Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Burung papa


__ADS_3

Sampai di Jakarta, Rafli segera ditangani tim dokter yang sudah menunggu. Sesuai permintaan Rafli, dia menghubungi Raisa melalui ponsel Senja.


Dua jam berlalu sejak sampai di Jakarta, sejak Rafi memasuki ruangan khusus, tapi Senja belum menghubunginya. Darren memandangi ponselnya dan juga ponsel Senja sekaligus.


"Bagaimana keadaan Rafli ? Kamu suami Senja bukan ? " tanya Sonya yang datang tergopoh - gopoh bersama Rajata. Darren melirik sekilas lalu mengangguk dan menunjuk ruangan Rafli.


Sonya dan Rajata segera berhambur ke sana. Tapi karena tidak bisa masuk, mereka hanya bisa melihat tubuh Rafli yang sangat lemah dari kaca tembus pandang berukuran satu kali dua meter.


"Di mana Senja ? " tanya nyonya Sonya, tumben nada suaranya lembut.


"Buat apa mencari istriku ? " selidik Darren.


"Aku hanya ingin minta maaf, aku hanya ingin memohon Senja untuk meyakinkan Rafli agar melakukan pengobatan secara benar " jawab Sonya, tatapan matanya memelas tidak angkuh seperti biasanya.


"Tanpa anda memohon, Senja sudah melakukannya "sahut Darren, matanya masih fokus memandangi layar ponsel.


"Kembalikan Senja pada Rafli " pinta Sonya, Darren langsung mengalihkan pandangannya pada Sonya. Matanya menghunus tajam manik hitam Sonya yang dipenuhi genangan air mata.


"Tidak !! Aku tidak pernah mengambil Senja dari Rafli. Tidak ada keharusan ataupun alasan untuk aku melakukan itu "jawab Darren ketus.


"Tolong ! Pertemukan kami dengan Senja, Kami mohon. Kami tahu kesalahan kami cukup banyak dan tidak termaafkan. Tapi kami hanya orangtua yang ingin anaknya juga mendapat yang terbaik. Senja memang baik, tapi tidak dengan ibunya. Rafli berkorban banyak untuk itu. Kami harus bicara dengan Senja. Wulandari dan laki - laki breng***nya sudah meninggal. Harusnya Rafli senang. Ini tidak adil buat Rafli, Senja harus tau pengorbanan Rafli. Senja harus membayar pengorbanan Rafli dengan kembali pada Rafli " ucap Sonya panjang lebar penuh emosi.


"Ada apa dengan ibunya Senja ? " tanya Darren penasaran.


"Aku tidak akan memberitahumu, sebelum aku bertemu Senja "ucap Sonya.


"Dan aku lebih baik tidak tahu daripada harus mempertemukan Senja dengan kalian " ucap Darren tajam. Sorot matanya benar - benar menghujam. Sonya kembali menataonya, tatapannya juga tidak kalah menghunus.


"Jika Rafli terbangun dan mencariku, telpon aku segera. Ingat nyonya Sonya, jangan mengganggu ketenangan Senja. Jika Rafli ingin menganggap yang dilakukan selama ini adalah pengorbanan, maka janganlah meminta imbalan pada Senja "ucap Darren kemudian meninggalkan Sonya yang diam terpaku dan Rajata yang tidak lagi banyak bicara karena terkena bell palsy ( lemah mendadak di bagian wajah ). Wajahnya terlihat asimetris dengan bibir kirinya yang tertarik ke bawah.


Sementara itu, Senja baru mendapatkan ponsel. Senja pun langsung menghubungi suaminya.

__ADS_1


"Ask " sapa Senja langsung begitu mendengar sapaan halo dari Darren.


"Ask di mana kalian sekarang ? Kenapa lama sekali menghubungiku ? " tanya Darren masih khawatir.


"Madih di gorontalo. Zain sedang istirahat. Senja menyewa kamar di hotel bandara. Badan Senja tidak enak Ask. Senja mau istirahat sebentar, kami akan pulang besok pagi " ucap Senja.


"Kamu sakit ? Ask, aku akan ke sana " ucap Darren khawatir.


"Jangan, tidak usah. Kita sudah ketemu lagi besok pagi. Bagaimana mas Rafli ? " tanya Senja mengalihkan pembicaraan.


"Ask, besok pagi itu lama sekali " ucap Darren kesal.


"Bagaimana keadaan maa Rafli ? " Senja enggan menanggapi ucapan suaminya barusan.


"Kondisi Rafli menurun. Semoga ada keajaiban yang membuatnya terbangun "jawab Darren.


