
" Sudah Wat, kamu kembali ke kamar. Katakan Zain keluar sama Daddynya " perintah Bae.
Wati menuruti perintah Bae, Senja yang awalnya mau keluar mencari Zain akhirnya membatalkan niatnya.
Di depan ruangan UGD, Darren masih harap - harap cemas menunggu kepastian kondisi Zain.
" Papa gimana tadi jaga Zain nya ? kan tadi sudah bilang titip Zain sebentar " ucap Darren, menyampaikan kekesalan pada papanya.
" Zain tadi lari - larian sama Nando, sama anaknya sepupu Al. Papa pikir ya pasti sekitar situ saja. Pas acara selesai Nando nangis menghampiri Rosa sambil narik - narik tangan papa juga. Ternyata Zain sudah pingsan di belakang backdrop. Nando cuman nangis. Papa juga nggak mikir mau tanya - tanya, yang penting papa bawa Zain dulu. Papa saja tidak sadar kalau pelipisnya berdarah. Mama yang paham malahan " jelas Mahendra sedikit hati - hati, Darren sensitif kalau sudah masalah anak dan istrinya. Siapapun bisa dilawan.
Pintu ruangan akhirnya terbuka, seorang dokter keluar dari ruangan di mana Zain berada. Darren, Mahendra dan Sarita segera menghampiri dokter tersebut.
" Bagaimana anak saya dok ? " tanya Darren sudah tidak sabar.
" Semua baik - baik saja pak. Tidak ada yang serius. pelipisnya yang robek sudah kami jahit karena lukanya agak dalam. Anaknya kuat sekali. Tadi sempat pingsan mungkin karena shock saja. Sekarang anaknya sudah siuman dan bisa diajak komunikasi dengan baik " jelas dokter, memberi kelegaan pada Darren, Sarita dan Mahendra.
" Kami boleh melihatnya dok ? apa harus rawat inap ? " tanya Darren, kekhawatiran masih terasa dari suaranya.
" Tidak perlu, sudah boleh dibawa pulang setelah menyelesaikan administrasi " jawab dokter, Darren pun benar - benar lega sekarang.
" Biar papa saja yang menyelesaikan administrasi. Kamu dan mamamu temui Zain " ucap Mahendra.
Darren langsung masuk ke dalam ruangan diikuti Sarita. Zain nampak sudah duduk berbicara dengan perawat. Darren mendekati dan memeriksa pelipis Zain yang sudah rapi tertutup plaster putih. " Sakit ? " tanyanya.
" Tidak Dadd, seperti digigit semut saja. Zain pernah berlipat - lipat lebih sakit dari ini " jawab Zain jujur.
__ADS_1
Darren langsung memeluk Zain. Tentu saja luka seperti ini bagi Zain tidak seberapa, kemoterapinya dulu jelas lebih menyakitkan. Membayangkan Zain saat itu membuat Darren lemas. Pelukan Darren semakin erat.
Sarita terharu melihat sikap Darren yang begitu menyayangi Zain. Kekhawatiran Darren bukan kekhawatiran yang biasa. Cinta Darren tulus, tidak memandang Zain anak Rafli. Bagi Darren, Zain memang anak laki - laki pertamanya.
" Auwwwwww..." teriak Zain seperti kesakitan di bagian lengan kanannya. Darren reflek melepas pelukannya.
" Kenapa Zain ? Daddy terlalu kenceng ya meluknya ? " tanya Sarita seraya memukul pundak Darren agak keras. " Kamu ini memang tidak bisa kira - kira " tambahnya dengan kesal.
Zain menggeleng " Sakit oma " ucapnya sambil mengelus - ngelus lengannya.
Darren membuka jas Zain lalu kemejanya. Hingga hanya menyisakan kaos dalam. Mata Darren memerah, giginya saling merapat menahan geram.
" Siapa yang melakukan ini Zain. Bilang sama Daddy ? " tanya Darren, tatapannya menyimpan kecewa dan kesal pada diri sendiri karena tidak menjaga Zain dengan baik hari ini.
Sarita mendekati Zain dan melihat lengan Zain memerah, sedikit lebam karena cengkraman tangan orang dewasa.
" Zain ceritakan pada daddy, semuanya. Sejelas - jelasnya dari awal. Siapa yang berani menyentuh anak daddy sampai seperti ini " ucap Darren, geram.
