan anak kesayangan bu Halimah. Menurut Rosa, Tino sudah seperti adik untuk bu Senja. Mereka memang tidak canggung untuk bercengkrama, Istri saya sering bertemu Tino saat memberikan belanja bulanan panti. Intinya bu Senja tidak mungkin selingkuh," jelas Yanes panjang lebar.

__ADS_1


Darren mencoba mencerna apa yang disampaikan oleh Yanes. Mau selingkuh atau tidak, apa yang dilakukan Senja jelas salah. Memang selama ini Darren tidak pernah ikut campur atau ingin tau berapapun yang Senja berikan untuk pantinya. Karena dia percaya dan Senja memang tidak pernah menyentuh sama sekali uang mereka. Apa yang diberikan Senja semua dikelola dari perusahaan Deandra yang sudah menjadi milik Senja. Semua Chun dan Rosa yang mengatur.


Nama Tino, Darren pun pernah mendengar tapi memang tidak pernah bertemu. Senja juga pernah beberapa kali bercerita termasuk tentang keberhasilan anak itu memperoleh beasiswa ke Aussie. Kesalahan Senja kali ini bukan karena membeli mobil diam - diam, tapi kenapa dia biarkan laki - laki lain menciumnya. Padahal Darren selalu memberikan batasan yang jelas.


Darren melihat ponselnya, ternyata dari tadi ada banyak sekali telepon masuk dari nomer tidak dikenal. Beberapa pesan masuk juga dari nomer yang sama. Dia langsung menghubungi drivernya untuk menunggu di lobby.


Melihat pintu ruangan bosnya terbuka, Ali dan Amar seketika menunduk. Tidak berani melempar senyum apalagi menegur sapa. Membiarkan bos besar MahendrabCorps melewati mereka begitu saja. Macan itu sedang ingin menerkam mangsanya.


Masuk ke dalam mobil, Darren langsung memerintahkan drivernya untuk menuju sebuah rumah sakit. Melihat tangannya masih mengeluarkan darah, Darren mengambil beberapa helai tisu sembarangan. Saat menundukkan pandangan ke bawah, sebagian kemejanya pun sudah terkena darah. Tapi Darren enggan untuk mengganti.


Turun tepat di lobby utama rumah sakit, Darren langsung melebarkan langkah menuju ruangan yang diinformasikan oleh istrinya melalui nomer Tino.


Sampai di lorong ruangan yang di tuju, dia melihat istrinya menangis pilu di pelukan Tino. Selama hidup dan bersama dengan Senja. Baru kali ini dia melihat tangisan yang begitu menyayat dari sang istri.


Darren mendorong setengah kasar tubuh Tino. Dia akan membuat perhitungan dengan laki - laki itu nanti. Karena dudah berani mencium dan memeluk istrinya sangat dekat.


"Apa yang terjadi, Ask?" tanya Darren dengan lembut, kemarahan dan emosinya langsung reda melihat keadaan istrinya. Padahal saat di mobil tadi, dia sudah ingin menumpahkan kemarahan pada Senja.


Mendengar suara suaminya, Senja baru mendongakkan kepala. Matanya merah dan sembab, hidung juga pipinya juga sudah semerah tomat.


"Bu Halimah meninggal, Ask ... Sekarang Ibu juga ninggalin Senja. Kenapa mereka pergi bertubi - tubi." Senja menjawab di tengah isak tangisnya.


Di pesan yang dikirimnya tadi, Senja masih mengabarkan kalau dia akan menemani bu Halimah sebentar menjaga anak panti yang mengalami kecelakaan.


Darren masih bingung dengan kenyataan yang baru saja didengarnya, pantas saja istrinya menangis sangat pilu. Halimah adalah seorang yang sangat berjasa dalam hidup Senja. Dia yang mendidik Senja menjadi perempuan kuat dan mandiri. Kelembutan dan kasih sayang bu Halimah lah yang menjadi bayangan akan sosok ibu dipikiran Senja.


