Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Siapa yang salah ?


__ADS_3

Sampai di hotel, Senja langsung mengganti baju Dasen dengan baju tidur. Dasen akan tetap berada di kamar bersama Wati. Malam ini seluruh keluarga akan mengadakan makan malam di salah satu room vvip hotel. Hanya keluarga inti saja. Termasuk keluarga Zanetti. Tidak ada Hutama ataupun Mahendra dan Sarita. Karena ini mamng keluarga inti kedua mempelai saja.


Darren pun mengganti bajunya. Tidak formal, tapi juga tidak terlalu santai. Celana chinos kebangsaan warna biru army dipadu kemeja slim fit dengan lengan sesiku warna biru telur asin. Senja pun mengenakan dress renda dengan warna senada dengan kemaja suaminya.


Sayangnya sepanjang berganti pakaian, Darren lupa memasang wajah kesalnya. Darren malah bersiul - siul senang. Membuat mood Senja kembali buruk, kini dia pun harus berjalan di belakang istrinya itu. Andai Senja tahu, bagi Darren lebih mudah pura - pura tersenyum ketimbang pura - pura kesal dan angkuh.


Wajah itu secara natural akan muncul jika dia sedang berhadapan dengan orang lain, jika berhadapan dengan Senja tentu sangat sulit.


Senja menghentikan langkahnya begitu sampai di depan pintu room makan malam mereka. Menarik nafas panjang, total ada dua orang yang bisa mengguncang isi perutnya malam ini.


" Menjelang malam kenapa berhenti ? " tanya Darren, kedua telapak tangannya sudah bersembunyi di kantong samping celananya, alisnya bergerak naik saat bertanya. Masih ada manis - manisnya bagi Senja.


Rupanya Darren dan Senjalah yang datang terakhir. Dasen tidak ikut, Dasen belum mpasi, akhir - akhir ini Dasen juga lebih hobi di taruh di atas ranjang ketimbang digendong. Titisan Darren itu sedang berlatih melancarkan tengkurepnya sekarang.


Melihat bangku kosong di sebelah Zain, Senja merasa lega. Dia tidak akan melihat langsung wajah Bae berlebihan, karena eomma nya itu sedang berakrab - akraban dengan nyonya Zaneti. Setelah menyapa semua yangbada di ruangan, Darren dan Senja pun menempati bangkunya.


Meja makan berbentuk persegi panjang itu kini berisi lebih dari sepuluh orang. Sepanjang makan malam obrolan akrab pun terjalin, hanya Senja yang sangat tersiksa dengan keadaan itu. Tawa renyah Darren dan senyuman bersahajanya saat berbicara terlihat seperti kumpulan cacing dalam satu mangkok bagi Senja. Sukses membuat perutnya terasa diaduk - aduk.

__ADS_1


Darren memperhatikan gelagat istrinya yang sudah terlihat semakin tidak nyaman.


" Semuanya kami permisi dulu ya, Senja masih harus istirahat jadi tidak bisa berlama - lama di sini " pamitnya.


" Langsung tidur La, biar besok segar. MUA akan datang subuh nanti " sahut Bae dari jarak enam kursi.


" Iya eomma " jawab Senja tanpa melihat Bae sama sekali.


Sebelum meninggalkan ruangan, Aleandro membisikkan sesuatu pada Darren. Entah apa, yang pasti Darren terlihat mengangguk setuju.


Tanpa mengganti bajunya, Senja langsung berbaring dan memejamkan matanya memunggungi Darren. Lagi - lagi tidak ada ciuman selamat malam darinya. Rupayanya ciuman hangat darinya tadi hanya sekedar temppelan sesaat, tidak ada kelanjutannya lagi. Padahal Darren sudah menantikan kekhilafan Senja. Tiga hari sudah naganya terabaikan.


Hyeon melihat keraguan di wajah kakak iparnya itu, dia pun langsung menarik tangan Darren ke sofa pojok tempat mereka duduk. Beberapa perempuan datang menawarkan diri, Darren dengan lantang menolak.


Minuman mengandung alkohol yang dipesan Aleandro sudah berjejer di atas meja. Hyeon tanpa ragu menuangkan botol pertama ke dalam empat gelas ukuran kecil. Keempatnya menganangkat tinggi gelas dengan satu tangan.


