
Berkat rayuan Darren, Zain pun mau ikut pulang ke rumah bersama Chun Cha dan Hutama. Zain dan Darren lebih emosional jika bersama. Keduanya tidak enggan menangis karena sama - sama takut kehilangan Senja.
Jam bergerak terasa lebih lambat, enam jam berlalu seperti satu abad. Belum ada kabar dari Senja. Baby Dasen hanya sesekali terbangun, selebihnya selalu anteng di gendongan Bae atau Sarita. Keduanya bergantian seperti tidak mengenal lelah.
Sementara Mahendra dan Arham membicarakan kemungkinan memindahkan Senja ke rumah sakit negara S jika di sini tidak ada kemajuan.
Hampir tujuh jam berlalu, Darren mulai kembali putus asa. Tengah malam lewat ketika semua sudah di ambang mimpinya, Darren masih terjaga.
Bae, Arham, Mahendra dan Sarita sudah tidur di ruangan lain bersama baby Dasen yang kali ini tidur bersama Bae. Mereka memang menempati president suite yang di dalamnya di sediakan dua kamar untuk istirahat penunggu.
Pintu ruangan rawat dibuka lebar, Darren mendongakkan kepalanya. Darren melihat dengan jelas dua orang perawat memasukkan brankar yang lebih lebar ukurannya dari brankar yang dia tempati sekarang. Kosong, tidak ada Senja di sana. Brankar itu di tata hanya berjarak nakas darinya. Cukup dekat. Dalam kondisi normal, Darren bisa sampai dlam satu kali langkah lebar.
Tidak berselang lama dari itu, sebuah brankar berukuran sebadan di doring perawat memasuki ruangan. Darren mengusap kedua matanya untuk meyakinkan bahwa penglihatannya tidak salah. Darren mencubit lengannya sendiri, untuk mencari tahu sendiri bahwa dia sedang tidak bermimpi.
Senja Khairunisa Kemala, Istrinya, Mama Nja bagi anak - anaknya tersenyum ke arahnya begitu lembut.
Perawat menggeser tubuh Senja dengan menarik kain putih yang menjadi alas Senja.
" Terimakasih sus " ucap Senja.
" Sama - sama bu. Ibu berlatih miring kanan kiri dulu ya bu, biar tidak kaku. Jika ibu merasakan nyeri hebat yang tidak tertahankan ibu tekan tombol nurse call segera. Kami permisi dulu bu Senja " ucap salah seorang perawat.
Kedua perawat meninggalkan ruangan perawatan keluarga kecil Darren Mahendra.
Darren perlahan bangun. Mencoba turun dari ranjangnya sendiri.
" Jangan Ask, kamu harus istirahat " ucap Senja.
__ADS_1
" Ask...Ini bukan mimpi kan ? ini nyata kan ? " tanya Darren masih belum percaya. Tangannya menyeret pelan tiang infus, setelah pas Darren menarik kursi untuk dia duduk. Darren merasa badannya belum mampu berdiri terlalu lama.
" Di mana baby Dasen Ask ? " tanya Senja langsung menanyakan anaknya.
" Tidur bersama eomma Ask, biarkan dia tidur dulu ya. Pagi - pagi pasti sudah bangun. Kamu jangan membuatku khawatir lagi Ask. Hari ini serasa setahun bagiku " ucap Darren.
" Benarkah ? Senja merasa tidur hanya satu jam " goda Senja.
" Ask, itu tidak lucu sama sekali " ucap Darren kesal.
" Ask, Senja minta maaf ya " ucap Senja lirih.
" Untuk apa ask ? " tanya Darren heran
" Sekarang indung telur Senja hanya satu Ask, entah Senja bisa memberimu keturunan atau tidak. Kamu kanbmenginginkan mempunyai banyak anak Ask. Senja minta maaf " kata Senja.
" Senja takut Ask, suatu saat kamu akan berubah fikiran dan mencari perempuan lain untuk melahirkan anakmu kembali " ucap Senja lagi.
" Aku sama perempuan lain, terus kamu sama siapa Ask ? pasti ada laki - laki lain yang akan mengejarmu. Tidak, itu tidak akan terjadi. Aku akan menjadi pembunuh bisa - bisa " Darren mengelus pipi istrinya.
