Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Cemburu part 1


__ADS_3

Darren sudah bersiap ke rumah teman kuliahnya. Sesuai permintaan Senja, Darren mengganti bajunya terlebih dahulu. Darren mengganti kemejanya dengan t - shirt polos berkerah warna navy.


Darren sengaja melakukan video call sebelum berangkat. Tapi sudah tiga kali panggilan, Senja tidak menanggapi. Darren mencoba menghubungi Zain, tapi juga tidak diangkat. Sambil berjalan ke arah lobby, ceo Mahendra group itu menghubungi telepon rumahnya.


"Hallo, selamat malam." suara kenes wati menyapa dari seberang.


"Bu Senja kemana?" tanya Darren to the point.


"Ada pak, tadi katanya mau dandan dulu. Tumben sih bu Senja dandan, mana ganti baju beberapa kali gak cocok. Wati sampai capek melipat-lipat dan merapikan lagi," jelas Wati tanpa diminta.


Darren mematikan ponselnya tanpa mengucap salam. Sementara Senja cekikikan di samping Wati, menggunakan daster kebesarannya dengan tampilan rambut tergulung ke atas asal - asalan.


Ceo Mahendra Corp itu berangkat diantar driver menuju rumah temannya. Sampai sebuah rumah besar bergaya Eropa, Darren pun turun dari mobilnya bersamaan dengan kedatangan Hyun.


"Sendirian Darr? Istri kamu nggak ikut?" tanya Hyun sembari mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Darren.


"Enggak ... Dia lagi ada acara sendiri," jawab Darren.


Keduanya sama - sama membawa paper bag berisi kado untuk si baby. Sampai di dalam rupanya team perempuan sudah datang. Di sana ada Sandra yang baru saja melahirkan, Monica yang merupakan fans fanatik Darren, juga ada Rachel dan Ceila.


Setelah berbasa basi saling sapa dan menanyakan kabar, merekapun melanjutkan obrolan yang sebenarnya. Mata Monica tak ada bosannya memandang Darren yang semakin lama memang semakin mempesona.


Monica berusaha menebar pesona, beberapa kali dia pura - pura menunduk untuk menunjukkan isi dadanya yang melimpah dan sengaja menumpuk satu kakinya di atas kaki yang lain demi memperlihatkan pahanya yang putih mulus.


"Darr, kok nikah nggak ngundang - ngundang kita sih? Sombong banget," Rachel teringat kalau tidak ada satupun dari mereka yang menghadiri pernikahan idola kampus.


"Sorry, undangan dipenuhi list tamu bokap. Aku sama istriku kebagian dikit banget," jawab Darren dengan cepat. Matanya melihat cctv ruang tamunya lengang, tidak ada satu orangpun terlihat di sana. Bergeser ke ruangan lain, tidak ada tanda - tanda manusia juga di sana. Darren sedikit menggeser ke area kolam renang, matanya langsung terbelalak lebar melihat istrinya memakai baju renang hamil malam - malam. Pikiran Darren seketika tidak fokus membayangkan istrinya basah - basah di depan teman laki-lakinya.


"Darr kapan-kapan kenalin dong sama istrimu, penasaran sama perempuan yang bisa menakhlukkan hati seorang Darren Mahendra." ucap Ceila.


Darren masih dalam mode gelisah. Melihat istinya tertawa lepas sambil mengelap tubuhnya dengan handuk. Dia belum menemukan wajah- wajah teman Senja.


"Kebetulan tadi siang aku ketemu sama istrinya Darr," sahut Hyun.

__ADS_1


"Gimana-gimana ?" tanya Monica penasaran seraya lebih mendekatkan badannya pada Hyun.


"Sempurna!" jawab Hyun singkat, tapi sukses membuat ketiga perempuan di sana semakin penasaran.


"Maaf aku pulang duluan ya, aku ada keperluan mendadak," pamit Darren buru-buru. Pikirannya sedang tidak bisa fokus.


"Aduh sayang sekali, padahal masih baru mau ngomongin kenakalanmu waktu kuliah dulu," sesal Sandra.


Mereka berlima berdiri mengantarkan Darren sampai di ujung pintu, Sandra,rachel dan Ceila mencium pipi kanan kiri Darren dengan biasa, hanya sekilas. Tapi berbeda dengan Monica yang malah menggunakan bibirnya untuk mencium Darren, membuat Darren mendorong tubuh Monica.


Sorry Mon, bukan begini ciuman pertemanan," ucap Darren dengan kesal dan juga sinis.


"Sorry Darr, kelepasan," ucap Monica tersenyum licik.


Darren segera masuk ke mobil dan menyuruh driver dengan cepat kembali membawanya pulang ke rumah. Kegalauan dan kegelisahan membuat Darren tidak memeriksa wajahnya.


