
Tidak hanya karena Darren kalah taruhan, tapi juga karena Rafli tidak kuat berdiri sendiri. Darren menggendong Rafli di punggungnya. Senja menahan punggung Rafli agar tidak condong ke belakang. Dalam skala 1 sampai 10, kemampuan fisik Rafli kali ini maksimal hanya diangka 5. Kondisinya menurun dratis dibanding saat keberangkatan kemarin.
"Raf, Sembuhlah. Kamu harus mempunyai semangat "ucap Darren di tengah nafasnya yang biasa saja meski sedang menggendong Rafli. Senja merasa heran dengan ketahanan fisik suaminya. Padahal Darren tidak mempunyai jadwal olahraga rutin selain olahraga di atas ranjang dengannya.
"Mas kuat duduk sendiri nggak ? kalau nggak kuat gpp, mas baringan saja " tanya Senja sebelum menaiki perahu motor. Rafli menggelengkan kepalanya.
"Zain duduk dulu sayang, nanti dipegangin mama " ucap Darren, Zain kurang nyaman di atas perahu motor sejak kemarin perahu yang mereka gunakan untuk keliling pulau mengalami mati mesin.
Rafli diposisikan berbaring .satu deret perahu itu hanya untuk Rafli dan Darren.
"Jangan berharap ini paha Senja ya Raff, kalau itu aku gak ngijinin. Terlalu deket sama markas, kepalamu makin sakit ntar "Darren masih sempat - sempatnya bercanda.
"Jangan banyak gerak Darr, aku takut kepalaku semakin pusing kejedot cacingmu "ucap Rafli, meski lemah masih membalas canda'an Darren.
"Kalian bisa diam gak sih, berisik banget " Senja merasa risih mendengar obrolan keduanya.
Sebuah ambulance sudah siap membawa Rafli ke bandara.
"Darr, temani aku di ambulance ya " pinta Rafli.
"Iya, pasti. Sebentar aku pastikan Zain dan Senja aman dulu " ucap Darren setelah Rafli berada di atas brankar.
Darren melihat Senja sudah ada di dalam mobil lain dengan Zain yang sudah tidur dipangkuannya.
"Ask...Bilang sama drivernya hati - hati dan pelan - pelan saja. Sampai ketemu di bandara " Darren mencium kening istrinya.
"I love you ask " ucap Senja.
"I love you more Senja Khairunisa Kemala "
Mobil Ambulance berangkat lebih dulu, disusul mobil yang membawa Senja dan Zain.
"Darr... Kenapa kamu baik sama aku ? "tanya Rafli tetap dengan mata terpejam.
"Karena kamu satu - satunya pesaingku Raf, aku harus menjaga pesaingku lebih dekat. Agar aku tau kelemahan dan kelebihanmu, dengan begitu aku tidak akan kehilangan apa yang ingin aku pertahankan "jawab Darren jelas.
__ADS_1
"Apapun alasanmu, terimakasih Darr. Andai jodoh Senja bukan kamu, pasti aku akan mati - matian berusaha merebut Senja " ucap Rafli suaranya timbul tenggelam.
"Raf, teruslah berbicara. Ceritakan apapun yang ingin kamu ceritakan "ucap Darren. Karena dokter berpesan agar terus mengajak Rafli berbicara. Kesadaran Rafli harus tetap terjaga sampai ada alat - alat yang membantu menopang fungsi organ vitalnya.
"Aku capek Darr, kamu saja yang cerita. Aku ngantuk " ucap Rafli .
"Enggak Raf, jangan tidur. Kamu tidak boleh tidur " Darren sedikit khawatir.
"Darr, sampai jakarta tolong suruh Senja hubungi Raisa ya. Biar Raisa yang memberi tahu papa mamaku tentang keadaanku " pinta Rafli.
"Biar aku saja, aku tidak mau Senja berhubungan dengan keluargamu lagi "ucap Darren tegas.
"Terserah kamu saja. Darr....setelah tiba di Jakarta nanti, Senja suruh istirahat ya. Kelihatannya dia capek sekali "
"Perhatian sekali kamu sama istriku Raf "jawab Darren asal, kini dia yang mengantuk karena semalaman tidak tidur.
"Naluri lelaki Darr " jawab Rafli. Tidak ada sahutan dari Darren. Dengkuran keras terdengar.
