Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Mendiamkan Senja


__ADS_3

" Ini Rud, Sekarang kamu pulang saja. Besok pagi jam tujuh kamu harus sudah ada di sini. Bawakan dompetku, minta ke bu Senja. Makasih ya Rud " ucap Darren, raut wajahnya berubah dratis setelah mendengar ucapan Senja tadi.


Darren menatap wajah Zain yang tertidur pulas, lalu membelai lembut rambut Zain.


" Apa selama ini yang daddy lakukan kurang Zain ? apa memang selamanya kalian akan menganggap daddy sekedar peran pengganti ? Daddy sangat menyayangimu Zain. Tidak akan berkurang kasih sayang Daddy, meski kalian meragukannya " ucap Darren lirih.


Darren membaringkan badannya di ranjang penunggu yang jaraknya hanya tiga meter dari brankar Zain. Berusaha memejamkan mata. pikiran yang lelah justru membuat matanya enggan terlelap.


Kata - kata Senja begitu terngiang di telinganya. Darren tahu posisi Rafli sebagai papa kandung Zain tidak akan terganti, tapi perlukah Senja menegaskan dengan kata - kata seperti itu. Bukan pengakuan yang Darren harapkan. Setelah apa yang dia lakukan, dia juga tidak perlu balasan. Jika memang dia belum pantas menjadi sosok ayah, tidak bisakah Senja menyimpannya di dalam hati saja. Tidak perlu diucapkan.


Kepala Darren sedikit berat ketika terbangun karena kedatangan Rudi. Darren baru tertidur dua jaman yang lalu. Rudi datang masih pukul enam pagi. Zain pun masih tidur dengan pulasnya.


" Maaf pak, jadi membangunkan bapak. Ini barang - barang bapak dan gantinya den Zain. Bu Senja bilang dompetnya ada di dalam " ucap Rudi.


" Terimakasih ya Rud " ucap Darren, beranjak ke kamar mandi untuk menyegarkan kepalanya yang terasa berat.


Akhirnya tepat pukul delapan lebih tiga puluh menit Zain dan Darren keluar dari rumah sakit. Di awal perjalanan keluar dari rumah sakit Darren melihat ada sebuah counter handphone resmi sudah buka.


" Rud, kita berhenti di counter itu sebentar " ucap Darren, tangannya menunjuk ke arah counter yang dominan dengan warna hijau itu.


Darren langsung membeli tiga ponsel dengan merk dan type yang sama. Bukan yang tertinggi di merknya, tapi masih terbaru. Masih berkisarbdi harga tiga jutaan. Setelah membayar dengan kartu debitnya, Darren menenteng bag berbahan semi kain berwarna hijau.


" Langsung pulang Rud " perintah Darren.


" Dad, apa daddy capek ? "tanya Zain.


" Tidak Zain, daddy sedikit pusing " jawab Darren.

__ADS_1


" Maafkan Zain ya dad, Zain selalu merepotkan daddy. Karena Zain daddy harus mengeluarkan uang untuk obat - obatan Zain. Kalau sudah besar nanti, Zain akan lebih sukses dari daddy. Zain akan ingat bagaimana daddy mengurus Zain. Sesibuk apapun Zain, Zain janji tidak akan mengabaikan daddy " ucap Zain tulus.


Darren merangkul Zain yang duduk menempel dan bersandar di lengannya. Ingin rasanya Darren menangis mendengar ucapan Zain. Begitu tulus.


" Daddy sama sekali tidak repot Zain, daddy pengen Zain tumbuh sehat. Daddy selalu berdoa Tuhan memberikan kesehatan untuk Zain. Daddy tidak peduli nanti Zain akan menjadi apa, bagi Daddy melihat Zain sesehat ini sudah cukup. Mulai sekarang, daddy akan menjaga Zain lebih baik. Maafkan daddy Zain. Daddy benar - benar tidak tahu kalau Zain ada alergi seafood " ucap Darren, sekuat mungkin menahan air mata yang menggenang jatuh di pipinya.


Darren sangat sentimentil sejak kelahiran Dasen. Hal - hal yang berhubungan dengan anak - anaknya adalah yang paling sensitif baginya.


Mobil berhenti di halaman samping rumah, karena di depan ada mobil Sarita. Rupanya Sarita langsung berkunjung begitu mendengar Zain mengalami alergi.


