
" Kamu tidak berubah Nja, tetep cantik " puji Mario begitu mereka sudah saling berhadapan.
" Pak Mario yang berubah, terlihat -- "
" Lebih keren " sahut Mario percaya diri.
" Benar " jawab Senja.
" Kamu kenapa ada di sini ? " tanya Mario.
" Saya ada janji dengan suami saya " jawab Senja belum beranjak dari tempatnya berdiri, tepat di samping kiri lima langkah dari pintu kaca yang buka tutup secara otomatis.
" Saya juga ada janji dengan pemilik perusahaan ini " ucap Mario.
" Mau bareng masuk ? " tawar Senja. Dengan senang hati Mario mengangguk.
" Anakmu sudah berapa Nja ? " tanya Mario.
" Alhamdulillah tiga pak, Insya Allah mau nambah lagi "
" Wow... luar biasa. Aku satu saja belum Nja. Mungkin kami terlalu sibuk. Sudah enam tahun kami menikah, kami mau melakukan program IVF tapi masih mikir - mikir, masih belum dapet referensi. Kalau di luar negeri kita nggak bisa bagi waktunya " jelas Mario tanpa di minta.
" Sejauh yang saya tau dan berdasarkan pengalaman saya, sebenarnya tidak ribet sih pak. Tapi memang diproses awal ada saatnya calon ibu harus bedrest total. Kalau bapak ingin konsultasi saya ada dokter yang bagus "
" Owh... Ya, boleh tuh "
Mereka terus berjalan bersama sembari mengobrol, sesekali obrolan terhenti karena Senja membalas sapaan beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Mario jadi sedikit bertanya - tanya, kenapa karyawan Mahendra corps tampak begitu segan dan menghormati Senja. Sebelum sampai di depan lift, Mario menghentikan langkah mereka.
Di lantai puncak gedung, Darren terus melihat jam di pergelangan tangannya.
" Kok Mario belum datang ? nanti keburu istriku datang. Kasihan istriku menunggu lama bisa - bisa " ucap Darren, harap - harap cemas.
" Nanti saya temani bu Senja pak, biar tidak bosan " goda Amar.
__ADS_1
" Coba saja Mar kalau berani " ancam Darren.
" Tergantung permintaan pak, kalau bu Senja ngajak ngobrol ya saya jawab. Nanti malah aneh kalau sampai saya diam saja. Nanti dikiranya bapak yang mengajarkan karyawan untuk sombong dan angkuh " kata Amar, mencari pembelaan.
" Bu Senja dan pak Mario sudah sama - sama di lobby, menuju kemari bersama pak Yanes. Pesan pak Yanes, dilarang kaget pak. Bu Senja terlihat akrab dengan pak Mario " lapor Ali yang baru saja membuka Wa group beranggotakan Yanes, Amar dan dirinya. Group bernama cungpret itu merupakan sarana gibah ketiganya untuk membahas tentang kelakuan dan kebiasaan nyleneh si bos.
Darren baru ingat kalau Mario adalah mantan asisten dosen Uloom dan istrinya pernah menggodanya demi memperoleh bocoran soal ujian.
" Salah jadwal kalian " gumam Darren pada Amar dan Ali.
Terdengar suara lift terbuka, kaki kanan Senja terlihat lebih dulu. Mario yang belum menemukan jawaban dari keheranannya tadi semakin penasaran karena Senja juga keluar di lantai yang sama dengannya. Obrolannya tadi tertunda karena Yanes keburu muncul menyabotase pembicaraan mereka.
" Hai Ask " Darren menyapa dan menghampiri Senja lebih dulu, tidak lupa mencium kening Senja agak lama.
Tidak perlu bertanya atau jawaban lagi, Mario sudah bisa menyimpulkan mantan mahasiswi yang menggodanya itu adalah istri dari Darren Mahendra.
" Selamat datang pak Mario, kenalkan ini istri saya, pasti pak Mario sudah kenal bukan ? jadi tidak perlu basa basi lagi. Kita langsung ke ruang meeting saja " ucap Darren sambil menjabat tangan Mario erat.
Darren, Mario dan Ali memasuki ruangan meeting. Sementara Senja malah berhenti di meja Amar. Melihat cemilan kripik ubi di eja Amar membuatnya tidak tahan untuk tidak mencicip.
" Mar, kripiknya boleh buat aku nggak ? "tanya Senja.
