Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Darren versus emak - emak


__ADS_3

Perawat datang dengan terburu - buru setelah mendapatkan call nurse dari Darren.


" Ada yang bisa saya bantu ? " tanya perawat, karena ada dua pasien perawat hanya berdiri di tengah - tengah brankar mereka.


" Saya nggak kenapa - kenapa sus " ucap Senja, karena memang tidak merasa memanggil perawat.


Semua pandangan tertuju pada Darren.


" Darr kamu kenapa ? pusing lagi ? mual ? apanya yang sakit Darr ? " Sarita mulai panik dan menghampiri Darren.


Darren mengangguk lemah. Mahendra, Arham dan Bae jadi ikut berhambur menghampiri Darren.


" Sus, Ct scan dan MRI anak - anak saya ini keluar kapan ? " tanya Mahendra.


" Sudah keluar pak, dokter akan membawa kemari saat kunjungan pagi ini. Owh .... ya maaf pak Darren, ada keluhan apa ? " tanya perawat bertubuh bongsor itu dengan sopan.


" Pagi ini saya merasa sangat pusing sus. Sangat pusing, bahkan lebih dari pusing. Saya merasa dunia saya berputar terlalu cepat, apa sekarang kutup utara sudah bertukar tempat dengan kutup selatan sus ? " tanya Darren sambil memegangi kepalanya.


Senja yang tadinya khawatir dan menyimak dengan serius, menjadi tidak tertarik lagi untuk mengetahui kelanjutannya. sementara yang lain masih menyimak dengan wajah serius.


" Masih di tempatnya masing - masing pak. Belum berpindah. Sebentar saya periksa bapak " jawab perawat, meski merasa aneh terpaksa harus tetap menjawab.


Perawat itu menghitung denyut nadi Darren, mengulangnya sampai tiga kali. Memeriksa tekanan darah sampai dua kali dan cek suhu sampai tiga kali. Ketegangan dan raut cemas semua yang ada di sana terlihat nyata. Kecuali Senja tentunya yang asyik mengasihi baby Dasen yang super kuat menyusunya ternyata. Sudah tiga kali ganti posisi, belum juga mau dilepas.


" Semua normal pak, tapi kenapa bapak bisa pusing berlebihan dan mual ya " perawat ikut berfikir.


" Aduh pa, bagaimana ini ? apa benturan di kepala anak kita kemarin sangat keras ? Darr, sakit sekali ya ? " tanya Sarita masih sangat khawatir.


" Sepertinya Darren semakin pusing ma, Darren rasanya di sini gelap " jawab Darren semakin membuat semua ketakutan.

__ADS_1


" Saya panggilkan dokter saja " sahut perawat cepat.


" Jangan - jangan sus, sebentar " ucap Darren buru - buru.


" Appa, Pa, coba geser sedikit " ucap Darren.


Arham dan Mahendra menggeser badannya berlawanan arah, sehingga menimbulkan jarak yang lebar di antara keduanya.


" Sudah " ucap Arham dan Mahendra kompak.


" Sudah, sekarang baru dunia Darren menjadi terang " ucap Darren, menatap penuh cinta pada istri dan anaknya. Tadi Darren tidak bisa melihat Senja, karena tertutup badan Arham dan Mahendra yang sama - sama besar.


Bae menggelengkan kepalanya kuat dan tersenyum licik.


" Sus, sepertinya menantu saya ini butuh perawatan khusus. Saya mau dia dipindahkan di ruangan lain. Tolong pilihkan yang terbaik sus, saya khawatir sakitnya parah. Uangnya banyak, kalau mati nanti sudah nggak bisa menikmati. Mumpung masih bernafas, kasih yang terbaik sus, tolong " ucap Bae dengan santainya, memberi kode pada Sarita.


" Iya sus, tolong ya. Anak saya ini tidak hanya ganteng sus, tapi juga kaya raya. Berikan ruangan rawat terbaik. Berikan pelayanan khusus, dia terlihat sangat kesakitan dan menderita sekarang. Siapkan dokter terbaik " timpal Sarita.


" Ah... ya pengacara. Kita harus memanggil pengacara agar wasiatnya jelas. Pesan dan kesan sangat penting, mengingat anak - anaknya masih kecil. Istrinya masih cantik. Menikah lagipun tidak dosa " Mahendra ikut mengambil bagian.


