Menikahi Surrogate Mother Tanteku

Menikahi Surrogate Mother Tanteku
Misi Darren


__ADS_3

Senja langsung mengajak Dasen ke kamar begitu urusan perairan dan Yanes selesai. Baru beberapa jam saja, Senja juga merasakan kesepian. Berdua saja dengan Dasen ternyata tidak enak. Jadilah Senja memikirkan apa yang Yanes ucapkan. Benarkah suaminya bisa berbelok arah secepat itu?


Tidak...Apa yang dikhawatirkan Yanes jangan sampai terjadi. Apa kata anak - anak nanti kalau daddy nya seperti itu karena kesalahannya.


Senja melihat ponselnya. Ingin menelpon mertuanya, menanyakan apakah Darren dan Zain ada di sana atau tidak. Tapi rasa gengsi menghalangi.


Senja melihat bayangan dirinya di pantulan kaca. Sebersit rasa bersalah juga muncul pada si kembar. Sudah lama Senja tidak mengajak mereka bicara, bahkan sekedar mengelus perut pun tidak pernah.


Senja akhirnya memutuskan langsung ke rumah Mahendra, kalau telepon gengsi. Kalau ke sana langsung ada alasan yang masuk akal. Karena tidak ada driver, Senja untuk pertama kalinya semenjak menikah dengan Darren, baru menggunakan taxi online lagi.


"Sesuai aplikasi bu?" tanya si driver online.


"Iya mas." jawab Senja sembari meletakkan tas keperluan Dasen terlebih dahulu baru dirinya.


Senja melihat sekilas driver taxi online yang dia tumpangi, kulitnya putih, beralis tebal menyatu, dengan lesung pipi di kanan kiri. Senja menebak profesi yang dijalani sekarang hanya pengisi waktu luang.


Tak berbeda dengan Senja yang menilai, driverpun melakukan hal yang sama. Melihat perut Senja yang besar dan menggendong seorang bayi membuat fikirannya sedikit negatif.


Kemungkinan pertama yang dia fikirkan adalah Senja sedang bertengkar dan kabur dari rumah. Kemungkinan selanjutnya adalah Senja selingkuhan yang ketahuan istri sah. Apalagi Senja keluar dari rumah yang tergolong sangat mewah. Di dukung lagi, wajah Senja yang terlihat lebih muda dari usia sebenarnya. Jika tidak menggendong bayi dan perutnya tidak besar, pasti dia akan mengira Senja masih anak kuliahan.


Saat turun, kebingungan terjadi. Senja kelupaan membawa dompetnya. Dia terlalu buru - buru dan ribet dengan bawaan Dasen. Jangan bilang menggunakan saldo aplikasi. Senja saja baru download aplikasi sesaat sebelum memesan tadi.


"Maaf mas, minta tolong masuk ke dalam saja ya. Saya ambilkan uang di dalam." ucap Senja merasa sangat tidak enak.


" Nggak usah bu, saya ada nomer ibu. Nanti saya Wa nomer rekening saya." jawab si driver.


Senja melirik tagihan di ponselnya, lalu melihat nama drivernya. Hal sama juga dilakukan si driver. Senja merasa tagihannya sangat mahal di banding harga normal. Rupanya Senja memilih menu mobil premium saat memesan tadi.


Security tidak langsung membuka gerbang utama, karena plat nomer dan mobil yang Senja tumpangi tidak di kenal oleh mereka.

__ADS_1


"Pak Aryo, ini saya."ucap Senja memajukan badannya agar bisa terlihat dari kaca mobil si pengemudi yang di buka.


"Owh...Bu Senja maaf bu, saya tidak tahu. Pak Darren sama den Zain baru lima menit yang lalu diantar Darto ke bandara." Aryo menjelaskan seraya membuka pintu gerbangnya.


"Loh kok sudah berangkat, katanya malem. Nggak pamit pula bawa anak orang.Dasarrr...." umpat Senja, terdengar oleh driver bernama Kenzi itu.


"Mas saya turun sebentar ya, nanti tolong antar saya ke bandara." ucap Senja sembari turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah yang sudah terbuka. Senja lupa membawa tas Dasen saking terburu - burunya.


"Ma... Mama...." Senja berteriak memanggil Sarita dengan suara cemas.


Sarita dan Mahendra muncul dari arah samping rumah kaget Senja datang.


"Nja, ada apa?" tanya Sarita bingung, melihat Senja cemas. Sarita tidak tahu saja skenario anaknya sungguh memang luar biasa.