" Tentu saja boleh bu " jawab Amar, mumpung tidak ada atasannya dia bisa berbicara dengan bu bos sambil menatap wajahnya.
" Mau minum apa bu ? " tanya Yanes.
" Minum air putih saja Nes, nanti saya ambil sendiri di dalam " jawab Senja, membuka toples plastik kesayangan emak - emak senusantara.
Dari dalam ruang meeting, Darren melihat Senja masih berdiri di depan meja Amar, sedang memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya dan tertawa renyah. Darren membisikkan beberapa kalimat pada Ali.
Ali keluar ruangan meeting menghampiri Senja.
" Maaf bu, kata pak Darren di suruh menunggu di dalam " ucap Ali.
__ADS_1
" Iya, sebentar kok. Setelah ini saya ke dalam " jawab Senja, sefikit malas. " Mar, saya bawa ke dalam ya " tambahnya.
" Silahkan bu "
Selang tiga puluh menit kemudian Darren dan Mario keluar dari ruangan meeting secara bersamaan. Mario yang tahu Senja pasti masih ada di ruangan Darren menghentikan langkahnya.
" Maaf pak Darren, boleh saya bertemu Senja sebentar ? " tanya Mario dengan sopan.
" Silahkan pak " Darren membukakan pintu ruangannya.
Senja membenahi posisi duduknya.
" Sudah selesai Ask ? "
" Sudah " jawab Darren singkat.
" Nja, boleh aku minta nomer ponselmu ? Biar nanti istriku saja yang tanya - tanya langsung sama kamu soal bayi tabungnya " tanya Mario, melirikk Darren yang juga sedang meliriknya.
" Boleh pak, nanti sebelum telepon istri bapak suruh whatsapp dulu ya pak, karena suka nggak diangkat kalau tidak tau nama kontaknya " jawab Senja, sambil menuliskan nomer ponselnya di secarik kerta. " Silahkan pak " kata Senja sambil memberikan kertas itu pada Mario.
" Thanks ya Nja, Owh...ya terimakasih karena kamu sekarang aku jadi sekeren ini. Kamu memberikan motivasi luar biasa waktu itu. Ternyata sakit hati jika dikendalikan dengan baik, malah bagus ya " ucap Mario, tentu saja berhasil membuat pipi Senja memerah mengingat kekonyolannya dulu. " Dan terimakasih juga sudah mengakui kalau aku sekarang keren " tambahnya. Darren seketika menahan senyumnya.
" Tapi masih lebih keren suami saya pak " balas Senja lirih, masih ada rasa tidak mau mengakui.
" Setidaknya lengan cungkring yang sempat kamu belai dulu, sekarang sudah kekar Nja. Kacamata kuda sudah tidak ada lagi, pagar gigi sudah roboh. Berkat kamu Nja. kata - katamu tentang laki - laki aneh, itu gigi bukan rumah kenapa dikasih pager. Semua jadi motivasi Nja. Aku tulus ini ngucapin makasih "
Blushhhh....pipi Senja semakin merona, Darren hanya sanggup menahan senyumnya. Untung Mario setelah itu segera berpamitan, sehingga tidak ada obrolan lain lagi yang lebih membuat Senja merona. Setidaknya Senja akan lebih hati - hati bersikap. Seseorang yang kita remehkan sekarang, bisa saja lebih baik dikemudian hari. Hinaan dan bullyan jika dijadikan motivasi justru akan menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa.
" Huftttt... Lain kali kalau ada pak Mario datang, kamu harus bilang dulu Ask...Senja tidak mau bertemu dengannya. Sumpah malu Ask, mana dia malah bilang terimakasih lagi. Berasa Senja ini jahat banget " curhat Senja pada suaminya yang sedari tadibmalah pura - pura sibuk. Padahal Senja tahu mata suaminya melirik ke arah Senja diam - diam.
" Makanya lain kali nggak usah sok - sok an jadi perempuan bandel. Nggak pantes. Orang yang kamu isengin nggak mungkin lupa " Darren malah meledek Senja.
" Tidak akan, sudah cukup bandel sekali itu saja. Kalau perlu sama kamu saja bandelnya. Sekarang kita berangkat yuk !!! duh, semoga istrinya tidak tahu kalau Senja pernah pura - pura merayu suaminya. Malu berlipat kalau sampai tahu "cerocos Senja masih sedikit salah tingkah.
__ADS_1