
Waktu berlalu, Senja yang hangat dan penyayang masih bertahan dengan pilihannya. Setiap pagi dia masih menyiapkan makanan untuk Zain dan Darren. Mengirimkan makanan untuk makan siang suaminya. Tapi senyum dan tawanya jarang terdengar. Suara itu hanya bisa Darren dengar saat Senja bersama Dasen atau Zain.
Bukannya Senja tidak pernah berbicara dengan Darren, tidak seperti itu juga. Senja sesejali tetap berbicara dengannya, tapi seperti sebuah formalitas, menanyakan makan, bagaimana di kantor tidak ada gelayut manja atau kata - kata menggoda seperti sebelumnya.
Hari ini hari terakhir Senja memberikan Asinya pada Dasen. Senja memompa pa**dara nya sesering mungkin, untuk mendapatkan Asi sebanyak yang diharapkan. Stock di lemari pendingin khusus Asi Dasen juga lumayan penuh. Masih cukup untuk dua bulan ke depan. Selama ini Asi Senja memang cukup melimpah.
Pulang dari kantor, Darren melihat Dasen sudah tidur pulas di atas ranjang bersama Zain. Hari ini, Darren pulang agak larut karena ada meeting dengan investor asing. Di lihatnya, Senja sedang berusaha memompa Asi yang sudah tidak keluar sama sekali. Air matanya mengalir tanpa suara dengan pandangan kosong.
Darren berjongkok di samping Senja. Tak sedikitpun menyentuh istrinya itu. Bukannya tidak ingin, tapi menghargai kemauan Senja. Hanya itu yang bisa lakukan saat ini, andai ada cara lain yang membuat istrinya bisa kembali seperti semula pasti akan dilakukan.
"Ask..Tuhan mengambil satu nikmatmu, tapi menggantinya dengan nikmat yang lain. Masih pantaskah kamu mengingkari nikmatnya dengan menenggelamkan dirimu dalam kekecewaan dan kesedihan seperti ini?" tanya Darren hati - hati sambil memberanikan diri mengambil pompa Asi yang dibiarkan menyala tapi sudah tidak ada Asi yang keluar dari sana.
"Kamu tahu siapa yang lebih merasa bersalah dari dirimu Ask? baby twins, mereka pasti merasa kehadirannya tidak diinginkan apalagi diharapkan. Kamu boleh tidak mau aku sentuh, aku mengerti. Tapi jangan siksa dirimu dan anak kita. Ibu yang bahagia membuat janinnya juga bahagia dan berkembang dengan baik." tambah Darren.
Senja memalingkan wajahnya dari Darren. Isak tangis tanpa suaranya semakin menjadi. Air mata mengucur deras membasahi pipinya. Darren memegang dadanya, meremas kemeja yang dipakainya. Melihat Senja memperlakukan dirinya sendiri seperti itu membuatnya sakit. Lebih sakit lagi dia tidak bisa berbuat apa - apa.
Hutama menyarankan untuk membawa Senja pada seorang psikiater, tapi Darren tidak tega. Meskipun itu memang jalan terbaik, tapi bagaimana jika istrinya malah salah paham dengan maksud baiknya.
Senja berdiri, membuka lemari pakaian Darren lalu mengambilkan baju ganti suaminya.
"Mandi dulu ask..Sudah makan belum?" tanya Senja, pertanyaan itu seperti sudah tersetting untuk dilontarkan setiap Darren pulang kerja. Tidak kurang dan tidak lebih, persis seperti itu.
__ADS_1
"Belum makan Ask." jawab Darren berbohong, hanya itu caranya untuk berkomunikasi dan berinteraksi lebih lama dengan Senja saat ini.
"Kamu mandi dulu, Senja siapin makannya." ucap Senja, suara dan wajah sama datarnya.
Darren menggigit bibir bawahnya perlahan, hidungnya kembang kempis menahan air mata yang hampir jatuh dari matanya yang sudah memerah. Dia lebih memilih Senja marah dan mengerjainya habis - habisan. Menyuruhnya manjat pohon mangga, menari di jalan atau apapun tapi tidak seperti ini. Senja seperti robot yang tersetting setiap ucapan dan lakunya.