" Ayo Zain ceritakan sama daddymu " pinta Sarita, lebih lembut.
" Zain main sama Nando dan Alex. Tidak sengaja Nando menyenggol Alex hingga Alex jatuh. Alex ngadu sama papa mamanya, terus mamanya Alex ngata - ngatain Nando anak haram makanya liar.Nando tidak pantas jadi anak papa Al karena Nando cacat. Zain mau ngajak Nando ninggalin mereka, tapi papanya Alex memegang lengan Zain. Katanya kalau orangtua bicara tidak boleh pergi begitu saja. Zain sudah minta maaf. Tapi papanya Alex malah bilang Zain cuman anak tiri, bukan anak daddy. Anak tiri dan anak haram pantas berteman " Zain menghentikan sebentar ceritanya.
" Zain menggigit tangan papanya Alex. Papanya Alex dorong Zain, terus Zain tidak ingat lagi. Yang Zain rasain Zain jatuh membentur sesuatu " tambah Zain, tentu saja kronologi yang sangat jelas itu benar - benar memancing emosi Daddynya.
Seketika Darren menggendong Zain yang hanya mengenakan kaos dalam ke luar ruangan. Jelas sorot mata Darren penuh amarah. Siapapun yang berani mengusiknya saat ini pasti akan menyesal.
__ADS_1
" Darr, tenang Darr. Jangan emosi. Kendalikan dirimu, yang penting Zain tidak kenapa - kenapa. Kita bicarakan baik - baik " ucap Sarita, terus berjalan mengikuti langkah Darren menuju parkiran mobil yang tidak jauh dari bangunan UGD. Darren lupa kalau Mahendra masih mengurus administrasi pembayaran.
" Darr sebentar tunggu papamu " ucap Sarita, sedikit terengah - engah mengikuti langkah lebar anaknya.
Darren hanya menghentikan langkah tanpa menjawab mamanya. Darren menatap sendu pada Zain. Rasa bersalahnya semakin besar ketika melihat lengan Zain.
" Mana lagi yang sakit Zain ? maafkan daddy karena tidak menjaga Zain dengan baik. Maafkan daddy ya. Daddy janji akan membuat orang - orang itu minta maaf sama Zain " ucap Darren seraya menciumi pipi Zain. Meskipun sudah umur 8 tahun, Zain memang dekat dan manja kalau bersama Darren. Ciuman Darren lebih membuat Zain nyaman ketimbang ciuman mamanya yang selalu menyakiti pipinya. Karena Senja selalu menciumnya dengan gemas.
" No dadd, daddy tidak salah. Tidak ada yang sakit lagi. Zain tidak perlu maaf dari orang itu dadd, Tapi buat orang itu mengatakan Zain adalah anak daddy dan Nando bukan anak haram " pinta Zain.
Permintaan Zain tentu saja semakin membuat nyali dan emosi Darren bertambah. Kemarahannya tidak akan terbendung lagi. Sudah lama dia tidak menggunakan tangannya untuk menyentuh kasar kulit orang lain.
Melihat Mahendra sudah berjalan ke arahnya, Darren pun menyuruh mamanya masuk, lalu Darren menyandarkan Zain ke Sarita. Mahendra duduk di depan kembali.
Karena ada Zain, Darren tidak berani mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Padahal ingin rasanya Darren cepat sampai di hotel.
Tidak sampai dua puluh menit mereka sudah sampai di lobby hotel. Darren meninggalkan mobilnya begitu saja, setelah menggendong Zain kembali.
Yang pertama dilakukan adalah kembali ke kamarnya. Senja yang sudah berganti pakaian biasa kaget melihat kondisi Zain ditambah lagi wajah suaminya yang merah karena marah. Jelas kali ini level kemarahan suaminya tidak main - main.
Melihat gelagat mamanya yang akan menyalahkan daddynya, Zain segera menjelaskan semua dari awal.
Senja yang tidak jauh berbeda dengan Darren kalau sudah mengenai anak. Seketika meremas tangannya kuat.
" Kita lihat apa setelah ini mereka masih berani menyentuh anakku " Senja keluar dari kamarnya lebih cepat ketimbang Darren. Sarita dan Mahendra mengikuti langkah keduanya agak ngos - ngosan.
__ADS_1
Tidak ada yang berani menghentikan langkah Darren dan Senja. Sepasang macan itu sedang ingin menunjukkan taringnya untuk menerkam mangsa tanpa ampun.