Sampai di halaman rumah, Darren tidak menemukan tanda - tanda sedang ada tamu di rumahnya. Tidak ada mobil lain yang terparkir selain mobil - mobilnya. Dia buru - buru membuka pintu bergegeas menuju kolam renang yang ternyata sudah sepi.


"Di mana bu Senja bi?"


"Tadi ada tamu buat ibu nggak?" selidik Darren.


"Tidak ada pak."


Darren langsung melebarkan langkahnya menuju lantai dua, membuka kamarnya. Senja sedang mengeringkan rambut dengan handuk, masih menggunakan bathrobe.


"Ask, temenmu tidak jadi dateng?" selidik Darren. senja belum melihat ke arah wajah suaminya.


"Tidak, ditunda besok. Karena nggak enak gak ada kamu. Tapi besok malam acaranya di luar," jawab Senja santai lalu menoleh pada suaminya. Matanya membulat, pipinya memerah seketika.


Senja menghentakkan kakinya memunggungi suaminya kembali.


"Kalau besok kamu pergi, aku ikut ya ask," ucap Darren masih belum sadar bongkahan gunung es sedang mulai bersiap untuk meleleh dan menenggelamkan dirinya.

__ADS_1


"Jangan sentuh aku!" Senja menepis tangan Darren yang mengulur maju hendak memegang tangannya.


"Kok marah sih? salahku apa?" tanya Darren bingung.


"Nggak ada yang salah, Darren Mahendra selalu benar. Aku akan menyuruh anak ini memanggilmu abang selamanya," teriak Senja konyol.


"Ask, apaan sih? jangan aneh - aneh!" Darren masih tidak mengerti.


Senja menarik tangan Darren kasar, menyeret langkahnya mendekati cermin di meja rias miliknya.


"Keenakan ya? baru di beri kepercayaan sebentar sudah bawa bekas lipstik di wajah, kalau di kasih lebih lama bukan nggak mungkin ada lipstik di nagamu," Senja menatap Darren sangat tajam, membuat Darren bergidik.


"Ask, ini salah paham. Aku sudah menegur dia, kamu boleh tanya sama Hyun. Yang lain cium pipi kiri kanan biasa, tapi tadi Monica cepet banget nyiumnya. Aku hanya sempat mendorongnya, aku nggak tau kalau ada bekasnya seperti ini." Darren menjelaskan sambil menggosok bekas lipstik di dekat ujung bibirnya.


Senja membuka bathrobenya, tidak ada sehelai benangpun di sana. Perut buncitnya terpampang nyata. Membuat Darren menelan ludahnya kasar.


"Apa kurang yang aku berikan selama ini ? Apa menurutmu aku tidak menarik lagi ? apa wanita itu membuatmu lupa kalau di rumah ada seorang perempuan yang sedang membawa hasil kenakalanmu di dalam tubuhnya?" Senja benar - benar terlihat kesal, meski kata - katanya malah terdengar konyol.


"Kamu sempurna Ask, sempurna. Ini hanya accident, bukan kesengajaan. Maaf aku nggak sigap tadi. Sudah ya, ini juga gara-gara kamu. Wati bilang kamu dandan, terus kamu bilang teman-temanmu datang, aku nggak fokus lihat kamu di kolam renang. Aku kira kamu berenang di depan orang lain. " Darren jujur membela diri.


"Sekarang kamu malah menyalahkan aku? Keluar! aku nggak mau melihatmu malam ini." Senja mendorong tubuh Darren sekuat tenaga.


"Gpp nggak mau lihat, aku saja yang lihat. Tapi jangan disuruh tidur di luar dong. Please" sahut Darren, bibirnya mengiba tapi matanya liar memandang tubuh istrinya yang terekspose sempurna.


"Tidur sama Zain sana. Mulai sekarang aku nggak mau tidur sama kamu." ucap Senja datar, tapi membuat Darren semakin kelabakan.


"Ask, ini kan salah paham. Bukan sengaja." Darren kembali memelas.


"Bodo amat! Sengaja atau tidak tetep aja bibir perempuan itu nempel di deket bibir. Aku nggak suka ada yang nyentuh kamu selain aku," ucap Senja sinis.


"Terserah kamu, sepertinya percuma aku menjelaskan. Apa maumu sekarang?" tanya Dareen putus asa.


"Keluar dari kamarku! Jangan muncul di depanku kalau bukan atas kemauanku." ucap Senja dengan tegas.

__ADS_1


"Terserah!" ucap Darren kesal, meninggalkan Senja sendirian.


"Dasar laki - laki tidak pernah peka, apa dia tidak bisa merayu lebih lama lagi," gumam Senja kesal.


__ADS_2