
Ketegaran Darren langsung runtuh begitu melihat Senja masih tertidur di atas brankarnya. Masih mengenakan baju operasinya, Senja terlihat sangat pucat.
" Pa, bantu Darren berdiri " pinta Darren.
" Tapi Darr, kamu masih belum kuat bener " kata Mahendra.
" Darren kuat pa " ucap Darren yakin.
Pelan - pelan Darren menapakkan kakinya ke lantai di bantu Mahendra dan Arham.
" Bisa Darr ? " tanya Arham.
" Bisa appa " jawab Darren.
Perlahan Darren berjalan mendekati brankar yang hanya berjarak tiga meter dari brankarnya sendiri.
" Askim, bangun dong Ask. Maafkan aku tidak menemanimu berjuang melahirkan anak kita. Aku baik - baik saja Ask. Kamu pun juga harus begitu " ucap Darren lirih, tangannya mengelus pipi istrinya.
Sarita datang menggendong bayi Senja dan Darren, di belakangnya Bae membawa peralatan menyusu bayi yang diberikan oleh rumah sakit karena Senja belum bisa memberikan Asinya.
Air mata Darren jatuh tak terbendung saat Sarita mendekatkan bayi itu padanya.
" Sayang, maafkan Daddy tidak bisa menyambutmu dengan baik , maaf " Darren mencium lembut kening putranya.
" Mama Nja, ayo bangun ! lihatlah baby Dasen menunggu pelukanmu. Mama Nja bangun ya, mama Nja harus rawat baby Dasen sendiri. Daddy Dar tidak mau mengeluarkan uang lebih untuk membayar baby sister lagi. Mama Nja, ayo omelin Daddy Dar karena tidak menemani kelahiran baby Dasen. Ayo marahi !! " ucap Darren terdengar bergetar menahan tangis.
" Namanya Dasen ? " tanya Bae sedikit heran.
" Darren - Senja " jawab Darren singkat tapi tak terbantahkan.
" Mama Nja tidurnya jangan lama - lama ya. Kalau sampai besok nggak bangun, baby Dasen akan memanggilmu mbak. Mama Nja jangan membuat Daddy Dar khawatir. Aku jarang marah bukan ? aku juga bisa marah sama kamu Ask. Aku benci kamu yang lemah. Aku mencintai Senja yang kuat. Tidak selemah ini. Lihat Ask, kulitmu saja masih mulus. Kamu masih cantik. Tidak ada luka di tubuhmu, tapi kenapa kamu malas bangun " ucap Darren.
" Sudah Darr, kamu kembali ke ranjangmu " ucap Arham tidak sanggup mendengar ratapan menantunya.
__ADS_1
" Kemala pasti bangun, dia perempuan yang kuat.Kemala tidak suka membuat orang lain sedih " ucap Bae.
Tiba - tiba Zain muncul bersama Hutama dan Chun Cha. Zain terlihat bingung melihat mamanya tidur di antara semua orang yang sedang terjaga mengelilingi mamanya.
Hutama mengambil baby Dasen ke dalam gendongannya dan langsung membawa baby Dasen ke sofa di sudut ruangan bersama Mahendra dan Arham.
" Chun ? " Bae seolah meminta pertanggungjawaban Chun karena membawa Zain ke rumah sakit.
" Zain keras kepala seperti mamanya eomma. Chun sudah kehabisan akal untuk membujuk " Chun Cha membela diri.
" Daddy kenapa mama masih tidur ? " tanya Zain dengan polosnya.
Sarita menarik bangku untuk Darren dan Zain. Lalu memberikan kode pada Chun Cha dan Bae untuk ikut bergeser bergabung di set sofa ruang tamu saja.
" Mama Nja masih kena obat bius sayang, mama Nja sebentar lagi pasti bangun " ucap Darren berusaha tegar di depan Zain.
" Darah Dad... darah... mama berdarah " teriak Zain sambil menunjuk darah segar yang mengalir sampai telapak kaki Senja.
Arham membantu memegang kantung infus Darren, untuk menghemat tempat agar tidak memakai tiangnya.
Dokter dan dua orang suster datang, semua mundur memberikan ruang pada dokter untuk memeriksa dengan leluasa.
" Pindahkan ke ruangan observasi sekarang suster. Segera " tanpa memberi keterangan dokter berjalan mendahului perawat membuka pintu lebar sempurna. Perawat dengan sikap mendorong brankar Senja. Bae dan Arham mengikuti suster dengan wajah penuh kekhawatiran.
