
Sudah tengah malam saat Darren menginjakkan kaki di rumah opanya. Suasana sudah sangat sepi. Darren masih berfikiran positif, kalau istrinya sudah berada di rumah Hutama. Tidak mungkin Senja tega meninggalkan anak - anak sendirian.
Darren membuka pintu kamar mereka, seprei masih sangat rapi. Tidak ada tanda - tanda ada yang menempati. Masih berfikiran positif, Darren melangkahkan kaki ke kamar Zain. Hanya ada Zain, Dasen dan Wati di sana.
Langkah Darren kini tidak seyakin tadi. Ini adalah kali pertama Senja meninggalkan rumah. Kalau sedang kesal atau marahan, paling parah mereka hanya pisah kamar.
Sarita menghampiri Darren yang bersandar di depan pintu kamarnya.
"Baru datang Darr?" sapa Sarita.
"Ma..."
"Senja sudah pamit sama mama, anak - anak juga disuruh di sini sementara. Senja pengen nenangin diri sebentar. Siapa perempuan itu Darr?" Sarita menepuk lembut pundak putra semata wayangnya.
Darren menghela nafas panjang. Ternyata benar, Senja salah paham karena melihat rekening korannya. Semua memang salahnya. Langsung memberikan bantuan pinjaman tanpa meminta pendapat pada Senja. Tidak hanya sekali tapi empat kali. Kesannya seperti uang belanja bulanan. Padahal itu hanya pinjaman.
"Sebaik apapun niatmu, kalau cara yang kamu lakukan salah, akhirnya akan menyakiti orang lain Darr. Mama bisa percaya kamu tidak ada hubungan dengan perempuan itu, tapi tidak tahu dengan Senja. Perempuan itu perasaannya halus dan sangat peka. Senja jarang cemburu sama kamu, dia selalu percaya sama kamu. Seandainya papa melakukan hal yang sama denganmu, mama pun akan marah." Sarita terus mengelus pundak anaknya.
"Senja di mana ma?" Mata Darren berkaca - kaca, seolah pernikahannya benar - benar sudah di ujung tanduk.
"Mama tidak tahu, Senja hanya minta waktu untuk sendiri sebentar. Jujur mama khawtir, Senja perempuan yang mandiri dan tegar. Dia bisa apa saja tanpa kamu, tapi saat begini dia pasti rapuh. Sendirian dalam pikiran buruknya tentang kamu. Mama tidak menakut - nakuti kamu. Tapi mama memang sangat khawatir. Senja tidak pernah senekat ini sebelumnya." tatapan mata Sarita menerawang jauh.
Hati Darren merasa teriris, melihat mamanya saja sedih apalagi perasaan Senja sekarang. Dua perempuan yang selalu ingin dia bahagiakan, merasakan sedih di saat bersamaan karena dirinya. Sungguh niatnya hanya menolong, tidak lebih. Karena dulu bisnis Mahendra Corps dengan Malito cukup banyak dan terjalin baik. Dia tidak memikirkan hal lain, bukan pula memberi cuma - cuma. Darren meminjamkan uang itu sebagai modal.
"Kamu istirahat sana, berdoa saja semoga besok ada kabar dari Senja." Sarita berlalu meninggalkan Darren sendirian.
__ADS_1
Darren masuk ke dalam kamarnya. Melonggarkan ikat pinggang yang melingkari celananya, lalu membuka kancing kemejanya dengan malas.
Senyum Senja tadi sore sebelum dia masuk ke ruang meeting masih terngiang - ngiang di fikirannya. Sekarang, entah ke mana perempuan yang paling dia cintai itu berada.
Sepanjang malam Darren tidak bisa tidur, merutuki kebodohannya sendiri. Darren melihat transaksi semua bank yang atm nya ada pada Senja. Tidak ada satupun yang digunakan istrinya itu pada hari ini. Tentu saja, Senja tidak bodoh. Senja ada tabungan sendiri yang Darren tahu tapi tidak pernah ikut campur aksesnya.
Sebelum subuh Darren sudah mandi dan segar. Ingin mencari Senja tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Tanpa petunjuk apapun, akan sangat sulit. Disituasi seperti ini Darren baru sadar, bagaimana susahnya menjadi Senja selama ini. Tidak ada seorangpun sahabat yang Senja miliki.
Darren membuka ponselnya, telepon Senja tetap tidak aktif. Saat subuh menjelang, Darren memilih untuk sholat di kamarnya. Dia tidak siap menerima hujatan tajam dari Mahendra dan Hutama. Apalagi kalau tidak salah, nanti sore Bae dan Arham juga datang. Kalau sampai Senja tidak ada di rumah, keadaan pasti akan semakin runyam.
