Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Welcome to the world, baby twins


__ADS_3

Sepanjang menerima panggilan telepon, Ekor mata Darren sesekali melirik pada istrinya. Senja tampak membelai rambut Dasen yang masih terisak di pangkuannya. Suara tangisan melengking sudah hilang. Karena Senja memilih mode sedih untuk membuat Dasen berhenti menangis.


Dasen paling takut kalau mamanya sudah pura-pura menangis. Meski belum bisa komunikasi dua arah, tapi saat lawan bicaranya mengatakan sesuatu, Dasen sudah bisa menangkap dan mengerti. Bayi sekecil itu sudah bisa menjaga perasaan mamanya.


Darren memasukkan kembali ponselnya ke kantong celana. Raut wajahnya tidak seceria tadi, ia hanya berusaha tampil biasa saja. Tekanan darah Senja sudah dinyatakan tinggi, jangan sampai semakin tinggi kalau ikut mendengarkan berita yang baru saja dia dengar dari Mahendra.


"Capek nangis, ketiduran deh." Darren mengusap rambut Dasen.


"Kalau begini, Dasen mirip kamu banget, Ask. Jangan sampai yang nanti ini mirip juga sifatnya kamu. Bisa - bisa aku menua duluan ketimbang kamu. Terus kamu nikah lagi. Kalau sampai terjadi, aku akan ajak anak - anak seketika memanggilmu OM," ucap Senja sembari membetulkan posisi Dasen di sampingnya.


Darren menggetok manja kepala istrinya. "Ngawur banget! Ngomongnya sembarangan banget. Aku nggak sekejam dan semurahan itu. Kamu menua apalagi aku. Menuanya bareng - bareng saja. Aku pengen kayak opa, cintanya sama oma sehidup semati. Aku pengennya begitu. Biar nanti aku hanya mempertanggungjawabkan seorang istri."


"Ada dua orang laki - laki yang kelak mempertanggungjawabkan hidup Senja sebagai istrinya" goda Senja, membuat bibir Darren seketika maju dua senti.


"Ask ... Senja tidur duluan ya. Mata rasanya sudah nggak bisa melek ini. Suruh Wati istirahat, biar Dasen di sini." Senja menarik selimut lebih tinggi,memiringkan badan dan melibgkarkan tangannya yang sudah berinfus ke badan Dasen.


Darren ikut merebahkan badannya di brankar khusus penunggu, tapi pikirannya masih melayang. Hutama masuk rumah sakit karena kondisinya mendadak menurun dratis. Mahendra hanya memberi kabar, tapi melarang Darren untuk pergi ke rumah sakit. Senja sangat dekat dengan Hutama. Mengetahui kondisi opanya droo, tentu akan mempengaruhi kondisi Senja.


Menjelang subuh, Senja terbangun karena rengekan Dasen. Wati seperti sudah sangat hafal, dengan sigap Wati mengangkat Dasen ke satu kamar tertutup tempat istirahat penunggu pasien juga. Wati memberikan Dasen sebotol susu, membuat titisan Darren itupun tertidur kembali.


Senja hanya meminum segelas air putih. Karena operasi akan dilakukan empat jam lagi. Senja hanya boleh minum sampai dua jam setelah proses operasinya.


Perasaan Senja malah semakin tidak tenang, perlahan Senja beringsut ke kamar mandi. Darren masih tertidur pulas. Setelah menggosok gigi dan mencuci mukanya, Senja kembali ke ruangan. Suaminya masih tertidur pulas.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, Senja membangunkan Darren karena harus menunaikan sholat subuh. Laki - laki ganteng itu terbangun dengan wajah bangun tidur yang masih tetap saja ganteng.


Setelah Darren terbangun Senja memilih tidur kembali, dia inging terlihat segar dan dalam kondisi yang sangat bugar untuk menyambut baby twinsnya nanti.


Tiga puluh menit sebelum proses tindakan operasi cesar menggunakan metode Eracs, Senja masih sempat menyuapi Dasen. Memangku anak laki - laki keduanya itu sambil menanggapi celotehan Dasen yang belum jelas apa maksudnya.


Perawat datang berniat memeriksa tekanan darah Senja, memasang selang kateter dan memakaikan baju pasien untuk Senja. Tekanan darah Senja sudah kembali normal, pertanda yang cukup baik.


Kini pikiran Darren bercabang. Barusan Mahendra mengiriminya pesan singkat. Opa Hutama dinyatakan dalam kondisi kritis. Tiba - tiba dua ketakutan menghinggapi pikirannya. Melihat perawat memasukkan selang ke lubang buang air kecil istrinya membuat Darren semakin deg - degan.