Perawat semakin bingung dengan keluarga pasien yang dihadapinya sekarang. Kenapa dia merasa sedang berada di antara orang - orang dengan imajinasi yang sangat tinggi. Serasa lantai yang dipijaknya sekarang bukan lagi di bumi. Apakah benar kata pasiennya, kutup utara mungkin memang sudah bertukar tempat dengan kutup selatan.


" Terus ini saya harus bagaimana ini pak, bu ? kok jadi saya yang merasa pusing sekarang ? " tanya perawat, memberanikan diri menyudahi kebingungannya.


" Kembali saja sus, abaikan yang barusan terjadi. Biar kami yang menyembuhkan sakit pasien ini. Dokter dan suster tidak mungkin bisa mendeteksi penyakit yang diderita anak saya " ucap Sarita asal.


" Guna - guna ? kena santet ? saya ada kenalan bu. Kalau ibu berkenan, saya bisa menghubungi kyai untuk meruqyah anak ibu. Jangan ke dukun bu, musrik " ucap Perawat menanggapi serius.


" Nanti saja, saya akan menghubungi kamu kalau diperlukan. Terimakasih. Maaf membuang waktu sia - sia " ucap Bae dengan tulus.

__ADS_1


Darren menarik selimutnya hingga menutup wajahnya.


" Pusing ? mual ? " tanya Bae. Suara yang membuat Darren benar - benar merinding.


" Mampus... Habislah aku sekarang " batin Darren dalam hati, masih menutup wajahnya dengan selimut.


Arham dan Mahendra tidak mau ikut - ikut, mereka kembali ke kamar istirahat. Bersiap mandi dan akan mengajak istri mereka sarapan di luar. Kondisi sudah stabil, saatnya mereka memanjakan perut yang dari kemarin hanya di isi dengan makanan sekedarnya.


Senja tidak berniat membela suaminya sekarang, bersatunya kekuatan Sarita dan Bae jangan di lawan. Lebih baik mengharap belas kasihan.


" Masih sakit Darr ? mau diobatin Kemala kan ? " tanya Bae, lagi - lagi terdengar menakutkan bagi Darren.


" Pengen dapet morning kiss kayak biasanya, pengen disuapin kan ? pengen dimanja ? " tanya Sarita lembut.


Darren mengangguk pelan, membuka perlahan selimut diwajahnya, Melihat ke arah Senja yang kebetulan baru saja memasukkan sumber makanan Dasen ke dalam wadahnya. Seketika membuatnya menelan air ludahnya sendiri dengan kasar.


Sarita yang paham benar apa yang ada dipikiran anaknya langsung menepuk kening Darren agak keras.


" Sepertinya perawat tadi benar, kamu harus diruqyah " ucap Sarita kekesalannya mulai tampak nyata.


" Mau diapain Darr enaknya, Seneng dikhawatirin ? seneng yang lain panik ? " tanya Bae.


" Mau Senja " Darren masih berani menjawab.


" Astaga sepertinya benturannya memang terlalu kuat. Darr, papa itu sayang sekali sama mama. Tapi nggak sebegitunya juga. Pura - pura sakit, maksudnya apa ? biar Senja nyamperin kamu, ngelus - elus seperti biasa. Lihat Darr, jangankan manjain kamu. Duduk saja meringis - meringis terus nahan nyeri, Jalan aja belum bisa karena kateternya belum dilepas. Itu otak selain buat mikir cara nempelin Senja, nggak ada yang lain lagi ya isinya. Gemessss mama ini " ucap Sarita kesal. Bisa - bisanya Darren membuat drama pagi - pagi begini.


" Kamu dihukum hari ini Darr, Nggak ada deket - deket Kemala hari ini. Tetap di brankar masing - masing. La, jangan mengajak Darren bicara. Dia ingin mendapatkan perhatianmu, biar dirasakan kamu tidak menganggapnya sama sekali. Enak saja membuat kami khawatir. Jangan bicara pada suamimu " ucap Bae kesal.


" Eomma kenapa Kemala juga dihukum ? " tanya Kemala.

__ADS_1


" Karena kalian sepasang. Kesalahan salah satu ditanggung berdua " jawab Bae cepat.


Senja dan Darren saling pandang.


__ADS_2