
Riuh tepuk tangan mengiringi langkah kaki Sarita turun dari panggung. Mahendra menyambut dan membantu istrinya menuruni anak tangga sambil membawakan buket bunganya. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Di usia mereka yang sudah tidak lagi muda, keharmonisan dan sedikit keromantisan masih terlihat nyata.
Para tamu undangan sudah tidak sabar menunggu pertunjukan manis mengharukan selanjutnya.
"Mau taruhan denganku?" tanya Kenzi pada satu rekan bisnis Darren yang lain.
"Taruhan apa?" tanya rekan satunya.
"Kali ini endingnya pasti kissing," bisik Kenzi, sangat yakin.
"Tidak mungkin! ini bukan acara wedding anniversary ." sahut seseorang.
"Berani taruhan?" tantang Kenzi.
"Berani. Brompton bike keluaran terbaru." seseorang menyebut barang yang dipertaruhkan dengan semangat.
"Oke! kalian bertiga masing - masing satu, kalau gue yang menang, gue nggak muluk - muluk. Gue lagi pengen mini cooper," ucap Kenzi, sangat bersemangat.
"Deal!" Ketiga orang yang lain kompak menjawab.
Yanes memasangkan mic clip on wireless di tuxedo hitam milik Darren. Rupanya Darren memiliki konsep yang berbeda kali ini. Setelah terpasang sempurna, Darren melangkahkan kaki ke meja di mana istrinya berada. Mengulurkan tangan ala - ala pangeran yang sedang ingin mengajak berdansa seorang putri. Senja berdiri dan menyambut uluran tangan itu.
Berdua mereka berjalan ke tengah panggung. Meski tinggi badan mereka sangat timpang, tapi tidak mengurangi keserasian mereka sedikitpun. Tubuh Senja tanpa heels tidak lebih tinggi dari pundak Darren.
Darren menatap wajah istrinya penuh cinta, sesekali dia membasahi bibir dengan lidahnya sendiri, sungguh seperti masih perjaka yang mau melamar kekasih hatinya. Senja bisa merasakan dingin dan keringat di telapak tangan suaminya.
"I love you, Ask..." Senja mengatakan dengan lirih, ingin sekedar memberi kekuatan agar Darren segera melakukan rencananya. Berdiri di depan ribuan orang, membuat Senja sedikit rikuh.
"Ask... Terimakasih sudah menjadi istri yang terbaik buatku, Terimakasih menjadikan aku seseorang yang lebih hangat dari sebelumnya. Aku tidak tahu lagi, selain terimakasih adakah kata yang lebih pantas aku ucapkan untukmu? Aku yang jauh dari kata sempurna, tapi selalu kau buat sempurna dalam pikiranmu." Darren mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut di akhir kalimat.
Tidak ada bunga atau set berlian yang diberikan Darren untuk istrinya. Senja tidak terlalu menyukai bunga, perhiasan pun jarang dipakainya. Darren akan memberikan kejutan sederhana, kejutan yang akan membuat Senja bahagia. Hadiah kecil dari Darren untuk istrinya yang luar biasa.
Seorang crew EO memberikan kursi pada Senja, Darren memberi kode agar Senja duduk di sana. Dia sendiri berjalan mendekati piano yang ada di ujung panggung. Senja fikir tadinya piano itu akan dimainkan oleh homeband.
__ADS_1
"Sebuah lagu dari kami yang sangat menyayangi mama Nja sepenuh hati. Mama dan Istri terhebat. Perempuan yang selalu memiliki cerita luar biasa disetiap kehamilannya. Terimakasih sudah menjadi mama terbaik bagi anak - anak kita. We love you." Darren mulai menekan tuts pianonya. Dentingan intro lagu cinta untuk mama mulai terdengar.
Senja seketika membalikkan badannya, matanya terasa panas, dadanya begitu sesak antara haru dan bahagia juga sedikit sedih. Zain masuk ke dalam alunan musik membawakan lirik lagunya dengan epic dan penuh perasaan.
...Apa yang ku berikan untuk mama...
...Untuk mama tersayang...
...Tak ku miliki sesuatu berharga...
...Untuk mama tercinta...
...Hanya ini ku nyanyikan...
...Senandung dari hatiku untuk mama...
...Hanya sebuah lagu sederhana...
Awalnya suara Zain begitu stabil, tapi semakin mendekati Senja, suaranya semakin bergetar. Senja tak kuasa hanya duduk diam, dia pun berdiri dengan langkah pelan menghampiri Zain yang berjarak hanya beberapa langkah lagi di depannya, Senja menjatuhkan badannya dengan pelan, duduk bersimpuh begitu saja merengkuh tubuh Zain dalam pelukannya.
