
Seperti rutinitas sebelumnya sejak Dasen lahir. Setiap pulang kerja Darren mandi dan ganti pakaian dulu di kamar lamanya di lantai dua. Setelah segar dan wangi barulah mememui istrinya.
" Halo sayang - sayangnya Daddy " sapa Darren, melihat Senja, Dassen dan Zain berkumpul di ruang keluarga.
" Halo Dad " jawab Senja dan Zain kompak.
" De belum dianter ke sini ? " tanya Darren, tangannya mengusap punggung Senja.
" Tadi sudah datang tapi di bawa pulang kembali sama kak Al " jawab Senja, kekesalan kembali keluar mengingat peristiwa tadi.
" Kok kesel ? kan De sama daddynya " kata Darren, bisa bicara seperti itu karena belum tau cerita sebenarnya.
" Iya sama daddynya. Tapi kalau perginya g wajar, itu jadi masalah. Kamu tau Ask, bahkan De menangis memanggil aku, saat dipaksa pulang tadi. Kak Al sepertinya sedang banyak masalah. Sensitifnya ampun - ampunan " cerita Senja begitu bersemangat.
" Memangnya kenapa Ask ? " tanya Darren penasaran.
Senja menceritakan dengan mengebu - gebu mulai dari awal hingga akhir. Kekesalan Senja, jelas bisa Darren rasakan dan maklumi. Darren sendiri tidak terima Zain dan Senja diperlakukan seperti itu oleh Aleandro. Darren beranjak mengambil kontak motor sport yang baru di beli setelah seminggu Dasen lahir. Motor itu dibeli karena Zain yang ingin merasakan jalan - jalan keliling komplek naik motor.
" Mau kemana Ask ? " tanya Senja khawatir dengan reaksi emosional suaminya.
" Ask, mau ke mana " tanya Senja ikut beranjak, tapi geraknya tidak bisa mengikuti kecepatan Darren. Apalagi ada Dasen di gendongannya, sudah pasti gerakan Senja menjadi tidak terlalu gesit.
" Aku tidak terima istri dan anakku dibentak dan diperlakukan seperti itu. Al pikir hamil dan melahirkan mudah. Dia nggak merasakan gimana menghadapi kamu waktu hamil dan melahirkan. Apa hak Al membentak Zain. Aku saja tidak pernah membentak Zain. Jangan larang aku menemui Al. Dia harus berurusan denganku karena berani meragukan kebaikanmu dan memarahi Zain "ucap Darren, matanya jelas memperlihatkan kemarahan.
Meskipun Senja terlihat mendominasi, tapi jika Darren sudah seperti sekarang ini, lebih baik Senja memilih mengalah. Darren yang sedang emosi dengan orang lain tidak mudah ditakhlukkan sebelum keinginannya terpenuhi.
Senja hanya bisa pasrah melihat Darren pergi mengendarai motornya ke rumah Aleandro yang jarak tempuhnya hanya lima belas menit saja dari rumah mereka jika menggunakan motor.
__ADS_1
" Zain tidur di bawah saja sama mama ya. Di lantai dua kan nggak ada mbak sus atau siapapun. Nanti kalau sudah satu bulan usia adek Dasen, mama pindah lagi ke atas " ucap Senja, mengajak Zain masuk ke kamar karena besok Zain juga sudah boleh kembali ke sekolah.
Darren memarkir motornya sembarangan di depan pintu rumah Aleandro. Dengan tidak sabar menekan bel pintu berulang - ulang. Seorang asisten rumah tangga di rumah Aleandro membukakan pintu dan menyuruh Darren menunggu di ruang tamu.
Tidak sampai lima menit, Aleandro keluar dengan santai seperti tidak terjadi apapun tadi siang di rumah Darren.
" Minta maaf sama istri dan anakku " ucap Darren datar.
" Minta maaf ? untuk apa ? aku tidak salah " Jawab Aleandro, santai.
" Aku bilang minta maaf pada istri dan anakku" ulang Darren sekali lagi.
" Aku tidak salah Darr " Aleandro masih bertahan pada sikapnya.
" Ini terakhir aku memintamu Al. Minta maaf pada isti dan anakku sekarang " Darren pun tidak kalah keras dalam mempertahankan kemauannya.
" Baiklah kalau ini kemauanmu Al. Mulai sekarang jangan libatkan istriku apapun yang bersangkutan dengan anakmu, jangan sampai kamu meminta tolong pada istriku. Jangan pernah memohon belas kasihan istriku. Ingat Al, bagaimana proses kalian mendapatkan baby De, dari proses awal bayi tabung hingga melahirkan, apa itu mudah ? saat melahirkan De aku saksinya, bagaimana Senja bersedia meletakkan hidupnya berdampingan dengan kematian. Mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan seorang anak yang bukan darah dagingnya. Jika balasanmu seperti ini, jangan harap aku akan mengikhlaskan istriku ikut mengurus De lagi. Kita lihat saja apa kamu sanggup mengurus De sendirian " ucap Darren, lalu meninggalkan rumah Aleandro dan kembali ke rumahnya dengan cepat.
