
Sesampainya di rumah sakit, keluarga dari Rafli nampak sudah memasuki ruang persemayaman jenazah. Rafli sudah disucikan, karena permintaan Senja Rafli belum dikafani.
"Zain, denger mama. Papa dan mama sudah pisah. Itu artinya papa dan mama sudah tidak boleh bersentuhan lagi. Papa sudah disucikan.Jadi sekarang Zain nemuin papa sama om Darren ya. Ingat mama bilang, boleh nangis, boleh sedih, boleh marah tapi nanti. Jangan di depan papa " ucap Senja selalu hati - hati.
Zain hanya mengangguk, kemudian menghampiri Darren dan langsung menuntunnya ke dalam ruang jenazah Rafli berada.
"Kamu terlihat tampan dengan senyummu itu Raf. Tidurmu terlihat damai dan tenang " icap Darren lirih.
"Papa selalu tampan om, papa adalah orang terbaik dalam hidup Zain " sahut Zain.
"Tentu saja "ucap Darren menepuk pundak Zain.
"Pa, kenapa papa pergi tidak memeluk Zain dulu ? papa pasti tidak ingin Zain sedih ya ? Zain nggak sedih pa. Zain akan menjadi laki - laki sehebat papa. Zain akan menjaga mama. Papa sering - sering dateng ya ke mimpi Zain " ucap Zain lirih tangannya sigap membantu menempelkan kapas di seluruh lubang yang ada di tubuh Rafli.
Rajata mendekati Zain, menepuk pundak Zain bangga. Jelas Zain menuruni sifat Rafli.
Zain membantu mengkafani papanya dengan tenang, berkali - kali Darren melirik dan memandang Zain, hanya untuk memastikan Zain baik - baik saja. Zain sedang berusaha tegar. Ingin menangis, tapi dia takut tetesan air matanya membuat berat langkah papanya.
Sakitnya membuat Zain akrab dengan kematian. Tidak sedikit kematian di depan matanya terjadi. Beberapa teman yang sama - sama mengikuti terapy meninggal. Saat itu papanya hanya mengatakan kematian pasti datang. Kematian tidak memandang umur, sakit atau sehat.
"Sudah selesai pa, Papa ternyata yang duluan pergi. Zain sudah tidak lagi bisa melihat wajah papa, sudah tidak lagi bisa mendengar suara papa, tidak ada lagi pelukan papa. Tapi Zain punya banyak kenangan bersama papa, itu cukup bagi Zain " ucap Zain lirih , tapi masih terdengar jelas di telinga Darren.
Rafli dimasukkan ke dalam keranda. Rafli pernah berpesan pada Senja saat berbicara asal, kalau meninggal Rafli tidak mau tubuhnya dikuburkan bersama peti.
__ADS_1
Keranda sudah dinaikkan ke dalam mobil ambulance. Zain meminta Senja ikut masuk ke dalam ambulanve bersamanya.
Sirine ambulance dinyalakan, driver perlahan menggerakkan rodanya merangkak maju diikuti deretan mobil di belakangnya.
"Sekarang kamu benar - benar pergi mas. Kamu benar - benar pergi. Terimakasih karena kali ini kamu tidak membawa Zain " ucap Senja lirih.
"Maafkan papa dan Zain ma. Ternyata melihat kematian orang yang kita cintai itu todak enak. Tapi papa membuat mama pernah melihat kematian Papa dan Zain bersamaan " ucap Zain tak kalah lirih. Zain memang mengerti kejadian sesungguhnya, karena Rafli selalu menceritakan pada Zain yang sebenarnya. Meskipun dengan bahasa yang lebih ringan, Zain selalu bisa menangkap intinya.
"Papa yang tenang, Zain tidak akan lupa mengirim doa untuk papa "janji Zain.
Senja merengkuh pundak Zain,menempelkan Zain ke dadanya, meski geraknya terbatas karena infus dan kondisinya, Senja tetap ingin menemani Zain dan selalu ada buat Zain.
