Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Bonus Part 2


__ADS_3

Dasen seketika beranjak, tapi bukannya membiarkan Senja berdiri untuk menyambut sang suami. Tapi dia malah memeluk mamanya erat dari samping. Selalu saja tidak rela jika sampai Darren menyentuh perempuan yang sudah melahirkannya itu.


Seperti biasa, Darren selalu mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Das ... Mama urus Daddy sebentar," Senja meregangkan pelukan Dasen.


"No, Mama! Daddy bisa mengurus dirinya sendiri. Dasen masih kangen mama." anak laki-laki bertinggi seratus tujuh puluh senti itu semakin posesif.


Dasen menuruni semua sifat Darren terlalu cepat. Bukan hanya posesif dan cemburuannya pada sang mama. Tapi darah casanova tanggung pun sudah mengalir kental di tubuhnya.


Beyza selalu bisa meredam kekesalan Darren. Dia langsung mengamit manja lengan pria yang semakin berumur, semakin terlihat tampan. Pesonanya tidak redup termakan usia.


"Dadd, besok daddy harus terlihat keren. Ayo! Bey pilihkan baju buat Daddy besok." Dengan semangat Beyza mengajak Darren naik ke lantai dua.


Dua bola mata suami Senja itu tajam menatap Dasen. Sekilas, tapi sempat membuat pandangan keduanya beradu. Dasen seperti tidak ada rasa takut, malah menciumi pipi mamanya bertubi-tubi. Sudah sebesar itu, tidak membuat Dasen berhenti manja. Dia hanya akan bersikap sok cool dan cuek kalau ada teman perempuannya.


Derya hanya tersenyum saat memperhatikan Daddy dan juga kakaknya. Si tenang yang hanya akan melemparkan senyumnya, apapun keributan dan kekonyolan yang terjadi di depannya.


Setelah puas melihat Darren kesal, Dasen pun melepas sang mama untuk memberikan sambutan yang terlambat pada daddynya.

__ADS_1


Di dalam kamar Beyza, sudah memporak-porandakan isi lemari Daddynya. Jelas hal itu membuat Senja seketika menjerit histeris. Satu kebiasaan baru perempuan mempesona itu sejak anak-anak sering memancing emosinya dengan kenakalan dan drama pertengkaran kecil antar saudara.


"Bey, mama menata ini dengan baik. Semua sudah urut warnanya. Jika kamu memilihkan baju Daddy, tidak perlu seheboh ini. Kamu menambah pekerjaan mama saja." Senja mendengus kesal, sembari melipat kembali sebagian baju.


Darren terdengar masih menyegarkan dan membersihkan dirinya di kamar mandi, pasti laki-laki itu sedang menunggu baju yang biasanya disiapkan oleh sang istri.


"Baiklah, Mama saja yang memilihkan. Yang keren ya, Ma. Beyza percaya mama tidak akan membuat Daddy Bey terlihat jelek. Love you, ma. Tapi love more for daddy." Beyza selalu menggoda Senja juga.


"Love you too, sweety. Tentu saja. Daddy is yours." Senja menjawab dengan santai, berbeda dengan Darren yang selalu tidak terima kalau Dasen mengatakan hal serupa tapi tak sama padanya.


Beyza meninggalkan kamar dengan kekacuan yang ada tanpa dosa. Baju-baju berserakan, memaksa tangan Senja tetap bergerak membereskan meski mulut tidak berhenti mengomel. Kehadiran anak-anak luar biasa dengan perbedaan sifat dan karakter, sukses membuat dirinya yang dulu cenderung diam saat marah dan kesal, kini berubah dratis. Omelan Senja adalah nyanyian merdu yang dinantikan Darren setiap mereka berkumpul bersama.


"Bajunya nanti saja. Sekarang ada yang lebih penting untuk diurus." Darren memeluk istrinya dari belakang. Berbisik di tengkuk leher senja. Masih seromantis itu.


Senja, membalikkan badannya. Mengecup lembut bibir suaminya dengan lembut. "I love you, Ask ...."