" Mulai sekarang jangan kamu berhubungan dengan De tanpa persetujuanku. Jangan menemui De apalagi membawa De menginjakkan kakinya di rumah ini. Jangan membantah " ucap Darren tegas.
" Tapi Ask, ini salah paham. Tidak perlu kita menanggapinya secara serius. Mereka hanya anak - anak yang sedang berebut mainan. Sebentar mereka juga bakal baikan satu dengan yang lain setelah bertemu nanti " Senja mencoba merubah pandangan suaminya.
" Kita sedang tidak membicarakan Zain dan De Ask. Ini tentang Al yang tidak tahu diri dan melebihi batasannya. Jangan membantahku kali ini, biarkan Al mengurus De sendiri. Jangan coba - coba menghubungi baby sisternya atau siapapun. Kalau sampai aku tahu kamu menghubungi mereka, bersiaplah melihatku dan Aleandro beradu kekuatan fisik.Entah aku atau Al yang akan berdarah - darah " ancam Darren.
Senja hanya mengangguk pasrah. Jika sudah seperti ini, dia pun tidak berani menentang suaminya.
Dua jam kemudian, emosi Darren sudah mulai reda. Senja pun berusaha santai, bagaimana pun De memang bagian dari dirinya. Bohong kalau Senja tidak sedih saat mendengar suaminya benar - benar memutuskan hubungan mereka dengan baby De. Suasana meja makan pun cukup sunyi, tidak seramah biasanya. Ketiganya ditambah Dasen dalam dekapan Senja, sibuk dengan pikiran masing - masing.
__ADS_1
Ketegangan baru terurai ketiga berempat kembali ke kamar. Darren dan Zain terdengar bercanda saat sikat gigi bersama.Senja menggoda Dasen yang sudah setengah mengantuk tapi mulutnya masih asik menghisap sumber makanan utamanya.
" Ask, memangnya besok beneran mau ke kantor ya ? " tanya Darren hati - hati sambil memijat kaki istrinya.
" Ya iyalah Ask, kasihan kalau ditunda - tunda. Gak dapet - dapet sekretaris ntar " jawab Senja, satu tangannya mengusap punggung Zain.
" Terus Dasen gimana ? " tanya Darren lagi.
" Ya diajak sebentar Ask, kan di dalam ruanganmu sepi kan. Pasti juga steril. Kalau nggak diajak, memang siapa yang bisa jadi pawang titisan Darren selain Senja ? " ucap Senja setengah bertanya.
" Terus kenapa milihnya dua orang itu Ask ? " tanya Darren sedikit curiga.
" Feeling saja " jawab Senja, lalu memasukkan kembali kendi kehidupan Dasen ke dalam wadahnya. lalu perlahan menidurkan Dasen di atas kasur perlahan. Darren tidak berani protes dan merusak mood Senja. Karena dia butuh bantuan, opera sabun tidak lagi asik begitu Darren merasakan sentuhan Senja lebih mempercepat proses pencapaiannya.
Darren melirik Zain yang juga sudah mulai pulas, dengkuran halus terdengar. Dua jagoannya berhasil ditidurkan lebih awal malam ini.
" Ask waktunya aku sekarang " bisik Darren, sambil menarik istrinya agar turun dari ranjang.
" Ada Zain Ask " ucap Senja.
" Di kamar mandi, sebentar saja. ini sudah pengen banget. Mau ya ? " tanya Darren, wajahnya memelas tapi malah bikin gemas.
Senja menarik tangan Darren ke dalam kamar mandi mereka. Dengan gerakan cepat, Darren melepas celananya. Kali ini Senja mengawalinya dengan ciuman hangat, ciuman yang membuat bagian inti suaminya tergugah tanpa sentuhan.
Belum sampai lima menit, Darren melepas ciumannya karena sudah tidak tahan dengan gerakan nakal tangan Senja yang tidak berhenti naik turun memainkan kepemilikannya. Senjapun seperti biasa langsung menunduk, berlutut patuh di depan sesuatu yang sudah menuntut lebih. Darren pun mulai menahan erangan nikmat karena permainan lidah istrinya yang selalu luar biasa. Sebelum ada sesuatu yang tumpah tidak pada tempatnya, Darren menarik kepala istrinya untuk menjauh dari kepemilikannya. Kali ini Darren memegangnya sendiri, semantara tangan Senja mengelus dan memutar lembut pucuk hitam suaminya. Darren pun terpuaskan kembali untuk kedua kalinya di hari ini.
" Terimakasih ya Ask, selalu enak " ucap Darren, selalu setiap selesai mendapatkan kenikmatan.
__ADS_1