Zain mengeratkan genggaman tangannya, menyandarkan kepalanya dipundak Senja begitu jenazah Rafli dimasukkan ke dalam liang lahat. Senja memejamkan matanya, tak mampu melihat kenyataan. Suara adzan mengalun dari bibir Darren. Hati Senja semakin teriris. Darren menunjukkan kebesaran hati dan cintanya sampai sejauh ini.
"Selamat jalan mas. Terimakasih untuk semua hal yang sudah mas berikan. Maaf jika Senja sempat menyumbangkan luka di hati mas " ucap Senja lirih sambil menaburkan bunga di atas tanah basah Rafli.
"Pa, damai di sisi Tuhan ya. Doa Zain akan menemani papa. Papa harus janji datang dalam mimpi Zain. Zain akan nurut sama mama dam om Darren. Papa tidak akan tergantikan oleh siapapun " ucap Zain, Darren tersenyum mendengarnya.
Satu persatu petaziah sudah meninggalkan makam. Tersisalah Senja, Darren, Zain, Sarita, Sonya, Rajata, Raisa dan seorang perawat yang merawat Senja. Sonyalah yang terus menangis histeris. Sedangkan yang lain tampak begitu tegar.
Gundukan tanah basah tertutup bunga mawar merah dengan nisan bertuliskan Rafli Putra Rajata menjadi fokus semua yang masih berdiri di sana. Di sebuah pemakaman mewah, di pinggiran Jakarta. Di sanalah Senja memutuskan Rafli dimakamkan.
Zain tidak pernah sebentarpun melepas genggaman tangan Senja. Ada begitu banyak yang ditahan oleh Zain. Berpisah dengan Senja, merasakan sakit kanker dan menjalani berbagai pengobatan menuntut Zain menjadi seorang anak yang lebih dewasa daripada umurnya.
__ADS_1
Sonya mendekati Senja, bersimpuh di samping kursi roda Senja.
"Nja, mama minta maaf. Ini semua salah mama, andai mama tidak egois dan bisa mengendalikan kebencian mama, Rafli tidak akan benar - benar meninggalkan kita "ucap Sonya dengan deraian air mata.
"Semua sudah berlalu nyonya, saya tidak mau membahas apa yang telah terjadi, permintaan maaf anda tidak dapat mengembalikan keadaan " ucap Senja tegas.
"Nja, tolong maafkan mama. Mama tidak bisa hidup dengan penyesalan seperti ini. Mama mohon "ucap Sonya lagi.
"Sudah seharusnya anda hidup menyimpan penyesalan. Setelah apa yang anda lakukan. Memisahkan saya dengan mas Rafli itu masih masuk akal, tapi membuat Zain melalui semua tanpa saya itu sangat kejam nyonya "ucap Senja, lalu memberi kode pada perawat untuk membawanya pergi dari sana.
Zain masih setia menggenggam tangan Senja. Zain tidak mau terpisah dari Senja, jadilan mereka duduk berhimpitan dalam satu bangku.
"Ask, kita ke taman yang ada danaunya " ucap Senja pada Darren.
"Zain tidak mau kemana - mana. Zain ingin pulang ke rumah kita. Rumah di mana banyak foto mama, papa dan Zain " ucap Zain.
"Rumah kami dulu ask " ucap Senja lirih.
"Baiklah kita akan ke sana " ucap Darren.
"Zain bersandarlah pada mama, menangislah nak. Papa sudah tenang. Sekarang ambil waktu Zain untuk bersedih "bisik Senja.
Zain menggeleng lemah. "Papa tersenyum ma, papa bahagia. Kenapa Zain harus bersedih sekarang ? kenapa Zain harus menangis lagi ? Kalau Zain menangis apa papa akan bangun lagi ? "tanya Zain, miris.
__ADS_1
"Tentu tidak sayang, papa tidak akan bangun lagi. Papa sudah tenang dan bahagia di sisi Nya. Tugas kita melanjutkan apa yang menjadi cita - cita papa "ucap Senja memberikan senyuman di ujung kalimat.
"Zain capek ma, Kenapa Tuhan menukar kehadiran mama dengan papa. Tidak bisakah Tuhan membiarkan Zain merasakan kebersamaan bersama mama dan papa lebih lama " ucap Zain sendu ,semakin menenggelamkan kepalanya pada bahu Senja.