Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Wajah angkuh mode on


__ADS_3

Mobil yang membawa Bae, Arham, Eunji, Hyeon dan Zain sudah meluncur menuju hotel tempat diadakannya akad dan resepsi besok. Tinggal Senja, Darren,Dasen dan Wati yang belum berangkat.


Sejak semalam tidak ada obrolan berarti antara Senja dan Darren. Pertanyaan Senja terakhir tidak dijawab oleh suaminya. Darren memilih pura - pura tidur dengan posisi memunggungi istrinya.


Saat ini Darren masih bersabar menunggu istrinya mengajak berangkat. Sedari tadi, Senja hanya sibuk bermain ponsel saja. Kesabaran memang sedang diuji sekarang.


" Kita ke hotel tidak Ask ? " tanya Darren mengalah memulai pembicaraan.


" Iya sebentar Tuan " jawab Senja dengan santainya.


" Sampai kapan kamu memanggilku tuan ? tahukah kamu apa arti panggilan tuan ? Kalau kamu tidak tahu, sekarang juga akan aku jelaskan. Seseorang yang memanggil tuan, harus tunduk dan patuh pada setiap ucapan orang yang dipanggilnya tuan. Apa kamu sanggup menuruti semua ucapanku ? " tanya Darren, berusaha menekan kekesalannya.


Senja hanya diam. Tidak menyahut, bahkan menoleh saja tidak. Membuat Darren kembali menarik nafas dalam lalu mengambil ponsel yang dari tadi menjadi fokus istrinya.


" Apakah kamu tidak cukup dewasa untuk menekan keinginanmu Ask, Meskipun itu karena kehamilanmu, tidak bisakah kamu melawan. Apakah kehamilanmu membuatmu berhenti berfikir mana yang pantas dan yang tidak pantas. Jika kamu tidak bisa menahan mualmu, aku paham. Kamu malas membuatkanku makanan, aku diam tidak akan protes. Kamu tidak mau aku sentuh, aku berusaha keras menghormati keinginanmu. Tidak bisakah kamu menekan keinginanmu yang kiranya meresahkan orang lain ? apakah mentang - mentang kamu hamil semua keinginanmu harus dituruti ? Apa jika sekarang kamu ingin aku menikah lagi maka akupun harus menikah lagi ? apa jika hamil, setiap keinginanmu jadi sebuah kewajiban dan keharusan yang harus dipenuhi ? " tanya Darren, sedikit keras karena kontrol emosinya mulai menurun.


Bola mata Senja membulat melihat suaminya marah dan kesal seperti itu malah membuatnya semakin gemas. Senja mendekati suaminya dengan senyuman yang sulit diartikan, membuat Darren sedikit was - was. Darren memejamkan matanya, mengira istrinya pasti akan marah karena ucapannya barusan.


Darren merasakan hangat hembusan nafas Senja di ujung bibirnya. Astaga, ini cinta atau apa ? sampai dalam kondisi yang seharusnya masih kesal pun yang diingat Darren malah sentuhan lembut dan tawa renyah Senja. Masih dengan mata yang terpejam, Darren menepuk - nepuk kepalanya, seolah ingin mengeluarkan isi - isi yang tidak seharusnya di sana.

__ADS_1


Senja ******* lembut bibir suaminya, beberapa kali. Meninggalkan kehangatan. Darren yang tadinya ingin bertahan pada mode marah, sudah sedikit goyah. Tapi untung saja Senja menghentikan ciumannya, sehingga Darren masih terselamatkan dari kata gampangan. Karena selama ini, Senja selalu mudah meluluhkannya dengan sentuhan. Sesekali anggapan itu harus terpatahkan.


" Kita berangkat " ajak Senja.


Darren menarik tangan istrinya. Kali ini Darren ingin sedikit keras menghadapi Senja. keputusannya lah yang harus di dengar sekarang.


" Aku akan memberi tahu eomma dan mama mengenai kehamilanmu setelah acara resepsi Chun Dan Al. Aku tidak sedang meminta pendapat. Setuju atau tidak aku akan tetap mengatakan pada mereka. Ini rumah tangga kita Ask, kita yang menjalani baik buruknya. Anak itu anugerah, tidak seharusnya kita sembunyikan keberadaannya. Tidak ada siapapun di dunia ini yang berhak memisahkan kita dari anak - anak. Kehamilanmu saja sudah berat, jangan menambah beban dengan hal - hal yang tidak perlu. Tidak ada yang bisa mengatur keluargaku kecuali aku sendiri. Siapapun " tegas Darren.


