Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Dilema wati


__ADS_3

" Papa bawa ke lobby, Darren ambil mobil " ucap Darren sambil berlari menuju di mana tempat mobilnya diparkirkan.


Acara akad yang memang sudah selesai berganti dengan kepanikan dan ketegangan. Belum jelas apa yang terjadi, Zain tiba - tiba pingsan. Rosa dan Aleandro masih menanyakan penyebabnya pada Nando. Karena Nando yang terlihat terakhir bermain bersama Zain.


Sarita berlari mengejar Hutama. Ternyata ada darah keluar dari pelipis Zain, Sarita menyobek paksa selendang tipis yang dia pakai menjadi dua bagian lalu menjadikannya perban agar darah Zain sedikit berhenti dan tidak mengucur ke bawah.


Tidak ada yang kepikiran untuk memberi tahu Senja. Dengan riwayat penyakit Zain, semua takut hal - hal serius terjadi.


Suara decit ban mobil yang di rem mendadak memekikkan telinga, Darren menurunkan kaca mobilnya. Sarita masuk lebih dulu di jok belakang, Mahendra meletakkan Zain di pangkuan istrinya. Lalu ikut masuk duduk di jok samping kemudi.


" Kalian semua tunggu saja di sini " teriak Darren dari dalam mobil. Kakinya sudah menginjak pedal gas lebih dalam, menandakan kecepatan mobil tidak sedang - sedang saja. Siang hari yang padat, memaksa Darren sedikit bersabar dengan mengendurkan sedikit injakan kakinya.


Wajah Nando terlihat sangat ketakutan, karena hampir semua pandangan menatap ke arahnya. Rosa, Yanes dan Aleandro mencoba membuat Nando nyaman.


" Biar kami yang bicara, kalau kalian di sini semua. Nando akan semakin ketakutan " ucap Aleandro.


" Eomma tidak akan kemana - mana sebelum tahu apa yang membuat cucuku sampai pingsan seperti itu. Kalau sampai penyebabnya adalah anak ini. Awas saja " ancam Bae dengan sinis.


" Eomma, Nando masih kecil. Jangan seperti itu " ingat Chun Cha.


" Eomma tidak peduli sekalipun dia masih keturunan Al, kalau sampai sesuatu yang serius menimpa Zain jangan pernah perlihatkan anak itu di depanku " ucap Bae masih dengan nada tinggi.


Hutama dan Arham menyingkir mengajak Hyeon juga Eunji meninggalkan lobby, Hyoen dengan cekatan membantu Hutama berjalan. Sepertinya Hyeon menaruh hati pada Prita, perawat yang membantu Hutama selama ini.


Tinggallah Bae, Chun Cha, Aleandro, Yanes dan Rosa di sana. Keluarga Zanetti sudah disuruh pergi ke kamarnya oleh Aleandro dan nampaknya mereka pun juga tidak terlalu peduli.


" Nando, tahu tidak kenapa Zain bisa pingsan? " Yanes bertanya hati - hati dengan pelan dan menggunakan isyarat tangannya untuk mempermudah Zain menangkap maksud pertanyaannya.

__ADS_1


Nando mengangguk dengan pelan. Ketakutan masih mendominasi wajahnya.


" Cepet Al, lama banget sih ? " Bae semakin tidak sabar.


Nando menceritakan dengan pelan sekali, sesekali berhenti dengan menatap orang yang mengelilinginya. Setelah Nando menyelesaikan ceritanya dengan susah payah, Aleandro berusaha meyakinkan kembali kebenaran cerita dari Nando. Yanes meminta Nando mengulang sekali lagi kejadian yang sebenarnya. Nando menuruti kemauan mereka. Jelas sekali kejujuran di mata Nando, sampai tiga kali di ulang inti ceritanya sama biarpun bahasa yang disampaikan menjadi berubah - ubah.


Aleandro dan Bae dengan wajah marah dan tidak sabar langsung berjalan mendekati lift. Bae sudah tidak peduli dengan keanggunan. Dia mengangkat tinggi gaun yang dia pakai sampai selutut. Sepatu berhak 12cm langsung dilepas guna mempercepat langkah kakinya.


Yanes menghampiri Hutama dan Arham yang berada di lobby sisi lain. Lalu menjelaskan kronologi sesuai yang diceritakan Nando. Rosa dan Nando bersama Chun Cha kembali ke kamar mereka.


" Jangan sampai Senja dan Darren tau sebelum acara resepsi selesai, bisa hancur mereka " ucap Hutama.


