
"Mama yang tau. Mama cuman bilang mau jagain Zain karena Senja pendarahan "jawab Mahendra, lebih baik jujur daripada disalahkan.
Darren mengumpat kesal. Lalu menelpon mamanya.
"Jangan bilang Senja kalau Darren yang menelpon " tanpa salam dan sapa Darren mengawali pembicaraannya via telepon selular.
"Iya jeng "jawab Sarita suaranya sedikit gugup.
"Senja kenapa bisa sampai pendarahan ? sekarang bagaimana keadaannya ? " tanya Darren, tidak sabar.
"Saya tidak tau jeng awalnya kenapa. Tapi sekarang sudah baikan. Air ketubannya sedikit, dokter sudah melakukan tindakan. Menantu saya seger buger "jawab Sarita dari seberang.
"Zain bagaimana ? Zain tidak boleh di lingkungan rumah sakit lama - lama " Darren memijat pangkal pelipisnya.
"Sudah ya jeng, saya mau ke hotel sama cucu saya. Hanya menantu saya yang di rumah sakit. Cucu saya memang harus istirahat " Sarita buru - buru memutus sambungan telponnya.
Raut wajah Darren terlihat sangat lelah, baginya capek fisik tidak menjadi masalah daripada harus mendengar kabar seperti ini. Sangat disayangkan Senja menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Darren tidak habis pikir dengan pemikiran istrinya.
Darren kembali mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Pergi ke rumah sakit bunda, cari dokter nuke katakan pasien Senja Khairunisa kemala sedang di rawat di Rsud gorontalo, Bagaimanapun caranya pastikan pemindahan pasien ke Jakarta segera dilakukan hari ini juga. Kabari aku segera. Aku tidak mau dengar kata tidak bisa " ucap Darren tegas dan langsung menjauhkan ponsel dari daun telinganya.
"Sabar Dar " ucap Mahendra menepuk bahu anak semata wayangnya. Sejak menikah dengan Senja, Darren menjadi semakin dewasa. Apa yang dia lakukan dengan pertimbangan. Tidak sesuka hatinya sendiri seperti dulu.
Darren berniat menunggu kabar dari Yanes di kamarnya ,belum sampai tangga terakhir nomer telpon tidak dikenal menghubunginya.Darren menerima panggilan telponnya.
"Halo .." sapa Darren kurang bersemangat.
"Darren ini mamanya Rafli. Rafli baru sadar, dia ingin bicara dengan kamu. Cepatlah datang " suara Sonya disebrang begitu buru - buru dengan nafas memburu.
__ADS_1
"Baik " jawab Darren singkat.
Darren kembali menuruni anak tangga, alas kaki rumahan, celana chinos santai dan kaos biru dengan lambang brand terkenal di dadanya. Kaos itu tentu saja asli.
Secepat kilat Darren mengendarai Tesla model 3 keluaran terbaru. Jalanan masih tidak terlalu padat karena jam makan siang sudah lewat. Darren belum sadar sejak pagi dia belum memakan apapun.
Meninggalkan mobilnya begitu saja di depan pintu utama lobby, lalu segera menemui Rafli. Sebelumnya Senja memakai baju medis terlebih dahulu.
"Darr, Zain dan Senja bagaimana apakah mereka sudah sampai ? " tanya Rafli suaranya sangat pelan.
"Masih di gorontalo Raf, setelah ini aku akan menjemput mereka. Senja mengalami pendarahan. Tapi dokter sudah menanganinya. Aku hanya bisa menemanimu sebentar. Aku harus mengurus Senja dulu "jawab Darren jujur.
"Tidak mengapa Darr. Maaf merepotkanmu. Darr, terimakasih ya . Aku titip Zain, aku tidak meragukan lagi kasih sayangmu pada Zain apalagi pada Senja. Aku pengen terlepas dari sakit Darr. Aku sudah ikhlas meninggalkan semuanya " ucap Rafli diakhiri dengan sebuah senyuman.
"Tidak Raf. Kamu harus optimis. Kamu belum membayar seujung kuku pun kesedihan yang kamu torehkan di hati Senja " ucap Darren.
"Aku tidak akan pernah bisa membayarnya Darr, tapi kamu sudah nenebus semua dengan baik. Pergilah sampaikan salam dan peluk sayangku untuk Zain dan Senja. Jangan lupa ingatkan Zain untuk selalu mendoakanku " ucap Rafli, senyum selalu menghiasi wajahnya.