"Pasti kamu capek sekali ya Darr. Aku berhutang banyak padamu. Aku harus membalas apa padamu Darr. Jika aku ada di posisimu belum tentu aku bisa merelakan istriku menyentuh laki - laki lain, apalagi mantan suami. Kamu bodoh atau memang tulus ? Jika cintamu sebesar itu, aku tidak ragu melepaskan Zain di tanganmu " ucap Rafli, matanya semakin berat untuk di buka.
"Astaga aku ketiduran. Raf...Raf.... Bangun Raf " Darren mulai panik. Darren menggeser kaca yang menghubungkannya dengan perawat yang duduk di bangku depan. Driver melambatkan laju mobilnya, lalu menepi pada tempat yang aman.
"Tolong periksa pasien, wajahnya semakin pucat "perintah Darren.
Perawat memeriksa kondisi Rafli. Raut wajahnya sulit diartikan. Darren tidak berani menerka - nerka apa yang sedang terjadi.
"Pesawatnya sudah siap kan pak ? " tanya perawat.
"Sudah dari tiga puluh menit yang lalu " jawab Darren cepat.
"Baiklah, kita harus segera sampai " perawat turun, dan sesuai ucapannya. Driver menambah kecepatan ambulance.
Darren menoleh ke belakang, jelas mobil yang ditumpangi Zain dan Senja jauh tertinggal ke belakang. Darren merutuki kebodohannya, ponsel Senja, Rafli dan punyanya sendiri ada di tas ransel yang saat ini dia gunakan di punggungnya. Ponsel yang sengaja dikumpulkan agar selama liburan tidak ada yang asik dengan gadgetnya sendiri.
Kini Darren dan Rafli sudah berada di dalam pesawat. Ada dokter juga di sana. Yanes memang selalu bisa diandalkan.
__ADS_1
"Pak, apa pesawat bisa berangkat lebih cepat ? pak Rafli harus segera mendapatkan perawatan intensif. Tidak boleh lebih dari 3 jam lagi kita sudah harus sampai di rumah sakit Jakarta " ucap Dokter.
"Bisa dok, tapi istri dan anak saya masih belum sampai. Saya tidak mungkin neninggalkan mereka "ucap Darren.
"Tapi kondisi pak Rafli saat ini mendekati kritis pak, Kami harus memasukkan dua jenis obat sekaligus ke dalam infus pak Rafli dan sayangnya kami tidak sempat membawa obat itu tadi " jelas dokter.
Darren bingung harus bagaimana. Darren turun dari pesawat lagi ingin memastikan. Darren mencoba menghubungi pihak resort untuk menanyakan nomer ponsel driver yang mengantar Senja .
Setelah mendapatkan nomer telpon driver, Darren pun segera menghubungi nomer tersebut. Sekali panggilan tidak di jawab , dua panggilan tidak juga direspon. Darren semakin gelisah.
Darren kembali ke pesawat karena dokter terus menghubunginya.
"Pak , kita harus segera lepas landas. Pilot sudah mengkonfirmasi .Ijin sudah diberikan "ucap seorang pramugara.
"Sebentar beri saya waktu lima menit " jawab Darren, kembali memencet nomer driver.
"Halo pak, Bapak masih bersama istri dan anak saya kan ? "tanya Darren ,lega begitu sambungan ponselnya sudah tersambung.
"Bu Senja maksudnya pak ? "tanya Driver.
"Iya. Apa masih sama bapak ? "tanya Darren.
"Masih pak. Ban mobil saya meletus pak, jadi kami agak terlambat karena harus mengganti dulu "jelas driver.
"Baiklah, bisakah saya bicara sebentar dengan istri saya pak ? " tanya Darren .Tidak ada jawaban dari driver, karena driver langsung memberikan ponselnya pada Senja
"Hali Ask " sapa Senja.
"Ask, kondisi Rafli drop. Kami harus terbang duluan. Kamu gpp kan nyusul ? Beli ponsel baru agar aku bisa menghubungimu .Cari flight paling awal. Sampai Jakarta kamu langsung pulang. Ingat begitu ada counter Hp segera beli dan hubungi aku segera "cerocos Darren mengulang - ulang sesuatu yang sudah Senja pahami.
"Iya Ask " jawab Senja singkat, pikiran dan batinnya tidak tenang dari tadi.
"Hati - hati. Ingat belilah ponsel. Kabari aku kamu mendapatkan flight jam berapa. Aku berangkat Ask. I love you ask " tutup Darren .
"Terimakasih pak " ucap Senja langsung memberikan ponsel pada driver.
__ADS_1