"Love you more, Ask ... Jangan duakan aku dengan siapapun. Bocah itu sudah besar, seharusnya dia sudah punya malu menciumimu seperti itu. Dia sudah mengerti cewek cakep. Sering membawa mereka datang juga. Kenapa masih manja begitu. Perlakukan dia sedikit dewasa, agar dia belajar bersikap seperti laki-laki dewasa." cerocos Darren. Nada bicaranya terdengar kesal, tapi tangannya sudah menyusup ke dalam baju atasan yang dikenakan Senja, mengelus perut rata sang istri.


"Astaga, Ask ... Dia itu anakmu. Titisanmu lebih tepatnya. Lihatlah betapa posesif dan cemburuannya Das. Karena kalian berdua, mana bisa Senja keluar rumah tanpa kalian sekarang. Tersenyum pada Amar dan Ali saja bahkan tidak boleh. Setiap Kenzi datang bersama Ulfa, ngglendot kayak bapaknya yang lagi minta sesuatu kayak sekarang." cerocos Senja. Masih belum terkecoh dengan tangan sang suami yang sudah berniat merambah ke bagian dadanya yang menonjol.

__ADS_1


"Sudah ... Ngomelnya nanti saja. Sekarang kasih yang enak dulu. Sebentar saja. Sepuluh menit cukup, kalau kelamaan lima menit juga gpp. Sebelum makan malam. Aku belum mandi bener kok, cuman aku basahi biasa. Nanti sebelum sholat kita mandi bersama lagi." Darren membuka kancing baju atasan Senja perlahan.


Paham dan sudah tahu betul bagaimana suaminya. Masih tidak suka dibantah, meski kadang juga mau mengalah dengan keinginan sang istri.


Darren membuka lilitan handuknya, tidak ada sehelai benang pun yang menempel di sana sekarang.


"Langsung saja, Ask ... Takut anak-anak tiba-tiba manggil kita. Sini!" Senja menarik suaminya ke atas ranjang. melepas baju atasan yang kancingnya sudah terbuka semua dengan sempurna. Lalu perlahan, menanggalkan semua yang melekat di tubuh putih mulus yang masih singset berkat perawatan yang mahal.


Sudah tujuh belas tahun menikah, tidak sedikitpun hasrat Darren berkurang pada sang istri. Yang ada semakin bertambah, hanya saja ruang ekspresi mereka sekarang lebih terbatas. Keduanya tidak bisa lagi berciuman sembarangan seperti dulu.


Senja kini menindihkan badannya di atas badan Darren. Mengarahkan kepemilikannya pada bagian inti milik suaminya. Tanpa bantuan tangan keduanya menyatu sempurna. Perempuan itu mulai beraksi dengan pinggulnya, maju mundur, naik turun dan meliuk penuh perasaan.


Tangan Darren sudah memainkan dua benda kenyal seperti squisy dengan liar. Layaknya pasangan yang masih muda dan haus akan bercinta. Keduanya masih menikmati setiap detik pergulatan mereka dengan hati dan cinta yang semakin luar biasa.


Merasa miliknya sudah basah, Senja meminta untuk bertukar posisi. Darren kini berada di atas tubuhnya, kendali dan kuasa penuh akan dirinya ada di tangan sang suami.


Mengingat waktu yang tidak banyak, Darren pun mendorong bagian intinya maju mundur dan keluar masuk lebih cepat. Matanya terus memandang wajah sang istri penuh cinta bercampur sedikit dengan nafsu. Wajah Senja sangat luar biasa jika sedang bergulat dengannya di atas ranjang. Dia tidak ingin sedetik pun lepas dari wajah itu ketika dalam posisi seperti sekarang.


"Ask ... Senja mau lagi, Ask ...." desah Senja, membuatnya lebih bersemangat. Otot diseluruh tubuh Darren pun menegang, desir puncak kenikmatan sudah di ambang lubangnya. Tidak sampai semenit kemudian, cairan putih kental yang kini sudah tidak mungkin membuat perut istrinya membesar, lolos dari inti tubuhnya. Sedikit tumpah karena saking banyaknya.

__ADS_1


Dengan nafas yang masih terengah, Darren menghujani leher istrinya kecupan. "Mandi bareng, yuk! Maghrib masih empat puluh menit lagi...." bisik Darren penuh maksud.


__ADS_2