Zain pun tak kuasa meneruskan nyanyiannya, air mata tumpah, lolos mengalir deras tak terbendung. Sekelebat kisah masa lalu mereka yang sangat tidak adil sama - sama terlintas di benak mereka.
"Mama sayang Zain," bisik Senja, lirih.
"Zain sayang mama, Zain akan menjaga dan membahagiakan mama seperti pesan papa Rafli," ucap Zain disela isak tangisnya, jelas Zain sedang teringat dengan sosok Rafli.
Darren menghentikan permainan pianonya, menyeka air mata yang juga sudah lolos jatuh membasahi pipi, Lalu berjongkok di antara istri dan anaknya.
"Daddy sayang kalian," bisik Darren, mengecup satu per satu kening Senja dan Zain.
"Thanks Ask...Thanks so much..." suara Senja masih bergetar.
Darren membantu Senja berdiri, lalu menggendong Zain yang masih terisak. Zain begitu emosional malam ini.
__ADS_1
"Its oke sayang. Daddy di sini, sudah jangan menangis lagi." Darren semakin merapatkan gendongannya. Berharap tubuhnya bisa menukar sedih yang dirasakan Zain dengan bahagianya.
Senja mengelus punggung belakang Zain. "Kita sayang Zain, papa Rafli bangga sekali memiliki anak seperti Zain." Senja menempelkan kepalanya di pundak Darren.
Sonya menangis sesenggukan di pelukan Rajata. Sesal yang begitu dalam dia rasakan malam ini. Tidak hanya merasa tertampar, tapi merasa hidupnya dulu sungguh seperti binatang. Jauh dari kata memiliki hati nurani.
Arham menyembunyikan air mata yang jatuh dengan pura - pura menimang Dasen. Sementara Bae sudah menumpahkan air matanya di pelukan Chun. Belum separuh jalan perjalanan acara malam ini, tapi emosi semua orang seperti sedang diluapkan dalam sedih dan haru.
Jangan tanya lagi berapa banyak tisu yang dihabiskan Sarita. Anak menantunya sungguh berhasil membuat ingusnya pun keluar deras.
"Ambil zain, Pa! Mereka masih ada rangkaian acara!" pinta Sarita pada Mahendra.
Mahendra naik ke panggung, mengambil alih Zain dari gendongan Darren. Zain sudah delapan tahun lebih, tapi bagi Mahendra dan Darren menggendong Zain seperti masih balita. Keduanya masih sering menggendong Zain dengan gaya pesawat terbang ke sana ke mari.
"Sudah Ask... Malam ini harusnya kita bahagia."
"Senja bahagia Ask... Sungguh bahagia."
Seorang pegawai Mahendra Corps bernama Alea, kepala bagian HRD dengan sangat anggun muncul membawa setangkai bunga Anyelir, di belakang Alea muncul deretan pegawai managerial Mahendra Corps lainnya. Diikuti dengan Ali, Amar dan Yanes di barisan terakhir. Mereka juga membawa sekuntum bunga Anyelir.
Dentingan piano from this moment milik Shania Twain mengalun lembut tanpa suara. Satu per satu mereka maju memberikan bunga Anyelir itu pada Senja. Tanpa Senja sadari Darren sudah tidak ada di sampingnya. Kini Darren sudah bergabung di deretan pegawai, tepat di belakang Yanes.
Tibalah kini giliran Darren yang memberikan bunganya untuk Senja. Alih - alih bunga yang diberikan. Darren memberikan benda yang membuat pipi Senja merona merah dan mencubit lengan suaminya dengan manja. Senja menyembunyikan rasa malu di balik dada bidang suaminya.
" Sabarrr....Tarik nafas," ucap Kenzi harap - harap cemas.
Darren mengecup kening istrinya. "I love you Ask...semoga suka hadiahnya." Darren mengerlingkan matanya, Senja menatapnya malu - malu.
Perlahan Darren menempelkan bibirnya pada bibir Senja. Memberi sedikit kecupan, lalu ********** perlahan.
Para tamu yang menyaksikan melakukan applause yang meriah, menyadarkan keduanya masih di tengah acara. Acara ulang tahun perusahaan, serasa acara wedding anniversary.
"Yuhuuuuu.... Gue menang." Kenzi tersenyum puas.
__ADS_1