Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Sakitnya bareng - bareng


__ADS_3

Perawat itu mendekati Darren, setelah Darren menyelesaikan panggilan mesranya pada Senja.


" Bapak dari Indonesia ? " tanya perawat itu, ramah tapi sopan dengan bahasa indonesia.


" Iya bener " jawab Darren singkat.


" Saya juga dari Indonesia pak, tapi sudah tujuh tahunan saya tidak pulang " ucap perawat, tanpa ditanya.


" Oh... " Darren menjawab tanpa menoleh. Jempolnya masih asik mengetikkan pesan pada Senja. Baru saja telpon rasanya belum puas Darren menanyakan aktivitas Senja tanpa dirinya.


Perawat itu merasa tidak mendapatkan lawan bicara yang ramah kali ini. Tidak seperti warga negara indonesia lain pada umumnya, yang selalu ramah dan senang jika bertemu sesama warga negara Indonesia saat di negara lain.


Darren berdiri, dengan santai meninggalkan perawat yang masih melihatnya dengan heran.


Mahendra keluar dari ruang rawat Hutama, lalu menyuruh Darren bergantian masuk ke ruangan.


Darren tersenyum pada opanya. Hutama terlihat berusaha tersenyum, meski bibirnya yang tertarik ke kiri tidak bisa bergerak sama sekali. Tapi sorot matanya jelas terlihat bahagia melihat kedatangan Darren.


" Opa harus sembuh, Senja menunggu pesanannya. Kenapa kalian berdua senang sekali bermain rahasia " ucap Darren, mata Hutama merespon dengan mengedipkan matanya.


" Opa harus semangat, biar semua stabil. Setelah itu kita akan pulang ke Indonesia " Darren menggenggam tangan Hutama, lagi - lagi Hutama hanya mengedipkan matanya.


" Opa hebat, pasti opa akan kembali seperti semula. Masih mau tambah cucu buyut lagi kan ? Darren akan memberikan empat lagi pada opa " ucap Darren asal, membuat bola mata Hutama memutar pelan, biasanya kalau sudah begitu tandanya Hutama tidak menganggap Darren hanya membual.


Perawat yang mengajak Darren bicara tadi masuk. " Maaf pak, pasien harus istirahat. Bapak bisa datang lagi besok di jam yang sama seperti hari ini. Jangan khawatir karena kami selalu giliran menjaga selama 24 jam " ucapnya.


Darren hanya menanggapinya dengan anggukan.


" Opa, Darren kembali ke hotel dulu ya. Opa cepet pulih. Kita tidak boleh meninggalkan Senja lama - lama " ucap Darren sambil mengerlingkan satu matanya.

__ADS_1


Perawat itu terus memperhatikan semua polah Darren, sehangat itu pada keluarganya tapi begitu acuh pada orang lain, sungguh kepribadian yang unik. Begitu kira - kira pemikiran perawat itu.


********


Sudah tiga hari Hutama dirawat intensif di ruangan khusus, hari ini Hutama sudah diperbolehkan untuk dipindah ke ruangan rawat biasa. empat atau lima hari lagi jika kondisi Hutama stabil dan bahkan lebih baik maka mereka diperkenankan untuk membawa Hutama kembali ke Indonesia.


Darren uring - uringan dari pagi, pasalnya telepon dan pesan darinya sama sekali tidak dibalas oleh Senja. Monitor cctv rumahnya pun kelupaan tidak dibawanya.


Padahal di rumah, Senja sedang disibukkan dengan Zain, baby De dan Dasen yang batuk pilek bersamaan disertai demam. Zain yang tertular dari temannya di sekolah membuat adik - adiknya yang masih rentan pun ikut tertular. Baby De kalau sakit, tentu saja Aleandro dan Chun Cha menyerah. Semuanya ingin berdekatan dengan mamanya. Jangankan memegang ponsel, untuk buang air kecil saja Senja kesulitan.


Seorang ibu memang multi tasking. Merawat tiga orang anak yang sakit dengan tingakat kerewelan yang berbeda, tapi pada intinya ketiganya harus menempel dengan mamanya.Jadilah satu bantal di pangkuan Senja berisi tiga kepala anak - anaknya.


" Chun, tolong buka ponsel kakak dong, cari kontaknya dokter Vano. Teleponin dokter Vano, suruh datang secepat yang dia bisa. Nih anak - anak batuk nya kadang - kadang saja, pileknya yang lumayan mengganggu dan demamnya sebenarnya masih bisa diatasi sendiri di rumah. Intinya kakak mau anak - anak cepet sembuh " ucap Senja tidak panik, tapi lebih ke lelah jika membiarkan kondisi seperti ini lebih lama. Karena kurang istirahat dan makan yang tidak teratur dari kemarin, badan Senja pun mulai tidak fit.