" Bahagia untukmu Al, welcome back menjalani kehidupan dengan sedikit aturan dari istri " ucap Darren sedikit terkekeh lalu meneguk habis minuman di gelasnya. Setelah dua tahun tidak mencicip minuman seperti ini, membuat Darren tidak lupa rasanya. Hyeon terus menuang isi botol yang masih ada ke dalam gelas lagi dan lagi. Keempatnya peminum yang kuat, sudah botol ke delapan tapi kesadaran mereka masih terjaga. Meski tidak sepenuhnya, tapi Darren cukup tahu diri. Istrinya pasti akan menyuruhnya tidur di luar setelah ini. Darren memukul - mukul kepalanya, menyadari kebodohannya pasti akan sangat mengecewakan Senja. Meskipun dia tidak berbuat macam - macam yang lain dan melakukan bersama saudaranya, tetap saja ini salah. Pergi sembunyi - sembunyi saja sudah salah apalagi minum - minum seperti ini.

__ADS_1


Darren memesan beberapa botol kemasan air mineral untuk menetralisir mulutnya. Kepalanya pun mulai berat, mual juga melandanya. Jelas lambungnya tidak terima, setelah lama berhenti, yang dia minum malam ini tergolong banyak untuk orang yang baru kembali minum.


Berkali - kali Darren bolak balik toilet karena terlalu banyak meminum air putih. Hal yang sama dilakujan Aleandro, dia tidak mau mulutnya berbau alkohol saat mengucapkan akad nanti. Karena itu juga Aleandro minum tidak sebanyak Darren. Hanya Hyeon dan Eunji yang tanpa beban meski bau alkohol lebih pekat tercium dari mulut keduanya.


Pukul dua dini hari mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing - masing.


" Yakin aman kak ? Nggak takut ditendang ? " goda Eunji saat mereka masih berada di dalam lift.


Darren diam, tidak menjawab sama sekali. Yang dia bayangkan adalah wajah kecewa istrinya. Bukan hanya dia yang stres dengan keadaan ini. Mungkin lebih dalam lagi, Senja lebih tertekan dengan sikapnya sendiri. Darren memejamkam matanya, pusing dan mual semakin terasa.


Perlahan - lahan sekali Darren membuka pintu kamar hotelnya. Tapi sebenarnya percuma, Senja terbangun satu jam yang lalu, Senja hanya pura - pura tidur. Darren membuka kemejanya dan melempar tepat di atas sofa. melepas sepatunya lalu segera ke kamar mandi.


Darren menyalakan kran wastafel untuk menyamarkan suaranya yang sedang menumpahkan semua isi perutnya. Rasanya sudah terkuras habis, tapi rasa mual tetap menderanya. Darren memijat sendiri pundaknya. Sedikit merasa lebih enakan.


Setelah merasa lebih baik, Darren mengosok a giginya lalu kumur - kumur menggunakan mouthwash berulang - ulang. Berharap jejak alkohol menghilang dari dirinya. Tapi bau alkohol memang begitu kental, baunya melekat dan tidak mudah menghilang.


Suami Senja itu membasuh mukanya kembali, langkah kakinya begitu berat untuk kembali menyusul istrinya di ranjang. Nyalinya ciut membayangkan kemarahan dan omelan istrinya.

__ADS_1


Di balik selimut Senja menangis dalam diam, Siapa yang keterlaluan sekarang menjadi samar. Tadinya Senja sudah memutuskan untuk mencoba mengendalikan kemauannya. Saat orang lain mungkin berfikir enaknya ibu hamil, suka - suka saja apa yang dilakukan. Jujur, Senja menyadari dirinya memang berlebihan. Tapi andai semua bisa diatur, dia juga ingin kehamilannya kali ini juga normal seperti kehamilan sebelumnya. Senja juga tersiksa dan tidak nyaman.


Darren meremas rambutnya dengan kuat. Saat membuka pintu kamar mandi tidak sengaja dia melihat istrinya sedang mengusap air matanya, pundak Senja jelas bergetar meski tertutup selimut. Darren memberanikan diri duduk ditepian ranjang istrinya. Tangannya masih di awang - awang, antara ingin menyentuh istrinya tapi ragu.


__ADS_2