Senja mencoba untuk memiringkan badannya menghadap Darren. Senja meringis menahan nyeri, ternyata operasi caesar tidak seenak yang diucapkan orang. Pada umumnya yang tidak pernah merasakan operasi caesar menganggap enak, karena tidak merasakan rasa sakit. Ini sih nggak sakit, tapi panas seperti kulit terbakar dan nyeri.
" Ask, kok masih meringis sih. Kan Dasen sudah keluar " ucap Darren dengan entengnya.
" Yayayaa.... begitulah laki - laki. Tadi katanya khawatir, sekarang malah meledek " ucap Senja sewot.
" Aku bantu ya Ask " Darren hendak berdiri.
__ADS_1
" Enggak - enggak, biar Senja sendiri " tolak Senja.
" Ask, terimakasih sudah melahirkan Dasen. Terimakasih membuatku menjadi laki - laki yang sempurna dan bahagia. Terimakasih memberiku kesempatan dari awal untuk menjadi suamimu, terimakasih juga karena akhirnya kamu juga bisa mencintaiku " ucap Darren dengan tulus.
" Hufttt...akhirnya " Senja lega akhirnya bisa meraih posisi sempurna menghadap suaminya.
" Iya Ask kenapa ? " tanya Senja, Ingin rasanya Darren mengumpat mesra kali ini.
" Ask aku ngomong semesra dan seromantis tadi kamu nggak dengar ? aku harus remidi ? Ask ... Jangan semakin membuatku gemas " ucap Darren pura - pura kesal.
" Senja yang terimakasih Ask, terimakasih sudah sedikit memaksa Senja menjadi istrimu, terimakasih tidak lelah berusaha mendapatkan cinta dari seorang perempuan yang membawamu pada kerumitan ini. Bersamamu, Senja merasa menjadi perempuan paling sempurna dan beruntung di dunia " ucap Senja tak kalah sungguh - sungguh dengan suaminya.
Darren menggeser kursinya lebih dekat ke kepala Senja.
" Ask, kita sudah melewati banyak hal bersama. Aku berharap tidak ada hal berat yang menimpa kita kembali. Tapi kita tidak pernah tau apa rencana Tuhan. Satu hal yang harus kita ingat, kekuatan kita adalah saat kita bersama. Mau cobaan seberat apapun, jika kita ada untuk satu sama lain, maka tidak ada ujian yang perlu kita takutkan " ucap Darren serius.
" Semua ujian pernah kita lalui Ask, hanya satu ujian yang belum. Tapi Senja berdoa itu tidak akan pernah ada dalam pernikahan kita. Aku harap kita sangat - sangat menjaga kesetiaan kita masing - masing. Senja takut Ask. Senja akan menua, badan Senja tidak akan sama seperti dulu, Senja takut kamu akan berpaling. Kamu banyak bertemu dengan perempuan - perempuan muda, cantik dan sempurna " ucap Senja, tersirat kesedihan di sana.
" Semua yang muda pasti akan tua Ask. Apakah aku akan mencampakkan perempuan terus hanya karena ingin mendapatkan yang muda. Tidak seperti itu Ask, cinta itu misteri. Segalanya menjadi masuk akal jika sudah cinta. Apakah cinta itu akan mudah berpaling ? di luar sana banyak perempuan yang lebih cantik dan muda ? apa harus aku jatuh cinta pada semua karena kecantikannya ? tidak bukan. Aku mencintaimu Ask, Jika kamu masih meragukan cinta dan kesetiaanku, sungguh terlalu Ask " ucap Darren, wajahnya semakin dekat pada Senja.
Bae terbangun karena merasa ada suara orang berbicara di luar. Lampu ruangan Darren yang tadi dinyalakan temaram, dinyalakan sepenuhnya oleh Bae.
" Astaga "
🌼🌼🌼🌼🌼🌼
jangan lupa mampir ya kak
__ADS_1
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Ku Dengannya Kau Dengan Dia, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/fictionsWatch?id\=4947079&\_language\=id&\_app\_id\=2