Selesai dari kamar mandi, Darren keluar menuju meja makan. Istrinya masih di sana seperti biasa, menemaninya makan.
"Bagaimana pekerjaanmu ask? lancar?" pertanyaan yang sudah Darren duga akan keluar dari mulut istrinya pun keluar juga.
"Ada sedikit masalah ask. Aku harus ke jepang beberapa minggu." ucap Darren, kali ini nalurinya mengatakan untuk berbohong.
"Ohh..Ya sudah. Berangkat kapan? nanti biar Senja siapkan keperluanmu dan baju - bajunya." jawab Senja.
"Zain sedang liburan kan? Aku ajak Zain ya? Kerjaanku di sana nggak padet. Lebih banyak santainya. Cuman memang harus ke sana langsung saja." Darren menambah rencananya.
"Kalau Zain mau ya ajak aja." Senja menjawab tanpa beban.
Obrolan berhenti di sana, karena Senja langsung membereskan bekas piring makan yang digunakan Darren. Lalu kembali ke lantai dua. Dasen dan Zain masih anteng. Senja merangkak naik ke ranjang membelai wajah Dasen dan menciumnya berkali - kali.
Seperti biasa Darren tidur di kasur bawah. Tidak masalah, daripada terpisah kamar. Sedingin inilah hubungan mereka sekarang.
__ADS_1
Pagi hari yang sibuk. Zain sudah siap di meja makan menunggu daddynya. Hari ini adalah pengambilan rapor hasil ujian semester ganjil. Senja juga sedang berkonsentrasi dengan suapan demi suapan mpasi hari pertama Dasen. Seperti arahan WHO, untuk mpasi pertama sudah disarankan untuk menggunakan menu lengkap seimbang dengan tekstur yang disesuaikan. Dasen makan dengan lahap, tidak ada kendala sedikitpun di hari pertama mpasi.
Setelah selesai menyuapi Dasen, badan Senja semakin merasakan panas dingin tidak enak. Pa**daranya sekeras batu. Sesuai komitmen, sejak pukul nol - nol, Senja sudah tidak memberikan Asi langsung maupun memompanya. Karena akan percuma jika tetap dipompa. Sama halnya dengan merangsang kelenjar susu untuk menghasilkan Asi baru lagi.
Senja menidurkan Dasen di ranjangnya. Lalu mengambil waslab dan ember berisi air hangat untuk mengompres dua benda kenyal yang membengkak dan sangat keras itu.
"Zain pamit mama dulu dadd," ucap Zain seraya menaikkan tali tas ke punggungnya, kemudian berlari kecil ke kamar mamanya.
Sarita dan Mahendra datang membawa berbagai macam buah untuk Senja. Mengetahui cucunya kali ini kembar, Mereka seperti ikut memiliki kewajiban untuk menjaga Senja. Meskipun hanya melihat dan tidak bisa ikut campur. Kali ini Senja benar - benar tidak ingin berbagi Dasen dengan yang lain.
Zain terlihat berlari menuruni anak tangga dengan buru - buru, nafasnya teesengal - sengal.
"Dadd, mama badannya panas sekali dan berkeringat." lapor Zain.
Darren melebarkan langkah kakinya. Anak tangga tidak dia tapaki satu per satu. Dua bahkan ada yang tiga sekaligus. Sarita menyusul ke lantai dua melalui lift. Kaki Sarita sudah tidak terlalu fit untuk naik turun tangga.
Sementara Mahendra menunggu di bawah bersama Zain.
Darren memeriksa suhu badan istrinya dengan termometer milik Zain.
"Astaga ini panas sekali ma," Darren menunjukkan angka empat puluh satu di termometer pada mamanya.
__ADS_1
"Bawa ke dokter Darr, pasti mastitis ini lihat pa**dara istrimu bengkak dan terlihat keras. Harusnya biar berhenti, tetap dikeluarkan sedikit atau dikompres pakai daun kol." saran Sarita sembari menyentuh satu pa**dara milik menantunya.
"Senja tidak mau ke dokter, nanti Dasen sama tidak ada yang menjaga." ucap Senja, bisa - bisanya hanya Dasen yang dipikirkan. Kesabaran Darren pun lenyap. Darren menarik nafas dalam. Mengambil ancang - ancang untuk menyikapi ucapan Senja barusan.