
Suasana rumah Senja dan Darren kembali berbeda malam hari ini. Taman belakang kembali di sulap menjadi tempat perjamuan yang hangat. Beberapa meja bundar berbalut kain putih dengan sepuluh kursi berbalut kain senada dengan tali pita merah disetiap sandarannya. Deretan makanan di hidangkan, mulai dari yang tradisional seperti sate ayam dan kambing, hingga yang internasional seperti kaviar, lobster dan pasta.
Malam ini, Darren dan Senja mengadakan acara tasyakuran untuk acara khitanan Zain yang sudah dilakukan tiga hari yang lalu. Semua keluarga datang, tidak terkecuali dengan Rajata, Sonya dan Raisa. Bagaimanapun ketiganya adalah keluarga terdekat Rafli. Senja tidak mau memupuk dendam pada dirinya maupun menumbuhkan kebencian di hati Zain. Hanya Chun Cha, Aleandro dan baby De yang berhalangan datang. Karena baby twins mereka sedang sakit di negara asal Aleandro. Cuaca dingin di sana membuat baby twins mengalami flu berat.
Senja, Darren dan anak - anaknya kompak menggunakan baju berwarna putih salju. Bukan Beyza namanya kalau tidak menempel dengan daddynya saat malam hari. Bayi yang sekarang genap berusia delapan bulan itu seperti sudah mempunyai pengaturan sendiri. Jika sudah terdengar suara daddynya, yang lain pun sudah tidak dianggap.
Sementara Dasen, kemanapun Senja pergi selalu diikuti. Balita itu kini sudah lancar berjalan, celotehannya banyak meskipun belum utuh dan tidak terlalu jelas. Titisan Darren Mahendra itu merepresentasikan sifat daddynya yang posesif. Dasen akan marengek, marah lalu menangis jika melihat Senja berbicara dengan siapapun yang menurutnya asing. Terlebih lagi jika itu lawan jenis, mulut ma Nja akan selalu dibungkam dengan tangan mungilnya.
Darren masih berusaha memberikan Beyza pada Ulfa, tapi tidak berhasil. Senja mencoba mengambil alih, saat berhasil malah Dasen yang menangis.
Seluruh kejadian itu tidak lepas dari penilaian trio cungpret dan Kenzi yang juga hadir di sana. Siapa sangka ceo Mahendra corps yang bagaikan singa bagi rival bisnis, ternyata seorang family man yang luar biasa hangat.
"Bos kalian memang sangat beruntung. Siapa yang tidak kenal casanova tanggung Darren Mahendra, semua club malam terkenal selalu menyodorkan barang baru padanya. Meski banyak yang ditolak. Dia sangat pemilih, sentuhannya terbatas. Siapa sangka dia malah bertekuk lutut pada janda seorang Rafli Rajata," bisik Kenzi, rasa iri sedikit timbul dibenaknya.
"Kalau begitu tidak ada salahnya kita menjadi casanova. Sepertinya setiap casanova selalu mendapatkan jodoh yang baik," timpal Amar.
Akhirnya Beyza berhasil ditakhlukkan oleh Bae, Keduanya memang memiliki sifat yang kurang lebih sama. Suaranya sama - sama menggetarkan gendang telinga.
Darren melangkahkan kaki ke tengah panggung tempat di mana home band berada, tidak sendirian karena ada Zain di sampingnya.
Kedua mereka saling beradu sebelum Darren menyampaikan sambutannya. Melihat Zain seperti melihat sebuah bukti bahwa cinta sejati itu ada. Cinta dengan pengorbanan tanpa batas. Seperti yang Rafli berikan untuk Senja dan Zain. Kehilangan istri demi nyawa seorang anak yang kini berada di sampingnya.
"Ucapan terimakasih saja sepertinya tidak cukup untuk kami berikan pada Tuhan. Segala kebaikan dan kemurahanNya begitu nyata kami rasakan. Di kesempatan yang luar biasa ini, saya ingin menyampaikan sesuatu yang sudah saya bicarakan dengan matang bersama Zain." Darren menjeda sambutannya sembari menepuk bahu Zain.
Zain mengambil alih pengeras suara dari genggaman Darren. "Papa dan Daddy adalah dua orang yang berbeda. Tapi Zain tidak melihat perbedaan itu, yang Zain tahu bersama Daddy ataupun papa dulu, Zain merasa nyaman dan aman. Daddy memarahi dan menegur Zain tanpa ragu. Sampai kapanpun Zain adalah anak papa Rafli dan Daddy. Zain sayang Daddy. Tidak peduli orang lain hanya menganggap Zain hanya sebagai anak tiri."