Senja kembali tersenyum, melihat Darren yang tegas sedikit memaksa sengguh membuat rasa mual dan pusingnya reda seketika. Senja berharap suaminya lebih sering marah dan kesal seperti ini. Wajahnya jauh lebih pas dilihat ketimbang saat berbicara terlalu lembut.


" Terserah Tu -- "


Pandangan penuh rasa kagum tersirat di mata senja untuk suaminya. Kekesalan dan kemarahan Darren membalut sempurna ketampanan yang sudah nyata sejak lahir.


Darren menepuk lengannya sendiri agak keras, ternyata masih terasa sakit. Itu artinya dia sedang tidak bermimpi. Lalu kenapa dia tidak mendengar suara Senja yang menentang atau mempertanyakan keputusannya ? Kenapa wajah Senja malah terlihat sangat terpesona dengannya ? Nyatakah ini atau hanya sekedar angannya saja karena terlalu rindu dengan sikap hangat istrinya ?.


Mengabaikan Senja yang sedang terpesona, Darren beringsut ke kamar mandi. Ingin sekedar membasuh mukanya. Bagaimana dia harus menyikapi kehamilan istrinya kali ini. Bersikap normal layaknya suami dan sikapnya sehari - hari malah salah, ketika sedang marah dan kesal malah dipuja. Apakah memang trend sekarang suami harus galak dulu baru dianggap dan didengar ? Darren kembali menepuk - nepuk mukanya. Lalu memandang wajahnya di kaca, memasang berbagai ekspresi di wajahnya. Mulai dari tersenyum, muka cuek, sinis, angkuh, sedih, kaget, kecewa, marah, kesal, cemberut sampai menangis. Padahal dari sekian banyak ekspresi, ekspresi tersenyumlah yang paling memikat.


Sungguh kehamilan kali ini sangat membingungkan. Andai setiap hamil seperti kehamilan baby De dan Dasen, maka Darren lah yang paling diuntungkan. Kesenangannya akan tersalur sempurna tanpa kerja keras nyata. Cukup sedikit menggoda biarkan Senja yang bekerja.

__ADS_1


" Daddy Darr, masih lama ya ? kalau masih lama Senja tidur dulu " sindir Senja.


Sebelum keluar, Darren kembali memandang wajahnya di cermin. Memasang wajah sinis dan angkuhnya. Dia akan mempertahankan ekspresi itu sampai keluar nanti.


Benar sekali keputusan Darren, Senja terlihat gemas dengan suaminya. " Yuk dadd kita berangkat " ajak Senja seraya mengamit lengan suaminya.


Mereka berjalan santai menuruni anak tangga, Dasen digendongan Wati tampak sudah menunggu di bawah. Sesekali Darren mencuri kesempatan melakukan senam wajah. Ternyata, memasang ekspresi seperti itu dengan sengaja membuat wajahnya kaku dan kebas.


Mereka berempat memasuki mobil yang dikendarai oleh Rudi. Wati dan Dasen duduk di bangku depan, sedangkan Senja dan Darren di bangku tengah. Ponsel Senja beberapa kali berdering. Pasti dari Bae yang menanyakan di mana posisinya sekarang.


" Dadd...." panggil Senja, sedikit manja. Bukan Ask atau Askim, tapi panggilan Daddy sudah cukup membuat Darren bahagia.


" Hemmm " jawab Darren sok cool, padahal ingin sekali menjawab " iya ask... "


" Senja kenapa setiap melihat eomma menjadi mual dan pusing ya. Wajah eomma seperti antagonis sekali. Senja merasa tidak enak " ucap Senja, sudah mulai kembali banyak bicara.


Darren sedang menahan tawanya, ucapan Senja membuatnya terhibur. Ternyata bukan dirinya saja yang menjadi korban perasaan tidak menentu ibu hamil, mertuanya yang menurutnya sangat posesif itupun akan ikut merasakan keanehan Senja. Kebalikan dari dirinya, Senja pasti menginginkan wajah Bae yang ramah dan murah senyum.


Memilih jujur adalah pilihan yang tepat, Darren ingin melihat bagaimana reaksi Bae jika dia tahu Senja selalu mual dan pusing jika melihat wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2