"Amin...Sekarang kamu pulanglah Ask. Istirahat, biar mas Rafli dijaga keluarganya. Hubungi saja Raisa. Kamu juga butuh istirahat, jangan lupa makan dan minumlah vitamin " ucap Senja .


"Belilah yang baru dulu Ask. Jangan terlalu perhitungan dan asal dengan badanmu "jawab Senja ketus.


"Kamu menyuruhku beli Ask ? Aku tidak akan menemukan di manapun. Aku tidak mau beli - beli " jawaban Darren membuat Senja kesal.


"Terserah kamu saja "Senja sudah mulai jengkel.


"Vitaminku kan nempel di badanmu Ask " ucap Darren cepat, takut Senja marah padanya.


"Dasar mes** "sahut Senja lalu menutup sambungan ponselnya secara sepihak.


Darren mencoba menghubungi kembali, tapi malah dimatikan. Darren melakukan panggilan video call tentu saja malah dimatikan.


Senja menatap sendu pada Zain yang sedang bermain game melalui gawainya. Memegang tangannya yang kini terpasang infus. Sebentar lagi dokter juga akan melakukan tindakan Amnionfusi, yaitu Memasukkan larutan garam (saline) ke dalam kantung ketuban melalui serviks untuk meempercepat normalnya volume air ketuban.

__ADS_1


Senja mengalami flek ringan, tapi karena takut terjadi apa - apa Senja minta di antar ke RSUD. Setelah diperiksa ternyata volume air ketuban Senja berkurang, maka Senja diharuskan untuk rawat dan dipantau langsung oleh dokter . Senja berharap semua normal kembali dengan segera atau setidaknya dokternya di Jakarta memberi rekomendasi pada dirinya untuk melakukan penerbangan.


Sarita beberapa saat lagi akan sampai untuk menemani Senja. Karena Senja butuh seseorang untuk membantu membuat Zain tenang dan nyaman. Dalam hal ini Senja percaya dan bisa mengandalkan mama mertuanya. Senja tidak ingin menambah kekhawatiran suaminya. Sebelumnya Senja sudah mewanti - wanti agar mamanya tidak memberitahu Darren akan keadaannya.


Perasaan Darren tidak enak, badannya yang lelah tidak membuatnya cukup untuk memejamkan mata. Pikirannya tidak tenang. Melayang pada istrinya. Kamarnya selalu terasa tidak nyaman tanpa kehadiran Senja. Mereka belum selesai menghadapi hari - hari berat. Kehadiran satu sama lain cukup menguatkan. Tapi berjauhan seperti ini, meski hanya dalam hitungan jam Darren tidak sanggup.


Darren memutuskan untuk berkunjung ke rumah mama papanya. Sudah semingguan Darren tidak bertemu mereka. Menemukan teman bicara, mungkin akan membuat hatinya sedikit tenang dan terhibur.


"Bi, papa mama ada ? " tanya Darren pada salah satu asisten rumah tangga di rumahnya.


"Kalau papa den Darren ada. Sedang mengelus - ngelus burungnya di halaman belakang. Kalau Nyonya Sarita pergi den " jawab bi Warni.


"Astaga mama kejam sekali membiarkan papa mengelus - ngelus burungnya sendiri " seloroh Darren, langsung berjalan ke halaman belakang.


Melihat papanya sekarang sedang duduk santai memainkan ponsel sambil mengunyah singkong rebus favoritnya.


"Sudah berapa lama mama nggak ngelus - ngelus burung papa ? " goda Darren.


"Sembarangan. Biarpun kami tidak muda lagi, mamamu rajin dalam hal itu " sahut Mahendra.


"Iya ngelusnya rajin, tapi yang dielus gak gede - gede "sahut Darren masih ingin menggoda papanya.


"Jangan meremehkan Mahendra kau, mari kita adu kemampuan dan ketahanan. Papa bisa menahan diri sampai mamamu lemas. Percayalah itu butuh jam terbang tinggi "bisik Mahendra.


"Ah...Ini dia, Darren harus belajar dari papa "ucap Darren semangat.


"Hahhhh...Sudah papa duga, pasti Senja yang berkuasa "ledek Mahandra diiringi kekehan tawa lalu terhenti karena Mahendra menerima panggilan telpon dari ponselnya. Hanya sebentar.


"Dari mamamu, katanya sudah bertemu Senja "ucap Mahendra loss tidak terfilter diakhiri dengan sebuah kekhawatiran juga penyesalan. Mahendra lupa kalau tidak boleh memberitahu Darren.


"Senja ? Kenapa mama bersama Senja ? apa yang terjadi sebenarnya ? " selidik Darren tidak sabar, matanya tajam menanti sebuah jawaban yang enggan diucapkan oleh Mahendra.

__ADS_1


__ADS_2