Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
sister's talk


__ADS_3

Mahendra langsung menimpuk kepala Darren, sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya.


" Memalukan, ceo Mahendra group menangis karena membayangkan istri selingkuh. Apa kata relasi, kolega terlebih lagi karyawanmu kalau tahu. Mereka akan berbondong - bondong mendekati Senja, supaya pas kamu sudah meledak - ledak, langsung ada penjinaknya " ucap Mahendra setengah meledek.


Darren berdiri dan menegakkan badannya, mengelap sisa air mata di pipinya dan juga ingus yang keluar bersamaan dengan air mata. Sungguh kelakuan yang sangat konyol, perawat yang masuk membawa obat Hutama pun kembali menahan senyumnya. Reflek Darren kembali memasang wajah angkuhnya. Ingin sekali perawat itu stalking media sosial cucu pasiennya itu, sekedar ingin tahu bagaimana rupa perempuan yang membuat orang angkuh itu menangis sesenggukan meninggalkan harga dirinya.


Sebelum melakukan video call dengan Senja, Darren memastikan wajahnya kelihatan tidak selesai menangis. Tapi hidungnya masih merah. Dia pun memilih untuk melakukan video call melalui aplikasi instagram, dimana banyak pilihan filter yang akan membuat wajahnya lucu tidak sendu.


Menunggu panggilannya terhubung dan diterima, Darren menyelipkan earphone di telinganya, membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri lalu menyisir rambut depannya ke belakang menggunakan jemarinya.


Panggilan pun terhubung. Senja dengan daster rumahan sedang menggendong Dassen, tampak menyuapi Zain. Baby De sedang di suapi chun cha. Ponsel Senja dibiarkan bersandar di gelas dengan layar camera depan menyorot ke arahnya.


" Ask, kenapa tidak memberi kabar kalau anak - anak sakit. Kamu membuatku khawatir " gerutu Darren, mengawali panggilan video mereka.


" Mana sempet pegang ponsel Ask. Loh ini kenapa pakai instagram ? aneh ask ? kenapa wajahmu jadi cantik sekali ? geli lihatnya " ucap Senja, baru menyadari kalau suaminya menggunakan fitur insagram.


Darren mencari - cari filter yang terlihat lebih natural di layar ponsel. Sungguh aplikasi di instagram memang dapat membuat kegantengannya naik empat kali lipat.


" Siapa yang menghubungi Vano Ask. Katanya nggak sempet pegang ponsel ? " selidik Darren, tetap dalam mode curiga.


" Minta tolong sama Chun Ask, tadi bener - bener tidak bisa gerak. Sekarang sudah enakan jauh. Sepertinya kita bisa menjadikan Vano dokter keluarga kita khusus anak - anak. Mereka nyaman dengan Vano, Zain tadi juga lama dipangku sama Vano. Zain kangen daddy Darr, dipeluk Vano membuat Zain sedikit terhibur " ucap Senja.


" Mama Nja, kangen nggak sama daddy Darr ? " tanya Darren

__ADS_1


Darren menghampiri Hutama dan mengarahkan layar ponsel pada Hutama. Senja mengucap syukur karena opanya terlihat segar meski belum bisa bergerak, berbicara dan beraktivitas seperti biasa.


Perawat itu ikut melirik ke arah layar ponsel yang dipegang Darren, sayang tidak jelas. Jiwa keingin tahuannya sungguh meronta kali ini.


Darren kembali mengarahkan layar ponsel padanya. Mereka melakukan panggilan hampir satu jam, tentu saja dengan beberapa drama yang nyata di depan Darren. Zain yang malah nangis begitu diajak bicara daddynya. Rasa kangen membuat Zain yang sakit semakin melow. Dasen yang pup di tengah - tengah Senja sedang membujuk Zain untuk diam. Pemandangan yang menghangatkan hati Darren, sungguh pengalaman yang tidak akan Darren lupakan. Melihat keribetan Senja, jadi merasa bersalah karena menuduh istrinya yang tidak - tidak. Panggilan ponsel terputus karena ponsel Senja di ambil dan di pegang baby De sambil di pencet - pencet sembarangan.


