
Tubuh Darren menegang, tapi matanya semakin terpejam merasakan hangat yang mulai menjalar.
" Mau dinyalain lampunya apa begini saja ? " bisik suara yang sangat dia rindukan. Aroma tubuhnya lekat tercium nyata sekarang.
" Aku bisa meraba dan merasa, tapi bisa melihatmu akan semakin sempurna " ucap Darren, lirih. Jakunnya naik turun, seiring salivanya yang tertelan sengaja menahan ingin.
Senja menekan remote yang ada digenggamannya, menjadikan suasana kamar menjadi temaram, padahal diluar langit masih cerah, biru dan matahari sedang tinggi - tingginya.
Darren menggigit bibir bawahnya pelan, tangannya kini membelai pipi putih mulus di depannya. Omelan dan kekesalan yang tadi sudah tertata rapi, disiapkan dan ingin dilontarkan seolah tenggelam. Terkalahkan hanya dengan sedikit sentuhan dan tatapan manja istrinya.
" Dari mana saja ? " tanya Darren, lirih.
" Tidak kemana - mana, dari tadi di sini saja. Kamu yang nggak masuk - masuk ke kamar " jawab Senja dengan manja.
" Aku keselll, kamu ngerjain aku. Kamu harus tanggung jawab " ucap Darren, sirat matanya tidak hanya menunjukkan cinta dan rindu. Ada hasrat yang menggebu di sana.
" Mau sekarang ? langsung atau gimana ? " tanya Senja begitu menggoda.
Darren tidak sabar, dia membawa tubuh Senja semakin rapat tak berjarak dengannya, ******* bibir ranum itu lembut. Tidak butuh jeda, ciuman itu pun saling menaut. Suara decapan memecah hening. Tangan sudah menjelajah liar tanpa arahan.
Ciuman Senja turun ke leher milik suaminya, meninggalkan bekas bibirnya di sana. Darren membiarkan istrinya berkuasa atas tubuhnya. Menikmati setiap sentuhan Senja adalah keinginan sekaligus kebutuhan yang enggan dia tangguhkan.
" Ask..sudah ya. Langsung saja " bisik Darren, lirih hampir tak terdengar.
Senja yang masih memakai Dress lengkap menuntun suaminya mendekati ranjang, bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Darren menurut saja.
Tidak sabar menunggu, Darren membuka resleting depan dress Senja, tidak menyentuh sedikitpun sumber kehidupan Dasen. Meski tangan dan bibirnya ingin sekali memainkan kedua benda yang semakin bulat penuh selama mengAsihi Dasen. Tapi Darren saat bersama Senja tidak peduli ukuran, dia sudah sangat terbuai dengan rasa. Ternyata melakukan dengan cinta berbeda jauh jika hanya dengan n4f5u semata.
__ADS_1
Bibir keduanya sama - sama tertaut kembali. Setelah empat puluh dua hari naga itu tidak bertemu tempatnya, akhirnya nagapun berhasil menyelinap di antara dua kaki milik Senja.
Darren merasakan milik Senja semakin menggigit dan menjepit. Memaksa Darren menghentikan hentakannya sejenak agar durasinya tidak sependek ini, memalukan sekali jika kalah sebelum terdengar erangan, racauan apalagi d35*ahan dari istrinya.
Tapi suara ketukan pintu di luar sana lengkap dengan suara tangisan Dasen memaksanya untuk tidak menahan - nahan lagi.
" Sebentar Ask, tidak sampai satu menit, sebentar, tahan " ucap Darren, sambil menghentakkan pinggulnya lebih cepat.
" Dasen nangis Ask " wajahnya antara khawatir dan keenakan. Tubuhnya sedikit mengeliat, merasakan bagisn Darren yang sepertinya sudah mau mencapai batas nikmatnya.
Benar saja, Darren mengeluarkan erangan kenikmatannya. Matanya memejam, tangannya mencengkram lebih kuat pinggul Senja yang tidak lagi ramping.
" Hufttttt....Lega. As always, mama Nja selalu luar biasa tiada tandingannya " puji Darren.
Senja segera berdiri mengambil tisu, membersihkan sisa - sisa cairan milik suaminya yang tertumpah, dengan cepat memakai bajunya kembali. Darren pun menyingkir ke kamar mandi.
" Belum ma " jawab Senja bohong, sambil memasukkan pu***ng ke mulut Dasen.