Sementara itu, Senja sedang menghubungi wati dengan ponsel barunya. Senja sengaja membeli ponsel baru agar bisa tetap update tentang keadaan anak - anaknya. Wati cukup bisa menjaga rahasia. Wati bisa dikatakan sebagai tangan kanan Senja di segala urusan penyelidikan.
Senja lega karena Dasen tidak rewel. Zain pun mengerti penjelasan Wati.
Tanpa Darren dan Senja ketahui, pagi ini Darren ada meeting penting di resort tempat Senja menginap. Sebenarnya, Darren sudah tidak ada mood lagi untuk menghadiri meeting. Tapi berhubung meeting sangat penting, mau tidak mau Darren harus menghadirinya.
Pukul tujuh lebih tiga puluh menit, Senja keluar kamar untuk mengambil breakfast. Sebenarnya Senja bisa saja makan pagi di kamar, tapi dia bosan di kamar. Ingin sebentar jalan - jalan di taman menghirup udara segar.
Senja mengambil bubur ayam, croissant tanpa isian, beberapa potong buah melon dan juga omelet. Suasanan hatinya memang tidak enak, tapi ada dua nyawa yang harus dia jaga dan harus diberi asupan gizi.
Dua orang perempuan cantik sebaya dengannya duduk di depannya. Gayanya angkuh dan sangat sombong. Pakaiannya terlalu terbuka dan mencolok untuk ukuran waktu sepagi ini. Senja menggeser duduknya, sehingga posisi mereka kini saling memunggungi dengan jarak tidak lebih dari setengah meter saja.
"Gila Lu... Gue mau dong pinjem juga kalau begitu. Yakin dia minjemin tanpa bunga? terus kesepakatan balikinnya gimana?" tanya salah satu dari mereka.
"Balikin sama badan sajalah. Gak perlu uang. Darren Mahendra gak butuh uang. Siapa nolak badan gue." ucapan perempuan itu membuat Senja terhenyak. Indera pendengarannya seketika dipaksa untuk bekerja maksimum menangkap pembicaraan kedua perempuan di depannya.
__ADS_1
"Ali bilang meetingnya bakalan di sini, Lu harus siap - siap. Pakai parfum pemikat, istrinya lebih cakep dibanding Lu. Kalau gue lihat Lu menang dada doang. Gue kemarin ikut acara ulang tahun Mahendra Corps sama bokap gue, sepertinya ekspektasi lu ketinggian kalau berharap Darren minjemin lu duit karena pengen nidurin lu,"
"Jadi simpenannya gue juga ikhlas. Kalau tiap bulan gue dapet transferan segitu. Eh... Tapi jangan sampai papi gue denger! Bisa mampus gue. Uangnya sudah habis buat belanja tas sama sepatu baru. Gue nggak mau kalah sama pacar baru erico. Gila aja ninggalin gue pas gue bangkrut. Dia pikir gak ada apa yang mau sama gue. Lakik orang pun mau lah gue." perempuan itu terus berbicara penuh percaya diri.
Otak Senja mencerna pembicaraan keduanya, menarik kesimpulan sedikit. Meski belum tau alasan sebenarnya kenapa suaminya meminjamkan uang untuk perempuan itu cuma - cuma. Apapun itu tujuan dari perempuan ini sudah tidak baik.
Senja menghabiskan makanannya dengan santai. Sungguh sejak kemarin dia tidak merasa cemburu. Dia hanya merasa ada yang tidak beres dan kecewa karena Darren tidak terbuka dengannya.
"Hustttt.... Tuh! Darren Mahendra datang. Keren banget dari dekat, kemarin gue cuman bisa lihat dari jauh." bisik salah satu perempuan entah yang mana.
Senja meneguk habis orange jus di gelasnya.
Rupanya Darren tidak mempedulikan keduanya, dia terus berjalan ke ruang meeting bersama Yanes dan Ali. Karena klien pentingnya memang sudah menunggu.
"Gila...dia bahkan gak menoleh. Ali aja melongo,"ujar perempuan itu.
Beberapa saat kemudian, Ali kembali muncul di hadapan mereka. Ali memang hanya menyiapkan tools untuk presentasi, Yanes dan Darren yang akan melakukan presentasi.
"Kok lu balik lagi, nggak ikut meeting?"
"Enggak, saatnya bos - bos yang bekerja." ucap Ali dengan santainya.
"Kita nunggu di sini saja. Thanks ya infonya, tapi gue seneng perjuangan. Kalau gue main jebak - jebakan pakai pil kayak di novel, kesannya gue cemen banget." perempuan itu menggulung rambutnya ke atas, memamerkan lehernya yang putih mulus. Ali menelan liurnya berkali - kali.
Senja berdiri, lalu dengan santai membalikkan badannya.
__ADS_1
"Hai Al..." sapa Senja dengan wajah yang membuat siapapun enggan untuk menatapnya.