Darren berdiri dengan lututnya, memeluk Zain erat. "Selamat atas nama barumu, Zainan Abrizal Hutama. Tidak ada lagi yang akan menyebut kamu anak tiri Daddy. Hutama dan Mahendra sama. Kali ini, opa buyut menginginkanmu memakai namamu. Kalau Daddy mendengar dengan telinga Daddy sendiri ada yang berani mengatakan Zain hanya anak tiri, Daddy sendiri yang akan membuat orang itu meminta maaf pada Zain."
Zain semakin mengeratkan pelukannya. Matanya terpejam, menyelipkan sebuah doa untuk papanya. Meminta maaf karena nama terakhir dari papanya akhirnya digantikan dengan nama Daddynya.
'Ini hanya nama pa, Zain hanya ingin membalas apa yang sudah daddy lakukan. Darah papa yang mengalir pada tubuh Zain tidak akan tergantikan,' batin Zain, begitu sendu.
Rajata dan Sonya menundukkan kepala mereka dalam, begitu pula Raisa. Seharusnya nama Rajata yang ada di nama belakang Zain. Tapi mereka bisa apa. Kebaikan mereka sudah terlalu terlambat.
__ADS_1
Mahendra merangkul pundak Sarita, ada kebanggaan tersendiri melihat Darren Sekarang. Meskipun kadang sifat emosional putra semata wayangnya itu masih muncul, tapi Darren yang dilihatnya saat ini jauh berpuluh - puluh lipat dari sebelumnya. Mahendra tidak meragukan lagi peran Darren sebagai ayah dan pimpinan perusahaan. Kelemahan Darren hanyalah pada cara menyikapi masalah dengan sang istri.
Darren menyempatkan diri mengucapkan terimakasih pada semua yang hadir. Lalu kembali melangkah bersama Zain mendekati Senja yang tengah duduk bersama Derya.
Zain mencium pipi Senja. " Terimakasih, karena mama menghadirkan daddy dalam kehidupan Zain. Mama harus bahagia."
Air mata Senja seketika kembali menetes. Mengingat perpisahannya yang begitu lama dengan anak pertamanya itu. Seorang anak yang pernah dianggapnya mati, lalu tiba - tiba kembali datang di tengah perjuangannya melawan kanker.
Sarita mengambil Derya dari tangan Senja. Memberikan kesempatan pada menantunya untuk lebih intens bersama Zain.
Senja berdiri dengan lututnya, merengkuh pundak Zain dalam pelukannya. "Maafkan mama belum bisa menjadi mama terbaik bagi Zain. Bukan mama yang harus bahagia, tapi Zain dan adik - adik Zain yang harus selalu bahagia. Mama titipkan hati mama pada kalian. Jika kalian bahagia, mama akan lebih bahagia lagi," bisik Senja.
"Mama yang terbaik. Bagi Zain mama yang paling luar biasa."
"Zain, ngobrol dulu sama opa Rajata dan Oma Sonya ya? Tuh, mereka sudah melihat Zain dari tadi." Darren memecah keharuan sembari menunjuk meja tempat Keluarga Rajata berada.
Darren membantu istrinya kembali berdiri, senyumnya begitu mempesona. Siapapun yang melihatnya pasti menginginkan berada di posisi Senja. Dia menarik tangan istrinya itu untuk berjalan mengikutinya
"Maafkan aku, Ask ... Maafkan aku yang sering berprasangka buruk padamu. Mungkin aku belum menjadi sosok suami yang ideal buatmu. Aku tidak menjanjikan apapun. Karena aku tahu, akulah orang yang paling mungkin menyakiti dan mengecewakanmu saat ini atau nanti. Aku hanya akan memastikan kalau cinta dan kesetiaanku jelas sampai akhir hanya untuk kamu," bisik Darren tepat di daun telinga istrinya.
"Bukan tidak ideal, Ask. Tapi emosimu masih sangat mengganggu. Coba logika dan kepintaranmu kamu pakai sedikit, kemarin tidak perlu tanganmu sampai berdarah - darah. Memang senekat apa Senja sampai bisa mengkhianatimu. Sekarang kehidupan kita bukan hanya tentang Senja dan kamu. Jauh diatas perasaan kita, anak - anak yang lebih utama," dengus Senja, nadanya sedikit dibuat kesal.
Darren meringis malu, kecemburuannya kemarin sangat tidak beralasan memang. Sekarang kebodohannya hanya menyisakan sedikit perih di tangan.
Rupanya ada enam pasang mata yang sedang memperhatikan Senja dan Darren sejak awal mereka melangkah tadi. Siapa lagi kalau bukan Kenzi, dan dua cungpret Ali dan Amar.