" Terimakasih ma, setidaknya Dasen sudah bisa dengan yang lain sekarang " ucap Senja.
" Iya, tapi jangan sering - sering. Nja, jangan lupa minum pil atau apalah. Inget kamu masih masa subur " ingat Sarita sambil meninggalkan Senja yang sedang membekap bibirnya sendiri.
" Astaga... Tidak - tidak, aku hanya mempunyai satu indung telur. Pasti hamil lagi tidak semudah itu " gumam Senja menghibur dirinya sendiri. Darren dan Senja terlalu semangat tadi, sampai melupakan program keluarga berencana.
Senja langsung ke kamarnya, terus berharap agar spe*** suaminya sedang malas menjelajah sampai ke dalam atau setidaknya sel telurnya sedikit angkuh dan sombong ketika disapa lawannya. Semoga.
" Ask, kamu tidak menyapa opa ? " tanya Darren.
__ADS_1
" Sudah, tadi saat kalian semua di bawah. Saat masih ada Chun Cha " ucap Senja, sedikit kesal saat menyebut nama adiknya.
" Kesana lagi yuk. Jangan di kamar berdua dulu, Kangennya belum usai. Aku takut tidak bisa menahan diri " bisik Darren nakal sambil mengamit lengan Senja dengan nakal.
Mereka berjalan bersama ke kamar Hutama. Wajah Darren yang kesal, gelisah dan muram sudah menghilang, berganti wajah sumringah penuh kebahagiaan.
Rianti yang sedang menunduk menaruh gelas air putih yang baru habis diminum opa menyadari aura lain. Wangi mahal khas perempuan sosialita menyerebak seisi ruangan, jelas laki - laki angkuh itu sedang menggandeng perempuan. Rasa penasaran Rianti yang tertahan menumpuk berhari - hari yang lalu sedikit gentar. Melihat sandal rumahan yang dipakai perempuan pujaan hati Darren itu saja hatinya gentar. Gaji tiga bulannya akan habis hanya untuk membeli sandal itu.
" Opa, kami akan menginap di sini selama opa dalam penyembuhan. Opa seneng kan ? " tanya Senja,menepuk bahu opanya pelan.Wajah Hutama mengisahakan ekspresi tersenyum lalu mengangguk pelan.
" Dasen sudah belum nenennya ? kalau sudah sini sama Daddy " tanya Darren seraya menowel pipi Chubby milik Dasen.
" Belum Ask, Zain sudah pulang kan ? nanti ajak Zain pulang sebentar ya, ambil baju sama keperluan sekolahnya. Sekalian ambilkan baju buat Senja dan Dasen. Tinggal ambil saja karena sudah disiapin Wati " ucap Senja.
" Iya Askim " jawab Darren, kecupan bersuara menempel di kening Senja. Rianti dengan jelas mendengar kecupan itu. Pantas saja tidak bisa jauh, ternyata mereka tidak terpisahkan seperti itu ketika bersama.
Rianti belum berani menegakkan kepalanya. Dia pura - pura sibuk menyiapkan obat yang akan diberikan pada Hutama. Suara perempuan di samping Darren mengingatkannya pada suara sahabat lamanya. Bisa jadi mirip, jangankan suara kadang ada beberapa wajah yang sekilas mirip.
Senja memperhatikan sekilas perawat itu dari samping, begitu telaten mengurus opanya. Wajahnya tidak terlihat jelas, karena dari samping dan sebagian tertutup dengan rambutnya yang ikal.
" Sudah selesai Ask, nih bawa Dasen main sama Zain. Senja temanin opa dulu " ucap Senja, sambil perlahan dan hati - hati menyerahkan Dasen pada daddynya.
" Aduhhhh...aduh... Titisan Darren Mahendra kenapa semakin embul saja. Enak ya Asinya mama Nja. Enak ??? bikin gendutt dan sehat ya " ucap Darren dengan suara bayi yang konyol. Senja melayangkan cubitan mesra di lengan tangan suaminya.
Rianti bergidik mendengar ucapan Darren pada anaknya. Jelas cucu pasiennya itu memang sedikit aneh. Perlahan Rianti menegakkan kepalanya begitu mendengar langkah kaki Darren yang menjauh. Menoleh pada sosok perempuan berbaju sederhana tapi tetap saja terlihat mahal di badannya. Matanya langsung membulat sempurna. Begitu juga dengan Senja.
" Rianti !!! " pekik Senja.
__ADS_1