Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Kalah


__ADS_3

Darren memajukan bangkunya mendekati bangku yang di duduki istrinya.


"Zain sama uncle sini, tutup matanya!" seru Hyeon pada Zain. Jangan sampai Zain menyaksikan dua pasangan adu mulut dalam arti yang sebenarnya.


"Apaan sih Ask, Senja mau lihat wedding kiss mereka." ucap Senja, sedikit kesal karena Darren malah memegang tengkuk lehernya.


Hyeoan dan Eunji melakukan tos di bawah meja "pertanda bagus." kata Hyeon, terlihat senang.


Pembawa acara menghitung mundur untuk memulai wedding kiss Chun Cha dan Aleandro.


"Three... Two ... One.... "


Cluppppp....


Darren menyatukan bibirnya dengan bibir Senja. Hyeon menutup mata Zain dan menghadapkan Zain ke dadanya. Senja ingin berontak, tapi Darren menahan tengkuknya kuat. Darren terus ******* meski tanpa perlawanan. Eunji melihat Chun Cha dan Aleandro, ciuman di sana seimbang. Keduanya saling menginginkan. Tapi dengan kemampuan Darren, mereka bisa saja kalah. Kakaknya yang awalnya menolak, kini mulai membuka jalan. Hyeon dan Eunji memutar otak agar mereka bisa memenangkan taruhan, sekalipun curang caranya.


Hyeon membisikkan sesuatu pada Zain.


"Daddy!!!!" teriak Zain masih menutup matanya tidak begitu keras namun sukses membuat Darren dan Senja kaget hingga bibir mereka saling terlepas. Sementara di atas pelaminan, Chun Cha dan Aleandro masih bertahan.


"Shittttt!!!" umpat Darren dengan suara tertahan karena ada Zain.


Hyeon dan Eunji tersenyum puas. Dua unit mobil sport terbaru sudah pasti akan ada di garasi rumah mereka, tanpa perlu merogoh dalam tabungan sendiri.


Darren mendengus kesal, sementara Senja yang tidak tahu apa - apa juga menggerutu kesal karena ulah suaminya yang tiba - tiba menciumnya di moment wedding kiss Chun Cha dan Aleandro.


"Kebiasaan!" omel Senja.


Darren menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, Membayangkan bagaimana marahnya Senja ketika tabungan mereka akan keluar sia - sia karena kekonyolannya menerima tantangan kembar banyak akal itu.

__ADS_1


Senja melihat ponselnya, wati sudah memvalas pesannya. Dasen sudah tertidur pulas dengan mengenyot botol berisi Asi di dalamnya.


Acara demi acara sudah dilalui. Jika ada yang paling tidak menikmati acara ini, Darren adalah orangnya. Pertama karena baju yang dikenakan istrinya dan yang kedua kekalahannya menyisakan pikiran. Darren harus memutar otak untuk memberikan alasan pengeluaran yang fantastis untuk pembelian dua unit mobil. Darren hanya ceo, pemilik saham Mahendra corps sekarang adalah Sarita dan Senja.


Sebelum meninggalkan gedung, Senja dan Darren kembali menghampiri Aleandro dan Chun Cha. Karena besok pagi sekali, keduanya akan berangkat dulu ke bali baru tiga hari kemudian akan ke negara S untuk resepsi di sana. Zain sudah kembali terlebih dulu dengan kedua unclenya yang sedang berbahagia dan berbaik hati mengajak Zain tidur dengan mereka malam ini.


"Kak Al, nitip Chun Cha ya. Kalau salah, ingatkan jangan ditinggalkan. Semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan." Senja memeluk Al layaknya adik kakak. Tapi Darren tidak membiarkan berlama - lama. Tidak sampai semenit, Darren menarik tubuh istrinya.


"Selamat ya Al. Selamat menikah lagi " ucap Darren singkat, padat dan tanpa doa.


Chun Cha langsung memeluk Senja.


"Terimakasih atas semuanya kak. Terimakasih kakak dulu menerima Chun dengan baik meskipun Chun pernah jahat sama kakak." ucap Chun.


"lupakan masa lalu kita yang buruk Chun, yang penting sekarang kamu harus lebih baik. Sekarang kamu sudah jadi istri, lakukan yang terbaik untuk keluargamu. Dalam pernikahan tidak selalu bahagia Chun.Akan selalu ada masalah, cara kita menghadapinya menentukan keutuhan keluarga kita. Jangan ceritakan masalah rumah tanggamu pada orang luar. Jangan Pernah!" Saran Senja pada adiknya lalu melepas pelukan itu.


