
Senja buru - buru menarik kepalanya mundur. Merapikan rambut dan Dressnya. Darren mendengus kesal, lagi - lagi dia masih harus menunda penghangat jiwa raga yang sudah terlalu lama tidak dirasakan.
Keduanya turun berpegangan tangan. Seketika langsung menjadi pusat perhatian. Bisik - bisik calon baby sister yang masih berada di penampungan pun tak terelakkan.
"Ini mungkin yang dibilang bu Murni kemarin, Sar," bisik seseorang.
"Sepertinya iya. Aku mau jadi baby sister anaknya, lumayan tiap hari lihat bapak - bapak ganteng begitu." sahut seorang yang lain.
"Aku juga mau. Siapa tahu kayak cerita di novel - novel, majikan naksir pengasuh anaknya," timpal yang lainnya.
"Ojo keduwuren, kesampluk suwiwine kapal muluk kapok kowe. Gak trimo mumut lambemu. Awakmu ajur mumur. Delok en lha sing wedok ae ayu eram ngono, ate nglirik kowe malah mripate blawuken iso - iso," jawab seseorang dengan sedikit ketus. (Jangan ketinggian, Keserempet sayap pesawat tahu rasa kamu. Gak cuman bibirmu yang lebur. Badanmu juga hancu. Lihat istrinya cantik sekali, mau lirik kamu malah nanti matanya katarak.)
Senja terus berjalan. Terlalu sering menjadi pusat perhatian membuat mereka menjadi terbiasa. Mengabaikan dan bersikap tidak peduli selalu kompak mereka lakukan.
Seorang perempuan seumuran Sarita, dengan wajah tegas berkacamata, alis tato hijau kebiruan, rambut merah burgundy dengan sasakan depan menjulang menyambut Darren dan Senja dengan ramah.
"Silahkan duduk dulu, Pak ... Bu .... " ucap perempuan bernama Wina itu.
Darren dan Senja kompak tersenyum dan mengangguk seraya menempati kursi kayu ukir tepat di belakang mereka.
"Jadi begini bu, kami butuh dua baby sister untuk anak kembar kami. Kami ingin yang berusia sekitar dua puluh lima sampai tiga puluh tahun. Tidak senang bermain ponsel, rapi, cekatan dan sabar," ucap Senja, langsung ke tujuan.
Bu Wina mengambilkan satu map berwarna biru, lalu menyodorkan map itu pada Senja. "Silahkan ibu lihat dulu. Di sini ada beberapa yang sesuai dengan kriteria yang Ibu inginkan. Saya sudah memilah sejak Ibu menghubungi kami beberapa minggu yang lalu."
Senja membuka dan membaca satu per satu data lengkap dengan foto, alasan mereka bekerja dan visi ke depannya apa. Seperti dalam ajang pemilihan puteri saja, lengkap sekali data yang tertera di sana. Senja mengajak Darren ikut melihat, tapi suaminya itu menolak. Ia lebih percaya pilihan dan insting sang istri.
Senja menandai satu file, pertanda dia lumayan tertarik. Semakin ke belakang hanya ada tiga lagi yang mendekati kriterianya. Itu artinya ada empat kandidat yang akan dilihat dan diwawancarainya langsung sekarang.
Karena bosan, Darren mengatakan akan menunggu di mobil saja. Senja hanya mengangguk. Darren menemani hanya karena tidak ingin istrinya pergi berdua saja bersama Rudi. Selebihnya dia tidak meragukan kemampuan istrinya dalam memilih pegawai. Hanya Ali produk gagal Senja dalam menerima karyawan. Itupun murni karena pribadi Ali, bukan kesalahan Senja.
__ADS_1
Empat orang yang di maksud sudah ada di depan Senja. Entah kenapa insting Senja langsung tertarik dan cocok dengan dua orang. Pandangan mata mereka hangat dan sopan. Tapi Senja tidak langsung menunjukkan ketertarikan begitu saja. Dia mengajak berbicara mereka dengan pertanyaan yang sama. Mereka pun menjawab satu per satu. Senja ingin mencari ketulusan dan kesungguhan dari suara dan gestur tubuh mereka.
Senja menganggukkan kepala, pertanda sudah cukup. Bu Wina mempersilahkan ke empat calon baby sister kembali ke dalam ruangan mereka.
"Bagaimana Bu? Adakah yang cocok di hati Ibu?" tanya perempuan bertubuh bongsor itu dengan ramahannya.