"Senja nitip Dasen dulu, Senja mau nyusul abang dan Zain ke bandara." ucap Senja, tanoa menunggu persetujuan Sarita, langsung melepaskan selendang pelan - pelan lalu memindahkan Dasen yang sedang tertidur pulas Pada Sarita.


"Terus ini susu, pampers dan lainnya mana?" tanya Sarita di tengah kebingungan tetap ingat kebutuhan Dasen.


Mobil alphard hitam metalic itu masih setia di sana. Driver membukakan pintu secara otomatis untuk Senja. Setelah mengambil tas Dasen, Senja baru ingat kalau Senja lupa meminjam uang pada Sarita.


"Pa...Senja boleh minta uang papa? Senja lupa tidak membawa dompet tadi. Senja butuh buat bayar taxi online ini." pinta Senja biarpun buru - buru tetap sopan pada Mahendra.


Mahendra tersenyum merogoh dompet di kantong celananya. "Alhamdulillah Nja, akhirnya kamu meminta sesuatu juga sama papa. Seneng papa." kata Mahendra, malah merasa senang. Karena belum sekalipun Mahendra memberikan hadiah pada menantunya itu. Mahendra memberi seluruh uang yang ada di dompetnya. Karena terburu - buru, Senja langsung menerima sembari menyerahkan tas Dasen.


"Makasih pa, titip Dasen" pamitnya.


"Hati - hati Nja." ucap Mahendra.


Senua interaksi menantu dan mertua itu tidak luput dari perhatian Kenzi. Kali ini Kenzi sudah memakai kaca hitam, sehingga menyamarkan arah pandangan bola matanya.

__ADS_1


"Langsung ke bandara bu Senja?" tanya Kenzi lengkap dengan menyebut nama.


"Iya mas Kenzi." jawab Senja seraya menghitung uang dari Mahendra. Ada lima belas pecahan seratus ribu dan tiga lembar pecahan lima puluh ribuan. Cukup untuk mengantarkannya hingga bandara.


Senja terus mencoba menghubungi suaminya melalui saluran telepon pintar, tapi tidak satupun panggilan yang dibalas. Si driver sesekali memperhatikan penumpang cantiknya yang terlihat resah.


"Turun di keberangkatan domestik atau keberangkatan internasional bu?" tanya Kenzi.


"Keberangkatan internasional." jawab Senja tanpa mengalihkan sedikitpun perhatian dari layar ponselnya.


Tiba di lobby terminal keberangkatan, Senja segera bersiap turun. "Mas Kenzi makasih ya, kalau kurang mas whasapp saja." Senja buru - buru menyerahkan seluruh uangnya lalu segera melangkahkan kaki lebih lebar ke meja informasi.


Senja berlari kecil ingin ke dalam ruangan tunggu penumpang pesawat, tapi karena Senja tidak mempunyai tiket atau pun tanda pengenal khusus, tentu Senja tidak bisa masuk.


Senja sudah mengatakan kalau dia punya kartu prioritas, tentu saja petugas tetap tidak percaya tanpa adanya bukti nyata. Semua orang bisa mengaku - ngaku dengan mudah sekarang.


Senja tidak putus asa, seperti lupa dirinya sedang hamil. Senja menempelkan wajahnya ke kaca mencari celah lebih luas untuk melihat ke dalam.


"Dadd...kasihan mama. Ayo kita keluar." bisik Zain dari satu ruang yang membuatnya bisa melihat Senja dengan leluasa.


"Sebentar lagi. Ingat yang Daddy katakan tadi." jawab Darren dengan santainya.


Senja mulai putus asa, matanya sudah berkaca - kaca, hidung dan pipinya semerah tomat.


"Sekarang!" ucap Darren.


Zain dan Darren nampak berjalan dari sisi lain Senja, pura - pura tidak melihat Senja hendak masuk ke ruang keberangkatan. Senja yang mengenali betul bagian tubuh keduanya sekalipun hanya dari punggungnya segera berlari menghampiri suami dan anaknya itu.


"Zain....Ask...." teriak Senja seraya berlari seperti adegan film bollywood.

__ADS_1


Darren dan Zain dengan wajah coolnya menoleh. Senja langsung mencium Zain tanpa ampun. Setelah Zain semakin kelihatan kesal karena terus diciumi, Senja beralih menatap Darren yang terlihat cuek padanya. Senja memeluk Darren, tangan Darren sebenarnya sudah gatal untuk membelai rambut Senja. Tapi misi belum selesai. Darren menahan diri luar biasa.


Tanpa Senja sadari, Kenzi sedari tadi mengikutinya. " Istri Darren Mahendra???" gumam Kenzi lirih.


__ADS_2