Berganti Darren yang memeluk Chun Cha. "Selamat mendapatkan duda ya Chun, yang sabar. Mantan duda dan janda seringkali merasa paling berpengalaman. Kita nurut saja, biarlah senior pernikahan yang bekerja. Kehidupan kita akan lebih aman." ucap Darren, lebih ke curahan hati ketimbang memberi saran.


"Kado nambah ponakan saja. Itu tidak ternilai." seloroh Darren, asal.


" Apa? kakak hamil lagi?" tanya Chun kaget setengah tidak percaya.


Senja membungkam mulut Chun Cha dengan telapak tangannya. "Diam kamu Chun, eomma belum tahu." ucap Senja.


Aleandro menarik tangan Darren. "Bagaimana bisa produktif sekali?" tanyanya.


"Jangan banyak gaya, percayakan pada pihak perempuan" jawab Darren lagi - lagi asal.


Setelah itu Darren dan Senja berpamitan lebih dulu. Karena kaki Senja sudah sangat pegal. Bahkan Senja sudah melepas heelsnya benerapa kali sepanjang acara.

__ADS_1


Bughhhhh....Bughhh...


Seseorang memukul Darren tepat mengenai pelipisnya. Darah segar sedikit keluar dari sana. Darren yang tidak menduga serangan yang keluar dari tiga kamar sebelum kamarnya itupun terjerembab. Senja yang menggandeng tangannya ikut terjerembab.


"Totti..."gumam Darren lirih. Darren berdiri kembali dengan cepat lalu membantu Senja bangkit dan menyuruh Senja mundur.


"Apa masalahmu?" tanya Darren sinis seraya memegang pelipisnya uang berdarah.


"Kamu membuat tangan kakakku kesakitan dan tidak berfungsi untuk beberapa hari. Kamu membuat wajahnya juga lebam. Carilah lawan bertanding yang sepadan kalau kamu memang laki - laki Darr, jangan memukul orang yang sama sekali tidak paham bela diri" jawab Totti sinis.


"Owh...Masih soal Nick. Jika aku bukan laki - laki lalu kakakmu apa? dia berani melukai dan menyakiti anak kecil itu lebih memalukan" tukas Darren. "Tapi karena sudah terlanjur kamu memukulku, aku pun tidak akan tinggal diam."


Darren berhasil memberikan satu tonjokan kuat di rahang Totti saat dia menyelesaikan kalimatnya tadi. Totti menyerangnya balik, tapi Darren berhasil menangkis dengan memegang dan memutar genggaman tangan Totti. Sepertinya kali ini kemampuan mereka memang sepadan. Totti menggunakan kakinya untuk menendang perut Darren, membuat Darren terpental mundur.


"Diam di situ Ask, jangan maju" ucap suami Senja.


Darren sudah terpancing emosinya saat ini, perasaan tidak suka pada Totti yang selama ini terpendam akan disalurkan tuntas malam ini.Darren mengambil ancang - ancang, dengan sesikit gerakan tipuan dia menendang bagian dada Totti. Padahak sebelumnya Totti berfikir kalau Darren akan menggunakan tangannya. Totti pun tersungkur. Darren menghampirinya, memegang krah kemeja Totti dengan posisi Darren hampir menduduki dada Totti. Dua pukulan tinju dilayangkan.


Senja menghampiri suaminya. "Sudah Ask. Jangan buang lagi tenagamu untuk orang - orang yang tidak tahu diri ini. Mereka hanya tahu diri mereka benar." ucapnya.


Darren menuruti Senja, dia melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar cenderung menghentak, hingga kepala Totti sukses bertemu lantai agak keras.


Suasana hotel yang lengang. Membuat sepanjang perkelahian tidak ada yang lewat. Suara mereka mungkin kurang keras untuk mengusik beberapa orang yang ada di dalam kamar hotel.


"Masalah kakakmu harusnya selesai sejak tadi. Tapi kamu malah memulainya lagi. Kamu beruntung aku sedang berbaik hati. Kalau tidak aku akan menyuruh suamiku memukulmu sampai kamu tidak bisa lagi sombong menjadi laki - laki." ucap Senja sinis sambil meninggalkan Totti yang masih berusaha berdiri. Tendangan Darren cukup menyesakkan dadanya.


Di dalam kamar, Senja langsung membersihkan luka sobek dipelipis Darren. Tidak begitu fatal. Hanya seperri tergores, tapi sedikit dalam. Mungkin karena Totti memakai cincin.


"Ask...Hadiah yang tadi sekarang saja ya? Nggak usah mandi dulu, nanti juga keringetan" pinta Darren.

__ADS_1


"Sebentar ini diplaster dulu," ucap Senja.


"Kamu sambil pasang plaster, aku mulai duluan ya" kata Darren dengan tangan yang mulai bekerja.


__ADS_2