"Ibu terpeleset di kamar mandi rumah sakit, Kak." Tino turut menjelaskan.

__ADS_1


Darren tidak banyak bertanya lagi, dia terus mendekap kepala istrinya. Tanpa ungkapan kata apapun, jelas hati Senja sangat terpukul kali ini. Dia sudah lama sekali mengabaikan Halimah, bahkan kunjungannya ke panti dua tahun terakhir bisa di hitung jari. Hanya uangnya saja yang selalu datang berlimpah, bukan hanya itu yang dibutuhkan bu Halimah darinya. Senja sungguh merasa rugi besar karena menyia - nyiakan waktu, perpisahan karena kematian adalah kekal. Tidak ada jaminan atau kepastian akan kembali bertemu kapan.


Setelah semua urusan selesai, jenazah dibawa ke rumah sakit. Di sana, tangisan pilu tidak hanya milik Senja, tapi juga milik seluruh penghuni panti. Betapa baik hati dan tulusnya bu Halimah merawat mereka semua. Bersama bu Halimah, mereka terdidik menjadi anak yang tegar. Tidak akan sempat bagi anak panti meratapi kenapa bisa terbuang dari bapak ibu kandung sendiri. Didikan Halimah meskipun penuh kelembutan, tapi juga ada sisi kerasnya. Salah satu hasil nyata didikan Halimah adalah seorang Senja Khairunisa Kemala.


Darren sedikit tidak tenang saat mengikuti rangkaian acara, anak - anaknya sudah tidak terkondisikan di rumah. Tanpa Senja, urusan dua orang balita selalu kacau. Sarita yang tadi langsung dimintai tolong oleh Darren untuk mengawasi anak - anaknya sejenak, sudah mengibarkan bendera putih.


"Ask ... Beyza dan Dasen sudah tidak bisa dikendalikan lagi." bisik Darren, begitu acara pemakaman selesai.


"Astaga!" Senja menepuk jidatnya, sudah hampir empat jam dia meninggalkan anak - anak. Pantas saja, dia merasakan nyeri dan tidak nyaman di bagian dada. Seharusnya sudah tiga kali pompa.


Senja menghampiri Tino dan beberapa pengurus yang lain, terpaksa berpamitan lebih dulu.


"No, mulai sekarang urusan panti tanggung jawabmu dulu." Senja hendak memeluk Tino, tapi Darren sigap menghalangi.


"Kalian bukan adik kakak yang sebenarnya. Aku tidak mengijinkan," ucap Darren dengan tegas, masih sempat posesif di tengah kondisi berduka.


Senja tidak ingin berdebat. Dia pun melangkahkan kaki menuju parkiran mobil. Darren menyembunyikan tangan yang terluka di kantong celananya. Darah sesekali masih keluar dari sana. Jangan sampai Senja mengetahui, bisa - bisa omelan panjang yang diterimanya. Anak sudah banyak, masih saja emosional.


Senja buru - buru mengeluarkan pompa elektrik begitu sampai di dalam mobil. Tapi Senja lupa membawa approan penutup.


"Ask... Ada baju bersihmu kan di belakang. Pinjam dong buat tutup." Senja menoleh ke jok mobil suaminya.


Reflek kedua tangan Darren mengambilkan kaos polos putih yang ada di box, Darren lupa tangannya yang berdarah seketika mengenai kaos putihnya sendiri. Tentu saja Senja melihat jelas hal itu.


"Ini kenapa, Ask? Tanganmu kenapa?" selidik Senja.


"Ini tadi kena pecahan kaca, buat persiapan acara besok. Owh...Ya semua sudah beres. Kamu pasti akan menyukainya. Aku turun tangan sendiri, makanya tanganku terluka. Jangan lupa besok nyonya Darren Mahendra tidak boleh terlalu cantik." Pimpinan Mahemdra Corps itu sungguh pintar mencari alasan.

__ADS_1


__ADS_2