Setiap proses persalinan Senja, membuat Darren sukses mengatakan ini adalah kehamilan terakhir. Nyatanya dia selalu lengah ketika sedang melakukan sesuatu yang mengakibatkan janin bisa berkembang di rahim istrinya.


"Ini baju buat bapak saat menemani ibu di ruangan operasi nanti." Perawat mengulurkan baju steril untuk Darren.


"Beres pak, semua dokter mulai dokter anak, bedah, kandungan, anastesi, bidan dan perawat semua perempuan. Sesuai dengan keinginan pak Darren."


Darren mengangguk - angguk mendengar ucapan perawat. Sebelum mengenakan baju sterilnya, terlebih dahulu Darren mengirimkan pesan pada mama dan papanya. Meminta doa agar semua proses berjalan lancar. Tidak lupa pada Bae dan juga Arham yang baru akan datang setelah jam makan siang nanti.


Waktu yang ditunggu sekaligus mendebarkan bagi Darren pun tiba. Kini dia berada di ruangan dingin bersama beberapa dokter. Selain Dokter Nuke, tidak ada satupun dokter yang dikenalnya lagi.


Pengalaman pertama yang sungguh membuatnya panas dingin dan gemetaran, lebih baik menghadapi beberapa relasi penting saat presentasi daripada harus disituasi saat ini. Darren pernah menemani Senja saat melahirkan baby De, tapi perasaannya tidak secampur - campur sekarang. Selain karena pikiran yang bercabang, melihat berbagai pisau sayat, gunting dan darah, sungguh berhasil membuat kepalanya pening keliyengan.


"I love you, Ask" bisik Darren di menit - menit pertama para tim dokter melakukan tindakan.

__ADS_1


Tangannya begitu erat menggenggam tangan Senja, sesekali ciuman bibir mendarat di kening istrinya.


Ekor matanya sesekali melirik pantulan lampu yang menyorot perut istrinya. Darah menyembur dari sana, seseorang dengan sigap membersihkan sebelum sampai darah itu melebar kemana - mana.


"Maaf ya Ask ... Kita membuatnya bersama, tapi sepertinya kamu yang lebih banyak mengalami sakit." ucapan Darren sontak membuat tim dokter tersenyum di tengah menjalankan tugas masing - masing.


"Habis gini, gas lagi nggak Darr? Kan yang ribet Senja," dokter Nuke menimpali omongan Darren.


Belum sempat Darren menjawab candaan dokter Nuke. Suara tangisan bayi terdengar begitu keras dan melengking memekakkan telinga. Belum genap satu menit hadir di dunia, suaranya sudah terlihat jelas kalau stereo.


"Asalamualaikum cantik," sapa bidan yang menyambut salah satu bayi kembar milik Darren dan Senja.


Darren reflek mencium istrinya bertubi - tubi. Ucapan terimakasih terus lolos dari mulutnya. Air mata tidak terasa jatuh dari pelupuk maranya. Proses persalinan kali ini begitu sempurna.


Belum juga reda tangisan bayi pertama, tangisan bayi kedua pun menyusul. Kali ini terdengar lebih kalem, Senja dan Darren saling memandang. Bertukar bahagia dan keharuan.


"Bu Senja, pak Darren. Kami bersihkan baby twins dulu ya." Dua bidan hanya menunjukkan sekilas.


Darren kembali menciumi istrinya. "Terimakasih, Ask. Kamu benar - benar membuat hidupku begitu sempurna. Aku tidak hanya akan membalasmu dengan kesetiaanku seumur hidup, tapi juga dengan nyawaku. Karena aku berhutang banyak nyawa denganmu, Ask. Sungguh aku tidak akan sanggup mengkhianatimu," bisik Darren lagi dan lagi.


Proses menutup kembali bekas sayatan di perut yang menganga sedang dilakukan. Bibir Senja tidak hentinya mengucap rasa syukur. tangannya semakin erat menggenggam tangan suaminya. Kebahagiaan luar biasa, tidak cukup kata - kata untuk mengungkapkan.


Darren mengambil ponselnya berniat memberi tahu kalau proses persalainan berjalan dengan lancar. Tapi alangkah terkejutnya Darren setelah melihat pesan dari Mahendra dua menit yang lalu. Tubuh Darren seketika lemas, ponsel terjatuh begitu saja dari genggamannya. Senja seketika menoleh pada suaminya.

__ADS_1


"Kenapa, Ask?"


__ADS_2