
Darren memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celananya. Lalu membawa Senja ke dalam pelukannya.
" Opa mengalami stroke Ask, Aku dan papa akan terbang ke sana tiga jam lagi. Semoga opa dapat melewati masa kritisnya " bisik Darren.
Senja mendongakkan kepalanya, menatap manik kecoklatan milik suaminya. Berharap apa yang diucapkan suaminya hanya gurauan semata. Tapi sepertinya tidak, mata suaminya berkabut.
" Opa pasti bisa melalui masa kritisnya Ask. Opa masih punya janji sama Senja, opa pasti kembali. Opa tidak pernah berbohong " ucap Senja, lirih.
" Apa yang kamu bisikkan pada opa sebelum opa berangkat Ask ? " tanya Darren kembali teringat hanya doa dan permintaan Senja yang tidak diketahui yang lain.
Senja menunduk malu " Tidak, ini rahasia opa dan Senja. Tanyakan pada opa saja nanti " jawab Senja, tetap keukeh menyimpan rahasia.
Darren menuntun Senja duduk di sofa. Lalu dia merebahkan kepalanya di pangkuan Senja.
" Ask, opa itu tidak pernah memandang orang lain rendah. Opa selalu baik pada siapa saja. Di rumah opa, asisten pembantu tidak ada yang bekerja hanya setahun dua tahun. Semua sudah belasan bahkan puluhan tahun. Aku heran kenapa hanya aku yang tidak bisa baik sama semua orang. Aku sedikit angkuh dibanding yang lain " ucap Darren jujur.
" Maaf Ask, kamu tidak sedikit angkuh. Tapi juga sangat angkuh. Apa kamu lupa pernah melecehkan aku dengan tidak berperasaan " Senja mengingatkan pada perbuatan Darren yang mengantarnya bertemu dengan Arham.
" Ask, please jangan mengingatkan aku pada peristiwa itu. Aku malu Ask, aku menyesal sekali. Aku akan menebusnya seumur hidupku Ask. Aku akan mengganti sakitnya dulu dengan kenikmatan " janji Darren.
" Ask, apa kamu dulu sempat bertemu oma ? " tanya Senja tiba - tiba ingin tahu.
" Sempat, hanya sampai aku awal kuliah sepertinya. Melihat opa dan oma dulu itu seneng Ask. Mereka selalu mesra dan romantis. Jauh lebih ronantis dibanding mama dan papa. Oma selalu makan dipiring opa. Sebelum opa makan, oma tidak akan makan " Darren mencoba bercerita apa yang masih ada diingatannya.
" Oma sweet banget ya. Senja tidak bisa kalau seperti itu. Pantesan opa setia ya Ask, meskipun oma sudah lama meninggal, opa tetap bertahan sendiri. Padahal kalau opa mau, perawan pun pasti mau opa nikahi. Opa kan ganteng biarpun tua, kaya raya pula. Opa benar - benar hebat. Beda sama Sen__ " belum selesai Senja bicara. Darren membungkam mulut istrinya itu dengan telapak tangannya.
__ADS_1
" Kamu benar. Opa memang setia, tapi mama Nja juga setia. Opa ditinggal oma sudah seumur papa sekarang Ask, menikah buat apa lagi. Kamu masih muda, masih butuh kasih sayang dan belaian. Wajar, itu manusiawi. Bukan karena kamu tidak setia. Sudah, sekarang tolong siapkan baju dan keperluanku. Aku tidak tahu berapa lama, karena belum tahu pasti bagaimana kondisi opa " kata Darren, beranjak dari pangkuan istrinya.
Senja mengangguk pelan lalu segera menyiapkan keperluan Darren ke dalam koper. Melepas daster yang sedang dipakainya, lalu ikut memasukkannya ke dalam koper dan mengambil daster yang lain untuk dia kenakan.
Setelah memastikan semua sudah lengkap, Senja menggeret koper itu ke depan. Darren sudah mengganti bajunya, jeans yang sama saat jalan - jalan tadi dipadu atasan sweater biru navy, nampak sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Bunyi klakson mobil di depan pintu utama terdengar. Darren yang terburu - buru malah menggandeng tangan Senja, bukan menggeret kopernya. Jadilah Senja dengan cepat menggeret koper milik suaminya.
