
"Ma, tolong panggilkan Wati, sekalian mama bilang ke papa untuk mengambilkan raport Zain." ucap Darren. Matanya tidak sedikitpun bergeser pandang dari Senja.
Sarita segera keluar, tak lama dari itu Wati masuk ke kamar Senja dan Darren.
"Wat, tolong jaga Dasen sebentar." Darren langsung mengangkat tubuh Senja. Terlihat sekali Senja tidak terima, tapi badannya yang menggigil tidak menyisakan lagi kekuatan untuk mendebat Darren.
Menggendong Senja tak semudah dulu, berat badannya sudah naik dua belas kilo gram di usia kehamilan tiga bulan.
Darren membawa Senja ke klinik dokter Nuke. Karena keadaan darurat, mereka pun langsung masuk tanpa melalui proses antri. Senja langsung di bawa ke ruang bersalin, bukan ruang pemeriksaan seperti biasa.
Perawat langsung membantu melakukan pemijatan di pa**dara Senja untuk mengeluarkan Asinya, sudah terlanjur mengeras.
"Harusnya tetap kamu pompa Nja, tapi sedikit saja. Setiap kamu merasa penuh, langsung pompa saja. Kalau misalkan sekalibpompa kamu dapet sebotol penuh, kamu pompanya seperemparnya saja. Pelan - pelan nanti dia berhenti produksi sendiri." jelas dokter Nuke.
Darren hanya menyimak. Sedikit kesal, Senja tidak hanya menyiksa dirinya sendiri tapi secara tidak langsung menyiksa anak - anaknya, bahkan yang masih ada di dalam kandungan.
"Panasmu tinggi sekali, bisa membahaykan si kembar. Mereka bisa dehidrasi. Sekarang dirawat dulu, supaya panasmu cepat turun kita akan memasukkan obat melalui infus." tambah dokter Nuke.
Perawat memasang jarum infus di punggung tangan Senja sebelah kanan. Setelah terpasang sempurna semuanya, perawat menambahkan satu suntikan cairan obat di sana. Setelah selesai perawat meninggalkan Darren dan Senja berdua, menyusul dokter Nuke yang sudah keluar lebih dulu.
Darren berdiri di samping cendela kaca, hanya memandang ke arah luar dengan membuka sedikit tirainya. Mulutnya sudah enggan berbicara. Membiarkan Senja tenggelam sendiri dalam pikiran dan kemauannya.
"Ask...." panggil Senja.
"Hemmm.." jawab Darren sekenanya.
"Pinjem ponselnya. Mau tanya mama atau wati Dasen gimana? rewel nggak?" Senja terlihat khawatir.
"Aku nggak sempet bawa ponsel." jawab Darren, lagi - lagi tanpa beban.
__ADS_1
"Kamu pulang dulu bisa kan ask? lihat Dasen gimana? kalau dia rewel gimana? kalau nggak ada Senja pasti dia berasa. Perasaanku juga nggak enak ini." Senja terus bicara tanpa memperhatikan raut wajah Darren.
"Apa sekarang hanya ada Dasen dipikiranmu? kenapa kamu tidak diam saja, pejamkan matamu dan istirahat agar anak kita yang ada dalam rahimmu baik - baik saja. Dasen? dia sudah ada mama. Lagian kamu meninggalkan Dasen nggak lama, Dasen tidak secengeng itu." kali ini nada suara Darren sudah tidak sesabar kemarin - kemarin.
Nyatanya, Wati dan Sarita kewalahan menghadapi Dasen yang tidak mau berhenti menangis. Tiap diberi susu dimuntahkan, digendong menangis, di letakkan di kasurpun semakin keras tangisnya.
"Wat, coba cari bajunya Senja yang belum dicuci." Sarita mencoba berbagai ide.
Wati mencari di keranjang baju, tentu saja sudah tidak ada karena pasti sudah diambil sejak selesai subuh tadi.
"Tidak ada bu," kata Wati.
Sarita sudah kehabisan akal sekarang. " Senja kadang nggak mikir juga kok memang, sudah tahu hamil itu kondisi tidak tentu, mestinya jangan terlalu membuat anak ketergantungan sama dia. Kalau sudah begini malah kasihan anaknya. Repot saya tuh Wat, mau ngasih tau ntar dikira ikut campur. Nggak dikasih tau pasti keras kepalanya ampun - ampunan. Kelihatannya kalem, tapi kalau sudah maunya semua di lawan." gerutu Sarita di sela - sela tangisan Dasen yang masih terdengar.
"Jangankan kita bu, bapak saja jarang boleh megang Dasen. Hamil yang ini beda sekali bu Senja, sama bapak lebih parah bu. Untung bapak sabar. Pernah bu, bapak itu cuman mau bantu gantikan popok Dasen, malah dimarahin bu." Wati mulai mengadu.