" Mama mau dibawa kemana ? jangan bawa mama Zain. Suster jangan bawa mama Zain. Mama bangun, mama jangan tinggalin Zain " Zain meronta - ronta. Mahendra menahan tubuh Zain.
" Zain dengar opa, dokter mau menyembuhkan mama. Zain berdoa. Mama pasti sembuh " Mahendra mencoba berbicara pada Zain.
Darren menangis sesenggukan. Sarita seumur hidup tidak pernah melihat putranya menangis sesendu itu.
" Mama Nja tidak boleh pergi. Mama Nja jangan tinggalin Zain sendiri. Mama Nja.... Zain gak nakal, Zain nurut mama Zain nggak akan ngrepotin mama Nja. Zain akan bantu jaga adek - adek Zain. Dokter kembalikan mama Nja, jangan bawa mama pergi " teriakan Zain membuat suasana semakin pilu.
Hutama memberikan baby Dansen pada Chun Cha.
__ADS_1
" Peluk dia Chun, jangan ditaruh di box " ucap Hutama. lalu mendekati Zain.
" Zain, lihat opa buyut. Mama Nja tidak kemana - mana. Mama Nja berobat supaya lebih sehat. Zain tidak sendirian. Tidak akan pernah, lihat semua yang ada di sini. Adakah yang tidak sayang sama Zain ? siapa yang tidak sayang Zain ? katakan pada opa buyut. Doa Zain, doa anak sholeh di dengar sama Allah. Zain pengen mama sembuh ? Zain harus berdoa " ucap Hutama, membawa Zain dalam pelukannya. Lalu memberi kode pada Sarita untuk membawa Zain mundur.
" Zain mau lihat mama, dokter harus kembalikan mama pada Zain. Kenapa mama berdarah ?pasti sakit ? dulu Zain sakit kalau mimisan. Papa juga pernah sakit sampai muntah darah. Tidak, mama tidak boleh berdarah. Mama tidak sakit. Darah mama ... Dokter gak boleh bawa mama ... mama berdarah " Zain semakin meracau.
Sarita menggendong Zain dan menenangkannya.
" Tidak sayang, mama tidak sakit separah itu. Tidak. Zain tenang ya. Zain tenang. Kita berdoa sama - sama " bisik Sarita.menempelkan kepala Zain ke dadanya dan mengelusnya lembut.
" Darr, kuat. Kamu tidak sendiri sekarang. Bukan hanya kamu yang membutuhkan Senja. Lihat anak - anakmu. Kamu harus menguatkan mereka " ucap Hutama.
Darren tidak bisa berkata - kata. Saat melihat darah dan Senja di bawa keluar dari ruangannya lagi. Separuh hatinya terasa ikut pergi melayang. Hutama memeluk cucunya, merasakan tubuh Darren yang bergetar.
" Sudah Darr sudah. Istrimu pasti berhasil melewati masa sulitnya. Senja tidak suka orang lain khawatir apalagi sedih. Berdoa, serahkan semuanya pada Tuhan. Percayalah Senja pasti kembali pada kita " bisik Hutama.
Darren mempererat pelukannya pada Hutama.
" Darren nggak bisa lihat Senja selemah itu ma " isak Darren.
" Tuhan juga ingin kamu sesekali melihat istrimu lemah, supaya kamu bisa menguatkannya. Lihat Zain. Kalau kamu jatuh, bagaimana dengan Zain. Di antara kita semua, selain kamu Zainlah yang paling takut kehilangan Senja Darr. Selain kamu dia bisa percaya siapa lagi sekarang. Kalau kamu sesedih ini, bagaimanapun kami menguatkan Zain, dia akan tetap berfikir buruk tentang kondisi mamanya " ucap Hutama dengan lembut membelai rambut anaknya yang kini juga sudah menjadi ayah.
Bae dan Arham masuk membawa map biru,wajah mereka terlihat sangat sedih.
" Kamu harus menandatangani ini Darr " ucap Arham sambil menyodorkan map tersebut pada Darren.
Darren membaca isi map dengan seksama .Tangisnya pecah tak tertahankan. Seorang Darren Mahendra menangis sesenggukan berkali - kali hari ini.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Jangan lupa mampir ya
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Ku Dengannya Kau Dengan Dia, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/fictionsWatch?id\=4970263&\_language\=id&\_app\_id\=2
__ADS_1