Rudi membukakan pintu mobil, Darren memegangi tangan Zain untuk turun. Kondisi Zain sudah biasa saja, hanya tersisa sedikit kemerahan di permukaan kulitnya.


" Rud, bisa kita bicara sebentar ? " tanya Darren.


" Waduh mati aku. Piye jall nek aku dipecat, anak bojoku arep mangan opo. mak'e piye nek gak iso tuku obat. Mesti gara - gara sing hot wingi iki ( gimana coba kalau aku dipecat, anak istriku makan apa. Ibuk gimana kalau tidak bisa beli obat. Pasti gara - gara yang hot kemarin ) " batin Rudi.


" Bisa pak " jawab Rudi, ragu.


" Siap dadd " sahut Zain cepat.


" Rud, ini ada hadiah dari kami sebagai permintaan maaf karena kami sering mengganggu konsentrasi bekerjamu. Ini ada tiga, Untuk kami sendiri, istrimu dan juga anakmu. Jika kamu ada kesulitan yang lain, jangan ragu untuk mengatakan pada kami, kami tidak mau mendengar kalian kesulitan ekonomi sementara kami hidup dalam kenyamanan. Kita sama - sama saling membutuhkan. Ambillah cuti tiga hari untuk menikmati lebih banyak waktu bersama keluargamu. Cek rekening gajimu, pakailah uang itu dengan bijak. saya tidak tau apa kesulitanmu, maaf kalau saya salah menebak. Tapi saya yakin kamu membutuhkan uang itu " ucap Darren panjang lebar.


Rudi tidak bisa berkata - kata lain lagi selain ucapan terima kasih. Rudi merasa sangat bersyukur, meskipun dia masih tergolong pegawai baru, tapi perlakuan bos nya selalu baik. Rudi sangat terharu dengan perhatian bosnya yang sangat berlebihan baginya.


Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja Darren menemui baby Dasen di kamarnya. Semalaman tidak bertemu, sungguh membuat Darren rindu pada tangisan titisannya itu.


" Selamat pagi sayang, bagaimana tidurmu semalam ? pasti rewel kan ? " uvap Darren sambil membungkukkan badannya untuk membuat posisi kepalanya sejajar dengan Dasen yang sedang berada dalam gendongan Senja.

__ADS_1


" Cuma Dasen saja yang di sapa. Mama nya enggak ? " tanya Senja, bibirnya sudah maju satu senti.


Darren mencium kening Senja sekilas, tanpa kata tanpa suara.


" Ask kata Zain kamu sakit, kenapa berangkat kerja ? " tanya Senja.


" Yanes cuti, siapa lagi yang bisa diandalkan " Jawab Darren datar tanpa melihat wajah istrinya. Sampai saat ini Darren belum menemukan sekretaris yang sesuai dengan kriteria dari Senja. Zena dibebas tugaskan lima hari setelah psikotest abal - abal yang diadakan Senja dua hari setelah Zena datang ke rumahnya.


" Aku sudah memasakkanmu sarapan. Ayo Senja temenin makan dulu " ajak Senja.


" Aku ada meeting pagi, nggak keburu kalau sarapan dulu " ucap Darren, mengambil clutch dark brown miliknya dan keluar kamar.


Senja merasa aneh dengan sikap Darren, mereka sesang tidak bertengkar atau mendebatkan sesuatu, tapi kenapa Darren seperti sesang mengacuhkannya. Senja mengikuti langkah Darren dengan cepat.


" Pagi ma " sapa Darren pada Sarita.


" Pagi Darr, langsung kerja ? " tanya Sarita.


" Iya ma " jawab Darren singkat.


" Sudah sarapan ? " tanya Sarita lagi.


" Kenyang ma " jawab Darren lagi - lagi singkat.


Sarita masih hafal kebiasaan anaknya ketika ada sesuatu yang membuatnya tidak enak hati, Senja terlihat terburu - burup menyusul Darren.


" Darren berangkat dulu ma " pamit Darren, langsung berjalan ke arah luar, Senja kembali menyusul suaminya.

__ADS_1


" Ask... Askim ... Ask " panggil Senja berulang - ulang.


Darren menghentikan langkahnya, tanpa menoleh pada Senja.


__ADS_2