"Gimana kalau kita bawa Dasen ke kyai bu, biar agak dilupain sama bu Senja. Ini kasihan bu kalau nangis terus." Wati bicara sambil terus menggoyang - goyangkan tubuhnya agar Dasen terdiam.
Wati mencoba memberi minum Dasen dengan pipet. Masuk dan tidak dimuntahkan.
"Dassen mau bu!!" sorak Wati, kegirangan.
"Alhamdulillah, yang penting diam Wat dan mau tidur." ucap Sarita, lega.
Hampir tiga jam berlalu, akhirnya cairan infus habis juga. Suhu badan Senja sudah kembali normal. Pa**daranya pun sudah tidak sekeras tadi. Dokter Nuke sudah memberikan obat oles untuk meredakan pembengkakan. Senja jadi mengerti cara menghentikan Asi tanpa harus kesakitan seperti tadi. Dulu saat mengasihi baby De, Senja tetap memompanya dan memang karena lelah dan stres menunggui Zain, Asinya berhenti otomatis. Berbeda sekali kondisinya dengan Zain sekarang.
Senja dan Darren pun kembali pulang. Pemandangan dan suasana yang lebih tidak menyenangkan bagi Rudi. Sepertinya lebih enak mendengar suara decapan ketimbang melihat dua atasannya saling diam dengan wajah saling sinis begitu.
Sampai di pintu utama yang terbuka lebar suara tangis keras Dasen langsung menyambut. Rupanya Dasen hanya tertidur sebentar. Senja terburu - buru, setengah berlari menuju arah suara Dasen. Ternyata Dasen sedang berada di ruang tengah.
__ADS_1
Darren lagi - lagi hanya mengelus dada dan menarik nafas dalam, sakit barusan pun tidak menyadarkan Senja sedikitpun untuk berhenti keras kepala dan egois.
"Sayang...sini sama mama Nja...Maafin mama ya, mama ninggalin Dasen tadi. Kesayangan mama nggak boleh nangis." Senja mengambil Dasen dari gendongan Sarita. Memang dari tadi yang di cari bau mamanya, sekali nempek langsung diem.
Senja melihat jam di dinding. "Waktunya Dasen makan siang ya? bikin mamam dulu yuk!!" Senja menyelipkan selendang lebih kuat, lalu tangannya mengambil makanan yang sudak di simpan di chiller room lemari pendingin untuk dipanaskan.
"Sini saya bantu bu." Wati menawarkan diri untuk memanaskan makanannya di microwave.
"Tidak usah Wat, kamu lupa ya urusan Dasen biar saya saja yang kerjakan." ucap Senja, menolak dengan ketus tidak seperti Senja yang biasanya.
Darren dan Sarita saling pandang. Darren ingin bersikap keras tapi kadang ada rasa tidak tega. Kalau sudah Senja nangis, dia juga yang repot. Tapi sikap Senja yang seperti ini membuat Darren atau siapapun pasti menjadi tidak nyaman.
"Zain sama papa belum pulang ma?" tanya Darren.
"Zain juara umum di sekolahan. Papamu mengajak Zain memilih hadiahnya sendiri" jawab Sarita.
Darren manggut - manggut, setidaknya ada berita bahagia di hari - hari yang mengharuskan dia meredam emosi lebih baik.
"Nja, boleh mama ngomong?" tanya Sarita, hati - hati. Darren melirik mamanya, lalu merebahkan badannya yang tidak selelah pikirannya di sofa panjang.
"Ngomong saja ma," jawab Senja, santai tapi masih sopan.
"Nja, menurut mama sebaiknya kamu juga biasakan Dasen dengan Wati lagi seperti kemarin - kemarin. Biar kalau kamu lagi sakit atau repot, Dasen nggak nyari kamu terus. Dasen jadi susah bersama orang lain lagi. Semakin besar, Dasen semakin bisa mengenali orang Nja. Bahkan hanya dari bau badannya. Semakin dia ketergantungan sama kamu, malah semakin kasihan kalau adeknya lahir." ucap Sarita berusaha selembut mungkin.
"Justru itu ma, Senja ingin sekarang bisa dua puluh empat jam bersama Dasen, kalau sudah lahiran sudah tidak mungkin rasanya. Biarkan begini saja ma, Dasen pasti bisa menyesuaikan diri nantinya. Senja tau yang terbaik buat anak Senja ma." jawab Senja tetap keras kepala.
"Tapi Nja....."
"Cukup ma, sudah biarkan saja. Kita tidak usah ikut campur semua. Mulai sekarang biar dia hidup dengan pikiran dan kemauannya sendiri. Wat...Siapkan pakaian Zain dan pakaianku sekarang lalu masukkan ke mobil. Mama pulang bareng Darren. Jangan ada yang membantu Senja." tegas Darren, wajahnya memerah, tatapan matanya menghujam tajam pada Senja yang terlihat tidak peduli.
__ADS_1