"Ada bu ... Saya pilih mbak Ulfa sama mbak Wardah saja bu, Tolong di antarkan ke rumah besok. Agar kami bisa lebih akrab dan dekat sebelum anak saya lahir.Saya tidak mau mereka canggung, karena siapapun yang menjaga anak - anak saya, sudah pasti saya anggap sebagai saudara," jawab Senja, sangat lugas.
"Baik bu Senja. Terimakasih sudah percaya pada kami. Semoga mereka berdua memang sesuai dengan keinginan Ibu. Di antara yang lain memang keduanya lebih pendiam. Ulfa malah tidak punya ponsel bu, kalau teleponan sama keluarga selalu pinjam ponsel ke Wardah. Ulfa asli Ponorogo bu, Kalau Wardah dari Tasikmalaya. Kebetulan keduanya memang dekat. Entah kebetulan atau memang bu Senja pintar menilai." Bu Wina kembali menyodorkan map, kali ini berbeda dengan map yang tadi.
Ada dua map di tangan Senja, masing - masing adalah data dan kererangan lengkap Ulfa dan Wardah.
Setelah berbicara panjang lebar dengan Wina, akhirnya Senja pun pamit untuk pulang. Tentu saja setelah membayar administrasi dulu sebelumnya. Di awal Senja mengikuti standart gaji yang diberikan oleh panti, di mana nanti tiga bulan gaji separuhnya akan dipotong oleh yayasan, selanjutnya baru bisa langsung diberikan pada mereka langsung.
Darren menegakkan posisi duduknya begitu melihat istrinya berjalan mendekati mobil.
Rudi menarik nafas dalam - dalam. Menyiapkan kesabaran mental dan iman. Godaan seringkali datang dari atasannya sendiri. Gaji tinggi, resiko pun tinggi. Begitulah kata Yanes, setiap kali Rudi berkeluh kesah.
"Pak Rud, tolong lewat pasar senggol yang biasanya ya. Nanti belikan klepon sama lupis," pinta Senja dengan sopan.
"Iya bu," sahut Rudi.
Melewati pasar senggol bersama Darren Mahendra, pasti akan penuh dengan keluhan dan umpatan.
"Sini!" Darren menepuk dadanya, meminta Senja kembali merebahkan diri di sana.
Senja menggeser bokongnya, lalu menurut begitu saja pada suaminya.
"Ask!" panggil Darren, seraya mengecup lembut kening istrinya.
__ADS_1
"Kiss?" tanya Senja to the point.
Darren mengangguk. "Kan tadi diganggu pak Rudi." keluhnya.
Rudi mengusap wajahnya. Serba salah memang. Bos selalu benar. Andai ada satu hari Rudi diberi kesempatan bertukar posisi, ingin Rudi membuat Darren merasakan bagaimana melihat dan mendengar orang bercumbu.
Senja mengubah posisi duduknya agar lebih tegak, Darren yang memiringkan duduknya. Kasihan kalau membuat istrinya memutar menghadap wajahnya. Karena dia yang meminta, maka dia pun yang harus bekerja keras.
Akhirnya setelah beberapa kali putaran siang dan malam, bibir keduanya pun menyatu. Awalnya hanya saling mengecup, lama - lama saling *******. Masih belum terdengar suara - suara aneh. Karena tautan keduanya masih lembut. Belum ada nafsu yang mencampuri rindu.
"Ask!" Darren sebentar melepas tautan bibirnya.
"Hemmm...." jawab Senja, matanya masih terpejam.
"Ke hotel yuk!" ajak Darren.
"Anak - anak bagaimana?"
"Sebentar saja." bisik Darren, sedikit nakal.
"Nanti saja di rumah, kasihan anak - anak. Kiss nya sudah?"
Darren menjawab dengan meraup bibir Senja dengan rakus, kali ini benar - benar liar. Tangan Darren mengusap perut istrinya lembut, sementara tangan Senja naik turun mengusap paha suaminya. Sebelum terlalu jauh, Rudi memikirkan cara halus untuk menghentikan rambatan tangan Darren yang hampir kebagian yang meresahkan.
Alam sedang merestui kegundahan hati Rudi, mendekati kawasan pasar senggol segerombolan bebek terlihat menyebrang teratur tanpa ada si empunya di belakang barisan mereka. Decit suara ban mobil yang di rem mendadak pun terdengar memekikkan telinga, ditambah hentakan tak terduga yang menyebabkan gigi Darren jadi tidak sengaja menggigit bibir Senja.
"Rud .... " geram Darren.
"Bebek pak ... Bebek."
__ADS_1