" Sudah tidak menangis lagi pak ? " ledek perawat itu dengan berani. Darren hanya melirik perawat itu dengan kesal. Tanpa mengucapkan apapun. Seketika membuat perawat berbadan tinggi besar, kulit sawo matang dan rambut ikal itu menunduk terdiam.


Senja memejamkan matanya, menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Memberi ruang pada dirinya sendiri untuk rilex sebentar. Menjaga kesadaran dan kesabaran agar tetap di level yang aman.


" Kak Zain, habis gini minum obat ya. Terus istirahat, sudah nggak boleh nangis - nangis lagi. Kakak Zain kan yang paling besar, kalau kak Zain nangis adiknya ikut - ikutan nangis " tutur Senja seraya menuangkan obat di sendok dan meminumkannya pada Zain.


Rupanya Zain menurut, Zain kembali ke atas tempat tidur dan langsung menarik selimut menutupi badannya hingga ke leher tanpa mencari tangan atau bagian badan mamanya untuk sekedar merasakan skin to skin.


Giliran baby De sekarang. Senja menyuruh baby sister untuk mengecek suhu badan Dw dengan termometer, sudah normal di angka 36 derajat celcius. Obat penurun panas pun tidak diberikan, hanya obat untuk batuk pilek saja.


" De bobo sama mbak ncus dulu ya " ucap Senja lembut.


" Nakk..Nakk... " jawab baby De sambil menggelengkan kepalanya, maksudnya enggak. Baby De belum bicara dengan lancar meski usianya sudah hampir 14 bulan. Hanya beberapa kata yang sudah jelas, tapi selalu mengerti jika diajak bicara.


" Ya sudah mbak sus tolong tarik kasur bawah saja. Kita tidur rame - rame di sini " kata Senja.


Baby sister berperawakan bongsor itupun menuruti perkataan Senja. Dengan hati - hati dia menarik kasur yang ada tepat di bawah ranjang Senja. Kasur itu sengaja disediakan untuk cadangan, mengingat kadang tiba - tiba semua anak - anak ingin tidur dalam satu kamar.

__ADS_1


" Kak, bisa minta tolong kerokin Chun nggak ? chun kayak masuk angin " pinta chun, masih dengan mata terpejam.


" Chun, minta wati atau siapa bisa kan ? kamu jangan ikut merengek seperti anak - anak. Kakak juga butuh istirahat " jawab Senja, kesal.


" Males " kata Chun Cha.


" Terserah " ucap Senja.


" Chun tidur sini juga ya kak ? " tanya Chun sedikit memelas.


" Hemmmm " jawab Senja malas.


" Kak kok om Al belum ke sini ya kak ? "


" Astaga Chun, anak - anak baru saja berhenti merengek. Kenapa sekarang jadi kamu yang merengek begini ? Kalau kamu cari kak Al, telepon sendiri sana. Kenapa tanya kakak, heran deh kamu " ucap Senja benar - benar kesal.


" Kak, emang pernikahan Chun harus nunggu Dasen tiga bulan ya ? " tanya Chun tiba - tiba.


" Ya nggak harus, kamu nikah besok juga boleh. Tapi sudah pasti kakak tidak datang. Dasen tidak mungkin diajak. Abang tidak akan membiarkan titisannya bertemu banyak orang sekecil ini " jawab Senja.


" Kalau nikah dulu aja sekeluarga bagaimana ? " tanya Chun Cha lagi.


" Tanya sama eomma Chun, kalau sama kakak jawabannya terserah kamu. Ini pernikahanmu dan kak Al. Kalian yang menentukan pernikahan kalian maunya bagaiman. Tapi eomma tidak mingkin tidak ikut campur, kamu anak kesayangan eomma Chun, tidak mungkin pernikahan kalian boleh biasa - biasa saja " jawab Chun Cha.

__ADS_1


" Tapi kak, Chun maunya bulan ini saja menikah dengan om Al. Tidak usah resepsi seperti kakak. Bantu Chun meyakinkan eomma ya ? " Chun begitu memaksa.


" Tunggu dulu, kenapa kamu tiba - tiba memaksa begini ? Chun ? " selidik Senja, menatap Chun Cha curiga.


__ADS_2