" Aku pergi dulu Ask. Jaga diri dan anak - anak. Jangan melakukan apapun yang membuat aku khawatir dan cemburu selama kita jauh " pamit Darren lengkap beserta pesan - pesannya.
" Hati - hati Ask. Bisikkan salam Senja pada opa katakan Senja menunggu opa kembali membawa titipan Senja " ucap Senja.
Darren memeluk Senja erat, mencium keningnya bertubi - tubi.
" Aku akan merindukanmu Ask " bisik Darren.
" Senja juga akan merindukanmu Ask " balas Senja.
" Sudah, seperti biasa " jawab Senja.
" Darr ayo, lama banget pamitnya " teriak Mahendra yang ternyata ada di dalam mobil. Senja fikir Darren yang akan menjemput Mahendra, ternyata sebaliknya. Senja tidak memperhatikan kalau yang di depan memang mobil mertuanya.
" Tiga menit pa "ucap Darren tanpa menoleh,
Darren mencium bibir Senja, memagutnya lembut. Darren selalu tidak peduli dengan keberadaan orang lain, Senja sering kali dibuat canggung. Membalas malu, tidak membalas juga nafsu. Akhirnya pun Senja membalas pagutan itu.
" Darr " teriak Mahendra, Darren hanya menganggkat tangannya sambil mangacungkan jari manisnya.
__ADS_1
Pagutan itu pun lepas, tidak ada permainan lidah yang hebat seperti biasanya. Lebih pada menyalurkan semangat dan meredam kekhawatiran.
" Titip rinduku di sini, saat pulang aku akan mengambilnya berlipat - lipat " bisik Darren.
Senja mengangguk " Hati - hati. Kalau sudah sampai kabari Senja ya " ucapnya.
Darren berjalan masuk ke mobil tanpa membalikkan badannya lagi, kalau dia berbalik takut ritual pamitannya pun akan terulang. Senja kembali ke dalam rumah begitu mobil yang ditumpangi suami dan mertuanya sudah tidak terlihat lagi dari pandangannya.
Menjelang subuh, Senja dibangunkan oleh ringtone panggilan masuk di ponselnya. Rupanya Darren sudah sampai dan ingin melakukan video call. Senja menggeser ke atas tombol hijau, Seketika wajah Darren sedang memeluk bantal yang dibalut daster miliknya langsung memenuhi layar ponsel milik Senja.
" Mama Nja baru bangun ? " tanya Darren.
" Hemmm...sudah sampai Ask. Bagaimana opa ? " ucap Senja langsung menanyakan Hutama.
" Kami belum diijinkan melihat opa langsung, beberapa jam lagi, di sini belum pagi Ask. Doakan yang terbaik buat opa ya. Daddy Darr, mau istirahat sebentar. Mama Nja jangan lupa bangunin Zain untuk subuh ya, nanti Daddy hubungi lagi " ucap darren selalu lebih lembut dan romantis berlipat - lipat jika sedang LDR ( Long Distance Relationship ).
Waktu pagi Arab Saudi, Darren dan Mahendra sudah berada di ruangan dokter yang menangani Hutama. Mereka sedang membicarakan kemungkinan pemindahan Hutama ke negara S ataupun kembali ke Indonesia. Dokter belum mengizinkan untuk saat ini, paling tidak harus menunggu Hutama sadar terlebih dahulu.
Dari keterangan dokter diketahui bahwa Hutama mengalami gejala stroke berat. Karena sebelum jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri sampai sekarang Hutama mengalami kesulitan gerak di sisi badan sebelah kiri, bibir Hutama juga mengalami kemiringan. Kenungkinan terbesarnya adalah Hutama akan mendapatkan kesadarannya kembali, tapi Hutama tidak akan bisa berjalan dan berbicara seperti biasa untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Beberapa jam kemudian seorang perawat yang khusus mendampingi Hutama, mendatangi Darren dan Mahendra. Memberikan kabar bahwa Hutama sudah siuman. Tentu saja mereka berkomunikasi menggunakan bahasa inggris selama di sana.
" Alhamdulillah " kata Darren dan Mahendra kompak.
" Papa masuk dulu, kamu kabari mama dan istrimu " ucap Mahendra, Darren pun mengangguk.
__ADS_1
Seorang perawat terus memperhatikan gerak -gerik Darren. Apalagi saat mendengar Darren berbicara dalam bahasa Indonesia, senyumnya seketika mengembang sempurna.