Ketiganya bersembunyi dibalik bangunan Gazebo sisi kanan kolam renang.
"Jangan taruhan ada adu bibir apa tidak, pasti ada. Kalau mau taruhan kita buat yang lebih ekstrim lagi." Kenzi menatap serius Amar dan Ali seolah isi pembicaraannya begitu penting.
Ketiganya pun mencari kesepakatan yang sama sekali tidak penting. Bisik - bisik pun dilakukan. Agak alot, hingga akhirnya Ali dan Amar mengangguk begitu mendengar ide terakhir dari Kenzi. Mereka pun melanjutkan pengintaian.
"Jika aku diberikan kesempatan untuk jatuh cinta lagi, aku akan tetap memakainya untuk jatuh cinta padamu. Bersamamu aku tidak pernah bosan. Kamu jangan bosan juga ya. Aku memang emosional. Itulah kenapa Tuhan mengirimkan kamu padaku. Karena kamu yang akan menjadi peredam kemarahanku." Bibir Darren mengecup leher istrinya.
__ADS_1
Senja hanya tersenyum. "Keluarga itu kita bangun, Ask. Kita perlu membangunnya berdua. Tidak bisa salah satu dari kita saja. Kita memang harus saling melengkapi. Tapi tidak ada salahnya kamu mengurangi emosimu, biar energiku tidak hanya habis untuk bersabar." Senja sedikit mengeliat, merasakan lembut bibir suaminya yang menjelajah leher.
"Akan aku usahakan, tapi jangan memancing kecembuaruanku, itu kelemahan terbesarku." pinta Darren. Merubah posisinya menjadi berhadapan dengan Senja.
Senja merangkul pinggul suaminya dan di balas dengan rangkulan di bahunya. Keduanya kini tengadah memandang langit yang sama. Mencari bintang yang paling terang, sekedar ingin menitipkan harapan. Begitu banyak kepergian selama mereka bersama. Deandra, Rafli, Ming, Hutama dan terakhir Halimah. Untuk ke empatnya semoga tempat terbaik di sisiNya. Masing - masing meninggalkan kesan tersendiri di hati Senja. Ketiganya mempunyai arti yang penting. Mempengaruhi pola fikir Senja secara langsung atau tidak.
Tapi kehidupan mereka masih panjang, banyak urusan yang belum berjalan. Anak - anak juga harus dibesarkan dengan penuh tanggung jawab. Mereka melangkah menuju pernikahan tidak dengan cinta yang utuh, tapi menghargai komitmen ternyata menumbuhkan cinta yang luar biasa. Di atas segalanya, memegang komitmen dalam sebuah hubungan memang sangat penting. Banyak cinta yang kandas karena komitmen yang dilanggar di luar sana.
Senja menyandarkan kepala di bahu suaminya. "Bawa Senja menuju cinta yang abadi, Ask. Senja pasrahkan hati, pikiran dan raga Senja padamu."
Darren tersenyum, Memiringkan kepalanya, mengangkat sedikit dagu Senja lalu menundukkan kepalanya sedikit.
"Terimakasih, Ask ... Mari kita jatuh cinta berkali - kali sepanjang hidup kita. Jangan berhenti mencintaiku."
Kedua bibir itu pun menyatu penuh kelembutan. Saling memagut menukar cinta dengan cinta yang sama. Ciuman itu semakin dalam, tangan Senja tampak mengusap punggung Darren naik turun.
"Kendalikan emosimu, Ask ... Hanya itu masalahku saat menghadapimu." Senja berbisik di tengah jeda untuk mengambil nafas.
Yanes melihat ketiga orang sedang berjongkok menatap sisi lain kolam, mengetahui siapa ketiga orang itu. Yanes pun, memanggil Rudi dan dua orang satpam.
"Show time!!!" teriak Yanes, bersamaan terdengar tiga orang dijeburkan paksa ke kolam renang. Siapa lagi kalau bukan Ali, Amar dan Kenzi.
Darren hanya tersenyum sinis, tahu betul mereka pasti sedang mengintip aktivitasnya bersama Senja.
********** END. ***********
πΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌ
Terimakasih untuk semua Readers, maaf kalau masih banyak yang kurang. Karena Author masih baru dalam dunia tulis menulis dan masih proses belajar. Sampai ketemu di Cinta 2 hati ya. Tolong jangan di unfav dulu. Karena akan ada spin off dari anak - anaknya daddar dan manja.
Terimakasih semua...ππππ
sambil menunggu jangan lupa baca Cinta di 2 hati.
__ADS_1