"Kalau aku tidak tampan, Senja tidak mungkin mau denganku " Rafli masih sembat becanda.
"Raf kamu harus semangat. Aku urus Senja dulu ya. Aku akan datang setelah Senja sudah kembali. Doakan Senja dan bayi kami sehat " pinta Darren.
"Tentu aku selalu mendoakan Senja.Dia perempuan kuat Darr. Tetap bersyukur meski sekarang dia sakit, setidaknya kamu diberikan kesempatan untuk memanjakan dia "kata Rafli.
" Ya kamu benar, aku menantikan saat - saat Senja membutuhkan aku. Aku merasa dia terlalu mandiri "ucap Darren lirih.
"Darr sekali lagi terima kasih. Aku serahkan Senja dan Zain padamu. Semoga kita bisa bertemu dan berkumpul suatu saat nanti. Kita akan mempertanggungjawabkan perempuan yang sama nantinya " ucap Darren tulus.
"Kamu benar... Aku masih menunggu kabar dari asistenku. Aku akan menemanimu sebentar " ucap Darren membuat Rafli tersenyum.
__ADS_1
"Darr, katakan pada Senja aku menyesal memilih meninggalkannya. Jika aku tau Senja sekuat ini, aku akan memilih menjalani semua berdua dengan Senja. Katakan aku sangat menyesal. Tapi penyesalanku berakhir sekarang. Karena ada laki - laki luar biasa yang mencintai Senja sepertimu "ucap Rafli serius.
"Kamu bisa saja Raf. Senja membuat aku berubah banyak. Aku merasakan sedikit lemah sekarang. Dulu aku merasa tidak pernah akan mengenal namanya takut atau khawatir. Tapi sekarang begitu banyak ketakutan dan kekhawatiran yang terlintas " curhat Darren.
"Itulah cinta Darr, hal yang sama juga terjadi padaku dulu. Soal perempuan ? mana ada kita khawatir. Siapa yang berani menolak kita ? bahkan kalau kita mau serakah, menikahi tiga orang perempuan pun kita sanggup, tapi mengapa malah kita memilih mengikat diri kita pada seorang Senja. Sederhana, gak banyak gaya, tapi cantik dan mempesona luar biasa "ucap Rafli panjang lebar dengan suara mulai seperti biasa.
"Kamu sedang memuji istriku Raf, jangan berlebihan "ucap Darren kesal.
"Darr, biarkan aku berbicara apapun. Kamu tidak akan mendengar ucapan ini lagi nanti " ucap Rafli dengan entengnya.
"Jangan terus berbicara seolah kamu tau waktu kematianmu " ingat Darren.
"Dar tolong panggil mamaku ke sini " pinta Rafli.
Darren memanggil mama Rafli yang sedang menunggu dengan wacah cemas si depan pintu persis.
"Ma, ini terakhir Rafli minta. Jika nanti, besok atau lusa terjadi sesuatu pada Rafli biarkan Senja yang menemtukan jenazah Rafli mau dimakamkan di mana. Mama minta maaflah pada Senja dan tolong mama jangan ungkit lagi masalah ibunya Senja. Di sini ada suami Senja yang menjadi saksi kalau Rafli ingin diurus Senja " ucap Rafli pada mamanya.
"Iya mama janji " ucap Sonya sendu.
"Darr, kalau Senja sudah sehat ajak dia ke rumah kami dulu dan suruh Senja membuka brankas. Kodenya masih sama. Senja tahu kok "suara Rafli terdengar semakin jelas.
Darren membuka pesan berbayar dari Yanes, mengabarkan bahwa semua sudah siap.
"Darr, kamu mau berangkat kan. Katakan pada Senja dan Zain, aku mencintai mereka sampai mati. Jaga baik - baik keluargamu. Jangan sebodoh aku "ucap Rafli seolah tau Darren akan berpamitan padanya.
"Ma minta maaflah pada Senja, tanpa mama mengungkit ibunya Senja. Mama harus janji " ucap Rafli lagi.
Darren berpamitan.Bicara Rafli semakin meracau tidak jelas hingga suaranya semakin lirih lalu tidak terdengar.
__ADS_1
Tiiitttttttttttt......
Bunyi panjang layar monitor pendeteksi organ vital Rafli berbunyi, tepat ketika Senja menjatuhkan segelas air putih yang diambilnya di atas nakas di samping brankarnya.