Begitu banyak orang di rumah mereka, De seharusnya ada baby sister dan Chun Cha, tapi siapa yang paling dibutuhkan seorang anak ketika sakit selain ibunya. Ada beberapa yang tidak seperti ketiga anak Senja, itu pun pasti karena terbiasa bersama orang lain. Baby De saat sehat kalau sudah terlanjur melihat Senja, pasti susah diajak yang lain. Kalau Zain, andai ada Darren pasti lebih mudah. Zain mau bersama daddynya di segala kondisi.


Satu jam kemudian, Vano datang ke rumah Senja.Chun Cha yang menyambut kedatangan Vano mengantarkan dokter ganteng itu menuju kamar Darren dan Senja sementara di lantai satu.


" Pada nggak mau pisah ini Van " jawab Senja pelan.


" Hai Zain, jagoan kok nempel mulu sama mamanya " ledek Vano, sambil mulai memeriksa Zain yang terkulai lemas.


Setelah Zain, Vano bergantian memeriksa Dasen dan baby De bergantian.


" Nja, boleh aku mengambil sample darahnya De? kalau tidak percaya sama aku. Kamu harus segera memeriksa sendiri besok ke lab. Kalau sekarang aku bisa meminta hasilnya keluar dengan cepat " ucap Vano, serius.


Senja, menggeser bantal pelan, membuat pangkuannya lega sesaat, tapi tak lama karena baby De dan Zain langsung merengek. semnetara Dasen tentu anteng karena ada di gendongan satu tangannya.


" De sama mommy ya ? sebentar saja " tawar Chun Cha, lembut. Tapi tangis baby De semakin keras.

__ADS_1


" Sudah Chun, biarkan saja di sini. Kaki kakak kebas, kakak cuman mau ganti posisi "


Chun Cha tidak tega pada kakaknya yang terlihat sangat lelah.


" Memangnya ada yang serius kah Van ? De hanya flu biasa, Imunnya mungkin belum terlalu bagus " tanya Senja, kekhawatiran jelas nampak dari wajahnya.


" Tidak, aku hanya memastikan saja Nja. Sepertinya imun De terlalu berlebihan menanggapi penyakitnya sendiri. Imun De seperti menyerang dirinya sendiri. Aku akan memeriksanya segera. Bukankah De baru keluar dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu ? " tanya Vano memastikan.


" Iya Van, bener "


" Aku ambil ya Nja, biar hasilnya cepet "


" Ya sudah ambil saja Van " ucap Senja akhirnya.


" Zain bobo di samping mama bisa kan ? masak calon dokter nempel mulu sama mamanya " ledek Vano sekali lagi. Tapi berhasil membuat Zain menggeser tubuhnya perlahan. Hingga di bantal itu tersisa baby De dan Dasen.


" Nah gitu dong dokter Zain " ucap Vano, melirik Senja yang terlihat sedikit lega. Vano mengambil alat dan jarum untuk mengambil sample darah De. " Semoga bukan sih Ngga, autoimun itu kadang suka sama gejalanya dengan anak yang emang gampang sakit karena imunnya lemah. Kita lihat hasilnya besok ya. Untuk Zain, aku kasih obat aja. Asal makannya tetep, istirahat cukup pasti cepet sembuh. Untuk Dasen kamu saja ya yang minum obatnya, kan dia Asi. Dibantu nyala'in difuser saja, tetesin baby essence oil untuk flu biar tidurnya nggak keganggu hidung kesumbat " kata Vano panjang lebar, dari mengambil sample sampai selesai, dia terus berbicara.


Chun Cha di luar menerima sambungan telepon dari kakak iparnya.


" Iya kakak ipar " sapa Chun Cha, perasaannya langsung tidak enak. Kakak iparnya itu hanya akan menghubunginya kalau ada yang ingin diketahui tentang kakaknya.


" Chun, kamu ke rumah kakak sekarang " perintah Darren, suaranya ketus tidak bersahabat.


" Chun sekarang sudah di rumah kakak. Terus disuruh ke rumah kakak yang mana lagi " jawab Chun Cha tak kalah ketus.


" Kakakmu sedang apa ? kemana saja ? kenapa seharian tidak menghubingi aku ? " tanya Darren masih kesal.


" Kakak lagi sama dokter Vano di kamar "jawab Chun cha tidak lengkap.

__ADS_1


Tut....Tut....Tut....... sambungan ponsel seketika terputus sepihak.


__ADS_2