" Bos sedang ingin menyalurkan emosinya, sepertinya dia tidak akan bisa menahan diri kali ini " gumam Yanes.


" Senja adalah singa betina berwujud anggora. Siapa yang mengusik anak dan suaminya pasti akan diterkam habis tanpa ampun " ucap Arham, mengusap wajahnya kasar.


" Tidak ada yang memberitahu bu Senja " jawab Yanes hati - hati.


" Begitu tau Zain di mana, kamu susul Darren. Begitu Zain siuman, pastikan dia tidak menceritakan apapun dulu pada daddynya " ucap Hutama pada Yanes.


" Astaga Bae " Arham menepok keningnya, baru ingat perangai istrinya yang tidak sabaran dan selalu nekat. Dia pun segera mengejar dengan menaiki lift. Jangan sampai acara anaknya sendiri buyar karena perhitungan Bae yang kurang dan emosi yang meledak - ledak.


Darren menghentikan mobilnya tepat di depan UGD. lalu turun dan menggendong Zain buru - buru.


" Suster tolong anak saya suster, sepertinya dia habis terjatuh " ucap Darren.


Perawat menyuruh Darren membaringkan Zain di atas brankar. Satu perawat memeriksa Zain, satu lagi membersihkan luka di pelipis Zain yang lumayan menganga lebar, dan satu lagi memanggil dokter.

__ADS_1


Darren mondar mandir di depan Sarita dan Mahendra yang duduk di atas bangku besi rumah sakit. Memijat pelipisnya pelan. Kepalanya terasa berat, mungkin efek dari minum dan tidak tidur semalaman.


" Senja bagaimana ma ? sudah ada yang kasih tau dia ? " tanya Darren.


" Sepertinya belum tahu, kalau tahu pasti telepon kita sudah dicecar dari tadi " jawab Sarita, menatap Sendu pada selendangnya. Bukan karena menyesali karena merusak selendangnya, tapi memikirkan Zain yang pasti meeasakan sakit. Darah begitu banyak di sana. Zain memang bukan cucu kandungnya, dalam tubuh Zain sama sekali tidak ada darah Mahendra. Tapi bagi Sarita dan Mahendra, Zain juga segalanya. Zain adalah bagian yang utuh di hati mereka, bukan hanya sepotong karena sebuah kebetulan Senja menikah dengan Darren.


Kembali ke hotel, Bae dan Aleandro yang hampir mendekati kamar yang mereka tuju, di halangi jalannya oleh Arham yang nampak ngos - ngosan.


" Tidak sekarang, jangan gegabah. Kita tunggu kabar dari Darren dulu, bagaimana kondisi Zain. Jangan sampai keributan kalian menghancurkan acara nanti malam. Lebih penting lagi, jangan sampai Senja mendengar kejadian hari ini dulu sebelum Zain pulih " ucap Arham dengan nafas yang masih memburu.


Aleandro dan Bae kompak menghentikan langkahnya. Berfikir sejenak, lalu membalikkan badannya. Arham benar, sangat memalukan terjadi keributan antar keluarga di acara keluarga. Dengan masih menyimpan kekesalan dan juga kemarahan, Bae bersama Arham kembali ke kamarnya, begitu juga dengan Aleandro.


Yanes masih berusaha menghubungi Darren, tapi Darren tidak merespon. Tentu saja tidak akan direspon, karena ponsel itu kini membangunkan Senja yang ketiduran dengan make up dan gaun yang belum diganti.


" Halo.. " suara Senja yang khas menyapa Yanes.


" Bapak ada bu ? " tanya Yanes terpaksa pura - pura.


" Nggak tau Nes. Mungkin menepi. Oh ya Nes acaranya sudah selesai belum ? " jawab dan tanya Senja.


" Sudah bu " jawab Yanes, jujur.


" Loh, kok Zain belum balik ? kok nggak ganti baju ? "tanya Senja, khawatir. Senja langsung mematikan sambungan teleponnya. Lalu menelepon Wati yang pasti sedang bersama baby sister baby De.


" Wat, kamu ke balik ke kamar dong. Dasen anteng banget tidurnya. Saya mau cari Zain dulu " ucap Senja begitu panggilan teleponnya di terima Wati.


Wati yang sebenarnya sedang bersama Bae dan Chun Cha tidak bisa menjawab. Wati memang sengaja ditahan di sana agar tidak kembali ke kamar untuk menjaga Dasen. Kalau wati kembali, jelas Senja akan keluar kamar. Wati menjadi bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


"


__ADS_2